Kerinduanku di Mataku

Kerinduanku di Mataku
Episode 9 - Bocah itu


__ADS_3

Air terus mengalir, umur terus bertambah, daun


berjatuhan, dinginnya malam menyelimuti keheningan ini, kutatap langit penuh


bintang dan cahaya, penuh harapan untuk dapat terus melangkah bersama


kebahagiaan yang rapuh ini. Sambil mengenang indahnya waktu bersamamu saat hari


itu, dimana tak ada beban, tak ada hukum, namun hanya ada kebersamaan yang


terus termakan oleh kejamnya waktu.


Tiba – tiba terlihat sesosok bocah mungil duduk


disebelahku dan bertanya dengan polosnya.


“ Apa yang kakak lakukan sendirian dimalam ini?


Enggk dingin?”


“tidak ada apa – apa kok.” Sambil mengacak – acak


rambut bocah itu


“siapa namamu, dek?” tanyaku


“Aku sistia kak.” Jawab bocah itu sambil berlari


menjauh dariku, nampaknya ia ingin bermain kejar – kejaran denganku


“Ayo kak, sini!”


 tak sadar


karena gelap, tiba – tiba ada cahaya yang muncul mengarah pada sistia, ternyata


ia ada di tengah jalan dan ada mobil dengan kecepatan tinggi menuju kearah


Sistia, dengan bergesas aku berlari dan melompat untuk menyelamatkannya dari


maut. Detik – detik kematian telah terlewat dengan kondisi kami berdua selamat,


Sistia beranjak berdiri tiba – tiba ia menangis dan meminta maaf berulang –


ulang, saat aku coba tuk bangun, kakiku terasa sangat perih dan dingin,


ternyata sesaat ku sentuh ada bercak darah bercucuran dari pergelangan kaki ku,


mungkin ini Cuma luka biasa karena tadi aku mendarat diantara kerasnya jalan


yang penuh bebatuan.


Sepasang cahaya semakin besar dari arah jalan, aku


berdiri dan segera mengamankan Sistia dari dajalan dengan darah terus


bercucuran tanpa henti. Suara klakson mobil terdengar, ku berbalik badan dan


ternyata aku melihat Rio. Saat melihatku Rio langsung membawaku ke rumah sakit


terdekat bersama Sistia yang terus meinta maaf karena penyesalannya. sambil


menunggu hasil pemeriksaan Rio pergi mengantarkan Sistia untuk pulang, ternyata


Rio kenal dengan Sistia bahkan lumayan akrab dengannya. Setelah kembali dari


mengartarkan Sistia, Rio mengantarkan aku pulang. Dalam perjalanan Rio hanya


terdiam tak berkata atau bertanya apapun padaku kebetulan aku juga tidak mau


membahasnya.

__ADS_1


Sesampainya dirumah Rio mengantarku sampai masuk,


dan disaat aku memasuki rumahku. Jeng..jeng


“Selamat ulang tahun, Lean.” Tiba – tiba suara


gemuruh itu membuatku kaget dan bingung, terlihat wajah – wajah mereka


tersenyum melihatku kaget, pertama aku bingung siapa mereka ini.


“Selamat ulang tahun,Lean. Maaf aku mengundang


mereka kesini, ini adalah teman sekelas kita saat di SMA dulu, yah mungkin kau


tidak mengingatnya tapi kuharap setelah pertemuan ini kau dapat sedikit


mengingatnya kembali.” Kata rio sambil menepuk bahuku


Tapi diantara orang – orang itu terlihat Ria


sedang asyik makan kue – kue, walaupun ia anak orang kaya tapi kalau urusan


makan ia jagonya, anehnya entah kemana perginya semua lemak itu badannya bisa


tetap terjaga walau makan banyak. Setelah mengetahui kehandiranku Ria perlahan


menghampiriku, dan berkata.


