
"Juna? Ngapain kita kesini?" tanya Ana saat mobil yang di tumpanginya berhenti di sebuah cafe. "Mancing."
Ana membulatkan mata tak percaya. Gadis itu di buat bingung oleh Juna, yang benar saja ia ingin mancing di cafe itu. Ia menatap sekitar cafe, di cari carinya tempat untuk memancing. Tapi nihil, ia tidak melihat kolam ikan.
"Juna, kamu mau mancing di sini? Tapi aku gak ngeliat kolam ikan, alat pancing kamu juga gak ada," ucap Ana polos.
Juna menepuk jidatnya sendiri, pikirannya kenapa gadis ini sangat polos dan tidak mengerti yang diucapkannya.
"Hei bodoh! Kalau orang kesini memengnya mau apa," kesalnya.
"Hm, kalo ke cafe biasanya orang makan dan minum," jawabnya.
"Itu lo tau," ucap Juna lalu masuk kedalam cafe.
Ana masih mematung di tempat, lama ia terdiam dengan cepat ia ikut menyusul Juna yang sudah duduk manis di pojok meja. Ia menghampiri Juna yang asik bermain ponselnya. Ana tidak duduk, ia berdiri di depan Juna yang masih bermain ponselnya, jika dilihat sepertinya pria itu sudah memesan makanan.
"Duduk," ucapnya tanpa menoleh. Sedangkan yang di suruh tidak bergeming sama sekali.
"Gue bilang duduk, ya duduk!" geram Juna. Kini ponsel yang ia pegang sudah di letakkan di atas meja. Matanya sudah memandang sinis Ana yang tidak mendengar ucapannya.
"Gak."
"Gue bilang," ucapannya terhenti saat melihat pelayan membawa satu piring nasi goreng.
"Silahkan di nikmati mba," ucapnya ramah lalu pergi meninggalkan dua makhluk itu.
"Lo makan itu," ujar Juna.
Ana menatap sepiring nasi goreng yang ada dimeja, ia masih setia berdiri didepan Juna. Aroma makanan itu tercium jelas dihidung Ana. Rasanya ingin langsung menyantap makanan itu, tapi dengan cepat menepis rasa inginnya itu. Tujuan utamanya sepulang sekolah tadi adalah bekerja bukan untuk makan. "Aku gak mau."
Juna menggeram kesal. "Gue bilang makan! Apa susahnya sih!"
Ana diam, tidak berani menatap Juna yang sudah membentaknya. Ia menundukkan kepalanya, menyeka air mata yang sudah lolos sedari tadi.
"T-tapi, aku udah telat kerja," lirihnya masih menunduk.
Juna membuang nafas kasar, ia mengambil ponselnya yang berada di atas meja, lalu menelpon seseorang. Ana masih menunduk ia takut melihat Juna yang sudah geram melihatnya karena selalu menolak ucapannya. Ia sudah bisa memutuskan kalau Juna itu tipe pria yang tidak suka penolakan.
Ana masih menunduk, ia bisa mendengar suara Juna sedang menelpon. Ia juga mendengar namanya disebut dalam pembicaraan mereka.
Halo! Tumben lo nelpon gua?
Ana gak kerja hari ini
Kenapa? Lo apain anak orang?
Udah lo izinin aja!
Tut
Panggilan di matikan secara sepihak, pria dingin itu memasukkan ponselnya kesaku celana, lalu memerintahkan Ana untuk duduk.
"Lo duduk, makan itu makanan. Gue udah izinin lo sama Davin," ucapya.
Ana menurut, ia sudah duduk di hadapan Juna. Kedua tangannya meremas bajunya sendiri. Juna melihat Ana yang belum memakan makanannya kembali geram.
BRAK!
Juna menggebrak meja dengan kuat membuat Ana terkejut dan takut. Bukan hanya Ana yang kaget, orang-orang yang di sekitar mereka ikut kaget.
"Gue bilang makan!" bentaknya.
__ADS_1
Sontak Ana gemetaran sendiri, ia mulai mengangkat tangannya lalu mengambil sendok dan mulai memakan makanannya.
