Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
Part 24


__ADS_3

Ana masih saja mengumpat kesal di tempatnya. Memaki Juna yang sudah meninggalkannya lebih dulu, pikirannya tadi saat Juna melihatnya ia akan terpesona dan mengatakannya cantik. Oh Ana, andai saja tadi kamu dengar si Juna bilang cantik sudah meleleh kamu neng!


"Hei, cepat nanti kita terlambat," panggilnya


Dengan kesal Ana menuju garasi mobil, ia melewati Juna begitu saja yang sudah menunggunya. Menatap sekikas, lalu masuk kedalam mobil dan disusul oleh Juna.


Kendaraan beroda empat itu, perlahan keluar dari kediaman Mahendra. Seperti biasa tidak ada suara dalam mobil, yang satu sibuk melihat keluar jendela mobil yang satu pula sibuk menyetir mobil.


Jarak dari rumah Juna dengan tempat acara Diva tidak terlalu jauh. Sekitar lima belas menit mereka sudah sampai di tempat acara.


Restoran yang sudah di sewa oleh Diva untuk menggelar acara ulang tahunnya. Sudah banyak orang - orang yang berada didalam restoran tersebut.


Juna memarkirkan mobilnya, ia keluar dari dalam mobil dan disusul oleh Ana. Kedua remaja SMA itu berjalan berdampingan layaknya kekasih. Banyak mata yang tertuju kepada mereka. Lebih lebih lagi kepada kaum adam yang sudah terpesona dengan kecantikan wanita di sebelah Juna. Siapa lagi kalau bukan Ana.


Banyak pria yang memandang kagum Ana, mungkin mereka tidak dapat mengenali Ana yang berubah 180° dari biasanya. Para kaum hawa pula, sibuk menatapi wajah tampan Juna. Ada rasa iri dan kagum kepada Ana yang dapat berjalan bersama Juna.


*Astaga itu di samping Juna siapa sih!


Cantik banget ceweknya!


Dasar kecentilan, siapa sih itu cewek!


Kayak cerita dongeng mereka berdua!


Sayang, kamu jangan liat cewek itu terus!


Itu cewek sok tebar pesona banget sih!


Kok gue kayak pernah liat itu cewek ya*?


Yah, begitulah bisik - bisik yang dapat di dengar di telinga Ana. Ada rasa malu dan juga risih kepada semua pandangan yang tertuju pada dirinya. Ia berjalan dengan menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.


Beda dengan Juna, pria itu tahu kalau Ana risih dengan pandangan semua orang, ia mendekat kearah Ana dan mendekap pinggang gadis itu dari samping. Ana kaget karena secara tiba tiba sebuah tangan ada disamping pinggangnya. Ia mendongak dan melihat Juna yang sudah tersenyum manis.


Seperti terhipnotis dengan senyuman Juna, Ana sama sekali tidak memalingkan wajahnya dari Juna. Ia menatap lelaki itu dengan lekat. Tak lama ia tersadar dengan kelakuannya lalu menunduk malu.


"Jangan tundukkan wajahmu, tenang saja aku ada disini," bisiknya.


Ana menuruti perkataan Juna, gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap lurus kedepan.


Mereka berdua berhenti dihadapan seorang wanita yang tengah tersenyum manis kearah mereka. Diva, gadis itu nampak terlihat sangat cantik dengan gaun biru selutut yang melekat dibajunya. Terdapat hiasan kelap kelip yang berada di bagian bawah bajunya.


"Ana? kamu Ana kan?" tanya Diva antusias.


Karena terlalu gembira, perempuan itu tidak sadar bahwa dirinya di tatap oleh sumua orang. Bahkan mereka heran dengan ucapan Diva yang mengatakan bahwa gadis disebelah Juna adalah Ana.


Ana mengangguk. "Jangan keras keras dong Diva, kamu gak liat semua orang mandangin kita."


"Gak papa, yang penting mereka tahu kalo orang yang di depanku ini Meyla Anara Surya yang sering mereka bully!" balasnya. Bahkan suaranya sengaja ia tinggikan agar semua orang tahu.


Tentu saja semua yang mendengarnya terkejut dengan ucapan Diva. Awalnya mereka mengira bahwa gadis disamping Juna adalah orang asing atau keluarga Diva. Ternyata pikiran mereka semua salah.

