Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
Part 11


__ADS_3

Sinar mentari telah menembus jendela kamar seorang gadis. Sinar itu menerpa wajah gadis yang tengah tidur dengan pulas. Perlahan lahan matanya terbuka dan melihat seisi kamar. Kondisinya begitu kacau, Ana-gadis itu terlihat sangat tidak baik baik saja. Kantung mata yang hitam akibat kekurangan tidur, dan rambut acak acakan.


Sepanjang malam Ana tidak dapat tidur. Setiap ia menutup mata untuk tidur, setiap kali pula ia membayangkan dirinya berpisah dengan sang ayah. Entah perasaannya sangat tidak enak, jika ayahnya akan pergi hari ini. Ana berjalan menuju kamar mandi, dan mulai membersihkan dirinya. Setelah membersihkan dirinya, ia segera menuju kedapur untuk menyiapkan sarapan dan membantu ayahnya menyiapkan seluruh kebutuhannya.


Walau harus menahan kesedihan yang mendalam karena ditinggal pergi oleh sang ayah. Ana akan tetap berusaha tersenyum agar kesedihannya tidak terlihat oleh sang ayah. Saat Ana telah berada dimeja makan, ia telah disambut oleh Surya, Sinta dan Lia. Sepertinya ia kesiangan untuk membantu ibu tirinya membuat sarapan.


"Ana tumben kamu telat bangun sayang," ucap Sinta.


"T-tadi malam Ana kerjain tugas bu," bohong Ana.


"Oh, yaudah kamu makan dulu gih, ibu udah buat makanan kesukaan kamu," jawab Sinta.


Ana mengangguk mengiyakan ucapan Sinta, ia berjalan menuju meja makan dan duduk disamping Surya. Ia mulai mengambil piring dan meletakkan lauk pauk dipiringnya dan memakannya.


Tak ada pembicaraan yang terjadi, hanya dentingan sendok yang sedang beradu. Tak lama kemudian ponsel Surya berbunyi, dengan cepat Surya mengangkat telfon tersebut.


Via telfon


"Halo? Ada apa?" tanya Surya


"......."


"Kenapa harus sekarang?"


"......."


"Hm baiklah, aku mengerti. Kau siapkan saja semuanya."


Via telfon off


Surya membuang nafasnya dengan kasar. Ia menatap istri dan kedua anaknya yang sama sama sedang memperhatikannya sedari tadi.


"Siapa yang telfon mas?" tanya Sinta


"Sekertarisku. Katanya aku harus berangkat pagi kesanan, soalnya ada masalah," jelas Surya


Ana hanya mendengar ucapan sang ayah, ia tidak ingin berkata kata lagi. Kali ini ia hanya akan diam, diam dan diam. Tak ingin memasang wajah yang sedih dihadapan sang ayah, ia mengukirkan senyuman yang indah diwajahnya, agar dapat menutupi kesedihannya. Oh, ayolah Ana kau jangan terlalu tegar!


"Kalau begitu ayah mau bereskan barang barang ayah dulu," kata Surya lalu pergi meninggalkan ketiga wanita dimeja makan itu.


Ana menatap punggung ayahnya yang mulai menghilang, penglihatannya mulai kabur karena ditutupi oleh air mata yang sedari tadi ia bendung. Mungkin jika ia berkedip maka air itu sudah akan terjun membasahi pipi Ana. Dengan pelan ia menghapusnya agar tidak terlihat oleh kakak dan ibu tirinya.


"Ibu, ayah beneran pergi pagi ini?" tanya Lia


"Iya nak."


"Wah Lia senang banget, akhirnya Lia udah nggak bersihin rumah," seru Lia


"Hm iya, ibu juga senang. Badan ibu juga capek karena bersiin rumah ini sendiri," jawab Sinta


"Jadi nggak sabar, liat ayah pergi."


"Sabar saja dulu Lia, kalau pria itu udah pergi. Kita berdua jadi ratu kembali dirumah ini," jawab Sinta lalu tertawa bersama Lia.