“Selamat ulang tahun, Lean. Oh iya ini adalah


hadiahku.” Menyerahkan Rio kepadaku


“apa maksudnya Ria?” tanya ku dengan bingung


“ya ini, hadiahku untukmu adalah pelaku yang


menyembunyikan penamu.” Sambil menahan tawanya dibelakang Rio


“memang tak ada yang bisa kusembunyikan dari orang


Rio pun mengembalikan Penaku sambil minta maaf


tanpa memberitau alasannya berbuat seperti itu, saat kuterima pena itu Ria pun


langsung berpamitan kepadaku untuk pulang, ia berkata adiknya sedang sendirian


dirumah dan itu buatnya khawatir, tapi sebelum Ria pergi aku meminta satu


permintaan untuknya, yaitu membantuku mencari Luce. Dengan cepat Ria menolak


permintaanku tanpa alasan jelas.


Pintu mulai tertutup dan aku terjebak dalam


belenggu yang biasa disebut pesta ultah ini, malam yang panjang pasti menantiku


sekarang, dengan pasrah ku ikuti alur yang dibuat oleh Rio, dari awal sampai


akhir tak ada satupun ingatan yang kembali muncul saat bertemu dan bercerita


bersama mereka semua, sesudah pesta terlewati aku pergi ke balkon untuk


menenangkan pikiran dan mencari jawaban kenapa Ria tidak bersedia membantuku,


tiba – tiba Rio muncul dan berkata


“Ria memang seperti itu orangnya, dia tidak akan


mau membantu orang lain kecuali jika ia merasa mendapatkan imbalan berupa


kesenangan saja.”

__ADS_1


“terus kenapa ia membantuku mencari penaku yang


hilang ya?”


“Entahlah dia memang misterius.”


Keesokan harinya aku melihat Ria sedang duduk


membaca komik di bawah pohon, aku mendekatinya dan kembali meminta bantuannya


namun ia tetap menolak dengan cepat, setelah mendapat penolakan untuk kedua


kalinya aku mulai menghapus harapanku untuk meminta bantuan ke Ria. hingga


pertemuan saat itu terjadi,


“Kak Ria, ini bekalmu ketinggalan.” Kalimat itu


terucap dari mulut seorang bocah yang tak asing bagiku


“oh iya, Sitia. Makasih ya.” Sambil menepuk rambut


itu


“ohh….Sistia ternyata.”


“lho kakak !”


Kami berdua langsung kaget saat bertemu kembali,


ternyata Sistia adalah adik dari Ria walau mereka bukan anak kembar tapi mereka


memiliki kesamaan yaitu keras kepalanya yang minta ampun. Ria bertanya kok bisa


kenal aku kenal dengan adiknya, pertama aku coba untuk mengatakan jika aku


kebetulan bertemu dengannya ditaman, tapi Sistia malah menceritakan yang


sebenarnya pada Ria karena aku takut sampai Ria mengetahui kalau Sistia


mengalami kejadian buruk karenaku.


Namun kekhawatiranku sia – sia Ria malah berterima


kasih padaku, dan ia bersedia membantuku mencari Luce dengan catatan ia harus


memberitau segala petunjuk yang berhubungan dengan Luce. Tanpa ragu ku


keluarkan Smartphone Luce dari kantongku, setelah di lihat dan baca beberapa


pesan disana dan berkata ini belum cukup, setelah terpikir aku keluarkan pena


yang dulu pernah hilang itu walau isinya masih ½  ia langsung bisa menebaknya dan berkata.


“ok, aku tau dia dimana sekarang. Yang jelas ini


sangat beresiko besar, bahkan kau takkan dapat mengatasinya sendiri.”


Aku berusaha menyakinkannya kalau aku bisa sendiri


tapi Ria malah menjawab.


“kalau kau bersikeras untuk sendiri, maka aku


takkan memberitaumu kebenarannya, paling tidak cobalah mencari teman yang mau


membantumu sebanyak 4 orang laki – laki.”


“KENAPA KAU TIDAK MENGIZINKANKU PERGI SENDIRI? INI


MASALAHKU AKU TAK MAU MELIBATKAN SIAPAPUN DIDALAMNYA, MENGERTILAH SEDIKIT

__ADS_1


TENTANG PERASAANKU YANG TELAH KUPENDAM PULUHAN TAHUN INI?”


- Bersambung -


__ADS_2