Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
Part 25


__ADS_3

Cahaya mentari pagi bersinar tanpa Malu-malu. Rasa panas dan terik saat mengenai tubuh, embun yang terkena paparannya sedikit demi sedikit menghilang. Sirna tanpa meninggalkan bekas.


Cahaya hangat itu tepat mengenai, tubuh kedua remaja SMA yang tengah terlelap. Lama kelamaan cahaya itu semakin panas, dan membuat Ana terbangun.


Perlahan kedua kelopak mata ia buka, mencoba menetralkan penglihatan. Gadis itu ingin beranjak bangun dari tidurnya, tetapi ada sesuatu yang menahan dipinggangnya. Ana menatap tangan Juna yang berada diatas pinggangnya, pria itu memeluk dirinya dari samping. Ia melepas tangan Juna, dan duduk di sandaran tempat tidur.


Ia mencoba mengingat kejadian yang menimpanya semalam, tak lama kemudian setetes cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Gadis itu terus saja mengingat kejadian tadi malam, lama kelamaan isakannya menjadi tangisan.


Juna yang tengah terlelap, merasa ada pergerakan dari sebelahnya. Ia mencoba menetralkan penglihatannya, dan saat sudah baik ia melihat Ana yang tengah menangis dengan memeluk kedua lututnya. Pria itu tentu mengerti kenapa Ana menangis, pasti gadis itu masih syok mengingat kejadian semalam. Juna mendekati Ana dan memeluk gadis itu agar berhenti menangis. Sesekali ia mencium pucuk rambut Ana.


"Tenanglah," bujuknya.


Bukannya tenang Ana semakin menguatkan tangisannya, gadis itu mengeluarkan semua tangisannya di pelukan Juna. Juna tidak sama sekali keberatan, ia membiarkan Ana menangis di dekapannya walau bajunya basah akibat air mata Ana.


Setelah beberapa menit Ana tidak lagi menangis, tapi masih ada isakan kecil yang terdengar ia melepaskan pelukannya dari Juna. "Maaf bajumu basah gara gara aku."


"Tenanglah, itu tidak penting. Apa kau lapar?"


Ana mengangguk. "Iya."


"Mandilah dulu, aku akan mengambilkanmu makanan," kata Juna yang diangguki oleh Ana.


Setelahnya Juna pergi mengambilkan Ana makanan, sedangkan Ana pergi membersihkan dirinya.


Saat di kamar mandi, Ana lupa kalau dia tidak mempunyai baju ganti. Gadis itu juga bingung dengan pakaiannya sudah berganti dengan baju biasa. Pikiran buruk sudah ia bayangkan dikepala, gadis itu sudah berpikiran negatif kepada Juna.


Karena tidak ada baju ganti, Ana memakai kimono putih yang tergantung dekat pintu gadis itu keluar dari kamar mandi. Ana menatap isi kamar, ia baru sadar kalau ia bukan di rumah Rita. Pandangannya tertuju pada nasi goreng dan segelas air putih di atas meja.


Karena perutnya sudah minta diisi kelaparan Ana memakan nasi goreng dengan lahap, karena terlalu serius makan ia tidak menyadari kalau Juna sudah memerhatikannya di depan pintu.


"Tenanglah aku tidak minta makananmu," kata Juna membuat Ana tersedak.


Juna langsung memberikan Ana air putih kepada Ana, gadis itu menerimanya lalu meminumnya. "Maaf, aku tadi sangat lapar."


"Hm, kalau kau masih mau nanti kupesankan lagi," balas Juna.


Ana menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak perlu, aku sudah mau kenyang."


Juna mengangguk paham, pria itu tidak beranjak dari tempatnya. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan memainkan ponselnya. Ana salah tingkah sendiri, rasa laparnya hilang saat Juna sudah ada didekatnya. Rasa canggung dan debaran jantung kembali muncul.


Ana memakan nasi gorengnya walau sedikit gugup, makan yang awalnya sangat cepat kini berubah menjadi sangat lamban.


Tok ... Tok ... Tok


Ketukan pintu membuat Juna berhenti bermain ponsel, ia berjalan kearah pintu dan membukanya. Setelah itu ia kembali menutup pintu dengan membawa bungkusan.


Ana berada didapur mencuci piring yang ia pakai makan tadi, saat selesai mencuci piring ia melihat Juna duduk di meja makan.


"Apa kau lapar?"


Juna mengangguk. "Iya."


"Kenapa tidak pesan saja tadi. Tidak usah biar aku buatkan makananmu hitung - hitung ucapan terima kasih," ucap Ana


Ia melihat isi kulkas dan berpikir akan membuat apa, setelah memutuskan untuk memasak apa ia mulai mengumpulkan bahan - bahan makanan dan mulai memasaknya. Juna memerhatikan Ana yang sibuk membuatkan dirinya memasak.


