Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
Part 12


__ADS_3

Pov Ana


Hatiku sangat hancur saat mendengar ucapan dari Bik Narsih yang mengatakan pesawat yang dinaiki ayah kecelakaan. Pikiranku langsung saja tertuju kepada ayah. Bagaimana keadaannya? Apa dia sudah ada di rumah sakit?


Badanku ambruk kelantai, kaki terasa bergetar mendengar kabar itu. Aku menangis dengan kerasnya, Bik Narsih sedari tadi mengatakan kepadaku untuk bersabar. Namun hatiku ini tidak dapat menerima kenyataan yang pahit ini.


"Non, yang sabar. Tuan sekarang ada di rumah sakit ********, keadaannya sekarang sangat keritis," ucapnya yang menenangkanku.


Aku langsung saja berdiri dan meninggalkan wanita itu yang tengah meneriaki. Satu persatu anak tangga kulewati dengan cepat, hingga aku berpapasan dengan ibu dan kakak tiriku. Kulihat mereka dengan senangnya tertawa bahagia. Aku bersembunyi dan mendengarkan percakapan mereka dari jauh.


"Ibu berita itu beneran?"


"Iya sayang itu betulan. Dan sekarang pasti tua bangka itu sekarat dirumah sakit."


"Hahaahaa itu artinya kekayaan ini akan menjadi milik kita dong bu."


"Iya. Kita akan jadi kaya, dan anaknya itu kita akan usir dari rumah."


"Yey jadi orang kaya, Ana jadi gembel."


Ucapan mereka membuat hatiku bertambah sakit. Bisa bisanya kedua wanita itu bersenang senang sementara kondisi ayahnya tidak tahu bagaimana. Kali ini kesabaranku telah habis. Aku sudah tidak sanggup lagi harus tertunduk kepada kedua wanita kejam itu. Apalagi ia hanya memanfaatkan kekayaan ayahnya.


"DASAR WANITA IBLIS KALIAN BERDUA!!" teriakku keluar dari persembunyian.


Kali ini aku akan melawan, aku tidak akan membiarkan diriku ditindas oleh kedua wanita iblis itu. Mereka menatapku dengan tatapan tajam, aku tidak memperdulikan tatapan dari mereka, sekarang aku yang akan bertindak.


"KALIAN TIDAK PUNYA HATI!! DENGAN MUDAHNYA KALIAN MENDOAKAN AYAH SUPAYA MATI!!" teriakku lagi.


Mereka menatapku dengan sinis, tak lama kemudian mereka melangkahkan kakinya kearahku dengan melipat kedua tangan diatas dada. Aku tidak merasa takut kepada kedua manusia didepanku. Saat mendengar ucapan yang menusuk hati, saat itu pula ketakutanku berubah menjadi keberanian untuk melawan mereka.


"Wah bu, udah berani dia neriakin kita," cibirnya.


"Eh lo! Dengar baik baik. Lebih baik lo pergi kerumah sakit dan dengar kabar dari dokter bahwa." menjeda kalimatnya. "Ayah lo udah mati!" lanjutnya.


PLAKK


Aku sudah tidak tahan lagi dengan ucapannya, emosiku sudah diluar batas. Dengan cepat aku menampar Lia sehingga meninggalkan bekas dipipinya.


Ibu tiriku terlihat begitu terkejut saat aku menampar Lia, berbeda dengan Lia. Aku melihat ia sangat marah dengan kelakuanku.


"Dasar wanita murahan kalian! Kalian itu tidak seharusnya lahir didunia ini!! Dan bodohnya aku mau menuruti perkataan kalian!"


"Aku akan melaporkan kalian kepada pihak yang berwajib karena telah menyiksaku!" ancamku lalu pergi menuju kerumah sakit.


"Bu, gembel itu nampar Lia," gertak Lia


"Kamu tenang saja Lia, ibu pastikan gadis bodoh itu hidup dengan tenang karena sudah menghina kita."


***


Kini aku telah berada dirumah sakit, tempat ayah dibawah. Aku berlari melewati lorong lorong rumah sakit dengan penampilan yang sangat kacau. Aku sudah tidak perduli dengan semua yang menatapku seperti orang gila yang memanggil nama disetiap lorong rumah sakit. Saat ini yang paling penting bagiku hanyalah ayah. Itu saja.


Aku berlari melewati semua orang yang berada dilorong rumah sakit, beberapa kali aku terjatuh kelantai. Aku berlari hingga sampai didepan pintu bercat putih.


Keadaannya disekitar itu lumayan sepi, beberapa kali aku menangis dan berdoa untuk keselamatan ayah.


"Tuhan tolong jangan ambil ayahku."


"Hanya dia yang kupunya."


"Jika kau mengambilnya maka kau harus mengambilku juga."


