
Cahaya matahari yang segar, bersinar tanpa malu-malu namun tidak terasa panas dan terik saat jatuh kekulit. Bahkan yang terasa hangat. Walaupun demikian, embun yang terkena paparannya sedikit demi sedikit menghilang. Sirna tanpa meninggalkan bekas dipucuk dan dedaunan.
Rasanya begitu berat untuk membuka mata yang kian terpejam sedari tadi. Memaksa mata untuk terbuka, perlahan terbuka hingga lebar. Duduk di pinggiran kasur, dan mencoba mengumpulkan nyawa. Menatap jam yang berada di atas nakas. Jam menunjukkan pukul enam pagi.
Ana pun bangun dan segera bersiap untuk ke sekolah. Usai dengan aktivitasnya di kamar mandi. Ana pun bersiap memakai seragam sekolah. Melihat dirinya di dalam cermin, memerhatikan penampilan yang selama ini melekat ditubuhnya.
"Apa salahnya jika aku berpakaian seperti ini?" tanya Ana pada dirinya sendiri.
Gadis itu masih saja menatap diri di depan cermin. Memikirkan perkataan orang lain tentang penampilannya.
"Tidak! Mereka tidak boleh lagi menginjakku seperti sampah!" tegas Ana.
"Lagi pula aku suka dengan penampilanku seperti ini," lanjutnya lagi.
"Sudahlah, aku itu hanya harus memperbaiki sikapku, bukan penampilanku."
"Dari pada aku tinggal berdiri di sini lebih baik aku berangkat ke sekolah," ujar Ana lalu keluar dari kamarnya.
Tibalah Ana di meja makan, di sana ia sudah dapat melihat Rita dan Hendra tengah duduk menikmati makanan.
"Ana, sarapan dulu," tawar Rita.
"Iya Ma."
Ana menarik kursi yang didekat Rita dan mendudukinya. Menu hari ini ada nasi goreng, dan ayam goreng. Ana mulai mengambil makanannya dan memakannya.
Baru saja ingin menyuapi diri yang sudah kelaparan, Rita memanggil Ana. Tentu saja Ana menaruh kembali sendoknya dan menatap Rita.
"Ana," panggil Rita
"Iya Ma," balas Ana.
"Mama bisa minta tolong nggak?"
Ana mengerutkan keningnya.
"Minta tolong apa Ma?" tanya Ana.
"Tolong panggilin Juna, buat sarapan ya sayang."
DORR!!
Ana diam. Mencoba menjawab, memikirkan dengan baik. Lama terdiam, akhirnya Rita kembali bersuara.
"Kalo kamu gak mau, biar mama aja," ucap Rita.
Ana segera mencegah Rita, di lihatnya wanita itu seperti sedih. Jika Ana menerimanya pasti Rita akan senang. Dan jika sebaliknya pasti ia akan sedih.
"Nggak usah ma, biar Ana yang panggil," jawab Ana.
"Baiklah."
Ana berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menuju kamar Juna yang bersebelahan dengan kamar Ana. Menaiki anak tangga satu persatu hingga tiba di lantai dua.
Beda halnya dengan Rita, ia nampak kesenangan melihat Ana yang menuruti permintaan kecilnya.
"Hm, kalo begini pasti mama bisa buat mereka jatuh cinta," ucap Rita pada sang suami.
"Tapi hati-hati ma, nanti mereka curiga sama kamu," jawab Hendra sibuk membaca koran.
Rita menatap sang suami yang sibuk membaca koran. Menatap tajam sang suami. Merasa di perhatikan Hendra menurunkan koran yang ada di depan wajahnya, dan menatap sang istri yang tengah menatapnya.
"Kenapa?" tanya Hendra.
"Kamu, bukannya mendukung istri. Supaya anak dingin itu dapat jodoh, malah kamu."
"Ah, sudahlah," lanjutnya.
"Loh, bukannya tadi papa dukung ya?" tanya Hendra.
"Gak! Papa tadi gak dukung. Udah, makan itu yang di meja sebelum dingin." perintah Rita.
__ADS_1
Nasib, nasib. Ya allah bantu saya meenghadapi istri saya yang galak ini batin Hendra.
"Apa? Papa bilang mama galak!" kesal Rita.
"Nggak. Papa nggak bilang mama galak," jawab Hendra cepat.
"Perasaan tadi saya ucapnya didalam hati, kok mama bisa dengar ya? Apa mama punya mata batin ya?" gumam Hendra.
Sayang sekali kamu Hendra, gumamanmu itu dapat di dengar oleh Rita. Rita yang mendengarnya langsung memarahi sang suami.
"Tu, kan Mama bilang juga apa, Papa bilang mama galak!" kesal Rita.
"Gak Ma, papa cuma bercanda," jawab Hendra cepat.
"Tau ah, mama marah sama papa!"
Hendra menghembuskan nafas dengan kasar. Mentap sang istri yang kini marah kepada dirinya.
Sementara di sisi lain, Ana sudah tiba didepan kamar Juna. Gadis itu tampak ragu untuk mengetuk pintu milik sang empu.
"Ok, tinggal ketuk aja terus ajak makan. Ok Ana gak usah gugup," ucap Ana pada dirinya sendiri.
Tok ... Tok ... Tok
Ana mengetuk pintu kamar Juna, sedari tadi menunggu namun tak ada sahutan dari dalam kamar. Mencoba mengetuk kembali agar sang empu membukakan pintu. Tapi nihil, tidak ada yang berubah.
"Kok Juna gak buka pintunya ya?" pikir Ana.
"Apa jangan jangan Juna masih tidur ya?"
"Tapi gak mungkin juga Juna masih tidur, apa jangan jangan Juna di culik!" lanjut Ana.
