
"Ayah, Ana udah bisa pulangkan?" tanya Ana.
Yah, setelah kejadian beberapa hari yang lalu Ana diharuskan dirawat inap dirumah sakit. Hari ini adalah hari terakhir Ana berada dirumah sakit. Dirumah sakit, ia selalu ditemani oleh Surya dan Diva. Terkadang kadang Ana juga, dikunjungi oleh ibu dan kakak tirinya.
"Iya. Ayah beresin barang kamu dulu baru kita pulang," balas Surya.
"Biar Ana aja yah. Ayah istirahat aja," pinta Ana.
"Nggak. Kamu duduk aja, biar ayah yang beresin ini semua," tegas Surya.
Ana pasrah dan menuruti perkataan sang ayah, ia duduk dipinggiran brankar sambil menatap Surya yang sibuk membereskan barang Ana. Setelah semua telah siap, Ana dan Surya meninggalkan rumah sakit dan bergegas menuju kerumah menggunakan mobil.
***
"Ana," panggil Surya yang fokus menyetir.
Ana yang tadinya fokus memperhatikan pemandangan dari balik kaca mobil, menatap sang ayah yang tengah fokus menyetir mobil.
"Iya."
"Ayah mau bicara sama kamu," ucapnya tetap menatap jalan.
"Mau bicara apa ayah? Kayaknya serius deh," jawab Ana.
Surya menghentikan mobilnya dipinggiran jalan. Tatapannya beralih kepada sang anak yang tengah menatapnya dengan mengukir senyuman indah diwajahnya. Surya menghelah nafasnya sebelum memulai ucapannya.
"Besok ayah harus kembali bekerja diluar kota, karena perusahaan sedang dalam masalah. Lagi pula waktu libur ayah sudah habis, jadi ayah harus kembali kesana," jelas Surya
"Kamu nggak papakan kalo ayah tinggalkan bersama kakak dan ibumu," lanjutnya lagi.
Seketika raut wajah Ana berubah sendu. Hidupnya baru saja mendapatkan kebahagiaan namun kebahagiaan itu sirna saat ayahnya akan pergi lagi. Gadis itu tidak kuat lagi untuk ditinggalkan bersama kedua wanita kejam itu. Dengan berat hati Ana tersenyum menatap ayahnya. Walau dalam hatinya sangat sedih karena ditinggal pergi oleh sang ayah, namun ia tersenyum agar ayahnya percaya bahwa dirinya setuju.
"Nggak apa apa kok yah. Ana pasti baik kalo sama kak Lia dan ibu," jawab Ana tersenyum paksa.
Surya yang melihat Ana tersenyum merasa tidak enak hati dengan anaknya itu. Ia tahu dengan sangat jelas anaknya pasti sangat sedih jika ditinggalkan oleh dirinya. Jujur, Surya ingin sekali tinggal bersama dengan anaknya itu, namun disaat situasi seperti ini ia tidak mungkin meninggalkan perusahaannya yang berada dalam masalah.
"Kamu yakin?"
Ana menghelah nafas dan menganggukan kepalanya dengan senyumannya. Kali ini Ana harus ikhlas jika harus ditinggal oleh sang ayah. Masalah soal ibu dan kakak tirinya itu akan diurus dengan jalan takdirnya yang telah ditentukan oleh tuhan.
Surya tidak ingin memperpanjang kesedihan sang putri, ia dengan segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju kediaman Surya.
***
Suara klakson mobil telah terdengar diperkarangan rumah, sehingga membuat isi rumah keluar dan menghampiri sang mobil. Turunlah Ana dan Surya bersama sama, mereka telah disambut ramah oleh ibu dan kakak tiri Ana. Surya sangat menikmati sambutan tersebut, sedangkan Ana gadis itu tidam merasa bahagia. Ia masih dilanda kesedihan karena akan ditinggalkan oleh sang ayah.
"Sayang kamu udah sehatkan?" tanya Sinta langsung memeluk Ana.
Refleks Ana kaget setelah mendapatkan perlakuan secara tiba-tiba itu. Ana tidak tahu harus berbuat apa, membalas pelukannya atau tidak.
"Balas pelukannku, atau ibu siksa kamu," bisiknya yang masih memeluk Ana.
Dengan perlahan Ana membalas pelukan sang ibu tiri, walau baru kali ini ia dapat memeluk sinta. Jujur saja, dari dulu Ana ingin sekali memeluk ibu tirinya itu, namun setelah melihat perlakuan Sinta kepadanya rasanya keinginnya itu untuk memeluknya dengan kilat menghilang.
"Oh, iya mas. Didalam ada orang yang cari mas lo," kata Sinta melepas pelukannya dari Ana.
"Siapa?"
Sinta menggelengkan kepala, memberi tanda tidak tahu.
__ADS_1
"Kita masuk aja dulu yah, nanti kita lihat orangnya," kata Ana.
"Yasudah ayo."
"Bu, tolong suruh pelayan bawa masuk barang barang Ana," lanjutnya lagi lalu pergi bersama Ana, memasuki rumah.
"Ck, awas saja kamu Ana."
