
Hari hari berlalu dengan cepat, namun tidak ada tanda tanda dari kesadaran ayah Ana. Gadis itu masih setia menemani sang ayah. Seminggu ini ia tidak pernah masuk sekolah karena harus menjaga ayahnya. Padahal ujian sudah mendekat.
Berulang kali Ana di bujuk oleh Rita untuk kembali sekolah, namun Ana menolaknya dengan beralasan ingin menjaga ayahnya sendiri. Mau tak mau Rita mengalah dan membiarkan Ana untuk menjaga ayahnya.
"Ayah, cepat sembuh. Ayah tega, liat Ana frustasi kayak gini," ucapnya.
"Ayah."
"Yah."
"Ayahku sayang."
"Ayah bangun," lirihnya sambil menggenggam tangan Surya.
Berulang kali Ana memanggil ayahnya untuk bangun. Tapi sama saja hasilnya nihil.
Ana menatap jam yang tertempel didinding kamar rumah sakit. Ia mulai bangkit dari duduknya dan memperbaiki selimut yang dipakai sang ayah sampai dadanya.
"Ana pulang dulu ayah," ucapnya mencium punggung tangan sang ayah.
"Ana mau ayah cepat sembuh. Ana panggil perawat dulu yah, nanti ayah di jaga sama dia." katanya lagi lalu pergi keluar ruangan.
***
Sampailah Ana dirumah Rita. Beberapa hari ini dia sudah bisa menyusuaikan dirinya di lingkungan barunya.
Di pintu utama dia sudah disapa dengan beberapa pelayan, Ana tersenyum. Di rumah ini Ana cepat mendapatkan teman dibandingkan dirumah lamanya, ia susah mendapatkan teman. Bukan karena susah melainkan Sinta dan Lia melarang satu pelayanpun berbicara dengan dirinya. Itupun jika ia ingin bicara dengan Bik Narsih harus sembunyi sembunyi.
Ana menatap kearah ruang keluarga, disana ia dapat melihat Rita dan Hendra berbicara dengan asyik. Pembicaraan mereka terhenti saat melihat Ana yang memandang mereka dari jauh.
"Ana kamu sudah pulang. Kesini dulu nak," panggil Rita.
Ana mengangguk lalu ikut bergabung dengan sahabat ayahnya. Mereka berdua menatap Ana dengan ramah, sesekali tersenyum dengan hangat. Awal awal mereka dengan asyik, lama kelamaan obrolan mereka menjadi serius.
"Ana," panggil Hendra.
"Iya om?" tanya Ana.
"Nggak usah panggil om, panggil aja papa Ana," sahut Rita.
Hendra mengangguk. Lagi lagi Ana canggung melihat tingkah kedua orang ini.
"I-iya Mah."
"Rita sudah menceritakan semuanya sama saya. Kamu sering disakitin sama ibu dan kakak kamu," kata Hendra.
Wajah Ana menjadi pucat saat Hendra mengatakan ucapannya. Masalah yang dulu sudah ia lupakan harus kembali mengingatnya.
"Kenapa kamu tidak jujur sama ayah kamu," tanyanya.
"Ana nggak mau kok Pah. Lagi pula Ana udah terbiasa."
"Kamu jangan berbohong Ana!" tegas Hendra.
"Lebih baik kamu jujur saja sayang," kata Rita.
"Hm, Ana diancam sama ibu kalau, aku berani mengaduh tindakan mereka. Maka ayah akan disakiti," jawab Ana senduh.
"Jadi selama ini kamu diperlakukan seperti budak!" kata Hendra.
Ana mengangguk.
"Dasar manusia bejat!" cibirnya.
"Kamu istirahat gih Ana. Kamu pasti capek," ucap Rita.
"Iya Mah."
***
Udara semakin dingin di malam hari. Dinginya angin malam, menerpa tubuh gadis mungil yang tengah berdiri dibalkon kamarnya.
Ana gadis itu, menatap langit yang sudah dipenuhi titik-titik terang diatas sana. Begitu banyak bintang yang berkelap-kelip menghiasi lagit hitam. Begitu pula dengan pancaran sinar rembulan yang dikelilingi dengan cahaya titik itu.
