
Waktu mulai terik, matahari pagi semakin tinggi dan panas. Setelah sekian lama menunggu dengan belajar, akhirnya waktu pulang telah tiba.
TRING ... TRING ... TRING
Bel pulang telah berbunyi, para guru setiap kelas menutup pelajaran dan memberikan pr kepada siswanya, begitupun yang di lakukan di kelas Ana.
"Pelajaran kita akhiri sampai sini, jangan lupa yang tugas ibu berikan," ucap guru, lalu keluar di ikuti beberapa murid.
Ana masih membereskan perlatan tempurnya di atas meja. Setelah membersihkan alat tulisnya, ia berniat untuk mengajak Diva ke toko buku. "Diva, mau ikut gak?"
Tak ada balasan dari sang empu. Ia masih membereskan alat tulisnya. Setelah Diva selesai, ia menggendong samping tas dan melewati Ana tanpa membalas ucapanya ataupun melirik.
Menarik dalam oksigen lalu menghembuskannya secara perlahan. Itu yang di lakukan Ana berulang kali. "Mungkin besok Diva udah baikan lagi."
Gadis itu melangkahkan kaki melewati koridor sekolah yang masih di tinggali beberapa siswa. Langkahnya masih terayun melewati setiap lorong kelas. Tujuannya kali ini ke arah parkiran, menunggu Juna yang setiap harinya mengantar dirinya ke tempat kerjanya.
Tibalah Ana di parkiran sekolah, ia berdiri didekat mobil Juna sambil menatap sekitar yang sibuk dengan aktifitasnya. Ada yang menunggu jemputan, ada pula yang nongkrong di kantin.
Selang beberapa menit, orang yang di tunggu Ana sudah tiba. Dengan gaya coolnya ia menghampiri Ana yang masih setia menunggunya walau terpapar panas matahari. "Padahal satu kelas, tapi lama banget dia turun," gumamnya.
"Udah lama," ucapnya.
Ana menanggapi ucapan Juna dengan memberi senyuman. "Baru kok."
Mereka berdua menaiki mobil, dan meninggalkan perkarangan sekolah. Kembali dengan kesunyian, dua makhluk itu tidak ada yang berbicara. Seperti biasa Ana memandang keluar jendela mobil dan Juna sibuk menyetir. Sesekali Ana melirik kearah Juna yang sibuk menyetir, lalu kembali menatap keluar mobil.
"Ana," panggil Juna tetap menatap lurus kedepan.
Ana berbalik melihat kearah Juna, dan menunggu ucapan selanjutnya. "Iya."
"Kenapa lo maafin Kinan?" tanya Juna.
"Mungkin dia udah tobat."
"Ck, gampang banget lo maafin orang gitu aja."
"Udahlah Jun, lagi pula kalau Kinan cuma pura-pura, aku bisa kok atasi sendiri," jawab Ana.
"Terserah lo deh, gue udah kasi peringatan ya sama lo!" kesal Juna.
Ana tidak menanggapi kekesalan Juna. Hening kembali muncul dikedua makhluk itu.
Kruk ... Kruk ... Kruk
Juna memberhentikan mobil secara mendadak, saat mendengar sesuatu. Akibat rem dadakannya itu, Ana terlempar kedepan, karna tidak dapat menahan posisinya. Alhasil kepalanya terbentur kedepan.
"Arghh, Juna kenapa kamu rem mendadak. Kepalaku terbentur gara-gara ulahmu," ringis Ana mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Maaf, gue gak sengaja. Tadi gue dengar suara anah, jadi gue rem," jelasnya.
Ana mengumpat kesal. "Kan bisa rem pelan pelan Juna. Untung aja jalanannya sepi, coba kalau ramai pasti yang dibelakng udah nabrak mobil."
"Gitu aja sakit, sini gue liat," ucapnya sambil menatap kepala Ana yang terbentur.
Juna tidak menyadari, kalau Ana sedari tadi memerhatikan wajahnya dari dekat. Pria itu masih sibuk, melihat kepala Ana. Ana bahkan bisa merasakan nafas Juna, gadis itu.
"Ini aja dibilang sakit, lo aja yang le-," Juna mengerutkan kening saat melihat Ana yang menatapnya dengan senyum senyum sendiri. Dan bodohnya Ana tidak menyadari bahwa Juna sudah memandangnya seperti orang gila.
Huft
Juna meniup wajah Ana, gadis itu langsung tersadar dari lamunannya. Ia dengan cepat memojokkan dirinya dipinggiran kursi, memalingkan wajah yang sudah merona manahan malu. Mengigit pipi bagian dala, mengumpat diri sendiri.
