Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
Part 6


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan ayah, Ana kini menuju tempat telah menjadi hobinya. Perjalanan kesana tidak butuh waktu lama untuk Ana tempuh. Mungkin sekitar 15 menit ia sudah sampai dengan berjalan kaki.


Sampailah Ana ditempat tujuannya . Tempat yang selalu dikunjunginya setiap ada waktu luang. Berdiri didepan toko yang kini telah terbuka.


Melangkah masuk kedalam toko tersebut. Telah banyak buku yang tersusun rapi dirak. Tak ada debu sedikitpun yang terpampang disana. Yah Ana kini berada ditoko buku. Setiap ada waktu Ana pasti menyempatkan dirinya ketoko buku itu. Ia lebih menyukai menghabisi waktunya dengan membaca dari pada berjalan jalan seperti belanja.


"Hayo cari apa?" tegur seseorang dibelakang Ana.


Ana membalikan tubuhnya perlahan dan melihat siapa pemilik suara itu.


"Eh kak Davin rupanya. Nggak cari siapa siapa kok kak, cuma mampir doang," balas Ana sedikit terkejut.


Davin Prayoga Widata Sanjaya. Sebut saja namanya dengan Davin. Seorang pria yang berusia lebih tua satu tahun dari Ana. Pria tampan, bertubuh tinggi, mata kecoklatan dan kulit yang putih. Davin juga adalah teman akrab Ana selain dari Diva.


"Oh. Tapi tumben baru muncul? Biasanya kemana?" tanya Davin


"Hm nggak kok kak. Akhir akhir ini Ana agak sibuk," balas Ana bohong.


Biasanya Ana ingin sekali mampir ketempat ini. Tapi ibu tirinya selalu melarangnya sehingga ia tidak dapat pergi ketoko buku. Dengan kesempatan datangnya ayah Ana, jadi Ana bisa meminta izin pergi ketoko buku.


"Kak ada yang mau dibantuin nggak? Siapa tahu nanti ada, jadi Ana bisa bantuin," tanya Ana.


"Hm kayaknya dibelakang ada deh. Oh iya buku buku dibelakang mau disusun dirak," jawab Davin.


"Yaudah biar Ana yang bantu susunin dirak yah," ucap Ana.


"Emang kamu bisa? Badan kamukan pendek nanti kamu jatuh gimana. Aku nggak mau nolongin loh" ejek Davin.


"Ih kak Davin mah. Aku itu nggak pendek tahu tapi kurang tinggi aja," ucap Ana sambil memayunkan bibirnya kedepan.


"Sama aja Ana. Nggak usah dimayunkan juga kali itu bibirnya nanti tambah jelek lo," ejek Davin lagi


"Ih kak Davin!! Tau ah Ana mau bersihkan buku aja," kesal Ana lalu pergi meninggalkan Davin.


Davin hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Ana yang kekanakan.


"Dasar Ana."


***


"Waw! Banyak banget bukunya! Emang aku bisa angkat ini ya?" ucap Ana saat melihat setumpuk buku yang penuh digudang.


"Huh. Harus bisa! Aku kan udah janji mau bantuin kak Davin." lanjut Ana


Ana mengambil beberapa buku digudang lalu memindahkannya secara hati-hati. Berhubung tangan kanan Ana sudah agak baikan jadi ia bisa menggunakan tangan kirinya dengan berhati hati. Yah walau agak sedikit nyeri.


Sepanjang perjalanan Ana terus membawa buku yang ia pegang dan menyusunya diatas rak. Sesekali pegawai lainnya tersenyum kepada Ana. Dengan senang hati Ana membalas senyuman itu.


Ana memang biasa membantu Davin dalam tokonya. Ia seperti pegawai yang bekerja dengan sepenuh hati. Jadi tak heran jika ia selalu disapa dengan senyuman dari beberapa pegawai disana.


Sudah tiga kali Ana berbolak balik menyimpan buku diatas rak. Kali ini ia harus menggunakan tangga untuk menyimpan buku dibagian paling atas. Setelah menaruh buku diatas rak bagian atas, Ana berniat untuk turun dari sana. Saat ingin turun rambut Ana tersangkut dibeberapa bagian rak. Alhasil Ana berhenti dan ingin membuka rambutnya yang tersangkut.


Sedikit susah bagi Ana untuk melepaskan rambutnya. Hal ini membuat tangga yang ia gunakan menjadi goyang. Semakin lama Ana bergerak semakin kencang goyangan tangga. Alhasil Ana pun hampir terjatuh dilantai.