Masih saja meratapi hidup yang tak pernah baik untuk dirinya. Entah skanario apa yang telah diberikan Tuhan untuknya. Hidup yang tak pernah sama sekali ia impikan sejak kecil.
Tok ... Tok ... Tok
Ketukan pintu mengahamburkan hayalan Ana. Terdengar suara Rita yang memanggil namanya dibalik pintu. Ana pun membuka pintu dan menampilkan wanita paruh baya dengan segelas susu ditangannya.
"Duduk dulu Ma," pinta Ana
Rita mengangguk lalu duduk disofa dan menaruh segelas susu yang tadi ia bawah, keatas meja.
"Kamu belum tidur?" tanyanya
"Balum Ma," balas Ana
"Kalo gitu kamu minum ini ya, terus tidur," pinta Rita sambil menyodorkan susu kearah Ana.
"Iya Ma, makasi," balasnya lalu meneguk susu itu hingga habis.
Ana tersenyum kecut menanggapi ucapan Rita. Rita dapat melihat bahwa banyak kesedihan yang berada didalam jiwa Ana.
__ADS_1
"Kamu jangan sedih ya sayang, nanti ayah kamu pasti sembuh kok," ucap Rita.
"Mama," panggil Ana lirih
"Iya."
"Aku mau peluk mama boleh?" tanya Ana.
Rita tersenyum lalu merentangkan tangan agar Ana dapat memeluknya. Ana langsung saja memeluk erat wanita yang ada didepannya ini. Tangisannya sudah pecah dalam pelukan Rita.
"Keluarkan semua nak. Mama ada buat kamu," kata Rita.
Dan benar saja, Ana menangis lebih keras dari sebelumnya. Hal ini mengundang para pelayan yang berada diluar. Dengan tergesa-gesa mereka menuju kamar Ana dan berdiri didepan pintu Ana. Begitupun dengan Hendra.
Rita yang melihat menganggukkan kepala dan tersenyum kepada para pelayan dan Hendra. Mereka mengerti hal itu, dan akhirnya mereka semua pergi kecuali Hendra.
Disana dia masih berdiri sambil melihat kedua wanita yang masih berpelukan. Mulutnya sedikit terbuka seperti mengatakan sesuatu tenangi gadis kecil itu, karena dia sangat berarti buat keluarganya. Yah, seperti itulah yang diucapkan Hendra. Ia pun melangkah kembali keluar kamar Ana.
"Hiks ... a aku rindu b bunda Mah," ucap Ana terbata
"A Ana mau i ikut Bunda ... Huwaa," tangisnya lagi kembali pecah.
"Hm ... sudah sayang, kamu yang tenang. Sekarang kamukan punya Mama, Papa, dan ayah kamu. Tambah lagi Diva sama Juna," ujar Rita.
"Hiks ... Makasi Mah," jawab Ana melepas pelukannya
"Iya sayang."
"Kalo gitu kamu tidur dulu gih, udah malam. Kan kamu besok mau ke sekolah." timpal Rita.
Memang benar, besok Ana sudah mulai sekolah kembali. Bagaimana caranya? Tentu saja kalau bukan dari bujukan dari Rita dan ditambah lagi dengan Hendra yang memaksanya. Dan tentu saja cara yang dilakukan mereka berdua berhasil membuat Ana kembali kesekolah. Dengan satu syarat, biaya rumah sakit ayah Ana, tanggungan oleh dirinya sendiri. Ana sudah tidak mau lagi merepotkan kedua pasangan ini. Mau tidak mau Rita dan Hendra menyetujui syarat dari Ana.
"Iya Ma."
"Kalo gitu mama keluar dulu ya, good night baby," ucapnya lalu keluar kamar Ana.
"Night to."
***
Pagi cerah untuk melakukan kegiatan. Kicauan burung telah terdengar dikamar Ana. Gadis itu telah siap dengan seragam sekolahnya. Tampilannya masih sama dengan yang dulu.
Setelah yakin dengan persiapan dirinya, ia pun turun kemeja makan dan ikut bergabung dengan keluarga Hendra.
"Pagi Ma, Pah," sapanya.
"Pagi," jawab mereka serentak.
