
"Kenapa? Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Tidak aku hanya bingung saja."
Ana mengerutkan kening, gadis di depannya ini sangat membuatnya bingun.
"Diva, jangan bicara setengah setengah. Aku bingung denganmu."
"Kau tidak menyembunyikan apa apakan dariku?" tanya Diva.
Ana terdiam sejenak, berpikir tentang apa yang di sembunyikan olehnya kepada Diva. Tetap saja hasilnya nihil, ia tidak menyembunyikan apa apa.
"Tidak. Aku tidak menyembunyikan apa-apa," jawab Ana.
"Oh, iya. Kalau begitu kenapa saat kita ke kelas, tidak ada yang mengganggumu. Melainkan mereka menjauhimu?"
"Tidak mungkin, tidak ada apa apa, kalau begitu. Pasti sudah terjadi sesuatu saat aku tidak ada di sekolah, kan?" lanjut Diva yang masih menatap Ana.
DEG
Bagaikan petir di siang bolong, Ana di kejutkan oleh perantaran Diva. Gadis itu benar benar bingung untuk menjelaskan kepada sahabatnya.
"Eh itu anu, mungkin mereka lagi cape kali bully Aku," jawab Ana.
"Kan bagus kalo aku udah gak diganggu lagi."
Diva menatap Ana. Diva bisa melihat dari kegugupan Ana dan dari matanya, gadis itu geram sendiri.
"Jangan berbohong! Cepat jelaskan," tegas Diva.
Ana menghembuskan nafas kasar. Ia mulai menceritakan kejadiannya saat Juna menolongnya dari tamparan Kinan. Tidak ada kalimat yang terlewatkan, dari cerita Ana. Dan ekspresi Diva saat mendengarkannya seperti orang gila. Kadang-kadang ia kesal, kadang-kadang pula tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha ... Coba saja aku ada disana, pasti aku sudah jungkir balik melihat Kinan malu," ucap Diva sambil tertawanya.
Kali ini dia tertawa dengan suara besar, alhasil semua orang memandangnya sekilas, lalu melanjutkan aktivitasnya kembali. Berbeda dengan pria yang duduk bangku dipojokan, ia enggan melihat kearah sumber. Ia tetap memandang buku yang sedari tadi ia baca. Siapa lagi kalau bukan Juna.
"Hust, Diva kau ini berisik sekali. Lihat mereka semua tadi memandang kita,"
"Hahaha ... Maaf Ana aku kelepasan," balas Diva.
"Sud-," perkataan Ana terhenti. Mulut yang tadinya ingin memarahi Diva, tertutup rapat-rapat saat melihat sosok wanita, dan di ikuti kedua temannya dibelakang. Berjalan bagaikan model yang sedang memamerkan barannya. Siapa lagi kalau bukan Kinan.
Semua pandangan mengarah kearah Kinan dan genknya. Begitupun dengan Ana dan Diva. Beda halnya dengan Juna, ia enggan untuk menatap kearah Kinan. Ia masih saja membaca bukunya.
Gadis itu berjalan kearah Ana dan Diva. Ana yang melihat Kinan mendekati dirinya langsung berfikir untuk melawannya. Diva yang awalnya dudduk disebelah Ana langsung bangkit untuk melindungi Ana.
"Mau apa lo!" bentak Diva.
"Tenang, Div kita kesini cuma mau damai kok," ucap Kinan santai.
Ana dan Diva saling melemparkan pandangan satu sama lain. Mungkin sekarang pikiran mereka sama mengenai Kinan. "Kenapa dengannya?"
Beda halnya dengan Juna, pria itu sangat serius membaca bukunya. Tapi, konsentrasinya terganggu saat Kinan ingin berdamai dengan Ana. Posisinya masih tetap sama membaca buku. Tapi pandangan pria itu menatap kearah Ana.
Ana dan Diva masih saja diam. Tidak ada yang ingin menjawab tawaran Kinan.
"Kenapa?" Diva berbicara.
"Kenapa lo tiba-tiba baik sama Ana?" tanya Diva mengintrogasi.