BURK


Suara tangga yang Ana naiki jatuh kelantai. Sedangkan Ana merasa dirinya tidak merasakan kesakitan. Perlahan ia membuka kelopak matanya dan melihat mengapa ia tidak merasa kesakitan.


Ana membukatkan matanya sempurna saat melihat orang yang telah menangkapnya saat ingin terjatuh.


"J-juna," ucap Ana tebata bata.


Yah orang itu adalah Arjuna. Orang yang telah menyelamatkan Ana yang hampir saja terjatuh. Beberapa saat Ana menatap Juna yang sedang Menggendongnya ala bridal style. Tatapan mereka saling mengunci hingga beberapa detik. Anapun tersadar apa yang ia lakukan dengan cepat ia turun dari gendongan Juna.


"M-makasi," ucap Ana menunduk.


"Hm," balas Juna berdehem lalu pergi meninggalkan Ana sendiri.


"Juna dingin banget ya," gumam Ana

__ADS_1


***


"Kak Davin!!!" teriak Ana didalam tokoh. Sehingga seluruh pengunjung beralih pandangan kearah Ana.


Ana hanya tersenyum kikuk saat diperhatikan oleh seluruh pengunjung tokoh. Ada sesekali mengatainya sebagai cewek aneh dan ada pula yang menatapnya dengan tatapan tajam. Ana menundukkan kepalanya sesekali kearah kanan dan kekirinya seakan memberi kode untuk memaafkannya.


Ana berjalan melewati orang-orang yang memerhatikannya sedari tadi, tapi Ana tidak menanggapinya.


Kini Ana telah berada didepan pintu ruangan Davin. Ia telah memasang kuda kuda untuk memarahi Davin. Yah sikap Ana sangatlah manja jika berada didekat Davin. Rasanya sangat nyaman jika berada didekatnya.


Ia tidak mengetuk pintu ruangan Davin melainkan langsung membukanya dan marah marah tidak jelas.


"Kak Davin itu kok tangganya pendek amat! Kan Ana susah taro bukunya."


"Itu juga kok rakny-," ucap Ana terhenti saat melihat Davin dan seorang tamu yang bersama Davin.


"Kamu kenapa Ana?" tanya Davin saat melihat Ana marah marah tidak jelas. Sedangkan pria disamping Davin tidak menghiraukan Ana yang telah datang.


'Astagfirullah. Mati aku!!' batin Ana.


"N-nggak kok. Kalo gitu Ana k-keluar dulu," ucap Ana sambil menggaruk tungkunya yang tak gatal.


Baru saja Ana membalikkan badan dan ingin keluar dari ruangan itu. Davin telah memanggil namanya kembali.


"Ana kamu mau kemana?" ucap Davin.


"Eh. Mau keluar kak, mau beresin buku," jawab Ana


"Tidak usah biar pegawai yang lain saja yang kerjakan. Kamu kesini saja saya mau memperkenalkan seseorang," ucap Davin


"Emang mana kak orangnya," tanya Ana


"Ini."


Mata Ana membulat seketika saat melihat pria yang berdiri disebelah Davin saat ini. Ia sesekali mengedipkan matanya. Ana kenal sosok didepannya ini, ia orang yang telah menolongnya saat ingin terjatuh dari lantai. Siapa lagi kalo bukan Juna orangnya.


"Juna?" ucap Ana


"Kamu kenal sama Juna Ana?" tanya Davin.


Ana mengangguk mengiyakan jawaban dari Davin.


"Oh baguslah kalo begitu. Jadi saya tidak perlu memperkenalkan kalian kembali." ujar Davin


"Tapi bagaimana kalian bisa saling mengenal?" tanya Davin


"K-kami satu kelas kak," jawab Ana


Davin mengangguk mengerti apa yang dikatakan Ana. Sedangkan Juna, pria itu sama sekali tidak membuka suara sedikitpun. Davin bercerita kepada Ana bahwa Juna adalah sepupunya yang baru tiba dari London. Ana sedikit kaget saat Davin mengatakan bahwa Juna adalah sepupunya. Mereka berdua terlarut dalam cerita kehidupan masing-masing. Sesekali mereka tertawa bersama saat bercerita.


Berbeda dengan Juna ia tidak merespon ucapan kedua makhluk yang berada didepannya. Ia hanya fokus kepada benda pipih yang berada ditangannya. Sesekali ia melirik kearah Ana yang tertawa lepas ketika sedang asyik mengobrol dengan Davin.


"Gadis aneh," umpat Juna dalam hati.