Surya dan Ana memasuki rumahnya dengan bersamaan. Sesekali mereka disapa rama oleh pembantu yang melewati mereka. Dengan senyuman yang indah Ana membalas senyuman para pelayan itu. Walau ada sedikit kesedihan yang ada didalam hati Ana, karena harus ditinggal pergi oleh sang ayah. Namun ia membuang kesedihannya itu jauh jauh agar ayahnya tidak dapat curiga, jika saat ini ia sedang bersedih.
Jika menyangkut tentang Lia dan Sinta, Ana akan menghadapinya dengan ikhlas. Kali ini ia tidak akan melawan jika disiksa oleh kedua wanita kejam itu. Ia sudah percaya dengan semua takdir tuhan yang telah diberikan olehnya. Walau mungkin takdir itu akan menyakitkan baginya namun ia akan menjalaninya dengan senyuman dan hati yang tabah.
"Ayah Ana kekamar dulu," ucap Ana menghentikan langkahnya.
"Kamu nggak mau lihat tamu kita dulu sayang," balas Surya.
"Bentar aja ayah. Lagian Ana juga mau mandi dulu, soalnya badan Ana udah lengket banget," jawab Ana.
"Oh kalo gitu ayah liat tamu dulu yah. Kamu nanti nyusul yah."
"Iya."
Ana menaiki tangga rumahnya satu persatu, langkahnya begitu pelan menuju pintu kamarnya. Sesampainya didepan pintu kamar, Ana membukanya dengan pelan dan memasuki kamar. Matanya menatap dinding yang dibaluti beberapa foto dirinya bersama ayah dan bundanya. Ana menutup pintu kamarnya dengan pelan sehingga tidak memunculkan suara sedikitpun.
Gadis itu mendudukkan dirinya dibelakang pintu. Ana memeluk kakinya sendiri dengan air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya. Saat ini ia sangat sedih dengan kehidupannya sendiri. Entah takdir apa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya, sehingga hidupnya sangatlah rumit. Kali ini ia sangatlah rapuh, ia sangat membutuhkan sandaran untuk menumpahkan seluruh kesedihannya. Namun ia tersadar bahwa didunia ini tidak ada yang bisa menjadi tempat sandarannya. Baik itu Diva ataupun ayahnya.
Ia tak tahu harus mengaduh kepada siapa semua masalahnya. Jujur saja, Ana ingin sekali mengaduh semua kejahatan dari kakak dan ibu tirinya kepada sang ayah. Tapi, jika ia akan melakukan itu, tentu kehidupan ayahnya akan dalam bahaya. Ia akan merelakan semua apapun demi sang ayah, walaupun itu akan mengakibatkan nyawanya yang terancam.
Ana gadis itu telah menangis sedari tadi, matanya sudah sangat sembab dan hidungnya sudah merah. Ana tidak ingin berlama lama terlarut dalam kesedihannya. Dengan pelan ia berdiri dan menyeka kasar air mata yang jatuh dipipinya. Ia berjalan menuju kekamar mandi dan membersihkan dirinya yang sedari tadi lengket.
Setelah selesai dengan aktifitasnya didalam kamar mandi, Ana keluar dan mengenakan pakaiannya. Hari ini ia memakai kaos bewarna putih polos dengan celana kain bewarna biru. Tak lupa pula ia mengikat rambutnya dan memakai kecemata yang bertengger diwajahnya.
Pandangannya mengarah kearah cermin yang tengah menampakkan dirinya yang telah selesai bersiap siap. Jujur saja, jika dibandingkan oleh semua wanita yang berada didunia ini mungkin hanya dirinya saja yang sangat buruk. Penampilan yang begitu kuno, sehingga membuat semua orang memaki dirinya.
Suara ketukan pintu membuyarkan hayalan Ana, dengan pelan gadis itu berjalan kearah pintu dan membuka pintu kamarnya. Didepannya telah terdapat sosok yang telah dikenal oleh Ana siapa lagi kalau bukan Lia.
"Lama banget sih lo buka pintunya," ketus Lia.
"T-tadi Ana lagi ganti baju kak," lirih Ana yang sudah menunduk.
"Ck, alasan lo doang. Udah lo itu dipanggil dari tadi sama ayah, jangan kayak ratu lo yang mau ditungguin," cibir Lia lalu pergi meninggalkan Ana.
Ana mengangkat kepalanya dan menatap Lia yang turun melewati anak tangga, lama kelamaan tubuhnya sudah tidak terlihat lagi. Ana mendengus pelan, jika boleh jujur ia ingin sekali kakaknya itu menyayanginya seperti kakak lainnya diluar sana. Namun pikiranya itu mungkin tidak akan pernah terwujud.
Tidak ingin berlama lama, Ana segera menyusul sang kakak dan menemui ayahnya yang berada diruang tamu. Langkah kaki Ana terhenti saat melihat tiga sosok orang asing yang duduk didekat ayahnya. Matanya tertuju kepada dua orang paruh baya itu, lalu menatap pria yang lebih muda disebelah wanita itu. Pria itu fokus dengan ponsel ditangannya sedangkan pria dan wanita paruh baya itu asyik mengobrol dengan ayah dan ibu tirinya. Mata Ana tetap melekat kearah pria muda itu, rasanya seperti pernah melihatnya namun ia lupa pernah melihat dimana.