Apa dia tidak sadar kalau sedari tadi cuma memakai kimono. Tidak mungkin dia mau menggoda ku, batin Juna.


Juna menepis jauh pikiran kotornya, ia berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Ana yang sibuk memasak.


"Eh, J-juna kamu mau ngapain," takut Ana.


Ana sudah gemetar di tempatnya, gadis itu terkejut karena Juna datang dengan tiba - tiba dan mengunci badannya ke dinding.


"Juna k-kamu mau apa," tanya Ana lagi tapi tidak dijawab oleh Juna.


Hembusan nafas Juna dapat dirasakan oleh Ana, tatapan keduanya bertemu. Ana seakan terhipnotis oleh tatapan Juna, pria itu semakin mendekatkan wajahnya. Ana gelagapan sendiri, keringat dingin sudah ada diwajahnya.


"Apa kau mau menggodaku dengan pakaian seperti ini," bisik Juna.


Ana membulatkan matanya mendegar ucapan Juna, gadis itu mendorong paksa Juna agar menjauh dari tubuhnya. Tepat Juna menjauh, Ana langsung menutupi bagian atas tubuhnya dengan kedua tangan.


"A-aku tidak mau menggodamu. Dasar kau mesum!" pekik Ana.


"Bajuku tadi tidak ada jadi aku pakai ini," lanjutnya.


"Oh iya, kalau begitu pakai bajumu cepat sebelum aku khilaf," jawab Juna.

__ADS_1


"Bagaimana aku mau pakai baju, lalu bajuku saja tidak ada," kesal Ana.


"Di meja depan ada bungkuskan, didalam diri ada baju yang aku tadi pesan."


"Kenapa bukan dari tadi sih," protes Ana.


"Jangan banyak protes, pergi cepat sebelum aku merubah pikiranku," balas Juna.


Karena tidak ingin terjadi apa apa pada dirinya, Ana langsung mematikan kompor dan berlari untuk memakai bajunya. Sedangkan Juna, terkekeh melihat kelakuan konyol Ana.


***


Suara teriakan teedengar nyaring di lorong gudang tua, terlihat seorang pria yang memakai pakaian serba hitam dengan pisau ditangannya.


"Akhhh ...!" teriak lelaki paruh baya.


"T-tolong lepaskan saya. S-saya akan memberikan semua harta sa ahkk," ringisnya.


Sedangkan pria yang memakai baju serba hitam itu, seakan tuli. Ia tetap melanjutkan karyanya dengan melukis ditubuh pria itu menggunakan pisau.


"Diamlah, kau bisa merusak lukisanku jika banyak bergerak!" bentaknya.


"Akhh ...!"


"Dasar pria gila! Apa yang kau inginkan hah!" teriak pria paruh baya itu.


Pria itu misterius itu membuka topeng yang ia pakain sehingga wajahnya dapat terlihat. Ia tersenyum licik melihat pria yang ada dihadapannya dengan cucuran darah ditangannya.


"Kau! Kau yang sudah membunuh anakku kan!" emosi pria itu.


"Hahaha tentu saja aku yang membunuhnya!" jawabnya santai.


"Bajing**! Siapa kau! Kenapa kau membunuhnya hah," teriaknya


"Diamlah! Atau aku akan membuatmu menyusul anak dan istrimu."


"Nah, sekarang kau terlihat tambah jelek hahaha," tawa psikopat itu setelah menyelesaikan lukisannya di tubuh pria tua itu.


"Apa kau mau tau siapa aku," ujarnya yang diangguki oleh pria tua.


"Kau ingat sama wanita ini?" katanya sambil memperlihatkan selembar foto.


"Kubilang kau ingat atau tidak HAH!" bentaknya.


"Iya aku ingat, memangnya kenapa! Dia wanita murahan yang sudah menjebak anakku dengan kehamilannya, dasar jalan*!" balasnya tak kalah tinggi.


PLAK


"JAGA UCAPANMU ATAU KAU AKAN KUBUNUH SEKARANG JUGA!" teriaknya.


"Kenapa memang apa hubunganmu sama wanita jalan* itu!"


"Aku kakaknya! Dan gara - gara anak sialanmu itu adikku meninggal!" emosi pria itu, ia langsung menusukkan pisaunya di paha pria itu.


"Akhhhh, dasar psikopat. Pria gila," teriaknya kesakitan.


"Ya, aku memang psikopat. Jadi bersiaplah menuju neraka bersama anakmu! Hahaha."


"Bajinga** aku akan melaporkanmu ke polisi!" ancamnya.


"Ahhkk sakit," ringis pria tua karena pisau di pahanya dicabut perlahan lahan.


"Oh iya, kau mau melaporkanku. Itu tidak akan terjadi karena kau akan menyusul keluargamu! Hahaha," pekiknya lalu mencabut dengan cepat pisaunya.