Ana mengangguk lalu ikut duduk didekat Rita. Segelas susu, dan nasi goreng ia sodorkan pada Ana. Ana menerima dengan sepenuh hati, lalu mulai memakan sarapannya.
Tak lama kemudian, Juna datang dengan setelan gayanya yang sangat cool. Ana saja terpukau dengan ketampanan pria ini, hanya saja ia sangat tidak suka dengan sifat dinginnya kepada orang lain.
"Jun, kamu sarapan juga ya," kata Rita.
"Juna berangkat," bukan menjawab Juna malah pamit pergi. Haduhhh
"Juna jangan keras kepala!" tegas Hendra.
Karena merasa dibentaki, Juna ikut bergabung bersama keluarganya. Sebenarnya ia ingin saja ikut sarapan dengan keluarganya, tetapi saat melihat Ana selera makannya bersama keluarga hilang.
Tidak ada suara yang terdengar dari keluarga ini, hanya detingan sendok yang beradu dengan piring.
Selang beberapa menit makanan yang mereka santap telah habis. Kini Ana akan pamit untuk pergi kesekolah.
"Ma, Ana kesekolah dulu ya," pamitnya.
"Iya sayang, tapi kamu kesekolah biasa naik apa?" tanya Rita.
"Biasanya jalan kaki," jawab Ana
Rita membulatkan mata ia tak habis pikir, bagaimana bisa Ana pergi kesekolah dengan berjalan kaki. Sedangkan jarak rumahnya dengan sekolahnya sangat jauh. Dan lagi banyak mobil dirumahnya.
"Kamu bohong kan?" tanyanya lagi memastikan
Ana menggelengkan kepala. Rita benar benar kaget. Tapi kali ini ia tidak mau ambil pusing.
"Kalo gitu kamu nggak usah jalan kaki," kata Rita.
"Kok, gitu si Mah, kalo Ana nggak jalan kaki. Ana kesekolahnya gimana?"
Bukannya menjawab, Rita menatap Juna yang sudah selesai dengan sarapannya. Pada saat itu pula, Rita memanggil nama Juna dan melambaikan tangan kepada anaknya itu. Juna yang terpanggil langsung saja datang kearah sang ibu dengan gaya coolnya. Sedangkan Ana, dia masih saja mematung sambil menatap bingung kearah Rita.
"Ana ikut sama kamu kesekolah ya," pinta Rita.
Ana membulatkan mata sempurna saat ucapan yang dikeluarkan oleh Rita. Beda dengan Juna, awalnya ia sedikit terkejut, tetapi dengan cepat ia menghilangkan rasa kejutannya itu agar tidak dapat dilihat oleh orang lain.
"Nggak usah Ma, lagi pula Ana udah biasa jalan kaki," tolak Ana
"Ck, udah kamu nurut aja," tegas Rita.
"Mau ya Jun."
"Nggak," tolaknya.
__ADS_1
Ana bernafas lega mendengar jawaban Juna. Sedangkan Rita belum menyerah untuk membujuk sang putra agar mau mengantar Ana.
"Kalo gitu Ana pergi sama supir aja," ucap Rita dengan wajah dibuat sedih.
"Ck, iya." jawab Juna.
Jujur saja, sedingin apapun Juna kepada semua orang, ia tidak akan tega melihat orang tersayangnya menangis. Dan jika saja ada yang berbuat jahat kepada mereka, maka Junalah yang akan maju pertama.
Mata Rita berbinar mendengar jawaban Juna, tak henti hentinya ia memuji sang putra dengan ucapan yang basi. Tentu Juna hanya menganggap angin lewat saja. Beda halnya dengan Ana, tadinya ia berpikir akan pergi dengan berjalan kaki, hatinya begitu gembira saat berpikir begitu. Tapi, dengan mudahnya Juna membanting semuanya dengan sekali tepukan.
***
Keheningan muncul dikedua remaja, yang berada didalam mobil. Tak ada sepatah kata yang dikeluarkan dari kedua pihak. Juna sibuk menyetir mobil, sedangkan Ana melihat pemandangan keluar jendela mobil.
