
"Maaf juga karena Ana belum bisa bahagiakan ayah. Ana sudah putus asa, Ana mau ikut dengan bunda saja, supaya luka Ana bisa terobati," ujar Ana yang telah berdiri di luar jembatan. Ia mulai memejamkan matanya dan siap untuk terjun kebawah.
Tiba-tiba tubuh Ana kembali tertarik kebelakang. Ana yang tadinya sudah siap untuk bunuh diri, harus kembali tertarik menjauh dari pinggir jembatan. Mata Ana menatap orang yang menarik tangannya. Ana membulatkan matanya saat melihat orang yang satu satunya peduli dengan kehidupan Ana.
"D-diva," ucap Ana
Yah orang itu adalah Diva, sahabat satu satunya yang Ana miliki. Diva menatap tajam Ana yang menunduk takut.
"MAU APA LO ANA!! MAU BUNUH DIRI HAH!!" teriak Diva.
Suasana ditempat mereka sangatlah sepi, jadi tidak ada orang yang memerhatikan mereka. Kedua gadis itu telah basah ditimpa oleh hujan. Hawa yang tadinya dingin seketika menjadi panas.
Ana tetap diam tak berkutik, dia masih tetap menunduk menahan takut saat melihat Diva yang sudah sangat marah.
"ANA LO ITU NGGAK PUNYA OTAK HAH!! LO MAU MATI!" bentak Diva melepas cengkraman dari tangan Ana.
Ana tak bisa apa apa. Ia tetap menunduk takut kepada Diva. Ia tak menjawab perkataan Diva, ia tetap mendengarkan Diva mengeluarkan emosi dan kekesalannya.
"Lo itu sadar nggak sih HAH!! Lo itu dosa kalau bunuh diri Ana!" bentaknya.
"ANA KALAU GUE LAGI BICARA, LO ITU JANGAN NUNDUK MEYLA ANARA SURYA!!"
Ana mengangkat kepalanya menghadap kearah Diva, menatap kepada gadis yang sangat emosi padanya. Mata Ana sudah sembab akibat ia menangis. Mulut Ana mulai terbuka dan ingin berbicara pada Diva.
"Aku nggak punya otak Div. Iya aku nggak punya otak!!"
"Disini aku selalu tersakiti Diva. Dari pada hati aku yang sakit lebih baik aku mati saja Diva!!"
"AKU UDAH NGGAK BISA MENGHADAPI INI SENDIRI DIVA!!" bentak Ana yang sudah menangis dibawah hujan.
Air mata gadis itu sudah tercampur dengan dinginnya air hujan. Baru kali ini Ana dapat membentak seseorang, apalagi dia sudah membentak sahabatnya sendiri yang selalu bersamanya disaat duka maupun senang.
Diva gadis itu bungkam. Ia menatap Ana yang telah menangis dihadapannya. Ia juga dapat melihat banyak beban yang tersimpan dimata sahabatnya itu. Iba? Tentu Diva sangat iba kepadanya. Dengan segera ia memeluk erat gadis itu. Ana membalas pelukan Diva dengan erat. Ia tumpahkan semua kesedihannya disahabat satu satunya.
"Hiks ... Diva aku capek, aku udah nggak mau hidup lagi Div," lirih Ana yang masih setia memeluk tubuh Diva.
"Hust ... kamu jangan bicara gitu Ana. Kamu harus kuat, ingat ayah kamu masih membutuhkan kamu Ana," balas Diva
"T-tapi aku udah capek, aku putus asa Diva. Aku mau ikut bunda aja," tangis Ana.
"Kamu jangan bilang begitu. Kamu harus kuat, aku akan selalu ada disamping kamu yah," ucap Diva.
"Kamu itu enak Diva. Terkadang aku cemburu sama kamu, mendapatkan kasih sayang orang tua, dihargai oleh semua orang, tidak dijauhi oelh semua orang. Sedangkan aku, aku diperlakukan seperti hewan oleh semua orang. Ditindas, dimaki dan dijauhi oleh semua orang. Dan yah aku juga selalu ditindas oleh kakak dan ibu tiriku dan tak pernah mendapatkan kasih sayang dengan mereka," kata Ana dengan sendu
"Kamu jangan nyerah begitu saja Ana. Kamu juga harus tunjukin kepada mereka bahwa kamu itu layak diperlakukan seperti manusia bukan hewan. Kamu itu harus sedikit tegas kepada semua orang. Jika kamu tetap sabar seperti ini, kamu akan mudah dibudakki oleh semua orang.Dan soal ibu dan kakak tiri kamu biar aku saja yang lapor sama ayah kamu," jelas Diva.
"Nggak Div, aku mohon jangan laporin itu sama ayah. Kalo kamu laporin itu bisa bisa nyawaku yang akan melayang," cegah Ana.
"Ana, kamu itu harus sedikit berani untuk melawan dua iblis itu. Kamu jangan takut dengan ancaman mereka. Sudan pokoknya aku nggak mau tahu, aku akan tetap laporin mereka sama ayah kamu kalau perlu dengan pihak yang berwajib," tekan Diva lalu beranjak pergi meninggalkan Ana.