Mungkin mereka tidak menyadari kehadiran Ana didekat mereka. Ana tak ingin ikut campur dalam kebahagiaan kedua wanita itu. Ia bangkit dari duduknya dan berniat menuju kamar sang ayah untuk membantu menyiapkan seluruh kebutuhannya.


"Eh, sampai lupa kalau anak gembel ada disini. Apalagi ayahnya udah mau pulang ya, wah pasti bakal kesiksa dong kalo gitu," cibir Lia.


Ana menghentikan langkahnya saat Lia menghinanya. Mungkin ia sudah terbiasa dengan hinaan yang dilontarkan oleh sang kakak. Tapi entah mengapa yang satu ini sangat menusuk hatinya.


"Aku yakin nanti aku, nggak akan disiksa oleh kalian lagi," ucap Ana penuh penegasan.


Entah keberanian dari mana, Ana berani melawan kedua wanita yang sudah beberapa kali menyiksanya. Matanya kali ini tidak terlihat rasa ketakutan melainkan keberanian yang terlihat. Lia mengepalkan tangannya, gadis itu sangat emosi kepada wanita yang ada didepannya.


"Wah! Ternyata lo udah berani ngelawan gue!" ucap Lia sambil menyilangkan kedua tangannya didada.


Ana tersenyum menanggapi ucapan Lia, mungkin saat ini, keberaniannya telah terkumpul untuk melawan kedua wanita itu.

__ADS_1


"Aku nggak ngelawan kak, aku cuma kasi tahu kakak. Kalau orang jahat akan mendapatkan balasan yang setimpal kepadanya. Maka kakak sama ibu tobat aja, agar tidak dapat hukuman olehnya," jawab Ana


Lia sudah benar benar emosi. Dipikirannya, berani sekali gadis yang selama ini ia siksa melawan perkataannya. Apalagi ia memberi nasehat kepada dirinya. Dan akhirnya


PLAK


Satu tamparan berhasil mendarat dipipi Ana. Gadis itu tersungkur menyentuh lantai. Kali ini tamparan itu bukan diberikan oleh Lia melainkan ibu tirinya Sinta. Sedari tadi emosi wanita itu telah ia tahan, tapi jika ia terus ia tahan pasti gadis itu tidak akan lagi mendengar ucapannya.


"ANA SUDAH BERANI KAMU MELAWAN HAH!!" bentak Sinta.


Ana berusaha bangkit dari tempatnya, gadis itu memegang pipinya yang merah. Taparan dari ibu tirinya sangatlah kuat. Gadis itu menunduk takut kepada ibu tirinya, rasanya tidak ingin lagi melawan perkataan kedua wanita itu. Lagi pula jika ia melawannya, pasti yang akan ia dapatkan hanya siksaan dari kedua gadis itu.


"Hah! Udah takut kamu! Makanya jadi orang jangan sok jagoan. Ngerti!" bentak Lia.


Gadis itu benar benar senang jika melihat adik tirinya sengsara. Ia tidak akan pernah bahagia jika tidak mendengar suara tangisan yang keluar dari matanya.


"Untung saja, ayah kamu masih ada dirumah! Kalau saja ia tidak ada," ucap Sinta menjeda kalimatnya. "Ibu sudah bunuh kamu dari tadi," lanjutnya lalu pergi meninggalkan Ana yang masih mematung.


Tak berani mengucap sepatah kata pun. Gadis itu benar benar diam, pikirannya melayang kemana mana. Entah apa yang akan dilakukan oleh kedua wanita kejam itu kepadanya setelah ayahnya akan pergi. Apalagi ia sudah berani melawan kedua wanita itu, sudah tentu mereka akan menyiksanya tanpa ampun.


***


"Ayah, emang nggak bisa pulang besok aja?" tanya Ana sambil melipat pakaian ayahnya lalu memasukkannya dalam koper


Yah, kali ini Ana berada dalam kamar sang ayah. Kedatangannya untuk membantu ayahnya menegemasi barang dan membujuknya agar tidak pergi. Ibu dan kakak tirinya sekarang berada ditaman belakang, yah mungkin lagi merayakan kebahagiaan mereka, karena ayah mau pergi.


"Ngga bisa sayang nanti kalau ayah libur, ayah kesini lagi deh," jawab Surya.