Selang beberapa menit, mereka tiba diparkiran sekolah. Sorak para siswa saat melihat mobil Juna tiba diparkiran sekolah. Sekumpulan siswi sudah berdiri dari kejauhan untuk melihat pangeran mereka turun.
"Makasih," ucap Ana masih didalam mobil.
"Hm."
Lagi lagi berdehem yang dijawab olehnya. Juna keluar dari mobilnya dangan gayanya yang super cool. Suara yang tadinya kecil sekarang berubah menjadi besar.
'WAH! PANGERANKU!'
'JUNA I LOVE YOU!'
'YA ALLAH SUAMIKU TAMPANNYA!'
'MAMA!! CALON MENANTUMU!'
'SAYANGKU!!'
Dan masih banyak lagi yang dikeluarkan oleh mereka. Tetapi teriakan mereka tidak berlangsung lama. Saat pintu mobil bagian samping tempat duduk Juna terbuka, muncullah Ana yang membuat seisi sekolah diam.
Tatapan mereka sangat tajam saat melihat Ana keluar dari mobil Juna. Berbagai makian dikeluarkan dari rombongan yang meneriaki Juna.
"Eh ... itu bukannya Si Cupu ya, kok bisa sama Juna?"
"Iya, pasti tu anak kecentilan."
"Mungkin aja dia dikasi tumpangan sama Juna karena kasian liat dia jalan kaki. Kan dia tu kesekolah jalan kaki."
"Hahaha bisa jadi. Kan nggak mungkin juga dia sama ayang beb gue."
"Ih najis! Calon suami gue kali."
Itulah bisik-bisik dari kumpulan siswa. Ada yang menatapnya dengan rendah ada pula yang merasa iri kepada dirinya.
Juna tidak menggubris cacian yang diberikan untuk Ana. Diam dan melihat saja yang dilakukan dengan siswa. Beda halnya dengan Ana, dia sudah ketakutan. Sedari tadi kepalanya ia tundunkkan agar tidak dapat melihat tatapan sinis mereka. Indra pendengarannya masih bisa mendengar cacian yang diberikan temannya.
Juna melangkahkan kakinya menjauh dari daerah parkiran. Meninggalkan Ana yang masih dicaci oleh kerumunan siswa. Tak jauh ia melangkah, ia dapat mendengar bentakkan yang menyebut namanya. Mau tak mau Juna membalikkan badannya.
Disana dia dapat melihat Ana yang sudah menangis karena di labrak oleh geng Kinan.
"Berani banget lo kembali lagi!" bentak Kinan.
"Dan lo di antar sama Juna!!" lanjutnya lagi.
Sedari tadi Kinan dan teman temannya, melihat kedatangan mobil Juna hingga keluar Ana dari mobil Juna. Hal ini membuat Kinan emosi, dan langsung melabrak Ana.
"M-maaf Kinan," lirih Ana
"Ck, maaf lo itu nggak cukup! Lo harus nerima akibatnya karena berani melawan!!"
Tangan Kinan sudah melayang diudara, dan siap untuk menampar pipi Ana. Tidak ada yang berani jika Kinan sudah berulah, dan bisa di bilang genk Kinan adalah genk yang ditakuti diseluruh sekolah.
Ana sudah pasrah, ia akan menahan rasa sakit yang akan ia dapatkan kali ini.
PLAK
Dan tentu saja sebuah tamparan terdengar di telinga Ana. Tapi kali ini ia tidak merasakan sakit dipipinya. Dengan keberanian ia membuka matanya. Dan lagi lagi ia di kejutkan dengan Juna yang menolongnya. Kali ini tamparannya tidak mendarat dipipi Ana melainkan di pipi Juna.
Semua orang terkejut saat melihat Kinan menampar Juna. Tangan Kinan bergetar hebat saat menampar Juna. Awalnya ia ingin menampar Ana, tapi entah datang dari mana Juna menghalangi Kinan. Sehingga Kinan tidak bisa mengontrol tangannya, akibatnya ia refleks menampar Juna didepan mata para siswa.
Juna yang di tampar memegang sedikit ujung bibirnya. Di sana sudah ada darah segar yang mengalir. Ia menyeka dengan kasar bibirnya. Lalu menatap Kinan bak hewan yang akan memangsa makanannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1