Teriakan kesakitan dikeluarkan terus menerus oleh pria tua itu. Bagi pria misterius itu seperti alunan lagu untuk dirinya. Cucuran darah berserakan dilantai, ia mengambil darah yang ada di paha pria tua itu dan memakannya.


"Cuih, darahmu pahit sekali. Ternyata dosamu banyak juga!" katanya.


"Lebih baik kau mati saja supaya kau tidak menambah dosamu lagi hahaha!" tawanya.


"T-tolong lepaskan aku akhhhh!" pekiknya.


Pria misterius itu menusuk pria itu berkali kali, cucuran darah bereserakan di baju dan di wajah pria itu. Ia mengeluarkan isi perut pria tua itu dengan kasar, tidak ada lagi suara teriakan yang terdengar bahkan deruh nafas pria tua itu tidak terdengar lagi. Sudah bisa di pastikan pria tua itu sudah mati.


"Ck, baru kukeluarkan isi perutnya sudah mati," remehnya.


Dert ... Dert ... Dert

__ADS_1


Deringan ponsel berbunyi di meja dekat pria itu, ia mengambil ponsel itu dan melihat ada panggilan masuk. Menggerakkan naik tombol hijau, tak lama kemudian sambungan terhubung.


"*Halo."


" ... "


"Tempat biasa."


" ... "


"Lo udah tau kan hoby gue itu. Udah lo mau apa telpon gue."


" ... "


"Hm, gue kesana*."


TUT


Sambungan diputuskan secara sepihak, pria itu mengambil jaket yang terletak di meja lalu pergi meninggalkan mayat pria tua itu. Tentu sebelum pergi ia tidak meninggalkan jejek sedikitpun, ia mengatur cara kematian pria tua itu agar tidak ada yang tahu kalau ia di bunuh.


***


"Hm Juna," panggil Ana


Setelah memasak tadi Ana langsung menghampiri Juna di meja makan, ada yang ia ingin tanya kan sedari tadi. Kini ia duduk dihadapan Juna yang tengah menikmati masakannya.


"Hmm."


"Juna," panggil Ana lagi.


"Ck, ada apa," ketus Juna


"Hm, yang ganti bajuku semalam s-siapa?" tanya Ana pelan.


Juna berhenti memakan makanannya, ia menatap Ana sebentar lalu tersenyum yang sulit diartikan oleh Ana. "Menurut lo."


"J-jadi kamu udah liat," gumam Ana sendu


"Iya udah semuanya," katanya membuat mata Ana berkaca kaca.


Tak lama kemudian Ana menangis dengan sangat keras. Raut wajah Juna sudah berubah menjadi panik dan bingung. Tadi niatnya hanya ingin menjahili Ana, tapi kenapa malah Ana menangis.


"Eh, jangan nangis. Gue cuma bercanda," bujuk Juna. Bukannya berhenti menangis Ana semakin menguatkan tangisannya


Juna sendiri menjadi frustasi, ia terus berfikir cara agar Ana berhenti menangis. Tak lama kemudian ia mendapatkan ide, ia mendekati Ana. Duduk di sebelah gadis itu lalu.


CUP


Seketika Ana berhenti menangis, ia memegang pipinya yang dicium oleh Juna. Beda halnya dengan Juna, pria itu tersenyum senang karena rencananya berhasil.


"Udah kan nangisnya," ucap Juna tapi tidak di balas oleh Ana.


Usahanya itu sia sia, karena Ana kembali menangis. Bahkan ia pergi meninggalkan Juna dan duduk di sofa sambil menangis.


Juna menghela nafasnya dengan kasar, pria mengira rencananya berhasil. Berhasil sih tapi cuma sebentar, ia kembali memikirkan cara agar Ana berhenti menangis.


Juna menghampiri Ana yang masih menangis, matanya membengkak dan rambutnya sudah berantakan. Menarik nafas lalu mengeluarkannya, ia mendekat kearah Ana dan menghapus air mata Ana yang terjatuh.


"Sudah, aku hanya bercanda. Yang mengganti bajumu para pelayan tadi, berhentilah menangis kamu semakin jelek kalau menangis," bujuknya.


Ana tertegun melihat sikap manis Juna kepada dirinya, bahkan pria itu tidak memakai embel-embel seperti lo-gue. Kata itu sudah berubah menjadi aku-kamu. Tapi Ana masih belum membalas ucapan Juna.


"Hm, sebagai minta maaf aku akan membawamu ke mall." tawar Juna.


Seketika mata Ana berbinar, dengan cepat ia menepis air mata yang masih ada di pipinya. Senyuman manis ia berikan kepada Juna. "Tunggu dulu aku cuci muka sama sisir dulu."


Ana langsung masuk kamar dan memperbaiki penampilannya. Sedangkan Juna menatap tak percaya kalau rencananya berhasil. Kenapa bukan dari tadi coba, batinnya.


"Astaga kenapa dia labil sekali."


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2