Tangannya bergetar hebat, bisa di lihat gadis itu mencoba menahan ketakutannya. Juna yang melihat sendok yang ada ditangan Ana yang gemetar menahan takut, mengambil ahli sendok yang hampir tumpah.
"Lo kalo gak bisa megang sendok bilang. Biar gue yang nyuapin lo," ucapnya datar.
"G-gak usah," Ana mendongak lalu menolak dengan cepat.
Juna menatap tajam Ana, sedangkan yang di tatap langsung menunduk. Bagaimana dia bisa lupa, kalau pria di hadapannya ini sangat tidak suka dengan yang namanya penolakan.
"Gue gak suruh lo nunduk. Emang makanan lo ada di bawah."
"Buka mulut lo," suruhnya.
Ana tak berani melawan, ia pun membuka mulutnya dan menerima satu persatu suapan dari Juna.
"J-juna kamu gak makan?" tanya Ana
Astaga bodoh sekali kau ini Ana, kenapa kau ini bertanya. Mudah mudahan saja dia tidak mendengarku. Batin Ana.
Juna tidak menjawab sama sekali. Ia malah fokus menyuapi Ana seperti seorang ibu. Hal itu membuat Ana bernafas lega.
"Lo aja, gue udah makan," balasnya sambil memasukkan makanan ke mulut Ana. Ana mengangguk lalu kembali mengunyah makanannya hingga habis.
Setelah beberapa menit, Ana selesai dengan makanannya. Ia sudah berdiri bersiap untuk pulang, namun lagi-lagi Juna menahannya.
"Siapa yang nyuruh lo berdiri," ucap Juna.
"K-kita kan mau pulang," jawab Ana.
"Duduk! Lo belum minum obat."
Ana mengangguk lalu duduk dan mengeluarkan obat dari dalam tasnya. Ia meminum obatnya lalu meneguk air hingga air itu habis. Setelah selesai meminum obat, ia kembali mengemasi barang barangnya lalu kembali berdiri bersiap untuk pulang. Namun, lagi-lagi Juna menghentikannya.
Ana tidak mau lagi dapat amarah, ia kembali menuruti perintah Juna. Kedua orang itu terdiam, tidak ada yang berbicara sama sekali.
"Juna kita mau ngapain?" tanya Ana
Tak ada sahutan dari Juna, pria itu malah memandang Ana tanpa berkedip sedikitpun. Tentu hal itu membuat Ana salah tingkah, ia dengan cepat memandang kearah lain untuk menyembunyikan pipinya yang sudah memerah menahan malu.
"Maaf."
Ana yang tadinya mengarahkan pandangan ke arah lain, menatap lekat pria yang dihadapannya. "Untuk apa?"
"Soal gue ngebentak dan marahin lo," ucapnya.
"Gak papa, aku juga gak ambil hati kok," balas Ana.
"Lo juga sih, kenapa suka banget gak nurut sama gue. Dan lagi lo malas banget makan. Lo itu gak dengar apa kata dokter tadi, lo punya penyakit mag," ucapnya panjang lebar.
Bukannya menjawab Ana malah terkekeh melihat Juna yang khawatir dan peduli pada dirinya. Tentu itu membuat Juna bingung melihat Ana. Bukannya menjawab, gadis itu malah tertawa.
"Apa?"
Ana berhenti tertawa, lalu menatap Juna yang sudah kebingungan. "Baru kali ini, aku dengar seorang Arjuna Pratama Mahendra peduli dan khawatir sama orang. Bisanya dia selalu cuek."
"Emang salah kalau gue khawatir sama calon istri sendiri?" jawabnya enteng.
Ana membulatkan mata tidak percaya. Posisi yang tadinya bersandar di kursi langsung saja tegak lurus. Keringat dingin sudah mulai terlihat wajahnya. Tentu saja, ucapan Juna membuat Ana kaget sekaligus tertegun.
Juna melihat perubahan Ana, langsung terbelit dipikirannya untuk mengerjai gadis didepannya. Awalnya ia tidak sadar dengan ucapannya sendiri. Seakan akan mulutnya berbicara sendiri tanpa ada kemauan. Tapi biarlah, toh itu juga membawa keberuntungan untuknya. Ia merasa ketagihan jika melihat Ana yang malu karena digoda oleh dirinya.
