
“Minggir,Lean. Iblis ini pastas mendapatkan
balasannya!” Berontak Jun kepadaku, tapi ttp tak kubiarkan dia melakukan apa
yang dia inginkan, ku coba berkali2 menyuruh Luce untuk lari tapi entah mengapa
Luce hanya diam tak berkutik di belakangku, wajahnya ketakutannya tiba2 berubah
180 derajat dari sebelumnya.Bibir yang tadinya gemetaran sekarang terdengar
suara tawa kecil.
“iya benar, akulah yang membunuh mereka semua,
kenapa? Apa itu salah? Aku hanya mempercepat proses kematian mereka, walau
tidak aku bunuh mereka pastinya akan mati dengan sendirinya, jadi itu bukanlah
salahku.” Luce berubah derastis tidak seperti Luce yang biasanya ia terlihat
seperti orang lain sekarang,
Setelah beberapa saat Luce kembali jadi dirinya
lagi, ketakutan mulai menyelimutinya lagi
“maaf, Lean, Jun tadi itu bukanlah aku, maaf.”
Luce berlari dengan tetesan air matanya yg terus mengalir, ia berlari mengarah
kesebuah tebing di atas. Dengan cepat segera aku atasi Jun, kubuat dia tak
sadarkan diri tuk sementara dan segera mengejar Luce. Ku lihat Luce ada di
pucuk sebuah tebing, ku coba tuk mendekat
“JANGAN MENDEKAT, LEAN!” seketika langkahku langsung terhenti, pertama
kalinya Luce berteriak padaku membuatku syok, ada apa dengannya sekarang?
“ Dengarkan aku Luce, sudah lama aku menginginkan
__ADS_1
pertemuan kita berdua dari dulu hingga sekarang, kerinduanku tak dpt di ukur
oleh materi, kebahagiaanku tak dpt ku artikan lewat kata2, tapi Usia inilah
bukti akan waktu dan perjuanganku dalam mencarimu, Luce. Aku ingin kau
mengerti, aku yakin kau punya alasan yang bisa kumengerti dari setiap
tindakanmu ini. Kemarilah, Luce.” Kurentangkan kedua tanganku dan tersenyum
manis sambil memandanginya.
“benar usia ini adalah bukti kalau kita bukanlah
anak2 lagi, Lean. Kita tak bisa hanya memikirkan kesenangan belaka cobalah
untuk mengerti keadaanku sekarang, aku kehilangan kedua orang tuaku, aku
tinggal di antara para mafia, aku menjadi penerus pemimpin mafia ini, selama
ini aku terkekang, latihan, latihan, latihan hanya itu yang ada dalam hidupku,
keluar dari semua ini, tapi apa?! Kau tidak datang ! aku kecewa padamu, Lean.”
Kemudian Luce berbalik dan mendekatiku, tapi ia seperti bukan Luce lagi,
siapakah yang ada di dalam tubuh Luce itu sebenarnya?
“Jadi kau yang bernama Lean ya? Aku heran kenapa
Luce sangat terobsesi dengan orang seperti ini.”
“siapa kau? Kenapa kau ada di dalam tubuh Luce?”
“kau berkata menyukai Luce tapi tidak tau apa2
tentangnya? Cinta macam apa itu, sampah. Baiklah akan aku beritau padamu. Bisa
kau sebut aku juga Luce, karena perasaan stress, gelisah, dan beban yang Luce
maka terlahirnya aku, kalian menyebutnya dengan kepribadian ganda bukan?
__ADS_1
Seperti itulah posisi kami, aku adalah kebalikan dari semua sifat Luce akulah
yang akan selalu melindunginya dari apapun, termasuk dari kedua orang tuanya
sendiri, saat Luce tertidur sering kali aku mengambil alih tubuhnya dan pada
malam itu aku mendengar pembicaraan orang tua Luce, karena kami berasal dari
keluarga mafia terbesar dalam keluarga kami selalu ada tradisi untuk dpt
bergabung ke dalam mafia ini mereka harus menjalani tes terlebih dahulu, dan
tes itu mengharuskan kami membunuh orang terdekat/ yang paling kami sayangi
agar dpt bergabung. Yang ada dipikiran orang tua Luce saat itu adalah
menjadikan anak mereka sendiri sebagai tumbal untuk masuk mafia, pada saat
itupun aku langsung membunuh mereka berdua demi melindungi Luce, keesokan
harinya orang2 dari mafia datang menjemputku. Gawat waktuku sudah habis,
sisanya aku serahkan padamu, Lean.” Lucepun kembali menjadi dirinya semula,
setelah melihatku ia kembali menjauh, air matanya terus berlinang tak
terhentikan, perlahan ia mundur.
“AWAS LUCE!!” Luce terjatuh dari tebing, keberlari
tuk menggapai tangannya namun terlambat, tanpa pikir panjang aku langsung
melompat untuk menggapainya, perlahan secara perlahan akhirnya aku dapat
menggapainya, ku dekap tubuh kecilnya itu sambil melindunginya dari benturan,
aku sempat berpikir ini mungkin akhir dari kisah hidupku, sesaat aku mendengar
suara Luce “Aku sebenarnya juga mencintaimu selama ini, Lean.”
- Bersambung -
__ADS_1