__ADS_1


Ada yang terpesona dengan kecantikan Ana ada pula yang merasa iri dengan dirinya. Gadis yang selama ini mereka bully bahkan memakinya sudah jauh berbeda dengan biasanya.


"Itukan kamu sih Diva, mereka pada ngeliat aku kayak gitu," bisik Ana.


"Udahlah gak usah di liat. Udah ayo kita kesana," tunjuk Diva kepada kerabatnya.


"Jun, aku mau kesana dulu sama Diva," ucap Ana di balas anggukan oleh Juna.


"Kayak orang udah pacaran aja. Oh iya, gue lupa kan lu calon tunangannya," ucapnya terkekeh.


"Hust, udah ayo."


Mereka berdua meninggalkan Juna. Acara berlangsung dengan baik, banyak yang berjoget ria di panggung dengan alunan musik. Tak lama kemudian, acara meniup lilin akan dilaksanakan.


Ana sudah berdiri di samping Diva yang sudah ingin meniup lilinnya. Usai meniup lilin, Diva memotong kuenya. Suapan pertama ia berikan kepada ibunya, lalu disusul oleh sang ayah. Lalu pacarnya Dito, dan yang terakhir ia berikan kepada Ana. Dengan senang hati Ana memakannya.


Acara kembali berlanjut, kini MC mengajak semua orang berdansa dengan kekasihnya. Tentu banyak yang turun kelantai dansa dengan membawa pasangannya masing masing. Bahkan Diva juga ikut berdansa bersama Dito. Tinggallah Ana duduk sendiri, sambil melihat Diva yang berdansa bersama pacarnya.


Karena terlalu asyik memerhatikan sahabatnya, Ana tidak menyadari seorang pria duduk didekatnya tanpa Ana tahu.


"Tidak mau berdansa?" ucapnya.


Ana terkejut dengan pria yang duduk di sampingnya ia menatap manis Ana. Ana tersenyum kikuk, ia tahu dengan jelas pria didekatnya. Rama, pria itu seangkatan dengan dirinya. Banyak sekali wanita di sekolah yang mengincar dirinya, sudah tampan dan kaya pula. Cewek mana yang tidak tertarik pada dirinya.


Hanya ada satu yang kurang darinya, pria itu tidak setia. Maksudnya playboy, banyak wanita yang sudah ia pacari dan ia putuskan begitu saja.


"Tidak."


Keduanya kembali terdiam, Ana sedikit risih dengan kehadiran Rama yang ada di dekatnya. Bagaimana tidak, selama ia masuk sekolah tidak pernah tu didekati sama pria manapun, ya kecuali Juna.


Perasaan Ana mulai gelisa, seketika badannya gemetar saat Rama menariknya dengan paksa. Ingin berteriak meminta tolong tidak bisa, mulut Ana sudah ditahan dengan tangan Rama. Hanya satu yang ia harap, Juna.


***


"Juna," panggil Diva.


Juna berbalik melihat kearah dirinya dengan sedikit berlari.


"Ana mana?" tanyanya.


Juna mengerutkan keningnya bingung, setaunya tadi Ana bersama dengan Diva, kenapa sekarang tidak ada. "Bukannya sama lo."


Diva diam. Pikirannya kacau kali ini, setelah berdansa tadi ia tidak menemukan Ana. Gadis itu sudah mencarinya kemana mana tapi tidak ia temukan. Ia menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Juna.


"Jangan bilang Ana hilang," kali ini nada bicaranya sangat dingin. Tatapan tajam sudah menghujani Diva sedari tadi.


Gadis itu mengangguk. "T-tadi gue izin sama Ana mau dansa sama Dito. Ana setuju dan gue nyuruh dia tunggu di sana, tapi pas gue kembali Ana udah gak ada."


"Tadi gue juga udah cari kemana mana tapi gak ketemu," jelasnya, kini matanya sudah berkaca-kaca.


Juna tidak lagi mengubris ucapan Diva, ia meninggalkan Diva yang masih terisak. Pikirannya hanya kepada Ana, Ana dan Ana.

__ADS_1


Setiap sudut ia sudah periksa, namun nihil tidak ada Ana dimana mana. Pria itu tidak putus asa, ia keluar dari restoran dan mencari Ana diluar. Firasatnya mengatakan bahwa Ana tidak ada didalam restoran.