Belum sempat Diva melangksh menjauhi Ana, tangannya sudah dicengkal oleh tangan
"Aku mohon Diva jangan Ana," Gadis itu menatap Diva dengan penuh harapan.
"Div, aku mohon jangan. Aku akan lakukan apapun yang kamu mau, tapi tolong jangan ngaduh sama ayah aku," mohon Ana yang telah bersujud dihadapan Diva.
"Eh Ana bangun, kamu jangan ngelakuin ini. Jaga harga diri kamu, aku nggak bakal ngaduh kok dengan om Surya," kata Diva. Perlahan Ana berdiri dan memandang wajah Diva dengan senyuman.
"M-makasi Di-," ucapan Ana terputus saat matanya telah terpejam.
Kondisi gadis itu sangatlah kacau. Rambutnya yang dikepang dua telah berhamburan dan acak acakan. Matanya sudah sangat sembab akibat ia menangis. Tubuh dan bibirnya sudah sangat pucat.
__ADS_1
Diva kaget saat Ana tiba tiba saja jatuh pingsan dihadapannya. Dengan cepat ia menangkap tubuh Ana agar tidak terjatuh keaspal. Ia segera memompang tubuh Ana untuk masuk kedalam mobilnya dan melajukannya menuju rumah sakit.
***
"Juna," ucap Rita-mama Juna.
Juna berdehem menanggapi ucapan mamanya. Kini Juna berada dipinggiran kolam renang, matanya fokus menatap buku yang ia baca. Rita mendengus kesal kepada anaknya yang selalu bersikap dingin.
"Juna. Kamu denger mama nggak sih," kesal Rita.
"Iya mah."
"Kamu itu kapan rubah sifat kamu yang dingin kayak gini," tanya Rita.
Juna sekilas melihat kearah Rita lalu kembali menoleh kearah buku yang ua baca tadi. Rita mendengus kesal kepada anaknya, bisa bisanya ia cuek dengan mamanya sendiri.
"Juna kamu itu dengar mama nggak sih. Pokoknya ya mama nggak mau tahu kamu harus rubah sikap kamh yang dingin atau mama sama papa," kata Rita menggantung ucapannya.
"Bakal jodohin kamu sama pilihan mama dan papa!" lanjutnya.
Juna yang tadinya fokus membaca bukunya, seketika memandang mamanya yang mengalihkan pandangan darinya. Wajah Juna tetap saja datar, tidak ada eksprisi yang dikeluarkannya. Walau sedikit keget saat mamanya mengatakan bahwa akan menjodohkannya, tapi ia tidak akan menganggap serius ucapan mamanya.
"Terserah," ucap Juna lalu pergi meninggalkan mamanya sendiri dipinggir kolam renang.
"Dasar anak itu. Dia pikir saya lagi main main, tunggu lihat saja anak mama," gumam Rita.
"Mama kenapa?" tanya seorang pria payu baya yang muncul secara tiba tiba.
"Papa! Ngagetin aja," balas Rita.
"Ituloh pah, Juna nggak pernah mau rubah sikap dingin dia. Mama udah ngancem juga nanti bakal dijodohin tapi nggak ada respon sedikitpun," kesal Rita.
Hendra menghela nafas panjang. Ia berjalan menuju sang istri dan duduk didekatnya.
Rita mengangguk pelan pertanda mengerti ucapan sang suami.
***
Disisi lain, terlihat seorang gadis cantik yang tengah mondar mandir didepan ruangan dengan pintu yang dicat berwarna putih. Matanya tak henti hentinya menatap pintu yang berada dihadapannya, tak terasa setetes embun jatuh kepipi gadis cantik itu.
"Ana kamu harus kuat," lirih Diva.
Yah gadis itu adalah Diva, saat Ana jatuh pingsan ia dengan cepat melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sementara Ana dirawat ia segera menelfon ayah Ana dan mengatakan bahwa Ana masuk rumah sakit. Surya-ayah Ana yang mendengar itu langsung syok dan segera bergegas menuju rumah sakit.
"Diva!!" teriak seorang pria paru baya.
Diva membalikkan tubuhnya dan mengalihkan pandangan kearah pria yang tengah memanggil namanya. Raut wajah Diva seketika memucat saat melihat ayah Ana yang tengah menatap tajam gadis itu. Dibelakang pria itu terlihat dua sosok wanita. Yang satunya terlihat sedikit tua dan satunya pula terlihat muda.
"Apa yang terjadi dengan Ana?!" tanya Surya yang telah menahan emosinya.
Jujur jika itu telah menyangkut dengan masalah Ana, ia pasti akan meninggalkan seluruh pekerjaannya dan menemani anaknya.
Diva gadis itu bungkam sejenak. Ia sedang berfikir apa yang akan ia katakan pada ayah Ana. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa Ana akan membunuh dirinya sendiri, ia memutar otaknya agar bisa mendapatkan alasan yang pasti.