__ADS_1
"J-juna aku mau pulang," gugup Ana
"Kenapa? Aku mau masih berduan denganmu, " goda Juna.
DARR!!
Bagaikan langit dan bumi. Ana merasa ia di terbangkan di atas langit yang sangat tinggi. Rasanya jantungnya terasa seperti berlari maraton. Detak jantung yang sangat cepat. Entahlah perkarkataan Juna benar atau tidak, tapi kali ini dia benar-benar sangat bahagia. Gadis itu menunduk malu, ia mencoba menghilangkan rasa gugupnya.
Beda halnya dengan Juna, ia sudah merasa menang karena sudah membuat gadis didepannya menjadi salah tingkah.
"B-besok aku ada ulangan," ucap Ana.
Juna tambah di buat lucu oleh Ana. Benar benar gadis yang lugu, pikirnya.
"Hahaha, dasar. Besok itu tidak ada ulangan," balas Juna.
"Kok kamu tahu?" tanya Ana
"Ck, lo lupa kita itu satu kelas, jadi kaga usah bohongin gue," balas Juna lalu terkekeh.
Sedangkan Ana, gadis itu rasanya ingin berteriak dengan sangat keras. Mengumpati dirinya sendiri, kenapa ia bisa lupa kalau dia itu satu kelas dengan Juna. Akhirnya dia sendiri yang harus menahan malu.
"Udah, karena gue udah puas liat muka lo yang merah itu ayo kita pulang," ucap Juna.
Ana tidak berbicara sedikitpun, rasanya malu sekali jika bertatapan dengan Juna. Ia berdiri menuju parkiran dan meninggalkan Juna. Juna, pria itu terkekeh melihat Ana yang salting.
***
Sampailah Ana dan Juna dikediaman Mahendra. Ana keluar deluan dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia langsung menuju kamar, dan meninggalkan Juna yang masih memarkirkan mobil.
"Huft."
Helaan nafas di keluarkan Ana. Gadis itu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, sembari menatap langit langit kamar.
Lama dia terdiam, ia bangkit dari kasurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri yang sudah sangat lengket.
Beberapa menit kemudian Ana keluar dari kamar mandi dengan kaos oblong putih polos dengan sepanjang lengan saja. Celana longgar berwarna coklat.
Gadis itu duduk dipinggiran kasur, matanya menatap isi kamar. Lama terdiam wanita itu mengeluarkan sesuatu dari tas sekokahnya. Ana mengeluarkan sebuah kotak yang tadi diberikan oleh Diva. Rasanya sedih karena Diva tidak mau berbicara dengannya.
Ana membuka hadia yang diberikan Diva. Membukanya dengan persaan bercampur aduk, ada rasa senang ada pula rasa sedih. Dibukanya hadia itu. Betapa senangnya Ana saat melihat isi kotak itu.
Sebuah dres dengan panjang selutut, berwarna pink muda. Sedikit hiasan dibagian pinggang. Panjang lengan baju sampai sebahu saja. Sungguh baju itu sangat cantik dan bagus.
Ada catatan kecil yang terselip dibaju itu. Ana mengambiknya dan membaca catatan itu.
*Bagaimana kamu suka hadiaku kan? Pastilah Diva gitu lo. Aku ngasih dres ini, untuk kamu pake di acara ulang tahunku. Awas saja kamu tidak pake! Kalo gak kamu pake aku gak mau bicara sama kamu.
Sahabatmu yang imut
Diva*
Ana terkekeh sendiri melihat isi catatan yang di berikan Diva. Ia pasti akan memakai dres ini untuk ulang tahun sahabatnya. Hanya satu saja, kenapa dia bisa lupa kalau besok itu ulang tahun Diva. Tapi biarlah ia akan sempatkan membeli hadiah buat sahabatnya itu. Toh, acaranya juga saat malam hari.
Ana menyimpan kotak itu didalam lemari, dan merebahkan dirinya di kasur nan empuk itu. Manatap langit kamar. Pikirannya adalah hadiah untuk Diva, gadis itu berfikir hadiah yang ingin ia berikan untuk sahabatnya. Bukannya berfikir gadis itu malah tertidur dengan posisi yang sama memandang kearah langit kamar.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...