
Dibawah sinar rembulan nan indah, bunga2 disetiap
ujung, rumput2 yang menari di terpa angin, di atas bukit ini, kami berdua
kembali di pertemukan oleh takdir, kini ku kembali percaya akan yang namanya
kebahagiaan akan datang pada mereka yang berusaha, hanya dengan senyum kecilmu
itu, badai yang berkecambuk dalam diriku langsung sirna tanpa jejak. Dalam
sunyinya malam ini kau mengatakan sesuatu yang selama ini kuharapkan.
“Lean, aku mencintaimu!! Bagaimana perasaanmu
padaku? Apakah kau juga mencintaiku Lean?”
Wajahmu yang memerah buatku tak tahan untuk
memelukmu, ku tatap wajahnya yang tak sanggup menatap balas. Perlahan ku dekati
dia dan ku belai lembut rambut panjangnya, namun ia menunduk dan menutup wajah
dengan kedua tangannya. Ku jawab pertanyaan itu dengan lembut,
“Luce? Lihat aku sekarang.”
Perlahan ia mengangkat wajahnya dan melihatku.
“Apakah aku terlihat seperti orang yang tidak
bahagia?”
Aku tersenyum dengan di iringi oleh tetesan air
mata dikedua pipiku, tak ada kata yang bisa menggambarkan kebahagiaanku saat
ini. Dalam kegelapan yang disebut kehidupan ini kau hadir dan menjadi obor
penerang dalam hidupku ini, semua hal mulai berwarna saat ada dirimu disana,
tanpamu aku pasti sudah terjatuh dalam lubang yang sangat dalam dan takkan bisa
kembali lagi.
__ADS_1
“Perlukah kau jawaban dariku?” aku tersenyum manis
sambil bertanya padanya, dan ia merespon dengan mengangguk kecil,
“Begitu ya….kalau begitu inilah jawabanku.” Ku
dekap Luce dengan penuh kehangatan, terdengar suara tangisan kecil darinya
bukan tangisan kesedihan tapi tangisan kebahagiaan yang kulihat padanya.
Mentari pun muncul tuk gantikan malam, kami berdua
duduk berdampingan sambil melihat sang mentari perlahan menampakkan dirinya,
saat itulah momen yang paling kami tunggu2 sejak 10 tahun lebih menanti, wahai
obor cahaya dalam kegelapan, tanpamu aku pasti takkan bisa menikmati momen ini,
dan pasti aku akan sangat menyesal bila itu terjadi.
“hey, Lean. Ini aku, ada hal penting yg ingin ku
sampaikan sebelum aku pergi.” Terucap dari bibir Luce,
Luce tidak lain adalah salahmu, tapi aku juga berterima kasih padamu karna
telah melindunginya sampai saat ini.”
Iapun menghela nafas panjang dan memulai
menyambung pembicaraan.
“yah…. Aku memang tidak pandai dalam situasi yang
seperti ini…. Tapi yang jelas aku benar2 minta maaf atas tindakanku sampai saat
ini, apa yang telah kulakukan semua ini hanya demi melindungi Luce, termasuk
sampai mengorbankan ibumu. Aku benar2 minta maaf,Lean.”
Rasa kesalku telah memuncak ingin ku pukul dan
kubalas perbuatannya selama ini tapi dia ada dialam tubuh Luce, tak mungkin aku
__ADS_1
bisa menyakitinya walau aku tau yang ada di dalamnya ini bukannya Luce yang
asli, ku ambil sebuah batu disebelahku dan kulemparkan dengan sekuat tenaga.
“Batu itu adalah rasa kesalku padamu, sekarang
telah pergi. Tapi aku akan selalu mengingatmu, satu hal lagi sebelum kau pergi
bisakah kau memberitau namamu?”
Senyum bercampur tangis terlihat di wajahnya yang
indah itu, iapun berkata
“terima kasih banyak, Lean. Namaku adlah Lensi,
selamat tinggal wahai kakakku tercinta.”
Lucepun kembali kedirinya semua tapi aku hanya
diam kaget setelah mengetahui identitas aslinya,Lensi adalah adik kecilnya yang
menyebalkan dan tomboi namun penyayang, ia sudah meninggal sejak aku masih
kecil karena menderita penyakit paru2 yang tak bisa disembuhkan sejak saat kepergiannya itu kujalani hidup
dengan video game yang sangat dia sukai sejak dlu, bahkan saat dirawat ia hanya
membicarakan soal game denganku.
“huh? Kenapa aku menangis?” Luce berkata sambil
mengusap air matanya
“Entahlah….mungkin kau hanya kelelahan, ayo kita
pulang, sayang….” Kamipun berjalan bersama untuk kembali sambil bergandengan
tangan. Aku harap semua ini akan tetap abadi dan menjamin akan kebahagiaan yang
menanti kami disana.
- Bersambung -
__ADS_1