Berdiam lama berfikir akhirnya Ana memutuskan untuk masuk kedalam kamar Juna
CKLEK
"Jun, kamu di dalam," ucap Ana.
"Astaga! Maunya aku itu kesini cari Juna bukan liatin ini!"
Ana kembali menatap isi kamar Juna. Pandangannya kali ini berhenti di tempat tidur milik Juna. Kasur itu sudah rapi, tapi yang membuat Ana bingung kemana pria dingin itu.
"Juna gak ada disini? Kemana perginya."
"Oh iya kamar Mandi belum aku periksa," ucap Ana pada dirinya sendiri.
Tok ... Tok ... Tok
"Jun."
"Juna."
"Kok gak ada ya? Masuk aja deh," lanjut Ana.
Baru saja tangan Ana dipegangan pintu, tubuh Ana sudah tertarik kedalam. Hasilnya ia terjatuh menindih tubuh yang sedari tadi ia cari. Juna sosok itu di timpai oleh tubuh Ana. Netra keduanya bertemu hingga tatapan mereka terkunci.
Ana bahkan bisa merasakan hembusan lembut nafas Juna. Sedangkan Ana menahan nafasnya sendiri. Keduanya saling pandang sambil mengagumi.
Ternyata Ana cantik juga. batin Juna. Pria itu masih menatap Ana dan mengagumi cantik gadis yang selama ini ia pikir aneh.
Juna ganteng kali, kok jantung aku cepat banget berdetak ya. batin Ana.
Tersadar dari itu, cepat cepat Ana berusaha untuk bangun. Juna pun terkejut dan ikut berdiri dari posisinya. Ana begitu gugup saat kejadian tadi. Debaran jantungnya begitu cepat didekat Juna.
"M-maaf," lirih Ana.
"Hmmm."
"Eh, itu tadi tante Rita suruh kamu sarapan," ucap Ana tertunduk. Gadis itu benar benar menahan kegugupannya.
"Hmm."
__ADS_1
"Udah, kalo sudah lo boleh pergi. Gue mau ganti baju," ucap Juna
"Mau lo liat gue ganti baju disini," goda Juna.
Hei! Sejak kapan Juna bisa menggoda seorang gadis? Sedangkan Ana, gadis itu membulatkan mata sempurna, saat mendengar ucapan dari Juna.
"Eh, gak. Aku keluar dulu," jawab Ana.
Ana keluar dari kamar Juna dengan perasaan malu, keluar dari kamar Juna mulutnya sudah berkomat kamit seperti membaca mantra. Sedangkan Juna, pria itu sempat melihat Ana seperti kesal. Entah secara sengaja atau tidak sebuah senyuman mekar di wajah Juna.
***
"Ana!!" teriak seseorang.
Ana menghentikan langkahnya, berbalik melihat sosok yang memanggil namanya. Sosok yang sudah sangat akrab baginya. Orang yang selalu bersamanya setiap suka dan duka. Sosok yang ia rindukan selama ini. Sosok yang sudah ia anggap sebagai saudara kandung. Siapa lagi kalau bukan Diva sahabat Ana.
"Diva. Kamu kapan sampai disini?" tanya Ana sambil memeluk gadis dihadapannya.
Seminggu lalu Diva izin untuk keluar kota, karena ada urusan keluarga. Tentu saja itu membuat Ana menjadi kesepian tanpa Diva.
"Kemarin. Ah, Ana aku rindu sekali sama kamu?" jawab Diva.
"Hey, aku lebih rindu."
"Tapi, mana oleh-oleh ku," lanjut Ana.
"Ck, kau ini kalau itu mulutmu sangat cepat," kesal Diva.
"Toh, memang benarkan. Cepat aku mau hadiahku!" ucap Ana.
Diva berdecak kearah Ana. Tangannya langsung membuka tas yang ia bawa, dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah kotak yang rapi di bungkus, dan tak lupa pita yang menghiasi kotak tersebut.
Ana dengan cepat mengulurkan tangannya kearah Diva. Gadis itu sangat mirip anak kecil yang meminta mainan kepada ibunya.
"Ini, hadiah untuk Ana yang cantik," ucap Diva di serati senyuman
Mata Ana berbinar melihatnya, dengan cepat ia mengambilnya dari tangan Diva. Dan berpikir isi didalamnya
"Ini apa Div?" tanya Ana penasaran.
Diva tak menjawab, ia malah tersenyum kearah Ana. Senyuman itu tak dapat diartikan oleh Ana. Ana tak mau ambil pusing, ia bersiap membuka hadiah itu sekarang. Belum apa-apa, tangan Ana sudah di cekal oleh Diva. Ana mengerutkan kening saat Diva menahan tangannya untuk membuka hadiannya.
"Kamu buka di rumah aja,'' ucap Diva.
Ana membuang nafas dengan kasar. Ia memasukkan kotak itu ke dalam tasnya, dan memasang wajah ngambek. Diva terkekeh melihat wajah Ana yang sudah seperti bakpau karena ngambek begitu.
"Cup ... cup ... sudah anak pintar gak boleh ngambek. Nanti cantiknya hilang loh," bujuk Diva.
"Hm, yaudah ayo, nanti kita telat masuk kelas," jawab Ana.
Diva mengangguk menyutujui, lalu menggandeng tangan Ana menuju kelas bersama-sama.
"Ana?" panggil Diva.
Kini mereka berdua sudah sampai dikelas, dan duduk dibangku mereka. Ana yang merasa terpanggil, menatap kearah Diva yang kini menatapnya dengan bingung.
"Kenapa? Kenapa kau melihatku seperti itu?" Ana.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....