
"T-tante Rita," kaget Ana, saat melihat wanita itu menahan tangan Lia untuk menampar Ana.
Dengan kasar Rita menghempaskan dengan kasar tangan Lia. Sinta yang berada didekat Lia begitu terkejut saat melihat Rita muncul secara tiba-tiba.
"Ck, ternyata begini kelakuan kalian berdua setiap hari!" kata Rita dengan tatapan tajam.
"Pantas saja kalian jarang menemui Surya! Kalian sangat asyik dengan hartanya rupanya!" lanjutnya lagi.
Kedua wanita itu bungkam, sedangkan Ana dan Diva tetap menatap Rita yang tengah menahan emosinya.
"Udah tan, kita kerumah sakit aja ya," lirihku.
"Ok. Kita kerumah sakit," ucap Rita, Ana bernafas lega karena permintaannya dipenuhi oleh Rita. Berbeda dengan Diva, Lia dan Sinta mereka bertiga mengerutkan keningnya heran. Tentu pikiran mereka bertiga sama.
"Setelah tante laporin mereka berdua sama polisi," lanjutnya.
Ana terkejut saat Rita melanjutkan ucapannya. Berbeda dengan Diva, gadis itu terlihat sangat bahagia ketika, kedua wanita bejat itu akan masuk penjara akibat perbuatannya.
"Ta, tolong jangan laporin kami kepolisi," pinta Sinta yang sudah berlutut dihadapan Rita.
Ana dan Lia terkejut saat melihat ibu mereka berlutut meminta pengampunan. Sedangkan Rita tersenyum miring melihat kelakuan Sinta.
"Ck, kalian berdua itu memang pantas dilaporkan!" ujar Rita.
"Tolong, jangan Rita! Kami menyesal, iya kan Lia?" tanya Sinta yang masih berlutut
"I-iya tan, tolong jangan laporin kami," kata Lia.
"Udah tante kita laporin aja mereka," ujar Diva dengan penuh kemenangan
"Tentu, kasihan calon menantu tante disiksa dengan kedua wanita kejam ini," jawab Rita dan mulai mengambil benda pipih didalam tasnya.
"C-calon menantu?" kata Lia terbata
Rita melirik kearah Lia dengan tatapan tajam, lalu ia tersenyum dengan sinis kearah wanita itu.
"Iya, asal kamu tahu Ana ini bakal tante jodohin sama Juna!" jawabnya.
Ana membulatkan matanya saat mendengar Rita mengatakan bahwa dirinya akan dijodohkan oleh Juna. Pria dingin binti arogan.
"T-tante Rita ngomong apaan?" tanya Ana memberanikan diri.
Rita menatap Ana yang mengerutkan keningnya bingung. Wanita paruh baya itu tersenyum kepada gadis didepannya.
"Nanti tante ceritain. Sakarang tante mau laporin mereka dulu kepolisi," jawab Rita lalu mulai menekan nomor
Yang akan dihubungi.
"Rita tolong jangan," pinta Sinta yang mulai menangis.
Rita tidak menanggapi ucapan Sinta ia masih fokus untuk menelfon polisi.
"Ana, tolong ibu. Kamu tidak kasihan sama ibu dengan kakak kamu," pinta Sinta mulai berlutut dibawah Ana.
Ana bungkam tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Ia menatap ibu tirinya yang sudah di banjiri oleh air mata. Ia lalu menatap Lia yang sedari tadi menunduk takut, entah apa yang dipikiran gadis itu.
Ego Ana mengatakan untuk tidak menolong kedua wanita itu. Namun Ana bukanlah orang yang tega dengan orang lain, ia menyuruh ibunya untuk berdiri.
"Iya bu. Ana usahain ya," ucap Ana
"Makasi Ana, kamu memang anak ibu yang baik," kata Sinta lalu memeluk Ana.
Ana tidak membalas pelukan sang ibu. Setelah Sinta melepaskan pelukannya, Ana berjalan menghampiri Rita yang menatapnya sedari tadi.
"Ana, ngapain kamu mau bantuin mereka sayang? Kan mereka udah nyakitin kamu!" tanya Rita.
Ana tersenyum. "Udah tante, nggak papa kok. Lagi pula Ana udah maafin kak Lia sama Ibu."
"Tapi, mereka itu udah kelewatan batas Ana," tegas Rita.
"Tante sayang sama Ana kan?"
"Tentu saja sayang. Tante sayang banget sama kamu," jawab Rita
"Kalo tante sayang, maka tante harus maafin kak Lia dan ibu. Dan jangan laporin mereka kepolisi ya, tante."
"Ta-,"
"Udah tante yah," potong Ana.
Rita mengangguk setuju, sementara Diva masih menatap sahabatnya yang sangat baik itu.
"Makasi tante," jawab Ana lalu memeluk Rita, Rita pun membalas pelukan dari Ana.
"Tapi dengan satu syarat," kata Rita melepaskan pelukannya.
"Apa?"
"Kamu nggak boleh lagi tinggal disini."
"Kalo Ana nggak tinggal disini, terus Ana mau tinggal dimana?"
"Kamu tinggal dirumah tante."
"Kok gitu sih tante?"
