
Via dan Jun berdiri tuk menghalangiku bertemu
dengan Luce, entah apa yang terjadi sepertinya mereka kali ini menjadi musuhku.
Rio berdiri di depanku serta perlahan mendekatiku dan menyerahkan sesuatu
secara diam – diam sambil membisikkan sesuatu padaku.
“apa yang kalian rencanakan? Biarlah, apapun itu,
itu tak akan berhasil.” Kata Via dengan bangganya, walau agak menyebalkan tapi
dialah satu2nya orang yang setingkat dgn Ria, kami berdua sadar akan hal itu
dan merencanakan sesuatu.
“sekarang,Lean!” Rio berteriak sambil menutup
pintu depan untuk mengalau mereka, terlihat dari lubang kunci, Jun pergi
berlari ke bagian belakang rumah dan Via hanya diam tak bergerak di depan
pintu. Sesuai rencana Via akhirnya sendiri, Riopun membuka pintu dan menghalau
Via dengan di ikuti aku yang berlari dibelakangnya. Sambil berlari kulihat apa
yang diberikan Rio padaku, selembar kertas dengan sebuah alamat rumah sakit di
__ADS_1
atasnya, dalam kertas itu menyuruhku kesana dan menyerahkan pesan ini padanya. Kuberlari dengan napas
terbatas ini, terlihat Jun jauh dibelakangku mulai mendekat. Kupaksakan langkah
kaki ini sedikit lebih cepat dari sebelumnya, napasku mulai menipis namun
keadaan tak membiarkanku tuk istirahat. Sesampainya di tujuan ku segera berlari
ke ruangan yang dituju. Tanpa mengetuk dlu langsung ku buka pintu kamar itu
dengan cepat, terlihat bayangan gadis yang sedang memandang jauh keluar
jendela,
“ Apakah ingatanmu sudah kembali lean?” terdengar
suara seorang gadis dibalik tirai itu, ku mendekat tuk memastikannya. Ternyata
kesini? Sebelum ku bertanya iapun menyodorkan tangannya meminta surat dari Rio,
setelah kuberikan surat itu, aku juga menceritakan kalau aku sedang di kejar
seseorang, dengan tenang Ria menulis sesuatu di atas memo yang ku berikan tadi.
“coba kamu berdiri disini Lean.” Ia menunjuk
kearah depan jendela dan menyerahkan sebuah memo kepadaku. Aku berdiri tepat
__ADS_1
seperti yang dia inginkan, perlahan ia membisikkan sesuatu padaku walau
terkesan lembut dan pelan jelas sekali ia berkata “Semoga sukses,Lean.” Tiba2
dia mendorongku sampai keluar lewat jendela tingkat 2 itu. Aku terjatuh dan
terhambat oleh ranting – ranting pohon dan mendarat di semak2. Tidak lama
kemudian terdengar suara Jun dari kamar Ria, pasti Ria mendorongku tadi dengan
perhitungannya yg luar biasa, walau dari lantai 2 aku tidak menerima luka
apapun. Kulanjutkan berlari dan membaca memo dari Ria, disana tertulis.
“Pergi ke taman lalu belilah air mineral dan
duduknya di prosotan. Apapun yang terjadi lakukan seperti yang ku katakan.”
Kalau orang yang baru kenal Ria pasti akan
menghiraukannya tpi tidak bagiku, aku percaya apa yang ia katakan selalu benar.
Walau yang satu ini agak sulit untuk mengabulkannya. Untuk apa aku membeli air
mineral dan duduk di prosotan saat keadaan genting ini? Tapi saat ku berpikir
ini pesan dari Ria, semua kekhawatiranku hilang dan ku lakukan tanpa
__ADS_1
pertimbangan.
- Bersambung -