
"Kamu mau kemana Ana?" tanya Rita
Ana menghentikan langkahnya, gadis itu berbalik kearah Rita yang tengah duduk di ruang keluarga seraya meminum teh dan membaca majalahnya.
"Ana mau beliin Diva hadiah ulang tahun Ma."
Rita mangangguk lalu kembali meminum tehnya. Wanita itu memberikan isyarat kepada Ana untuk duduk didekatnya. Ana ikut saja permintaan Rita. "Acaranya kapan?"
"Malam," jawab Ana.
"Hm, kalau begitu Mama temanin kamu ya," tawarnya.
"Gak usah Ma, Ana bisa sendiri kok. Lagi pula Mama kan sibuk," tolak Ana.
"Siapa bilang Mama sibuk. Udah tunggu di sini, Mama mau ambil tas dulu," ucapnya berlalu mengambil tasnya.
Ana hendak protes, tapi apalah dayanya jika Rita sudah berlalu mengambil tasnya. Mau tak mau ia harus mengikuti ucapan Rita.
Selang beberapa menit, Rita kembali dengan membawa tasnya. "Ayo."
Mereka berdua meninggalkan kediaman Mahendra menggunakan kendaraan beroda empat. Rita yang menyetir mobil itu, sebenarnya bisa saja Rita menyuruh sopir untuk mengantar mereka. Tapi, kali ini ia yang ingin membawanya.
"Kita mau kemana Ma."
"Loh, bukannya tadi kamu mau beli hadiah untuk Diva," ucap Rita.
"Oh iya, Ana lupa," balas Ana memukul pelan jidatnya.
Rita tertawa kecil melihat kebodohan Ana. Ana melihat Rita tertawa ikut tertawa bersama wanita yang sudah menganggapnya anak itu.
"Ma, Ana boleh tanya sesuatu gak?" ucap Ana. Gadis itu sudah merubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
Rita juga telah berhenti tertawa, ia melirik sekilas Ana yang sudah merubah posisinya menjadi kearahnya. "Iya. Tapi mukanya gak usah serius gitu."
"Ih, Mama Ana serius."
"Iya iya, kamu mau tanya apa sayang?"
"Tapi jawab yang jujur ya Ma."
"Iya."
"Kok Juna bisa dingin banget sama semua orang, tu juga termasuk sama Mama dan Papa?" tanya Juna.
Rita terdiam, tak ada kata-kata yang ia keluarkan. Bahkan raut mukanya sudah tidam ada senyum sama sekali. Ana panik sendiri, apa yang ia ucapkan tadi salah? Entahlah hanya Rita dan Tuhan yang tahu.
Ana tidak mau menanyakan hal itu lagi, ia sudah takut melihat wajah Rita yang berubah menjadi sangat datar.
Ana mengerutkan kening bingung. Pasalnya mobil yang ia naiki berhenti disebuah cafe, ia melirik kearah Rita yang sudah siap keluar dari mobil.
"Ma, kita mau apa kesini?"
"Ikut aja, nanti Mama cerita didalam," ujar Rita lalu keluar dari mobil.
Ana tertegun, baru kali ini ia mendengar Rita berbicara dengan sangat dingin. Apalagi ini lebih dingin dari pada Juna. Ia mengumpati dirinya sendiri, ia tahu pasti Rita sangat marah dan tersinggung dengan pertanyaannya tadi.
Ia keluar dari mobil Rita dan masuk kedalam cafe. Melihat kesekitar, matanya mencari cari Rita. Matanya terhenti pada meja dipojok, ia melihat Rita yang sudah memesan minuman kepada pelayan. Ia pun berjalan kearah Rita, dan duduk dihadapan wanita itu.
Keduanya terdiam, tak ada yang membuka suara sama sekali. Keheningan itu terpecah saat Rita memanggil nama Ana.
"Ana."
"Ana minta maaf Ma, Ana gak akan nanya soal itu lagi. Janji," ucap Ana cepat. Bahkan jari telunjuk dan tengahnya sudah berdiri membentuk huruf V.
Rita tertawa melihat Ana yang menahan ketakutannya. Sedangkan yang di tertawai semakin takut.
"Mama, gak kerasukan kan?" tanyanya tapi tidak di jawab oleh Rita. Malah wanita itu terus menerus tertawa membuat Ana yakin bahwa Rita sedang kerasukan setan.
"Astaga, berarti Mama kerasukan. Aku harus minta tolong," ucap Ana pada dirinya sendiri. Ia sudah mengambil ancang-ancang untuk berteriak.