Aku terduduk dikursi tunggu samping pintu putih itu, beberapa kali aku menatap pintu yang berdiri kokoh itu.


"ANA!"


Seseorang memanggil namaku, dengan pelan aku membalikkan tubuhku dan melihat sang empu.


Air mata yang tadinya terhenti sekarang harus keluar kembali saat melihat Diva dan keluarga Juna.


"Kamu yang sabar Ana, aku yakin pasti ayah kamu baik baik aja," bujuknya padaku.


Aku menangis dalam pelukan sahabatku itu, rasanya saat ini aku memang betul betul membutuhkan tumpuan untuk mengeluarkan kesedihanku. Dan orang yang tepat saat ini memang hanya Diva.


"Kamu sabar ya Ana, tante ada disini sama suami tante kok," bujuk Rita.


Aku menganggukkan kepalaku, rasanya ada sedikit ketenangan saat wanita paruh baya itu menenangkanku.


Tak lama kemudian pintu bercat putih itu terbuka dengan perlahan dan menampakkan sang empu. Terdapat wanita paruh baya yang memakai jas putih dan benda yang melingkari leher.


Dengan cepat aku melepas pelukanku kepada Diva dan berlari menuju wanita itu.


"Keluarga pasien?"


"Iya saya anaknya."


"D-dokter bagaimana keadaan ayah saya?" tanyaku terisak


"Ayah anda mengalami benturan yang cukup keras dikepalanya sehingga," ucapnya menjeda. "Pasien mengalami koma." lanjutnya.


DEG


Jantungku rasanya ingin meledak, tubuhku ambruk kelantai. Tangisku kembali pecah, aku tidak peduli dengan mata yang menganggapku aneh. Rasanya ragaku masih ada ditempat namun jiwaku telah melayang pergi.


"Hiks ... Ayah hiks ... Diva ayah," tangisku


"Udah Ana sabar, ayah kamu nanti sembuh kok."


"Iya Ana pasti ayah kamu sembuh. Kamu yang sabar ya nak," sahut Rita


"Dok, saya mau lihat ayah saya boleh?" tanyaku dengan pelan


Dokter itu mengangguk mengiyakan. Dengan cepat aku masuk kedalam ruangan ayah dan meninggalkan kedua wanita yang sedari tadi menemaniku.


Aku memasuki ruangan bercat putih itu, langkahku rasanya sangat berat saat memasukinya. Mataku kembali mengeluarkan cairan bening saat menatap sosok yang sangat kusayangi.


Aku duduk disamping tempat ayah berbaring. Kupegang tangannya yang dingin, aku menatap wajanya yang pucat dan dilapisi beberapa perban dikepala. Air mataku berhasil keluar, seembun bening mendarat dipipiku.

__ADS_1


"A-ayah."


"Ayah bangun, ayah nggak mau lihat Ana ya."


"Ayah bangun ayah, jangan tidur mulu."


"Ayah."


"Yah."


"Ayah kalau ayah nggak mau buka mata. Ana bakal mogok makan!"


Aku berbicara kepada ayah yang masih memejamkan mata. Bisa dibilang gila juga kalau aku berbicara tanpa tidak ada sahutan. Beberapa kali aku memejamkan mata untuk meluruskan pikiranku.


CLEK


Pintu bercat putih itu terbuka dengan pelan, sehingga menampakkan sang empu. Aku menatap dua sosok wanita yang membuka pintunya. Senyuman manis terukir diwajahnya, mereka berjalan kearah sisi lain tempat tidur ayah. Aku menatap tajam kepada kedua wanita didepanku. Siapa lagi kalau bukan Kakak dan Ibu tiriku


"Bagaimana keadaannya?" tanya ibu tiriku


Aku tidak bergeming. Aku tetap menatap ayah yang tengah terbaring lemah diatas kasur.


"Hei! Gadis bodoh ibuku bertanya padamu!" bentak Lia


Aku menatap tajam kepada Lia, entah mengapa ketakutanku kepadanya hilang bagaikan angin yang lewat saja.


"Memangnya kalian peduli sama ayah. Ck, aku baru ingat kalian ternyata hanya peduli dengan harta." ketusku


"Dasar tidak tahu sopan santun!!" bentak Lia lalu mengangkat tangannya yang ingin menamparku.


Aku menutup mataku agar tidak dapat melihat gerakan tangannya. Cukup lama aku menutup mata namun aku tak merasakan apa apa. Aku membuka mataku dengan perlahan dan mencoba menetralkan kembali pandanganku. Mataku membulat seketika saat tangan menghalangi tangan Lia untuk menamparku.


Juna-lelaki itu yang menahan tangan Lia untuk menampar diriku. Dengan kasar ia menghempas tangan kakak tiriku.


"Pergi!" usirnya


"J-juna? Kamu ngapain disini?" tanya Lia


"Kalian pergi!" katanya mengulangi.


