Kerinduanku di Mataku

Kerinduanku di Mataku
Episode 29 - Obor


__ADS_3

Dibawah sinar rembulan nan indah, bunga2 disetiap


ujung, rumput2 yang menari di terpa angin, di atas bukit ini, kami berdua


kembali di pertemukan oleh takdir, kini ku kembali percaya akan yang namanya


kebahagiaan akan datang pada mereka yang berusaha, hanya dengan senyum kecilmu


itu, badai yang berkecambuk dalam diriku langsung sirna tanpa jejak. Dalam


sunyinya malam ini kau mengatakan sesuatu yang selama ini kuharapkan.


“Lean, aku mencintaimu!! Bagaimana perasaanmu


padaku? Apakah kau juga mencintaiku Lean?”


Wajahmu yang memerah buatku tak tahan untuk


memelukmu, ku tatap wajahnya yang tak sanggup menatap balas. Perlahan ku dekati


dia dan ku belai lembut rambut panjangnya, namun ia menunduk dan menutup wajah


dengan kedua tangannya. Ku jawab pertanyaan itu dengan lembut,


“Luce? Lihat aku sekarang.”


Perlahan ia mengangkat wajahnya dan melihatku.


“Apakah aku terlihat seperti orang yang tidak


bahagia?”


Aku tersenyum dengan di iringi oleh tetesan air


mata dikedua pipiku, tak ada kata yang bisa menggambarkan kebahagiaanku saat


ini. Dalam kegelapan yang disebut kehidupan ini kau hadir dan menjadi obor


penerang dalam hidupku ini, semua hal mulai berwarna saat ada dirimu disana,


tanpamu aku pasti sudah terjatuh dalam lubang yang sangat dalam dan takkan bisa


kembali lagi.

__ADS_1


“Perlukah kau jawaban dariku?” aku tersenyum manis


sambil bertanya padanya, dan ia merespon dengan mengangguk kecil,


“Begitu ya….kalau begitu inilah jawabanku.” Ku


dekap Luce dengan penuh kehangatan, terdengar suara tangisan kecil darinya


bukan tangisan kesedihan tapi tangisan kebahagiaan yang kulihat padanya.


Mentari pun muncul tuk gantikan malam, kami berdua


duduk berdampingan sambil melihat sang mentari perlahan menampakkan dirinya,


saat itulah momen yang paling kami tunggu2 sejak 10 tahun lebih menanti, wahai


obor cahaya dalam kegelapan, tanpamu aku pasti takkan bisa menikmati momen ini,


dan pasti aku akan sangat menyesal bila itu terjadi.


“hey, Lean. Ini aku, ada hal penting yg ingin ku


sampaikan sebelum aku pergi.” Terucap dari bibir Luce,


Luce tidak lain adalah salahmu, tapi aku juga berterima kasih padamu karna


telah melindunginya sampai saat ini.”


Iapun menghela nafas panjang dan memulai


menyambung pembicaraan.


“yah…. Aku memang tidak pandai dalam situasi yang


seperti ini…. Tapi yang jelas aku benar2 minta maaf atas tindakanku sampai saat


ini, apa yang telah kulakukan semua ini hanya demi melindungi Luce, termasuk


sampai mengorbankan ibumu. Aku benar2 minta maaf,Lean.”


Rasa kesalku telah memuncak ingin ku pukul dan


kubalas perbuatannya selama ini tapi dia ada dialam tubuh Luce, tak mungkin aku

__ADS_1


bisa menyakitinya walau aku tau yang ada di dalamnya ini bukannya Luce yang


asli, ku ambil sebuah batu disebelahku dan kulemparkan dengan sekuat tenaga.


“Batu itu adalah rasa kesalku padamu, sekarang


telah pergi. Tapi aku akan selalu mengingatmu, satu hal lagi sebelum kau pergi


bisakah kau memberitau namamu?”


Senyum bercampur tangis terlihat di wajahnya yang


indah itu, iapun berkata


“terima kasih banyak, Lean. Namaku adlah Lensi,


selamat tinggal wahai kakakku tercinta.”


Lucepun kembali kedirinya semua tapi aku hanya


diam kaget setelah mengetahui identitas aslinya,Lensi adalah adik kecilnya yang


menyebalkan dan tomboi namun penyayang, ia sudah meninggal sejak aku masih


kecil karena menderita penyakit paru2  yang tak bisa disembuhkan sejak saat kepergiannya itu kujalani hidup


dengan video game yang sangat dia sukai sejak dlu, bahkan saat dirawat ia hanya


membicarakan soal game denganku.


“huh? Kenapa aku menangis?” Luce berkata sambil


mengusap air matanya


“Entahlah….mungkin kau hanya kelelahan, ayo kita


pulang, sayang….” Kamipun berjalan bersama untuk kembali sambil bergandengan


tangan. Aku harap semua ini akan tetap abadi dan menjamin akan kebahagiaan yang


menanti kami disana.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2