"JAWAB!!" bentak Surya.
Ibu dan Lia sontak kaget mendengar bentakan dari Surya. Bukan hanya mereka Diva pun dan orang orang yang berada disekitar mereka menoleh kepada mereka. Surya tak memperdulikan tatapan dari semua orang, saat ini baginya yang paling terpenting hanyalah Ana anaknya.
"I-itu o-om tadi-," ucapan Diva terpotong saat pintu putih itu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita dengan jas putih dan tak lupa alat yang melingkar dilehernya.
Pandangan semua orang tertuju kepada dokter itu. Surya dengan cepet berjalan kearah sang empu dan menanyakan kondisi sang putri.
__ADS_1
"Bagaimana dok, keadaan anak saya bagaimana?" tanya Surya dengan raut wajah khawatir.
Sedangkan Diva, Lia dan Sinta-ibu tiri Ana, tetap menatap dokter yang ingin memberi jawaban.
"Kalian tenang saja, pasien baik baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi pasien harus menjaga pola makan dan tidak boleh kelelahan dan tidak banyak pikiran," jelas dokter.
"Alhamdulillah, jadi kami bisa masuk dok?" tanya Diva.
"Iya. Silahkan tapi tolong jangan terlalu berisik," balas dokter itu lalu pergi meninggalkan mereka.
"Ana sayang kamu tidak apa-apakan nak?" cemas Surya.
Ana tersenyum melihat sang ayah yang sangat khawatir padanya. Ia mengangguk perlahan membalas ucapan sang ayah.
"Tapi kenapa kamu bisa jadi gini nak? Diva tadi telfon Ayah katanya kamu masuk rumah sakit," tanya Surya.
Sekilas Ana melihat kearah Diva yang menatapnya dengan sendu. Ia tersenyum melihat Diva yang juga sangat khawatir kepadanya.
"Ana baik kok yah, tadi Ana hanya kecapean aja kok," ucap Ana dengan suara yang hampir saja tak keluar. Namun bisa didengar oleh Diva dan ayahnya.
"Syukurlah kalau begitu. Kalau begitu om minta maaf ya Diva karena sudah membentak kamu," ucap Surya
"I-iya om nggak apa apa kok. Itu wajar kok, Diva tahu kalau om itu pasti khawatir sama Ana," jawab Diva.
"Anak ibu nggak apa apakan sayang?" tanya seorang wanita yang muncul secara tiba tiba.
Pandangan ketiga orang itu langsung tertuju kepada pemilik suara. Orang itu menghampiri Ana yang terbaring diatas ranjang.
"Kamu nggak apa apakan sayang," tanyanya lagi.
Ana menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan ibu tirinya. Sedangkan Diva tersenyum miring kearah dua wanita iblis yang ada dihadapannya.
Yah, Diva sebenarnya sudah mengetahui semua kebusukan dari kedua iblis itu. Ia mengetahuinya saat berkunjung kerumah Ana tanpa memberi tahu kepada sang empu. Saat ingin mengetuk pintu rumah Diva mendengar suara kegaduhan didalam sana. Dengan pelan Diva membuka pintu rumah itu tanpa permisi dan melihat kegaduhan apa yang terjadi didalam sana. Betapa terkejutnya Diva saat melihat Ana yang disiksa habis habisan oleh ibu dan kakak tirinya. Dengan cepat Diva menghampiri Ana dan membantunya. Ana melihat kedatangan Diva sangat terkejut, Diva menompang tubuhnya dan keluar diperkarangan rumah. Sebelum Diva keluar, Diva telah mengancam kedua iblis itu bahwa akan melapornya kepada om Surya.
"Dasar wanita drama!" batin Diva.
"Ana, aku pulang dulu yah. Nggak tahu kenapa tiba tiba ruangannya jadi panas," ucap Diva menyinggung kedua iblis itu.
Ana menatap Diva dengan tajam. Ia tahu pasti ia sedang menyinggung ibu dan kakak tirinya. Sedangkan ibu dan Lia menatap tajam kearah Diva, Diva yang melihat itu bersikap seolah olah tidak berbuat dosa.
"Yaudah aku pamit dulu ya. Cepat sembuh," pamitnya lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kamu juga istirahat dulu ya sayang. Kami akan keluar dulu, biar kamh nggak terganggu," kata Surya.
Ana mengangguk mengiyakan ucapan ayahnya. Dengan segera Surya, Sinta, dan Lia keluar dari ruangan dan membiarkan Ana untuk beristirahat.
Ana mencoba untuk menutup matanya dan berusaha menuju alam mimpi. Namun usahanya sia sia, karena fikirannya selalu tertuju kepada sang ayah.
"Bagaimana aku mau jaga ayah, kalau kondisiku seperti ini."
"Jika aku mengikuti saran dokter itu, mungkin aku akan sembuh."
"Yah. Aku harus sembuh demi ayah, aku harus bertahan demi dia," ucap Ana lalu menutup kedua matanya dan menuju alam mimpi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...