Kerinduanku di Mataku

Kerinduanku di Mataku
Episode 5 - Dekapan


__ADS_3

Tia berteriak sambil menangis “HEY,RIO! BISA KAU


JELASKAN KENAPA KAU MENGHALANGIKU KALI INI? KUMOHON BERI AKU PENJELASAN.”


“Rio, Tia jadi menangis, cepat lepaskan aku


sekarang Rio, hey Ri-“ setetes air mata berjatuhan ke mukaku, mungkinkah ini


air mata Rio? Rio tetap menyeretku tanpa membalas sepatah katapun.


Langit dikuasai kegelapan, tetesan demi tetesan


air berjatuhan ke tanah, hilang, semua menghilang tak ada yang tersisa,tak


dapat kubendung ataupun kuhentikan yang bisa kulakukan hanyalah melihat dan


menunggu dalam kekhawatiran.


Sesampainya dirumahku Rio duduk diruang tamu dan


ku hidangkan sebuah kopi hitam kesukaannya, vas yang diisi bunga mawar menjadi


penengah dan kopi yang menjadi pencair suasana buatku terdorong memulai


pembicaraan.


“Menuruku kau berkewajiban memberitauku semuanya


sekarang, iya kan, Rio?”sesambil meneguk kopi pahit


“sepertinya tidak ada yang bisa kusembunyikan lagi


darimu, mungkin ini terdengar aneh tapi percayalah ini adalah fakta yang


sebernarnya, Lean. Sebelum ku katakan aku ingin bertanya, apa kau ingat seragam


seperti apa seragam SMA kita? Apakah kau ingat bagaimana kita bertemu?


Tidakkan? Semua itu dimulai saat pertemuanku denganmu. Hari itu sangatlah


cerah, aku berjalan menyusuri koridor tuk sampai ke kelas SMA pertamaku. Saat


kumasuki kelas itu aku kaget semua orang sudah mulai berkenalan dan bahkan ada

__ADS_1


yang sudah membuat kelompok masing2 tapi ditengah – tengah keramaian itu


terlihat sebuah pemuda yang sedang duduk sendirian dan menggenggam erat


smartphone lusuh sambil menatap keluar jendela, dan pemuda itu adalah kau,


Lean. Pada awalku aku tak peduli denganmu dan aku duduk tepat didepanmu, orang


pertama yang mengajakku berbicara adalah gadis manis nan ceria yang bernama


Tia, sejak itu kami sering menghabiskan waktu bersama – sama. 1 minggu telah


terlewat semua orang di kelas sudah membuat kelompok mereka masing – masing


kecuali 1 orang yaitu kau, aku dan Tia mencoba mendekatimu tapi kau tak pernah


merespon kami dan menganggap kami tidak ada dan satu – satunya yang dapat


mencuri perhatianmu hanyalah smartphone lusuh yang selalu kau bawa, kau


terlihat sangat menyayangi smartphone itu dari apapun. Hingga kejadian itu


terjadi, saat sepulang sekolah untuk pertama kalinya kau berbicara kepada kami,


mencarinya. Saat kami bertiga berpencar aku bertemu seorang pemuda dengan tubuh


besar dikalahkan oleh gadis mungil, gadis itu menghampiriku dan memberikan


smartphonemu kepadaku ia hanya berkata “Tolong kembalikan pada Lean ya dan


katakan tolong jaga smartphone ini sampai aku mengambilnya kembali” diapun


lang-“


Suara pecahan gelasku menghentikan cerita Rio.


“a – apa yang kau katakan tadi? Dimna dia


sekarang?  Apakah dia baik – baik saja?


Hey jelaskan ,RIO!”


“Tenanglah ! dia baik – baik saja.”

__ADS_1


“Maaf,Rio. Bisakah kau membiarkanku sendiri untuk


sementara waktu?”


Rio langsung pergi tanpa berkata apapun padaku.


Entah perasaan apa yang sedang kurasakan kali ini, bingung, senang, khawatir,


emosi semua itu bercampur aduk dalam diriku dan membentuk sebuah bayang –


bayangmu dalam ingatanku, Luce ternyata selama ini kau ada didekatku. Tetesan


air mata mengalir membasahi pipiku, setelah sekian lama akhirnya bisa kulihat


akhir dari penantianku selama ini, semua ini hanya kulakukan untukmu, Luceku


yang tercinta.


Mentari telah pergi dan malam pun kembali, alam


mimpiku mulai terbangun diselimuti kenanganku tentangmu. Dibawah pohon kulihat


seorang gadis mungil menatapku dengan senyuman manisnya dan berkata “Akhirnya


kita bertemu lagi,Lean.” Tetesan air matanya melewati senyuman yang terlukis


diwajahnya. Ku berlari sambil menahan tangisku saat melihatmu “Luce !” kudekap


dia dengan erat “Aku tidak akan melepaskanmu kali ini, Luce.” Dalam dekapanku


terdengar suara lembut bercampur tangisan “Terima kasih atas segalanya, aku


mencintaimu, Lean.” Perlahan sosok Luce mulai memudar dan menghilang.


“LUCE!!!!!!”


[Kriiing] Alarm berbunyi, perlahan kubuka mata ini


walau terasa berat, kurasakan sebuah air mata yang terus mengalir tanpa henti,


dan kulihat smartphone Luce ada didalam pelukanku. Apakah semua itu hanya


mimpi? ataukah potongan dari ingatanku?

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2