Aku tertegun melihat sikapnya. Memang sangat dingin pikirku


"I-iya." mereka pergi meninggalkanku bersama Juna didalam ruangan tempat ayah.


Aku menatap Juna yang tengah memandang arah lain.


"M-makasih," ucapku


Kulihat dia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dengan gayanya ia keluar ruangan dan meninggalkanku bersama ayah.


Aku menghela nafas, kutatap ayah yang tengah terbaring diatas sana. Tak lama kemudian datang seorang perawat.


"Maaf, pasien akan kami pindahkan," katanya


Aku mengangguk mengiyakan.


***


"Nggak usah Va, aku nggak lapar kok," jawabku


"Nggak lapar gimana! Kamu itu belum makan selama dua hari ini Ana!" jelasnya


Yah, kuakui aku memang belum makan selama dua hari ini. Aku masih tetap setia untuk mendampingi ayah hingga ia siuman.


"Ana lagi pula, kalau kamu gini pasti om Surya bakal sedih liatin kamu," katanya.


Aku tetap menolak tawaran dari Diva, sesekali kulihat ia mendengus karena kewalahan membujukku untuk makan.


"Ana, kalau kamu nggak mau makan nanti aku aduhin sama tante Rita lo," ancamnya.


Belum sempat aku membalas ucapanya, seseorang telah bersuara didepan pintu.


"Aduin apa Diva?" ucapnya


Aku menatap wanita paruh baya didepanku, kuukirkan senyuman dan berjalan menyalami tangannya. Begitupun dengan Diva.


"Nggak ada kok tante," ucapku


"Bohong tante. Aku mau aduin sama tante kalau Ana nggak mau makan selama dua hari ini," jelas Diva


"Ana nggak lapar kok, tante," ucapku memelas.


Ia menatap kearahku, lalu mengukir senyuman indah diwajahnya. Ia berjalan mendekatiku lalu mengelus pucuk rambutku.


"Ana, kamu harus makan ya sayang," bujuknya


"Tapi, aku nggak lapar tante," elakku


"Kasihan lo ayah kamu kalo liat kamu nggak mau makan."


Kutatap ayahku yang tengah berbaring diatas tempat tidur. Rasanya tak sanggup jika ayah sedih melihatku seperti ini. Kuanggukkan kepalaku untuk makan, senyuman terukir diwajah kedua wanita yang selalu menemaniku.


Aku merasa kalau didunia ini masih ada yang sayang kepadaku. Kuambil makanan yang ada diatas nakas lalu memakannya dihadapan kedua wanita itu. Lia dan ibu tiriku? Mereka wanita tidak tahu diri. Jangankan menjenguk ayah, mereka tidak pernah mau melihat ayah. Mereka berdua sangat sibuk dengan kekayaan ayah disana. Sehingga aku harus banting tulang untuk kerja agar dapat membayar uang rumah sakit ayah. Sepeserpun mereka tidak berikan kepadaku.


"Udah tan, aku mau pergi kerja dulu," ucapku menyudahi memakan makanan.


"Loh, udah. Kamu nggak usah kerja lagi pula ngapain kamu kerja?" tanyanya bingung.


"Iya. Bukannya uang ayah kamu banyak ya Ana? Tapi ngapain kamu mau kerja?" tanya Diva bingung


"Aku harus kerja, untuk bayar uang rumah sakit ayah," ucapku lirih.


Kulihat mereka nampak bingung, dengan ucapanku. Mungkin dipikaran mereka bertanya tanya mengapa kerja untuk bayar rumah sakit. Padahal uang ayahku banyak? Pikirku.


"Kenapa nggak minta sama ibu kamu Ana," tanya Rita.


"Soalnya ak,-" ucapanku terpotong saat Diva telah menyambarnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Nggak! Kamu nggak boleh kerja. Biar aku beri pelajaran sama iblis itu!" tegas Diva.


Gadis itu, seakan mengerti keadaanku saat ini. Aku menggelengkan kepalaku tidak menyetujui, sedangkan Rita-mamanya Juna, nampak bingung dengan pembicaraan kami berdua.


"Ini itu ada apa sih? Iblis? Beri pelajaran sama siapa?" tanya Rita semakin bingung.


"Nggak kok, tante Diva cuma bercanda doang, iya kan Va," ucapku.


"Nggak. Aku akan beri pelajaran iblis itu!" ketusnya.


"Nggak usah Diva, biarin aja mereka. Aku bisa cari kerja kok," jawabku.


"Nggak!"


"Tante, tante mau ikut sama saya. Biar tante nggak bingung!" ucapnya lagi.


Rita menganggukkan kepalanya. Kali ini kulihat Diva sangat menahan emosinya. Kucegah dia agar tidak menjadi keributan. Namun usahaku sia-sia aku harus mengalah akibat perkataannya.


