Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
Part 17


__ADS_3

"Anaaa!!" teriak seseorang.


Ana membalikkan badan melihat kearah sosok yang tengah berlari kearahnya. Terukir senyuman indah diwajah Ana kala melihat Davin.


Masih ingat dengan Davin? Itu lo sepupu Juna, kalo nggak ingat baca ulang dari awal.


"Kak Davin. Ada apa kak?" tanya Ana ramah.


"Temani saya makan siang yah," ajak Davin.


"Tapi, pekerjaan Ana masih ada. Lagi pula, Ana udah kenyang kok," jawab Ana.


Ana bekerja di toko buku Davin, sejak seminggu terakhir. Awalnya Davin menolak, untuk Ana bekerja di tokonya. Karena beralasan ingin membiayai rumah sakit ayahnya. Davin berusaha membujuk Ana untuk tidak bekerja, dan berjanji akan membayar biaya rumah sakit ayanya. Tapi Ana menolaknya karena tidak ingin merepotkan orang lain lagi. Mau tidak mau Davin mengalah dan membiarkan Ana bekerja di tokonya.


"Ck, Ana masih banyak kariyawan disini. Sudah ayo cepat temani, cacing saya sudah protes minta makan," tegas Davin.


"Iya kak, tunggu. Ana simpan ini dulu," kata Ana lalu meletakkan buku yang ia bawa kemeja disampingnya.


"Ayo."


***


"Kak Davin, pelan-pelan kalo makan." Ujar Ana.


Bagaimana tidak, masih ada nasi dalam mulut Davin, dia malah menambahnya hingga pipinya membesar.


"Lapar Na."


"Iya Ana juga tahu kali kak, nih buktinya pipi kak Davin udah besar banget kayak ikan buntal," kekeh Ana.


"Yey Ana ma uhuk ... uhuk."


Kalimat Davin terpotong karna ia sudah tersedak makanannya sendiri. Ana langsung saja mengambil air diatas meja dan memberikannya kepada Davin.


"Itukan Ana bilang juga apa, kalo makan pelan-pelan. Kesedakkan jadinya."


"Iya bos, saya minta maaf," balas Davin.


"Kamu beneran nggak mau makan? tanya Davin.


"Udah kak Davin aja, Ana udah makan tadi."


Davin mengangguk lalu melanjutkan makanannya. Selang beberapa menit, makanan yang dimakan Davin telah habis.


"Alhamdulillah, kenyang dah perut gue."


Ana terkekeh melihat Davin yang kekenyangan karna sudah makan. Pria itu mengelus perutnya yang datar.


"Eh, Ana saya ke toilet dulu, awas jangan kemana mana," kata Davin.


"Iya."


Sudah setengah jam Davin pergi ke toilet, namun tak kunjung datang. Sedari tadi Ana menunggu Davin tapi pria itu tidak muncul.


"Kak Davin mana sih? Udah setengah jam belum juga balik balik." kesal Ana.


"Apa jangan jangan dia udah pulang ya. Eh, tapi masa ia dia pulang deluan."


TING!

__ADS_1


Satu pesan masuk dalam ponsel Ana, gadis itu melihat kearah ponselnya. Membuka isi pesan dan pengirimnya.


BawelDavin❤


'Ana sory banget gue pulang deluan, soalnya tadi ada urusan mendadak. Maaf banget, lo tenang aja makanannya udah gue bayar. Sekali lagi maaf'


Ana menatap kesal ponselnya sedari tadi ia menunggu Davin, malah pria itu pulang lebih dulu dan meninggalkannya sendiri di cafe.


"Dasar, dari tadi suruh jangan pergi, malah dia yang pergi!"


Ana menatap sekitar tempat ia duduk, suasananya semakin ramai karena jadwal makan siang. Ana berdiri dari temat duduknya dan berniat kembali ke toko buku untuk melanjutkan pekerjaannya.


Baru saja berdiri, seseorang menarik pergelangan tangannya. Alhasil Ana terkejut dan ikut tertarik mengikuti orang yang menarik pergelangan tangannya.


Tangan Ana sudah memerah karena dicekal. Tibalah mereka di toilet, orang itu menghempaskan secara kasar tubuh Ana sehingga kepala Ana terbentur dilantai toilet.


"BANGUN LO!" bentaknya.


Ana masih meringis kesakitan, kepalanya mengeluarkan darah segar akibat benturan tadi. Orang itu menarik Ana berdiri dengan kasar. Dan ...


PLAK!!


PLAK!!


Dua tamparan tepan dipipi Ana. Gadis itu memegang kedua pipinya yang terkena tamparan. Matanya mulai mengeluarkan titik bening.


"K-kinan kamu k ... kenapa?" tanya Ana dengan penuh ketakutan.


Kinan gadis itu yang telah menarik Ana dengan paksa ke toilet dan menamparnya tampa ampun. Teraut dimatanya, gadis itu benar benar emosi. Tangannya mengepal siap untuk memukul Ana kapan saja.


"LO TANYA KENAPA!!" teriak Kinan.


"INI SEMUA GARA GARA LO! LO UDAH BUAT MALU GUE DIDEPAN BANYAK ORANG!!" teriaknya lagi.