"Gue mau minta maaf sama kalian berdua terutama Ana. Mungkin selama ini aku udah terlalu kasar sama dia," lirih Kinan
"Iya kita juga minta maaf Na, Va," sahut teman Kinan.
"Hahahaha ... Gue gak salah dengar! Seorang Kinan Ridzan Alhiya minta maaf? Makan apa lo sampe kesambet gini!" balas Diva cepat.
Semua penghuni kelas tidak ada yang berbicara. Mereka hanya melihat layaknya penonton menonton bioskop.
Kinan yang sudah memasang wajah kesalnya, harus ia sembunyikan agar rencananya berhasil.
"Iya, aku mau minta maaf sama kamu Ana. Kamu maukan maafin aku," ucap Kinan lembut.
Ana masih mematung di tempat. Ia merasa risih dengan keadaan seperti ini. Sesekali menatap kearah Diva yang berada disampingnya. Sekali juga menatap kearah Kinan yang masih setia menunggu jawabannya. Jujur saja Ana merasa bahwa ada yang tidak beres dengan Kinan. Ia merasa ada sesuatu yang direncanakannya untuk menyakiti dirinya. Tapi, Ana tidak mau berburuk sangka dulu. Siapa tahu saja yang dipikirkannya salah. Tapi, jika itu benar ia pasti akan menyelidikinya.
"Ana kamu maukan," ucap Kinan
"Kamu tenang aja Kin, aku udah maafin kamu dari dulu kok," balas Ana.
"Makasi banyak Ana," ucap Kinan senang.
Diva yang berdiri disamping Ana, terlihat sedikit terkejut mendengar jawaban Ana.
"Ana, kamu seriusan mau maafin Mak Lampir ini?" bisik Diva.
Sayang, bisikannya itu dapat didengar oleh Kinan. Kinan yang mendengarkannya ingin sekali menampar wajah Diva, tapi ia mengurungkan niatnya.
"Iya, udah dia juga udah minta maaf," balas Ana.
Diva menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia langsung duduk dengan kasar setelah mendengar jawaban dari Ana.
"Kalo gitu aku ketempat duduk aku dulu ya, bye!" pamit Kinan.
Ana kembali duduk ditempat duduknya, disebelah Diva. Gadis itu menatap Diva yang tengah memasang wajah cemberutnya sambil membaca buku.
"Div," panggil Ana.
"Hmm."
"Diva, kamu marah?"
"Gak."
__ADS_1
"Diva, katanya kamu gak marah. Tapi kamu cuek."
"Gak, aku gak marah cuma kesal doang!" kesal Diva.
"Oh," jawab Ana singkat. Tentu hal itu membuat Diva jadi geram sendiri.
"Ishh, Ana kamu itu gak peka banget sih. Aku itu kesal sama kamu!"
"Lah, kok aku?" bingung Ana
"Ck, tau ah. Malas bicara aku."
Belum sempat Ana ingin bertanya lagi, bel masuk telah berbunyi.
***
Setelah beberapa jam, akhirnya waktu istirahat telah tiba. Tentu hal yang sangat ditunggu oleh seluruh penghuni kelas. Guru sudah pamit dan seluruh siswa berhamburan mengisi perut mereka.
Lain halnya dengan Ana, gadis itu sedari tadi berusaha berbicara dengan Diva. Tapi usahanya sia sia, Diva sama sekali tidak menghiraukan Ana. Gadis itu malah bermain dengan ponselnya tanpa menatap kearah Ana.
"Div, kekantin yuk," ajak Ana.
" ...,"
"Diva, kamu kenapa sih?"
" ... "
"Diva."
" ... "
"Diva."
" ..."
"Va."
"Apa sih Ana!" bentak Diva
Ana diam, baru kali ini Diva membentaknya. Ada rasa sedih saat sahabatnya membentsk dirinya.
"Kamu kenapa?"
"Udah gue gak mau di ganggu. Lo pergi dulu sana, gue mau sendirian dulu!" ucap Diva.
"Tap-,"
"Lo gak dengar Ana! Gue mau SENDIRIAN DULU!" bentak Diva.