"Tolo-," teriakan Ana terhenti, saat melihat Rita sudah berhenti tertawa.
__ADS_1
"Dasar kau ini, memangnya kau pikir aku kesurupan," ucap Rita.
Ana menarik nafas lega. "Habisnya Mama tadi ketawa seperti orang kesurupan. Kan Ana jadi takut."
"Sudahlah, cepat minum minumanmu."
Ana menatap kearah meja, di sana sudah ada minuman yang di pesan oleh Rita. Gadis itu menatap heran minumannya. Pasalnya tidak ada minuman disini, tetapi kenap tiba tiba ada.
Rita yang mengetahui kebingungan Ana langusung berbicara. "Tadi pelayan yang membawa itu."
Ana menatap kearah Rita, ia yakin Rita bisa membaca pikirannya. "Kapan? Tadi Ana gak liat."
"Waktu kamu sibuk nunduk, udah kamu minum aja nanti dingin," jawab Rita.
Ana menurut dan meminum minumannya.
"Juna itu sebenarnya anak yang hangat," ucap Rita tiba-tiba
Ana tertegun, tadi ia sempat berfikir bahwa Rita tidak ingin menceritakan tentang masa lalu Juna. Ternyata pikirannya itu salah, bahkan Rita ingin menceritakannya. Raut wajahnya berubah menjadi sedih. Ana tidak menjawab, ia diam dan terus menjelaskan tentang masa lalu Juna.
"Juna itu anak yang sangat hangat kepada semua orang. Tapi semenjak kejadian dua tahun lalu Juna sudah sangat dingin. Bahkan kepada saya dan suami saya," jelasnya.
"K-kejadian apa Ma?" tanya Ana hati-hati.
"Kamu tahu, dulu Juna sangat mencintai seorang gadis yang sangat cantik. Dan itu ia masih berada di Indonesia," ucap Rita.
Ada getaran yang hebat di tubuh Ana, rasanya sakit saat mendengar fakta yang mengatakan Juna mencintai seseorang. Entah ada apa dengan perasaanya sendiri, rasanya sangat nyaman jika berada di dekat Juna. Tidak tahu itu cinta atau hanya kagum.
Meski begitu, ia tetap berusaha tersenyum. "Tapi, gadis itu di mana Ma, kok Ana gak pernah liat?"
"Dia sudah pergi jauh dari kehidupan Juna."
"Kenapa?" kali ini ia benar-benar penasaran dengan masa lalu Juna.
"Wanita itu selingkuh, dia sudah mengkhianati Juna. Saat itu Juna sedang berada di London untuk menyelesaikan tugasnya. Dan di situ ia ingin pulang dan memberi kejutan untuk melamar gadisnya."
"Saat ia sudah sampai di Indonesia, Juna langsung pergi ke apartemen kekasihnya. Dan tiba di sana Juna melihat gadisnya sedang bercumbu dengan kekasih gelapnya. Anakku sangat marah dan kecewa dengan gadisnya, ia langsung menghantam pria brengsek itu dan memutuskan hubungannya dengan kekasihnya" geram Rita.
"Dan gara gara wanita ******* itu Junaku menjadi dingin kepada semua orang. Termasuk sama Mama," lirihnya.
"Kamu maukan bantu Juna keluar dari masa lalunya," ujar Rita.
Kali ini Ana bingung dengan situasi seperti ini. Di satu sisi ia ingin mengeluarkan Juna dari masa lalunya. Tapi di sisi lain pula ia tidak yakin bisa mengeluarkannya.
Ana masih belum menjawab permintaan Rita, ia masih berpikir dengan pikirannya sendiri. Rita bisa melihat raut wajah Ana yang sudah kebingungan.
"Mama, gak maksa kok. Kalo Kamu gak mau gak papa," lirih Rita.
Ana merasa tidak enak dengan raut wajah Rita yang sudah sedih. Mengambil nafas dengan banyak banyak, lalu tersenyum manis kearah Rita. "Mama, Ana bakal usahain supaya Juna bisa melupakan masa lalunya."
Mata Rita berbinar, wanita itu dengan cepat berterima kasih dan memeluk Ana. Ana dengan senang hati membalas pelukan Rita.
"Makasih ya sayang, kamu mau bantu Mama."
Ana mengangguk. "Ma, aku mau beli hadiah buat Diva, ini udah mau malam."