Kinan kali ini tidak peduli dengan orang yang melihatnya berteriak di dalam toilet. Semua yang berada didepan pintu toilet itu sudah banyak kerumunan melihat aksi Kinan. Dasar orang kepo! Bantuin napa tu Ana disiksa!


PLAk!


Satu tamparan kembali melayang dipipi kanan Ana.


"Ini buat lo yang udah berani lawan gue!"


PLAK!


Satu tamparan lagi melayang dipipi kiri Ana.


"Ini buat lo yang buat malu gue dibanyak orang!"


Ana meringis kesakitan sambil memegang kedua pipinya yang sudah memerah akibat tamparan dari Kinan. Tangan Kinan kembali melayang di udara. Sepertinya gadis itu akan memberikan tamparan yang kelimanya kepada Ana.


Ana memejamkan matanya. Gadis itu tidak dapat menahan rasa sakit di wajahnya. Hanya berharap agar seseorang datang menyelamatkannya. Dan...


PLAK!!


Satu tamparan kembali terdengar, tapi kali ini bukan diwajah Ana. Gadis itu mendongakkan kepalanya keatas. Disana ia bisa melihat Kinan ditampar oleh seorang wanita yang sangat dikenal oleh Ana.


"T-tante Rita," lirih Ana


Memang benar, Rita yang menampar Kinan. Wanita itu tadi, berniat untuk menemui Ana di toko buku. Tapi kariyawan yang lain mengatakan bahwa Ana ada di cafe bersama Davin untuk makan siang. Mendengar itu Rita pergi ke cafe yang dibilang kariyawan Davin.

__ADS_1


Tapi sesampainya disana Rita ingin sekali ke toilet. Dengan tergesah gesah, ia berjalan ke arah toilet. Wajahnya mengerut saat melihat banyak orang yang tengah berkumpul didepan pintu toilet. Karena penasaran, ia ikut melihat kearah pintu. Dan matanya membulat sempurna saat melihat anak dari sahabatnya tengah disiksa tanpa ampun. Tangan Rita sudah mengepal, amarahnya sudah meluap-luap. Wanita itu berjalan dengan cepat kearah Kinan yang siap memberikan tamparan lagi kearah Ana.


Mata Ana sudah memerah ingin sekali mengeluarkan cairan bening dipelupuk matanya. Ingin rasanya mengaduhkan semua yang dilakukan wanita bejat ini kepadanya.


"TANTE SIAPA! BERANI SEKALI TAMPAR SAYA!!" teriak Kinan tidak terima dengan perlakuan Rita.


"Seharusnya saya yang bertanya sama kamu! Kenapa kamu tampar anak saya!!" Jawab Rita dengan menekan semua perkataannya.


Kinan menatap remeh Rita. Pandangannya beralih kearah Ana, yang masih menunduk takut.


"Ck, ternyata ayah lo playboy juga ya. Tidak cukup dengan satu wanita saja," cibir Kinan.


PLAK!


Tamparan kembali mengenai pipi Kinan, kali ini Ana yang menamparnya. Gadis itu tidak akan terima jika orang tuanya dijelek jelekkan oleh orang lain. Cukup dirinya saja yang dijelekkan tidak usah kedua orang tuanya.


"BERANI BANGET LO TAMPAR GUE!" teriak Kinan.


"LO UDAH BOSAN HIDUP HAH!!"


"Sudah cukup saya diam Kinan Ridzan Alhiya! Saya tidak akan terima jika anda menjelekkan ayah saya! Saya tidak akan terima jika anda menjelekkannya cukup saya saja tidak usah yang lain!" tegas Ana.


"Selama ini saya diam, karena saya menghormati anda! Jangan sampai saya mengeluarkan amarah saya karena anda sudah keluar batas!" lanjutnya lagi.


Lagi-lagi Kinan dibuat diam oleh Ana, sepertinya gadis itu sangat marah. Beda halnya dengan Rita, ia juga mulai emosi karena perkataan yang dikeluarkan Kinan. Ia akan menahan amarahnya, kali ini ia akan membiarkan Ana yang berbicara.


"Dan yang perlu anda ketahui nona Kinan Ridzan Alhiya, wanita yang anda bentak adalah ibu dari laki-laki yang anda suka!" tegas Ana.


Kinan mengerutkan keningnya, ia masih menunggu kelanjutan dari ucapan Ana.


"Hanira Satya Mahendra, istri dari Satya Mahendra ibu dari Arjuna Pratama Mahendra!" lanjut Ana.


Kinan membulatkan matanya, gadis itu langsung menatap kearah Rita dengan tatapan takut. Ia sudah menuduhnya, dan membentaknya.


Rita tersenyum miring saat melihat Kinan menatapnya. Ia melangkahkan kakinya kearah Ana dan merangkul pinggang Ana.


"Dan perkenalkan, tunangan putra saya Meyla Anara Surya," kata Rita menekan semua perkataannya.


Bagai petir di siang bolong, Kinan menatap sinis kearah dua wanita didepannya. Ia membalikkan tubuhnya dan langsung meninggalkan kedua wanita itu.


Sampai didepan pintu toilet, Kinan berdiri menatap semua orang yang telah melihat tingkahnya didalam tadi.


"APA LO SEMUA! BUBAR LO SEMUA!" teriak Kinan.


Dan benar saja semua kerumunan itu langsung saja berhamburan, meninggalkan tempat kejadian itu.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2