"Bukan gitu yah, Ana ngerasa ada hal buruk yang akan terjadi."


"Hust ... Nggak boleh ngomong gitu. Kamu harus berfikir yang positif. Oke!"


Ana menganggukkan kepalanya. Persaannya kali ini benar benar tidak enak. Pikirannya selalu saja tertuju kepada sang ayah. Namun ia dengan cepat menepis pikiran hal buruknya itu, ia harus berfikir positif dan tidak memikirkan hal yang aneh.


Tepat pukul sembilan pagi semua persiapan telah siap. Dan satu jam lagi Surya akan berangkat menuju Surabaya. Kini keluarga itu telah berada dibandara. Disana mereka menunggu untuk panggilan pesawat yang ditumpangi Surya. Ya walaupun Surya itu seorang pilot namun pekerjaan sampingannya juga mengurus perusahaan yang tercetak dimana mana.


"Jaga dirimu baik baik disana," ucap Hendra.


"Iya, itu pasti," jawab Surya.


"Ana kamu yang pintar disini. Dengar kata ibu dan kakakmu," kata Surya.


Ana mengangguk mendengar ucapan ayahnya. Air matanya yang sedari tadi ia bendung, berhasil keluar dari matanya. Ia berlari menuju ayahnya dan memeluknya dengan erat. Tak memperdulikan semua memandang dirinya. Baginya saat ini yang paling penting hanyalah ayahnya. Ingat hanya ayahnya saja!


"A-ayah jangan t-tinggalin Ana," isak Ana


"Udah jangan nangis. Nanti ayah datang lagi kok kesini," bujuk Surya


"Ayah janji yah."


"Iya."


"Kalau begitu aku pergi dulu ya, bu jaga Ana. Dan yah, Hendra aku titip putri kecilku ini. Anggap dia seperti anakmu," ucap Surya.


"Iya. Aku janji akan menjaganya," jawab Hendra.


"Baiklah, aku pegang janjimu. Aku pamit dulu, assalamualaikum," pamit Surya


"Waalaikumsalam."


Ana menatap punggung Surya yang telah menjauh, buliran buliran bening telah lolos mengenai pipinya sedari tadi. Ana terus menatap ayahnya yang telah menghilang dibalik pintu.


"Sudah Ana, kita pulang yah. Nanti ayah kamu kesini lagi kok," bujuk Rita.


Ana tak mengubris perkataan dari mamanya Juna. Ia tetap menatap pintu yang telah dimasuki oleh ayahnya. Beberapa bujukan telah dikeluarkan oleh Sinta dan Rita untuk mengajak Ana pulang, namun gadis itu tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.


"Ana ayo kita pulang sayang," kata Sinta.

__ADS_1


Dasar ratu drama!


Beda dengan Juna. Ingat Juna juga ikut mengantar ayah Ana yang akan pergi. Tentu kalau bukan paksaan dari mamanya sudah tentu ia tidak akan ada disini. Yah, pria itu tidak terlalu banyak bicara. Juna tidak terlalu menghiraukan Ana yang sedari tadi menangis. Bagi pria itu, tidak ada sedikit rasa kasihan kepada Ana, pikirannnya terhadap gadis itu masih sama dari dulu tetap aneh.


"Sudah Ana ayo kita pulang. Kamu tidak kasihan sama ibu dan kakakmu yang sedari tadi menunggu," ucap Hendra berbicara.


"Ayo pulang Ana. Kau tenang saja, aku sudah berjanji dengan ayahmu akan menjagamu sampai ayahmu kembali," lanjutnya lagi.


Ana menatap Hendra yang tengah membujuknya. Entah mengapa, ia menemukan ketenangan saat sahabat ayahnya berbicara. Ana mengangguk bertanda ia akan pulang. Seukir senyuman menghias diwajah Rita. Wanita itu sangat bahagia karena Ana akhirnya mau pulang.


***


Sampailah Ana diperkarangan rumahnya. Sinta, Lia dan dirinya diantar pulang oleh Juna menggunakan mobilnya. Hendra dan Rita telah pulang terlebih dahulu menggunakan mobil milik Surya. Ia akan menyuruh orang untuk mengembalikannya.