"Eh, maaf ya sayang. Ya udah ayo kita pergi sebelum acaranya dimulai."
***
"Ma, udah belum. Nanti Ana telat," ucap Ana.
Kini mereka berdua berada dikamar Ana. Ana gadis itu sedang duduk manis di depan meja riasnya. Sedangkan Rita, wanita itu sibuk menghiasi wajah Ana.
Yah, kini Ana sedang di dandani oleh Rita, tentu kalau bukan karena Rita yang memaksa Ana pasti tidak mau melakukannya.
"Tunggu dulu, dikit lagi baru selesai kok," jawab Rita sibuk dengan alat alat perangnya.
Ana tidak menjawab lagi. Ia menurut hingga wajahnya sudah selesai di hiasi.
"Nah, udah selesai. Ya ampun, kamu cantik banget sih sayang," ucap Rita antusias.
__ADS_1
Ana membuka matanya, ia menatap dirinya sendiri di pantulan cermin. Seakan akan tidak percaya dengan wajahnya sendiri. Dia sendiri bahkan tidak bisa mengenali wajahnya sendiri.
Tidak ada kecemata yang melekat diwajahnya, bahkan kedua rambut kepangnya sudah disanggul baik oleh Rita. Di rambutnya sudah ada hiasan berupa mahkota kecil. Sungguh cantik. Gaun yang melekat pula di badannya menambah aura kecantikannya.
"Ma, ini Ana kan?"
"Iya sayang, masa sama diri sendiri lupa," jawab Rita.
"Tapi kok Ana."
"Udah kamu gak usah banyak tanya, cepat kamu pake itu," tunjuk Rita.
Ana mentap kearah yang di tunjuk Rita, matanya membulat saat melihat high hels yang berwarna senada dengan pakaiannya. Sepatu itu juga tidak terlalu tinggi.
"Y-yang itu Ma," Rita mengangguk.
"Tapi, Ana gak tahu cara pakenya," jawabnya.
"Udah biar mama yang ajarin, sini."
Ana mengangguk, ia di ajarkan berulang kali oleh Rita. Baru pertama jalan ia sudah terjatuh, kali keduanya pun begitu. Untungnya Rita sabar dalam mengajarkan Ana. Hingga beberapa kali di ulang akhirnya Ana bisa memakai high helsnya.
"Nah, udahkan kamu udah pintar."
"Iya ma, makasih udah mau ajarin Ana," balas Ana.
"Nanti aja makasihnya, sekarang kamu pergi aja. Kasihan juga Juna udah nunggu kamu dari tadi."
Ana membulatkan mata sempurna, tadi dia berpikir akan pergi sendirian ke pesta Diva, tapi tebakannya salah.
"Bukannya Juna udah pergi dari tadi Ma."
"Tadi sih, mau pergi deluan. Tapi mama larang, mama suruh tunggu kamu dulu," jawabnya santai.
"Ihk, Mama kok gak kasi tahu. Kan kasihan Juna udah nunggu lama," kesal Ana.
"Dari pada kamu banyak bicara, lebih baik kamu turun samperin Juna," ujar Rita.
Ana mengangguk ia berjalan keluar pintu, tapi saat didepan pintu ia kembali masuk dan mencium pipi Rita.
"Makasih Ma," ucapnya.
Rita tersenyum manis, ia mengangguk lalu memberi isyarat kepada Ana agar segera pergi.
Ana menurut lalu pergi menyusul Juna yang sudah menunggunya sedari tadi. Langkah demi langkah ia lewati menuruni anak tangga. Matanya menatap Juna yang duduk di sofa sambil bermain ponselnya. Bahkan, pria itu tidak menyadari kedatangan Ana yang sudah dekat dengannya.
Pria itu sangat tampan malam ini, ia mengenakan setelan jas berwarna biru tua. Sungguh sangat tampan pria itu.
"J-juna," panggil Ana.
Seketika Juna berhenti bermain ponselnya, matanya menatap lekat kearah gadis di depannya. Ia berdiri dari tempat duduknya dan menatap kagum Ana dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Cantik," gumamnya.
"Apa?"
"Gak gue bilang lo lama, cepat kita udah telat," balasnya lalu pergi meninggalkan Ana.
Ia tersenyum melihat penampilan Ana yang jauh berubah dari sebelumnya. Jauh dari kata cupu. Gadis itu bahkan tidak ada mirip miripnya dengan gadis cupu, malah dia seperti ratu yang berada di istana dongeng.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...