"Ana," panggil Surya, secara otomatis seluruh tatapan mengarah kearah gadis itu. Sedangkan gadis itu tersenyum kikuk memandangi tatapan mereka.
"Ana duduk disini sayang, ada yang mau ketemu sama kamu," ucap Sinta sambil menepuk kursi kosong yang ada didekatnya.
Ana kikuk dan berjalan pelan kearah Sinta, ental jika ia berada didekat ibu tirinya ia merasa takut walau itu hanya berdrama saja. Ana mendudukkan dirinya disebelah Sinta, sedangkan ayah dan kakak tirinya-Lia duduk bersama dikursi yang berbeda.
"Jadi ini putrimu," ucap pria paru baya itu.
Surya menganggukkan kepalanya bertanda mengiyakan jawaban lelaki itu. Sedangkan lelaki itu tersenyum memandang Ana, begitupun dengan wanita yang berada disebelahnya, memandang Ana dengan penuh kasih dan sayang. Sementara Aan tersenyum kikuk kepada kedua orang itu.
"Namamu siapa sayang?" ucap wanita itu.
"Ana tante."
__ADS_1
"Wah! Namamu cantik sekali sayang, seperti orangnya juga cantik," kata wanita itu.
Ana menunduk, wajahnya kali ini benar benar merah. Jujur saja baru kali ini dirinya dipuji oleh orang lain selain Diva dan Surya.
"Ana ini teman ayah, namanya Hendra dan istrinya Rita," ucap Surya
"Halo tante, om," sapa Ana
Sedangkan yang disapa membalas dengan senyuman yang indah. Mata Ana kembali menatap pria yang berada disebelah wanita paruh baya itu. Tidak ada raut sedikitpun yang terukir diwajahnya. Saat sedang asyiknya Ana memerhatikan lelaki itu Rita membuyarkan pandangan Ana.
"Nah, Ana kalau ini anak tante. Namanya Arjuna Pratama Mahendra."
Seketika ingatan Ana berputar, ia seperti pernah mengingat nama dan wajah sang empu. Setelah lama berfikir, akhirnya Ana mengingat siapa sosok yang berada didepannya.
"J-juna ya tan," kata Ana.
"Kamu kenalkan sama dia?"
Ana mengangguk menjawab pertanyaan Rita, dengan senyuman yang indah Rita berikan kepada Ana. Disisi lain, Lia begitu iri melihat Ana yang selalu saja dipuji oleh banyak orang. Entah mengapa ia begitu benci kepada Ana jika ia harus bahagia.
"Tapi, dari mana kamu bisa dapat alamat rumahku Hendra?" tanya Surya.
"Ck, aku ini Mahendra Prayoga, Surya. Tentu segala sesuatu aku akan mengetahuinya," kata Hendra membanggakan dirinya.
"Ck, kau ini memang tidak pernah berubah," jawab Surya lalu tertawa dan diikuti oleh semua orang disitu. Kecuali Juna pria itu dan Ana.
Kedua keluarga itu terlarut dalam cerita masing masing. Hendra dan Surya sibuk membahas tentang perusahan mereka, sedangkan Rita dan Sinta sibuk membahas alat kecantikan dimasa sekarang. Biasalah kalo cewek udah pada ketemu bawaannya gosip mulu. Berbeda dengan Ana, ia hanya memerhatikan kedua wanita itu berbicara, sesekali ia melirik Juna yang sedang diajak berbicara oleh Lia. Namun Juna tidak menanggapi semua ucapan dari Lia, ia tetap fokus dengan ponselnya dan mengabaikan Lia yang sedari tadi berusaha mendekati dirinya.
Jika boleh jujur, Ana bisa melihat bahwa kakak tirinya seperti menyukai Juna teman kelasnya. Itu sangat mudah dilihat oleh diri Ana, dari tatapan Lia berikan kepada Juna dan perhatian yang ingin ia dapatkan dari Juna. Namun harapannya itu seperti sia-sia saja, karena sang empu saja tidak ingin memerhatikan gadis cantik yang ada didepannya.
***
Setelah berbincang begitu lama, akhirnya Hendra dan keluarganya berniat untuk pulang.
"Lain kali kamu datang kerumah tante yah, Ana," ucap Rita yang kini berada didepan pintu rumah.
"Iya tan, kalau ada waktu Ana mampir," jawab Ana.
"Kalau begitu kami pamit dulu Surya. Besok aku akan mengantarmu kebandara," pamit Hendra.
"Ya, aku akan menunggumu. Sekalian saja kau bawa istri dan anakmu itu untuk mengantarku," balas Surya.
"Ck, iya nanti kuusahakan. Kalau begitu kami pamit dulu ya. Assalamualaikum," salam Hendra.
"Waalaikum salam."
Kini mobil Hendra telah melaju meninggalkan perkarangan rumah Ana. Keluarga itu kembali memasuki kamar mereka masing-masing dan berusaha beristirahat.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....