"Kak kayaknya Ana harus pulang deh. Takut dicariin sama ayah," pamit Ana.


"Kamu nggak mau makan siang dulu sama aku?"


"Nanti aja yah kak. Ana harus pulang dulu, nanti kalo ada waktu Ana mampir lagi kok," jawab Ana


"Yasudah kalo gitu. Tapi maaf yah aku nggak bisa anter kamu pulang," balas Davin.


"Nggak papa kok kak. Yaudah Ana pergi dulu ya," pamit Ana


Baru saja Ana ingin keluar dari ruangan, Ana kembali dipanggil oleh Davin.


"Iya kak?"


"Kamu diantar Juna aja yah," tawar Davin.

__ADS_1


"Nggak usah kak," tolak Ana


"Nggak. Kamu harus mau. Jun, anterin Ana ya pulang kerumahnya," pinta Davin.


Juna yang tadinya sibuk dengan gawainya kini menatap Davin yang sedang menyebut namanya.


"Malas," jawab Juna


"Jun, anterin napa. Dari pada gue lapor sa-," ucapan Davin terpotong saat Juna memotongnya.


"Iya," jawab Juna ketus sambil mengambil kunci mobi yang terpampang diatas meja.


Ana tidak enak hati melihat hal itu. Dengan cepat ia menolak dengan lembut permintaan Davin. Namun lagi-lagi lelaki itu tetap memaksa Ana untuk pulang bersama Juna. Dengan pasrah Ana mengikuti perintah Davin.


Didalam mobil hanya ada keheningan yang terjadi. Dua makhluk yang ada didalam sana sibuk dengan kerjaan masing masing. Ana menatap pemandangan dari balik kaca mobil sedangkan Juna sibuk menyetir. Hingga Ana sampai didepan perkarangan rumahnya. Ana keluar dari mobil Juna dan ingin berterimah kasih kepada sang empu.


"Maka-," ucapan Ana terhenti saat mobil Juna telah melaju dengan kencang meninggalkan perkarangan rumah Ana.


"Hm. Dasar kulkas!!" gumam Ana.


***


KEDIAMAN MAHENDRA


Disisi lain nampak seorang pria tua yang sedang duduk menikmati minuman panasnya.


"Pah, Juna mana," tanya Rita-mama Juna.


"Tadi papa suruh dia mampir ditokohnya Davin mah," jawab Hendra-papa Juna.


"Oh Iya pah. Kamu udah nemuin rumah keluarga Surya?" tanya Rita.


"Menurut anak buah papa, mereka sudah menemukan Rumah Surya," jawab Henda sesekali meminum minumannya.


Tak berselang lama mobil Juna telah terparkir rapi dibagasi mobil. Ia memasuki rumah miliknya dan mendapati orang tuanya yang sibuk mengobrol diruang tamu. Juna tak mengambil pusing ia langsung saja melewati kedua orang tuanya dan menuju kamarnya. Yah sifat Juna memang sangatlah dingin. Baik itu dengan teman, sepupu maupun kedua orang tuanya.


"Juna sebentar malam kita akan pergi kerumah teman papa," ucap Hendra saat melihat anaknya melewatinya begitu saja.


Juna tak merespon ucapan papanya ia tetap berjalan menaiki tangga dan menuju kamarnya.


"Huh. Aku bingung dengan dengan Juna?" kesal Hendra


"Memangnya kenapa?" tanya Rita.


"Dia itu sangat dingin. Bagaimana jika dia nanti sudah memiliki istri dan anak pasti anak dan istrinya tidak sanggup menghadapi sifat dinginnya itu," jelas Hendra.


"Ya kita berdoa saja pah, supaya sifat anak kita itu berubah," jawab Rita


"Ini juga kesalahanmu," ucap Hendra.


"Lo ko papa nyalahin mama sih. Kan mama nggak tau apa apa," kesal Rita.


"Kamu ngidam apa coba waktu kamu lahirin Juna," tanya Hendra.


"Ih papa mah. Mana mama tahu mama aja nggak ingat," kesal Rita lalu pergi meninggalkan suaminya seorang diri diruang tamu.


"Yah kok saya ditinggalin. Mah nanti kalo ada yang culik papa gimana?" ucap Hendra setengah teriak pada istrinya.


"Biarin aja! Papa mau diculik kek mau diapa kek mama nggak peduli. Pokoknya mama nggak mau bicara sama papa," jawab Rita setengah teriak.


"Ya tuhan bantu hambamu ini," gumam Hendra sambil mengelus elus dadanya.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2