Dan benar saja tidak jauh dari restoran ia menemukan beberapa barang barang Ana yang jatuh di jalanan. Ia yakin dengan betul bahwa barang barang yang berjatuhan itu adalah milik Ana. Dan lagi barang itu sengaja ia buang agar, dapat memiliki petunjuk.


Juna mengikuti setiap barang milik Ana yang jatuh, baik dari kalung, sepatu dan tasnya. Semua ia ikuti hingga berhenti di sebuah gudang tua. Tak ambil pusing Juna langsung memasuki gudang itu dan mencari keberadaan Ana.


Setiap sudut ia cari, ia yakin Ana pasti ada disini. Pria itu sangat khawatir dengan Ana. Matanya tertuju kepada ruangan yang lampunya menyala. Ia berfikir Ana ada di dalam sana, Juna mendekat kearah ruangan itu.


Semakin dekat ia bisa mendengar suara wanita meminta tolong, dan Juna yakin suara itu adalah milik Ana. Dengan cepat ia menendang pintu dengan kuat, alhasil pintu terbuka.


Mata Juna menangkap Ana yang di tindih oleh Rama, pria itu mencoba bercinta dengan Ana. Tapi sayang Ana terus memberontak, ia berusaha menolak semua serangan dari Rama.


Tangannya ia kepalkan, rahangnya mengeras. Emosi Juna sudah tidak dapat di kontrol, pria itu langsung menarik paksa Rama yang menindih Ana. Bogem mentah ia berikan pada Rama.


BUGH!


BUGH!


BUGH!


Juna terus memukuli Rama tanpa henti. Rama mencoba membalas Juna tapi tidak bisa, ia sudah kalah cepat oleh Juna. Sudah banyak lebam dan darah diwajah Rama, sedangkan Juna pria itu tidak mendapatkan sedikit lebam di wajahnya. Hanya darah Rama yang terkena di pakaiannya.


Juna menghentikan pukulannya, ia membiarkan Rama yang sudah lemas di lantai. Rasanya pria itu ingin membunuh Rama sekarang juga, tapi niatnya ia urungkan karena ia ingat kepada Ana.


Juna berjalan kearah Ana yang sudah, menyembunyikan seluruh badannya dengan tangannya sendiri. Penampilan wanita itu sangat buruk, baju bagian atasnya sudah di robek paksa oleh Rama sehingga dapat memperlihatkan buah dada Ana. Gadis itu terisak-isak, ia tidak bisa membayangkan kalau saja Juna tidak datang menolongnya. Mungkin saja ia sudah menjadi wanita yang hina didunia ini.


Juna melihat Ana yang bergetar hebat, ia membuka jas miliknya lalu menutupi tubuh Ana. Pria itu mendekap Ana, sesekali ia mengecup pucuk rambut Ana. Ia menggendong Ana ala bridal style, mereka berdua keluar dari gudang. Juna menggendong Ana hingga kemobil dan meletakkan tubuh Ana dengan hati-hati.


Wanita itu sudah terlelap, pasti ia sangat ketakutan. Juna tidak membawa pulang kerumah, apa nanti yang harus ia katakan kepada Rita kalau melihat kondisi Ana seperti ini. Jadi, ia memutuskan untuk membawa Ana ke apartemennya.


***


Mobil Juna sudah terparkir, ia menatap Ana yang sudah terlelap. Rasanya tidak tega untuk membangunkan gadis itu, ia menggendong Ana lalu pergi ke apartemen miliknya.


Ia membaringkan dengan hati-hati Ana diatas tempat tidur, pria itu duduk ditepi ranjang sambil menatap lekat setiap inci wajah Ana. Ana terlelap dengan damai layaknya putri tidur.


Matanya tidak sengaja melihat paha Ana yang putih, dengan susah payah Juna menelan silivanya. Bagaimana pun ia juga lelaki normal yang memiliki nafsu. Dengan segera ia menepis pikirannya, ia mengecup kening Ana lalu meninggalkan kamar dan meminta bantuan kepada pelayan untuk menggantikan baju Ana.


Setelah selesai, Juna kembali masuk kedalam kamarnya dan melihat Ana yang sudah berganti baju. Banyak luka di lebam diwajah Ana, ia yakin pasti Ana di siksa oleh Rama. Ia tidak akan melepaskan Rama secepat itu.


Juna memberi salep di wajah Ana, karena sudah larut malam akhirnya Juna ikut terlelap di sebelah Ana.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2