Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
Part 5


__ADS_3

"Ana bangun, apa kau tidak mau pulang," kata Diva.


Perlahan mata Ana terbuka, gadis itu tidak menyadari bahwa dirinya ketiduran di taman belakang sekolah. Ia menatap Diva yang sudah memasang wajah khawatir pada dirinya.


"Akhirnya kamu bangun juga," lega Diva.


"Baju kamu kenapa bisa gini? Kan aku udah bilang jangan kemana mana. Tapi kenapa kamu pergi dari kantin. Tadi juga aku nyari kamu tau! Terus kenapa juga gak masuk kelas," banyak pertanyaan yang dilontarkan untuk Ana.


Ana terkekeh mendengar ucapan Diva, ada rasa senang karena hanya dia yang peduli dan khawatir kepadanya. Ia sangat beruntung karena memiliki sahabat seperti Diva yang mau berteman dengan dirinya.


"Diva, kalau mau tanya satu satu dong. Aku kan pusing mau jawab yang mana."


"Yaudah ihk jawab aja," kata Diva


"Aku tadi ketiduran di sini itu saja."


"Lalu?"


Ana mengerutkan kening bingung. "Lalu apa?"


"Ck, lalu kenapa bajumu sampai kotor begini?"


Ana diam seketika. Ia tidak mau sahabatnya mencari masalah dengan Kinan, karena itu sama saja dirinya akan tersiksa. Dengan terpaksa Ana harus berbohong kepada Diva dengan mengatakan kalau ia tidak sengaja tertumpah Jus. Awalnya Diva tidak begitu percaya, tapi karena Ana meyakinkannya akhirnya Diva percaya.


"Yasudah, ayo kita pulang."


***


"Kamu gak mau mampir dulu Div," tawar Ana


Kini kedua cewek itu berada diperkarangan rumah Ana. Diva yang mengantar Ana sampai rumah, awalnya Ana menolak tapi karena Diva terus memaksanya akhirnya Ana mengikuti keinginan Diva.


"Gak ah, kamu taukan kalo aku mampir pasti dua nenek sihir itu bla bla bla," tolak Diva dengan ejekan.


Ana terkekeh mendengar ucapan Diva. "Yaudah makasih ya, makasih juga udah pinjamin bajunya."


"Santai Ana, kayak sama siapa aja. Yaudah aku pulang dulu ya."


"Iya hati-hati dijalan," balas Ana.


"Ok," Mobil Diva melaju meninggalkan perkarangan rumah Ana.


Tok ... Tok ... Tok


Ana mengetuk pintu rumah, tidak lama kemudian pintu itu terbuka dan menampak kan sang empu.  Lia, kakak tiri Ana sedang memandangnya dengan tatapan sinis.


"Dari mana lo, jam segini baru pulang," katanya dengan nada sinis. Ana menundukkan kepalanya, tak berani menatap Lia.

__ADS_1


"S-sekolah kak," jawab Ana takut.


"Hahahaha ... Apa gue gak salah dengar?  Lo dari sekolah."


"I iya kak."


"Udah pintar bohong lo ya! Eh beg* sejak kapan orang ke sekolah bajunya udah ganti kayak gini!" bentak Lia.


"Jujur aja, lo udah apaan sama cowok lu!"


"Gak kak, aku gak bohong," elak Ana


"Udah berani lo ngelawan gue hah!"


"Gak kak aku akkhhh ... Sakit kak!" pekiknya kesakitan. Lia melepaskan dengan kasar cengkramannya, melipat tangan didepan dada.


"Buatin gue makanan, gue udah lapar dari tadi!"


"I-iya kak," jawab Ana langsung menuju dapur.


Setelah beberapa menit, Ana menghidangkan makanannya di meja makan. Walau pun  banyak pembantu di rumah ini, Ana yang terus bekerja.


Di meja makan sudah ada Lia yang menunggu makanannya. Setelah menghidangkan makanannya Ana pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Setelah Ana mengganti pakaianya, ia merebahkan tubuhnya di kasur miliknya. Menutup mata agar bisa terlelap, dan saat ia ingin masuk kedalam alam mimpi suara pecahan piring terdengar dari lantai bawah.


Ana menghentikan langkahnya saat tiba di meja makan. Di sana ia melihat banyak pecahan piring berserakan dilantai, Ana melewati pecahan piring itu dengan hati - hati. Ia memasuki dapur dan melihat Lia sedang menatapnya tajam.


"Ka-kak Lia," gemetarnya ketakutan, karena Lia memegang sebaskom air panas. Ia meletakkan air itu di meja dapur, lalu melangkahkan kakinya kearah Ana.


"Lo mau bunuh gue HAH!" bentaknya.


"T-tidak kak, Ana gak pernah niat bunuh kak Lia," elaknya.


"Kalau lo gak niat bunuh gue kenapa ada kecoa di makanan gue HAH!"


"A-aku gak tahu kak."


PLAK


Tamparan mendarat tepat di pipi Ana, gadis itu memegang pipinya sendiri. Rasa perih dan sakit ia rasakan.


"Makin lama lo makin pintar ngelawan ya," ucapnya sinis


Ana hanya bisa menggelengkan kepala lemah, gadis itu sudah tidak ingin melawan.