Juna terkekeh melihat Ana salting sendiri. "Gue tau, kalau gue ini ganteng. Gak usah lo liatin juga kayak tadi."
"Ih, geer. Aku tadi gak ngeliatin kamu ya. Tadi aku it cuma em cuma."
"Cuma mandang wajahku kan," jawab Juna cepat lalu tertawa.
Ana memayunkan bibirnya, kesal dengan Juna yang selalu saja menggoda dan mengerjainya. Setelah peristiwa di mana Juna menolongnya dari tamparan Kinan, pria itu berubah menjadi sangat hangat kepadanya. Yah, walaupun terkadang sifatnya membuat dirinya kesal.
Juna berhenti tertawa, pria itu menatap kearah Ana yang memayunkan bibirnya sendiri.
"Wah, lo emang mau dicium sama gue ya," ucapnya lalu kembali tertawa.
Juna yang tadinya tertawa, langsung terdiam saat melihat Ana meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
"Eh, Ana lo kenapa," panik Juna.
Ana tidak mengubris perkataan Juna, gadis itu tetap saja meringis kesakita sambil memegang perutnya.
"Kita ke rumah sakit aja ya," ucap Juna langsung saja menyalakan mesin mobil dan membawanya dengan cepet ke rumah sakit.
***
Beberapa menit berlalu, akhirnya mobil Juna terparkir rapi di perkarangan Rumah Sakit. Pria itu dengan cepat keluar dari mobil dan membuka pintu mobil Ana. Andai saja bukan karena perutnya yang sakit, pasti Juna tidak akan membukanya. Ana masih saja meringis kesakitan, rasanya perutnya itu sedang di blender.
Setelah lama menunggu giliran nama disebut, akhirnya nama Ana disebut juga. Dengan cepat Juna membantu Ana masuk keruangan dokter.
Tok ... Tok ... Tok
Suara ketukan pintu, kedua orang itu masuk keruangan dokter dan mengeluhkan sakit perut Ana.
"Masnya tunggu disini saja, saya mau periksa pacarnya dulu," ucapnya sambil terkekeh lalu membawa Ana keruangan yang sudah tersedia.
Ana menunduk malu, saat dokter itu mengatakan dirinya berpacaran dengan Juna. Beda halnya dengan Juna yang menunggu di luar, ia menganggap ucapan dokter tadi bagaikan angin lewat.
__ADS_1
"Kamu baring dulu ya, saya periksa dulu maaf," ucapnya sopan dan membuka sedikit kancing baju milik Ana.
"Tadi pacarnya khawatir banget sama mba, pasti dia sayang sekali sama mba, jadi iri saya," ucap dokter itu sambil terkekeh.
"Itu bukan pacar saya dok, cuma teman kok," balas Ana cepat.
Dokter meletakkan alat pemeriksaannya di atas nakas, lalu ia tersenyum kearah Ana. ''Gak, usah malu-malu mba. Saya gak ambil kok."
"Betul kok dok, saya gak bohong," jawab Ana.
"Yasudah saya tunggu didepan ya mba," jawab dokter tanpa membalas ucapan Ana.
Beberapa menit kemudian Ana keluar dari ruangannya tadi, ia duduk dikursi yang sudah disediakan didepan meja dokter tadi. Sedangkan Juna ia berdiri di belakang Ana.
"Saya kenapa dok? Akhir akhir ini perut saya sering sakit?" tanya Ana
"Hm, tadi saya periksa kamu itu kena Mag. Pasti mba malas makan. Jangan malas makan ya, karena itu bisa membuat lambung anda sakit," jawabnya sopan.
Ana sedikit terkejut, memang benar akhir-akhir ini ia malas untuk makan. Beda dengan Juna raut mukanya tidak menunjukkan ekspresi sedikit pun, tetap seperti pendiriannya dingin.
"Tadi saya juga periksa, sepertinya anda belum makan dari kemarin, kan," lanjutnya lagi.
Ana mengangguk mengiyakan. "Iya dok, tadi pagi saya makan roti sama susu saja."
"Saya sarankan makan makanan yang bergizi. Dan atur pola makannya agar penyakit mag anda tidak datang lagi," balasnya.
"Ini resep obatnya, silahkan nanti di tebus," lanjutnya lagi ramah.
"Oh, iya dok makasih," ucap Ana
"Oh iya, mas tolong jaga pola makan pacarnya supaya gak sakit lagi," ucap dokter itu, sambil terkekeh kecil.
Ana sudah malu, ia segera keluar dari ruangan yang sedari tadi menggodanya. Sedangkan Juna dia lagi-lagi tidak menanggapi. Cukup berterima kasih, lalu pamit keluar ruangan itu.
"Dasar, anak jaman sekarang!"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....