"Nak, kamu nggak mau masuk dulu?" tanya Sinta


Juna sama sekali tak menghiraukan pertanyaan dari Sinta, ia hanya berpamitan dan langsung saja melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah milik Ana.


Berbicara tentang Ana, gadis itu telah masuk dalam rumahnya terlebih dahulu. Ia meninggalkan Sinta dan Lia untuk membujuk Juna untuk masuk bertamu. Ana memasuki kamarnya dan melihat seisi kamar yang tersusun rapi dan bersih.


Kini Ana merebahkan dirinya dikasur kamarnya. Matanya menatap langit langit kamar. Entah mengapa pikiran gadis itu selalu tertuju kepada ayahnya. Sedari tadi ia memikirkan ayahnya, perasaannya sangat tidak enak kali ini, entah mengapa ia merasa bahwa ayahnya dalam bahaya. Dengan cepat ia menepis pikirannya itu, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Nggak. Aku nggak boleh pikir yang bukan bukan," ucap Ana


BUKH


Ana seketika kaget saat mendengar suara benda yang jatuh dalam kamarnya. Matanya menatap kearah benda yang tergeletak dilantai. Disitu terdapat fotonya dengan bunda dan ayahnya.


Ana mulai membersihkan pecahan bingkai foto keluarganya, tetapi saat ia ingin menyentuh pecahan beling tersebut tangannya tidak sengaja tergores dan menghasilkan darah segar yang keluar dari tangannya.


Ana meringis kesakitan saat tangannya mengeluarkan cairan merah. Ana terus saja meringis kesakitan, padahal goresannya itu hanya kecil namun ia terus saja mengeluarkan banyak darah. Hingga satu tetes darah jatuh mengenai foto wajah ayahnya. Ana mengambil foto itu dan membersihkannya. Pikirannya mulai gelisa kepada sang ayah.


"Kenapa perasaanku mikirin ayah terus. Apa ini pertanda buruk?" gumam Ana.


"Nggak ini bukan pertanda buruk, ini pasti cuma kebetulan aja. Lagi pulakan cuaca agak berangin pasti gara gara itu foto ini jatuh. Jendelanya juga kebuka," ucapnya lagi


Ana berjalan menuju jendela kamarnya yang sedang terbuka, niatnya ia akan menutup jendela itu. Namun matanya menatap langit yang mulai menghitam. Hembusan angin yang kencang menerpa diri Ana, gadis itu masih saja memandang langit. Ia langsung saja tersadar saat suara petir berbunyi. Ana terkejut dan langsung menutup jendela kamar.


Gadis itu berjalan kearah pecahan bingkai foto bersama keluarga. Tangannya mulai membersihkan pecahan tersebut. Selesai dengan membersihkan pecahan itu ia beralih untuk mengobati lukanya yang terkena pecahan kaca. Ringisan yang Ana keluarkan saat mengobati lukanya. Setelah mengobati lukanya Ana berniat untuk membersihkan dirinya. Ana melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi, pada saat tepat didepan pintu kamar mandi suara gedoran pintu menghentikan langkahnya.


Suara itu begitu keras, mungkin saja orang itu adalah Sinta atau Lia yang ingin menyiksanya kembali. Lama kelamaan suara itu semakin kuat, dengan rasa takut Ana berjalan dan membuka pintu.


Matanya tertuju kepada sang empu. Dihadapannya saat ini bukanlah Sinta atau Lia melainkan pembantunya Bik Narsih. Beliau kelihatan sangat kacau. Matanya berkaca kaca dan menatap Ana. Sedangkan yang ditatap mengerutkan keningnya heran.


"Bibi kenapa? Bibi disiksa sama ibu dan kak Lia?" tanya Ana


Bik Narsih menggelengkan kepalanya.


"Terus bibi kenapa? Kenapa menangis?" tanya Ana bingung.


"I-itu ... A-anu."


"Itu apa bi? Anu apa? Bibi ngomong yang jelas biar Ana itu tahu,"


"Pesawat yang dinaiki tuan kecelakaan non."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2