Kerinduanku di Mataku

Kerinduanku di Mataku
Episode 21 - Nafas


__ADS_3

Via dan Jun berdiri tuk menghalangiku bertemu


dengan Luce, entah apa yang terjadi sepertinya mereka kali ini menjadi musuhku.


Rio berdiri di depanku serta perlahan mendekatiku dan menyerahkan sesuatu


secara diam – diam sambil membisikkan sesuatu padaku.


“apa yang kalian rencanakan? Biarlah, apapun itu,


itu tak akan berhasil.” Kata Via dengan bangganya, walau agak menyebalkan tapi


dialah satu2nya orang yang setingkat dgn Ria, kami berdua sadar akan hal itu


dan merencanakan sesuatu.


“sekarang,Lean!” Rio berteriak sambil menutup


pintu depan untuk mengalau mereka, terlihat dari lubang kunci, Jun pergi


berlari ke bagian belakang rumah dan Via hanya diam tak bergerak di depan


pintu. Sesuai rencana Via akhirnya sendiri, Riopun membuka pintu dan menghalau


Via dengan di ikuti aku yang berlari dibelakangnya. Sambil berlari kulihat apa


yang diberikan Rio padaku, selembar kertas dengan sebuah alamat rumah sakit di

__ADS_1


atasnya, dalam kertas itu menyuruhku kesana dan menyerahkan  pesan ini padanya. Kuberlari dengan napas


terbatas ini, terlihat Jun jauh dibelakangku mulai mendekat. Kupaksakan langkah


kaki ini sedikit lebih cepat dari sebelumnya, napasku mulai menipis namun


keadaan tak membiarkanku tuk istirahat. Sesampainya di tujuan ku segera berlari


ke ruangan yang dituju. Tanpa mengetuk dlu langsung ku buka pintu kamar itu


dengan cepat, terlihat bayangan gadis yang sedang memandang jauh keluar


jendela,


“ Apakah ingatanmu sudah kembali lean?” terdengar


suara seorang gadis dibalik tirai itu, ku mendekat tuk memastikannya. Ternyata


kesini? Sebelum ku bertanya iapun menyodorkan tangannya meminta surat dari Rio,


setelah kuberikan surat itu, aku juga menceritakan kalau aku sedang di kejar


seseorang, dengan tenang Ria menulis sesuatu di atas memo yang ku berikan tadi.


“coba kamu berdiri disini Lean.” Ia menunjuk


kearah depan jendela dan menyerahkan sebuah memo kepadaku. Aku berdiri tepat

__ADS_1


seperti yang dia inginkan, perlahan ia membisikkan sesuatu padaku walau


terkesan lembut dan pelan jelas sekali ia berkata “Semoga sukses,Lean.” Tiba2


dia mendorongku sampai keluar lewat jendela tingkat 2 itu. Aku terjatuh dan


terhambat oleh ranting – ranting pohon dan mendarat di semak2. Tidak lama


kemudian terdengar suara Jun dari kamar Ria, pasti Ria mendorongku tadi dengan


perhitungannya yg luar biasa, walau dari lantai 2 aku tidak menerima luka


apapun. Kulanjutkan berlari dan membaca memo dari Ria, disana tertulis.


“Pergi ke taman lalu belilah air mineral dan


duduknya di prosotan. Apapun yang terjadi lakukan seperti yang ku katakan.”


Kalau orang yang baru kenal Ria pasti akan


menghiraukannya tpi tidak bagiku, aku percaya apa yang ia katakan selalu benar.


Walau yang satu ini agak sulit untuk mengabulkannya. Untuk apa aku membeli air


mineral dan duduk di prosotan saat keadaan genting ini? Tapi saat ku berpikir


ini pesan dari Ria, semua kekhawatiranku hilang dan ku lakukan tanpa

__ADS_1


pertimbangan.


- Bersambung -


__ADS_2