"Berhubung ayah dan ibu pergi, lebih baik kita senang senang dulu," kata Lia dengan senyum devilnya.

__ADS_1


"Kak, kakak mau apa," gemetar Ana


"Diam lo! Gak usah banyak bac**!" bentaknya lalu menarik tangan tangan Ana kedekat sebaskom air panas itu.


Ana semakin takut, ia terus memberontak dan memohon kepada Lia. Seakan tuli, Lia tidak mengubris ucapan Ana bahkan gadis itu seperti ingin menyelupkan tangan Ana di air panas.


"Kak, sakit ahkk kak lepasin," teriak Ana.


Ana terus menerus teriak, sayangnya teriakannya tidak di anggap oleh Lia. Merasa sudah puas Lia melepaskan cengramannya dari tangan Ana. Ana langsung saja mengeluarkan tangannya, tangan yang tadinya mulus itu sudah berubah menjadi merah dan melepuh.


Ana menangis terus menerus, menahan sakit dan perih yang ada ditangannya. Dan Lia, ia sama sekali tidak perduli dengan Ana. Gadis itu pergi meninggalkan Ana yang kesakitan tentu sebelum pergi ia sudah mengancam Ana agar tidak melaporkan hal ini kepada ayahnya. Ana hanya bisa mengangguk pasrah, ia tidak bisa berbuat apa apa lagi.


***


Keesokan paginya, mentari bersinar tanpa malu - malu. Sinarnya menembus jendela kamar milik Ana, gadis itu terbangun dari tidurnya karena terganggu dengan cahaya matahari iti. Melihat kearah jam weker yang ada di atas nakas, setelah itu memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Hari ini adalah hari libur, jadi pasti semua orang akan bersantai di rumah bersama dengan keluarga. Tatapi berbeda dengan Ana, setiap hari libur pasti ia akan menyempatkan dirinya untuk berkunjung ke toko buku.


Setelah siap memakai pakaiannya, Ana mengambil kecematanya lalu ia lekatkan di wajahnya. Ana turun ke lantai bawah, dan ikut sarapan bersama. Dan yah, soal tangan yang melepuh itu sudah tidak terlalu sakit karena ia sudah memberikan obat.


Sampailah Ana di meja makan, di sana ia melihat Ayahnya dan Lia duduk sambi memakan sarapannya. Kalau Sinta ibu tiri Ana pasti sedang di dapur mengambilkan makanan. Benar - benar ratu drama pikir Ana.


Ana menyapa Ayahnya dan Lia di meja makan, balasan hangat di berikan oleh Surya ayah Ana. Beda dengan Lia tidak sama sekali melirik ataupun menanggapi ucapan Ana.


Ana duduk di dekat Surya, ia mengambil menu makanannya menggunakan tangan kirinya. Tentu hal itu membuat Surya bingung dengan tingkah anaknya.


"Kenapa gak pake tangan kanan Ana?" tanya Surya.


"Eh, gak kok Yah," jawab Ana. Sebenarnya ia juga tidak ingin makan pakai tangan kiri, tapi ia harus bagaimana kalau tangan yang melepuh itu tangan kanan Ana.


"Ayah gak mau liat kamu makan pake tangan kiri Ana. Cuma setan yang kayak gitu, udah pake tangan kanan kamu," perintah Surya.


Mau tak mau Ana menggunakan tangan kanan Ana, saat mengangkat sendok itu saja ia kesusahan karena perih di tangannya muncul lagi. Beda dengan Surya, ia langsung menyuruh Ana meletakkan sendoknya di atas piring dan memperhatikan tangan anaknya yang sudah melepuh merah.


"Tangan kamu kenapa?" tanya Surya.


Ana gelagapan sendiri, bingung harus menjelaskan kepada sang Ayah. Di satu sisi ia ingin mengadu kepada ayahnya, tapi ia tidak punya keberanian yang besar. Apalagi dari tempat duduk Ana, dia bisa melihat Lia yang sudah menatapnya dengan tajam. Seakan mengerti dari tatapan gadis itu, Ana tidak jadi mengaduh kepada Ayahnya. Apalagi kemarin ia sudah di ancam dengan kakak tirinya.


"Hm ini eh anu tangan Ana gak sengaja ketumpah air panas. Ah iya kemarin gak sengaja numpain air panas," bohong Ana.


Surya mengangkat sebelah alisnya, menatap sang putri dengan bingung. "Kamu gak bohong kan?"


Ana semakin gugup, tentu itu membuat Surya semakin curiga. Ana tidak mau dirinya lagi terluka dengan segala cara ia membuat ayahnya percaya dengan ceritanya. Tak lama Surya akhirnya percaya dan Ana dapat bernapas.


Percakapan mereka terhenti saat Sinta datang membawa secangkir kopi, lalu meletakkannya di dekat Surya. Keluarga itu memakan sarapan mereka bersama sama dalam keadaan hening.


Setelah sarapan pagi, Ana pamit kepada ayahnya untuk pergi ke toko buku, Surya mengangguk setuju lalu mengizinkan anaknya pergi.

__ADS_1


__ADS_2