***


Sampailah kami bertiga dirumah yang besar, tentu rumah itu adalah rumahku. Rasanya sangat rindu dengan rumah ini, karena sudah berapa hari aku tidak pulang karena harus menjaga ayah dirumah sakit dan mencari kerja.


Aku keluar dalam mobil dan menutup pintunya dengan pelan begitupun dengan Rita. Namun berbeda dengan Diva, gadis itu menutup pintu mobil dengan keras sehingga membuat aku dan tante Rita terkejut.


"Ayo tante, Ana," ajaknya


Aku mengekori Diva bersama Rita. Wanita paruh baya itu semakin dibuat bingung oleh Diva. Mengapa ia berada dirumah Ana dan mengapa Diva sangat emosi saat memasuki rumah. Pikirku.


BRUK!


Diva langsung menendang pintu utama itu dan memasukinya dengan penuh emosi. Aku dan Rita terlonjak kaget dengan kelakuan Diva.


Diva menarikku untuk masuk kedalam rumah yang besar itu. Aku tidak dapat


melawan. Saat ini aku tidak bisa melawan karena Diva sangat emosi. Rita mengekoriku dengan Diva.


"Tante sembunyi disini aja yah, liatin Diva aja dari sini," gadis itu berkata dengan lembutnya. Sedangkan wanita itu mengangguk lalu bersembunyi dibalik tirai sambil mengintip.


"Va, udahlah. Kita pulang aja yah. Nggak ada yang jagain ayah disana, lagi pula aku harus kerja," ucapku memelas


"Ana kamu itu nggak habis pikir apa! Jangan mau diperbudak!"


Aku bungkam tidak tahu apa yang harus kubuat. Diva mulai melepaskan tangannya dari lenganku. Dengan berdecak pinggang ia berteriak memanggil nama Lia dan Ibu tiriku.


"WOI IBLIS KELUAR LO!!"


"SINTA! LIA! KELUAR LO!"


"WOI KELUAR LO SEMUA!"


"Div, udah. Kita kerumah sakit aja, mungkin mereka lagi pergi," bujukku.


"Udah lo diam aja! Biar gue yang urus!" bentaknya


Lagi-lagi aku terdiam dibuat olehnya. Aku hanya memerhatikannya yang tengah meneriaki ibu dan kakak tiriku.


"Mau apa kalian datang kesini!" tanya wanita dibalik pintu.


Diva menatap sinis kedua wanita yang ada didepannya, lalu ia berdecih dan berjalan kearah mereka berdkua.


"Oh, ternyata baru pulang shoping yah," ucap Diva dengan nada mengejek.


"Emang urusan sama lo apa! Keluarga aja bukan iya kan bu," jawab Lia dengan tatapan sinisnya


"Yah, urusan gue sih emang nggak ada, tapi uang yang kalian pake itu milik om Surya dan anaknya Ana."


Kulihat mereka menertawai ucapan Diva, namun yang ditertawakan nampak biasa saja.


"Hahaha ... Hei! Lo dengar ya! Gue tahu pasti Ana yang suruh lo, minta biaya rumah sakit itukan? Asal lo tahu aja, ibu dan gue nggak bakal ngasih sepeserpun buat tua bangka itu. Dan tua bangka itu lebih baik mati, dari pada nguras uang kita mulu iyakan bu," jelasnya lalu tertawa bersama dengan ibu.


"Dasar wanita bejat kalian berdua!!" bentak Diva.


Diva mulai mengangkat tangannya dan siap untuk menampar Lia. Tapi tangannya dicegah oleh Ibu tiriku, ia menghempaskan tangan Diva dengan kasar sehingga Diva jatuh kelantai. Dengan cepat aku berlari kearah Diva dan menolongnya.


"Oh, pantasan saja Diva ada disini bu. Ternyata anak gembel yang bawa kesini!"


"Udah ya kak! Aku udah banyak sabar dengan sikap kalian berdua!" bentakku.


"Hei anak kurang ajar! Kamu sudah berani melawan kami! Hah!" bentak Sinta.


"Ck, kau memang sama seperti ibumu sangat bodoh!" remehnya.


"Cukup bu!! Ana udah nggak tahan lagi sama sikap kalian!" bentakku


"Hei! Gembel! Kau berani sekali membentak ibuku. Kali ini aku akan memberimu pelajaran!" bentak Lia.


Sama halnya dengan Diva, Lia juga akan melayangkan sebuah tamparan diwajahku. Aku menutup mataku saat Lia ingin menamparku. Tapi tunggu, kenapa aku tidak merasakan sebuah pukulan yang mengenai wajahku. Dengan pelan aku membuka mataku dan mencoba menetralkan penglihatan.


Mataku membulat seketika saat melihat tangan yang menghalangi tangan Lia untuk menamparku.


"T-tante Rita."


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2