Kerinduanku di Mataku

Kerinduanku di Mataku
Episode 17 - Dimensi


__ADS_3

Hening…..suara detak jam dinding semakin terdengar


dengan jelas, suara tawa dari luar rumah juga terdengar, tapi kita dapat


bertahan dalam keheningan sesaat itu. Hanya dalam waktu 20 menit Ria dapat


memecahkan masalah itu, tapi ia tidak mau memberitaukannya secara percuma, Ria


meminta bayaran dengan berbicara denganku secara 4 mata besok dini hari tanpa


pikir panjang akupun langsung menyetujui perjanjian tsb. Riapun bercerita pada


Jun dan Via bahwa surat cinta ini dari orang terdekatnya yang selama ini


menyukaimu juga,  pertama2 mereka berdua


tak percaya dengan analisa Ria dan akhirnya meminta bukti dari analisa itu agar


dpt dipercaya.


“aku sendiri tidak butuh kalian sampai percaya


padaku tapi jika kalian menggagalkan perjanjian itu bisa gawat, baiklah aku


beritau kalian beberapa petunjuk yg dapat kalian pahami, pertama yg jelas adlh


lambang hati pada amplob, jika kalian perhatikan lambang ini bukannya lambang


yang baru melainkan lambang yang sudah lama ia simpan lihat saja ada bnyk


goresan dan ada bau aneh sepertinya ini adalah bau dari pakaian yang sering ia


pakai, kedua dpt kalian lihat tulisan dari bawah sampai atas ada bnyk tulisan


yang tidak rapi bahkan tidak bagus, dan juga…..” Ria bercerita bnyk hal sampai


mereka berdua dpt percaya pada jawaban analisanya.


Ke esokan harinya aku tiba di rumah Ria sesuai


perjanjianku padanya kemarin, ku tekan bel yang tertera pada sebelah kiri pintu

__ADS_1


depannya, beberapa kali ku tekan namun tak ada respon dari dalam, saat aku


pegang pintunya, ternyata pintunya tak dikunci tanpa pengawasan, dengan segera


aku tutup pintu itu dan menelpon Ria. Tiba – tiba terdengar suara HP bergetar


dari atas pohon yang ada didepan rumahnya. Kulihat ke atas, ternyata itu adlah


Ria,


“yah, ketahuan deh. Padahal aku pengen liat kamu


jika ada rumah kosong tanpa keamanan apa yang bakal kmu lakukan, dan ternyata


kamu lolos tes pertama dariku, yaudah sesudah aku turun ayo masuk ke dalam, ada


sesuatu hal yang penting yg sangat ingin kau ketahui pastinya.”


Turunnya Ria dari pohon ia langsng mendorongku


masuk rumah dan menutup semua pintu dan jendela rumahnya, ia menyuruhku untuk


duduk dan menunggunya di ruang tamu, the manis jernih menemaniku kedalam


langkah kaki itu menyadarkanku.


“maaf menunggu lama, butuh persiapan lebih banyak


dari yang aku kira ternyata. Sekarang aku mau kau menuruti apa yang akan aku


perintahkan ya,Lean. Ok, sekarang aku mulai ya. Pertama coba tutup matamu


sambil mengkosongkan pikiranmu, dan fokuskan semuanya pada suaraku ini,


sekarang kau berbaringlah dan bayangkan tempat yang sangat membuatmu


nostalgia.” Tiba – tiba saja kesadaranku mulai melebur dalam ruangan itu,


perlahan suara Ria semakin menjauh dan semakin jauh sampai tak terdengar lagi,


ketika keheningan mulai menyelimutiku, ku putuskan tuk membuka mata ini secara

__ADS_1


perlahan dan ternyata aku telah dimasukkan ke dimensi bawah sadarku sendiri


yang selama ini terkunci. Cahaya orange membanjiri pemandangan di tepi sungai


yang penuh kenangan itu, diantara mentari dan rembulan saling berganti posisi


itulah disaat aku berdiri dan didepanku terlihat lagi sosok diriku sendiri yang


pernah muncul di mimpiku dulu,


“wahai diriku, apakah kau benar – benar ingin tau


apa sebenarnya yg terjadi pada Luce sekarang ini? Aku tak berhak memberitahumu


tentang itu, tapi ada satu hal yang dpt ku sampaikan padamu, sisa waktumu


kurang 3 hari lagi, sampai kau benar – benar digantikan oleh dirimu saat SMA


itu, dan jika kau digantikan sudah pasti semua ingatan dan kenanganmu sejak


kuliah ini dan sebelumnya akan hilang dan lenyap tanpa sisa, kau hanya akan


dilahirkan kembali menjadi status murid SMA lagi. Ngomong2 orang yang


mengetahui tentang Luce bukanlah aku, tapi dia adlh ibu kandungmu, Lean.”


“Hah? Apa maksudmu? Bukankah ibuku sudah meninggal


saat melahirkanku? Bagaimana dia bisa hidup?” perlahan bayangan diriku mulai


melebur dan menghilang secara perlahan, kegenggam tangannya dan kucoba untuk


menahannya, namun semua itu sia2 semua perlahan menghilang.


“wahai diriku, tolong kau jangan bermacam2 dengan


Via, dia itu sangat berbahaya.”


Sebelum aku bertanya sosoknya telah lenyap tanpa


bekas…..

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2