Mata Ana mulai memanas, mata yang kini akan mengeluarkan setetes air. Air itu tidak boleh lagi keluar dari pelupuk matanya. Ia sudah berjanji tidak akan lagi mengeluarkan air itu. Dengan kasar ia menepis air matanya yang hampir keluar dari pelupuk matanya.
"Maaf juga kalau selama ini aku udah buat repot kamu Diva."
"Aku janji gak bakal lagi buat repot kamu. Makasih udah ada saat aku terluka," lanjut Ana lalu keluar meninggalkan Diva sendirian.
Diva menatap kepergian Ana yang sudah meninggalkannya sendiri. Ada rasa bersalah saat membentak sahabatnya itu.
Di sisi lain, sudah ada yang mengintip pembicaraan antara Ana dan Diva. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Via telfon on
"Halo, rencana pertama berhasil," ucapnya dengan lawan bicara.
" .... "
"Lo tenang aja, gue udah ahli dalam mengadu domba," ucap Si Penelpon
" .... "
"Ok, apalagi yang gue harus lakuin?" tanyanya.
" .... "
"Serahkan semua pada gue. Lo tinggal tunggu tanggal main aja!" balasnya.
Via telfon off
"Permainan baru akan dimulai Meyla Anara Surya!"
***
"Bu, air mineralnya satu ya," ucap Ana.
"Iya neng," balas ibu tua lalu mengambilkan air pesanan Ana.
"Ini neng," ucapnya.
Ana menyerahkan uangnya dan mengambil air botol dari tangan sang ibu tua. Lalu mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju tempat favoritnya. Kemana lagi kalau bukan taman belakang.
Gadis itu mendudukkan dirinya dibangku putih panjang yang sudah disediakan ditaman. Tidak ada sepatah kata yang ia keluarkan. Hanya menatap lurus kedepan dengan pikiran kemana mana.
Cukup lama ia terduduk di situ, kerongkongannya terasa kering. Ia membuka botol air yang sempat ia beli tadi lalu meneguknya hingga air itu tinggal setengah.
Sesekali ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sekali pula ia menahannya lalu ia hembuskan. Ia kembali melamun dengan pikiran entah kemana. Hingga ia tidak sadar bahwa ada orang yang sudah duduk di sebelahnya, dengan menatapnya dengan lekat.
Pandanganya tak lepas dari Ana yang sudah terkena cahaya matahari. Keringat bercucuran di wajahnya. Gadis itu tetap diam dengan memandang lurus didepannya.
Juna pria itu masih saja memandang Ana. Karena terlalu lama terkena cahaya matahari, pria itu merasa kerongkongannya kering. Ia berniat untuk membeli air mineral, tapi niatnya ia urungkan karena melihat air di sebelah Ana. Karena rasa haus yang sudah melanda Juna meminum air bekas tempat Ana minum tadi. Ia meneguknya hingga tidak tersisa air. Pria itu langsung saja membuang botolnya kesembarang tempat.
Ana yang merasa ada pergerakan di sebelahnya, langsung mengalihkan pandangan kearah Juna. Ia begitu terkejut melihat Juna disebelahnya.
__ADS_1
"Juna, Kamu ngapain disini?" tanya Ana.
Juna tidak mengubris ucapan Ana, pria itu yang tadinya menatap Ana harus kembali menatap lurus pandangannya. Ana sendiri, tidak mau bertanya lagi, karena ia tahu walau ia berbicara sama Juna hingga air dimulutnya kering, pria itu tidak akan menjawabnya.
Hening kembali muncul dikeduanya, tidak ada yang berbicara sama sekali. Diam dengan pikiran masing masing.
Lama mereka berdiam, kini Ana yang merasa haus. Gadis itu tengah mencari botol minumnya. Tapi nihil, yang di cari tidak ketemu. Juna yang melihat Ana tengah sibuk mencari botol air mineralnya langsung berkata.
"Udah gue buang," ucapnya.
Ana langsung berhenti dari pergerakannya. Ia menatap tajam kearah Juna yang dengan entengnya berkata sudah membuangnya.
