
Dengan perlahan awan hitam menutupi matahari yang tadinya cerah. Hari ini cuaca agak dingin kemungkinan sebentar lagi hujan akan turun dengan deras. Angin berhembusan menerpa wajah gadis yang sedang berdiri dekat halte bis. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri yang terkena hembusan angin. Sesekali ia menatap langit yang siap untuk membasahi kota Jakarta.
Ana gadis itu menatap sekolahnya yang agak dekat dengan dirinya. Dilihatnya suasana disana sudah cukup sepi. Sudah lama ia menunggu bis dihalte sana, namun bis yang ia tunggu tak kunjung datang. Ana menatap kosong jalanan yang berada dihadapan saat ini. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.
Setelah lama menunggu bis yang tak kunjung datang, Ana memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki. Apalagi langit sudah mendung, lebih baik ia segera pulang dengan berjalan kaki dari pada menunggu bis yang belum tentu tiba pada saat hujan.
Ana berjalan dengan tergesah gesah agar sampai dirumahnya dengan keadaan tubuh yang masih kering. Ia berjalan dengan tergesah gesah hingga tak sadar setetes umbun mendarat ditubuhnya. Lama kelamaan embun yang menjatuhi tubuh Ana semakin banyak. Ana berlari mencari tempat yang teduh agar tubuhnya tidak basah kuyup.
Hembusan angin telah menerpa tubuh mungil Ana. Dingin? Itulah yang dirasakan Ana saat ini. Angin yang begitu kuat menerpa tubuh Ana, gadis itu sesekali meniup tangannya agar tidak kedinginan. Gadis itu mendudukkan tubuhnya dibangku kecil yang berada dibawah pohon yang besar.
Ana sesekali menatap jalanan yang sudah basah terkena air hujan, sesekali pula ia memperhatikan langit yang telah dituruni oleh air. Matanya tetap beralih pada langit, hingga suara petir mengagetkan dirinya. Dengan cepat ia menutup kedua telinganya agar tidak mendengar suara petir itu. Beberapa kali petir terus berbunyi dengan keras, hal ini membuat Ana menjadi takut. Sejak kecil Ana sangat takut dengan suara petir. Jika sedang hujan, deras ia pasti akan berlari kearah sang bunda dan memeluknya dengan kuat.
Saat ini, gadis itu sangat rapuh. Ia sejenak berfikir kenangannya bersama sang ibunda tercinta. Ana mengukir sebuah senyuman saat mengingat kenangan bersama sang ibu.
Flashback On
"Huwaa ... Bunda bunda!! Diluar awannya udah hitam. Ana takut huwaa," rengek Ana saat ibunya sedang asyik memasak makanan.
"Anak bunda yang manis, cantik lagi imut. Kamu jangan takut bunda ada disini yah," balas Dinda bunda Ana.
"Tapi, nanti kalo ada petir gimana bunda? Huawaa Ana takut bunda," rengek Ana semakin kuat.
__ADS_1
"Eh pelan pelan sayang, bunda lagi masak, nanti jatuh lo," kata bunda.
Ana makin mengeratkan pelukannya dan alhasil makanan yang dimasak oleh Dinda terjatuh dan berserakan dilantai.
"Awhh," ringis Dinda karena terkena tumpahan makanan yang panas.
"Bunda nggak apa apa? Maafin Ana, Ana nggak sengaja."
Dinda tersenyum melihat anaknya yang sedang tertunduk takut. Ia belai rambut anak sematawayangnya dan memeluk tubuh gadis kecil itu.
"Enggak kok. Ana nggak salah, ini semua karena bunda yang nggak hati hati."
"Tapi tan-gan bu-nda m-merah," umpat Ana terisak.
"Tapi yang obatin lukanya Ana ya bunda," lirih Ana.
"Iya sayang." jawab Dinda tersenyum.
Flashback Off
Ana kembali menatap langit yang masih menurunkan hujan. Senyuman yang tadinya terukir indah diwajahnya, perlahan sirna. Entah gadis itu memikirkan apa, sehingga ia kembali dalam fase kesedihan.
__ADS_1
"Bun, kalau luka yang ditangan bisa diobati, tapi bagaimana dengan hati Ana yang sudah sangat terluka." gumam Ana tetap menatap langit yang mulai redah. Melihat itu Ana berjalan dibawah hujan yang sudah mulai redah.
"Apa Ana bunuh diri aja supaya rasa sakitnya cepat hilang." gumam Ana.
"Yah. Mungkin kalau bunuh diri, luka yang ada dihatiku pasti akan hilang," lanjutnya lagi penuh penegasan.
Kini ia berlari menuju sebuah jembatan, tanpa memperdulikan hujan yang kembali menderas. Tekadnya untuk bunuh diri sudah bulat, ia sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit seorang diri. Ia mulai menaiki pegangan jembatan itu, dan melihat kebawah jembatan. Dibawah sana terlihat air yang sudah deras siap membawa benda yang terjatuh pada tujuannya.
"Maafin Ana ayah. Ana sudah tidak sanggub lagi."
"Maaf juga karena Ana belum bisa bahagiakan ayah. Ana sudah putus asa, Ana mau ikut dengan bunda saja, supaya luka Ana bisa terobati," ujar Ana yang telah berdiri di luar jembatan. Ia mulai memejamkan matanya dan siap untuk terjun kebawah.
Tiba-tiba...
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...