"Kenapa di buang? Itukan masih ada isinya Juna," ucap Ana.
"Udah habis," balas Juna.
Ana mengerutkan keningnya bingung. Seingatnya ia baru meminum setengah, dan kenapa Juna mengatakan sudah habis.
"Perasaan tadi aku baru minum setengah, kok bisa habis. Bagaimana ceritanya," gumam Ana masih bisa didengar oleh Juna.
"Gue yang minum," jawabnya
Ana membulatkan mata sempurna. Gadis itu langsung diam membeku di tempatnya.
Kalau Juna minum, berarti dia minum bekas aku dong. Itu artinya ciuman secara tidak langsung!! Ahh tidak. batin Ana teriak.
"Kamu gak bohongkan Jun?" tanyanya meyakinkan.
"Lo gak percaya. Liat aja tu," balas Juna sambil melirik kearah botol yang tadi ia buang.
Ana langsung menatap botol yang tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk.
"Jadi, Juna minum dari bekas bibir aku dong," gumam Ana.
"Emang kenapa kalo gue minum dari bekas bibir lo!"
Oh, Shit!
Ana cekikikan tidak jelas saat Juna dapat mendengar gumamannya. Ia menjadi salah tingkah sendiri.
"Emang kenapa kalo gue minum dari bekas bibir lo!" tanyanya lagi.
"Ya gak bolehlah," jawab Ana cepat.
"Kenapa?" goda Juna
Kenapa Juna semakin cerewet saja. Dia tidak punya pekerjaan lain apa, selain menggodaku terus! batin Ana.
"Ya gak boleh!"
"Kenapa? Kenapa gak boleh?" tanyanya lagi.
"Ck, itu namanya ciuman secara tidak langsung tahu!" ucap Ana yang tidak menyadari dengan perkataanya sendiri.
Ia mulai berfikir dengan ucapannya sendiri. Lama ia terdiam ia baru menyadari dengan ucapannya. Langsung saja ia memukuli mulutnya sendiri. Beda dengan Juna ia sudah tersenyum menang.
"Mulut bodoh, suka banget si kecoplosan!" ucap Ana.
"Lo mau gue cium beneran!" ucap Juna.
Ana langsung diam seribu bahasa. Tangan yang sedari tadi ia pukul di mulutnya ia turunkan perlahan. Wajahnya sudah memerah menahan malu. Mungkin saja wajahnya itu sudah merah layaknya kepiting rebus. Ia memandang kearah lain agar dapat menutupi wajahnya yang sudah merah dari Juna.
"Lo mau?" ucapnya lagi dengan senyum miringnya.
"JUNA MESUM!!" teriak Ana lalu berlari meninggalkan Juna sendiri.
Tentu saat Ana berlari, Juna langsung saja tertawa terbahak bahak melihat ekspresi Ana seperti itu. Ana yang masih dapat mendengar suara Juna yang tertawa berhenti dari tempatnya dan berbalik melihat Juna yang tertawa tanpa ada halangan.
Gadis itu mengurungkan niatnya untuk berlari lagi. Ia memilih diam ditempatnya dengan memandang Juna dari kejauhan. Pria itu tanpa ragu ragu tertawa dengan kerasnya.
"Kenapa damai banget ya, liat Juna kayak gitu," gumam Ana
"Coba aja kalau dia gak dingin, cuek dan sombong pasti dari dulu aku udah suka sama dia," lanjutnya lagi.
"Lo pikir apa sih Ana. Lo itu harus tau diri gak mungkin juga Juna suka sama lo yang penampilan kaya gini!"
Lama Ana berbicara sendiri, ia tidak sadar bahwa Juna sudah tidak tertawa lagi. Melainkan pria itu sudah ada di hadapannya.
"Wah, ternyata lo mau dicium juga ya," ucapnya.
Tentu saja Ana langsung tersadar dari hayalannya dan menatap Juna yang ada didepannya.
"Ck, Juna lo mesum banget si!" kesal Ana lalu meninggalkan Juna.
Juna terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Dasar gadis itu! Wajahnya polos tapi pikirannya mesum," ucap Juna.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1