"Tante takut kalau mereka berdua ganggu. Kamu lagi," jawabnya berbisik
Aku diam. Mencoba memikirkan apa yang ditawarkan oleh Rita. Rasanya berat juga jika ia harus meninggalkan rumah ini, baginya semua kenangan dari almarhum bundanya berada disini.
"Hm, iya."
"Ok, sebentar orang tante bakal ambilin semua barang barang kamu."
"Dan kalian berdua! Awas saja jika kalian mengganggu Ana lagi! Kali ini kalian beruntung karena Ana yang menolong kalian!"
__ADS_1
"Ayok kita pergi Diva, Ana," ajak Rita.
Kedua gadis itu mengangguk, lalu keluar melewati pintu besar.
***
"Ana, kok kamu nggak mau laporin mereka ke polisi sih?" kesal Diva.
"Udah nggak usah kesal gitu. Lagi pula aku udah maafin mereka," jawab Ana.
"Ana, kamu itu jangan terlalu polos, siapa tahu aja mereka itu cuma pura-pura," kata Diva.
"Karena itu, tante bawa Ana tinggal sama tante," ucap Rita ikut berbicara.
"Tante juga nggak yakin sama mereka berdua. Pikiran tante itu sama kayak kamu Diva, jadi lebih baik Ana tante bawa kerumah tante dari pada tinggal sama mereka berdua." jelas Rita.
"Tapi, kan Ana bisa jaga diri tante, Diva," bela Ana.
"Nggak!" jawab Diva dan Rita serentak.
"Jaga diri gimana? Pokonya aku setuju kalau kamu tinggal dirumah tante Rita!" tegas Diva
"Iya tante juga. Kamu harus tinggal sama tante!" kata Rita.
Ana tidak dapat berkata kata lagi. Jika ia berbicara pasti kedua wanita itu akan menyela dan menceramainya sampai tahun depan. Memikirkannya saja sudah ngeri apalagi kalau itu terjadi, pikirnya.
"Lagi pula nggak salah, juga kalau kamu tinggal dirumah tante Rita," kata Diva dengan senyum nakalnya.
"Emang kenapa?" tanya Ana
"Yaelah Ana, kan lumayan latihan jadi calon istri."
Wajah Ana seketika memanas mendengar perkataan dari Diva. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari Diva kearah lain untuk menutupi rasa malunya. Sementara Rita tersenyum melihat tingkah Ana yang salting.
"Nggak usah malu gitu kali Ana," kata Diva.
"N-nggak kok, lagi pula tadi tante Rita cuma bercanda kan tante," jawab Ana kikuk.
"Nggak kok, tadi tante nggak bercanda," seru Rita.
"Tuh dengerin kata ibu mertua, eh salah maksdunya calon mertua!" timpal Diva.
"Ih ... Diva," kesal Ana.
Diva dan Rita tertawa bersama sama melihat tingkah Ana yang lucu.
***
Kini Ana, telah berada di rumah sakit. Gadis itu masuk kekamar ayahnya seorang diri. Diva dan Rita, mereka tadi izin pamit karena ada urusan yang mendadak.
Ana memasuki kamar milik ayahnya. Rasa sedih kembali muncul dihatinya, saat melihat sang ayah terbaring lemah diatas kasur.
Ana berjalan kearah Surya, dan mengenggam erat tangan sang ayah.
"Ayah, cepat sembuh. Emang ayah mau liat Ana sedih terus."
"Kalau ayah, bangun nanti Ana ikutin maunya ayah."
Sebening embun, telah mendarat mulus dipipi gadis itu. Tatapannya begitu sendu saat melihat sang ayah yang tengah berbaring diatas kasur.
"Cepat sembuh ayah," kata Ana lalu mengecup lama kening Surya.
Setelah mencium kening sang ayah, Ana berniat pergi ke taman rumah sakit untuk menghirup udara segar. Gadis itu melangkahkan kakinya, meninggalkan ruangan sang ayah dan menuju taman rumah sakit.
Tibalah Ana ditaman. Kini gadis itu tengah duduk dibangku putih yang telah disediakan. Tatapannya lurus kedepan, pikiran gadis itu kosong saat ini.
"Andai waktu itu bisa diputar."
"Jika itu terjadi, aku ingin mengulang waktu dimana, aku tidak dilahirkan didunia ini."
"Jika aku tidak dilahirkan, mungkin hidupku tidak serumit ini." lirih Ana
Gadis itu, berbicara seorang diri ditaman. Meratapi berbagai masalah yang menimpah dirinya.
Hingga lamunannya terhenti saat mendengar suara tangisan anak kecil disekitar taman.
"Huwaa ... Nggak mau ... nggak mau!!"
Mata Ana mencari cari sumber suara tersebut. Mata hazelnya terhenti, saat melihat anak kecil dipinggiran kolam ikan, yang tengah duduk dikursi roda dan ditemani oleh suster disampingnya.
Ana mulaih melangkahkan kakinya menuju suara anak kecil itu. Disana, anak kecil itu menangis sambil menggelengkan kepala.
Saat Ana berada tepat didepan kedua orang itu. Suster yang tadinya sibuk membujuk sang gadis kecil, menoleh kearah Ana dan tersenyum. Sedangkan gadis kecil itu tetap menangis ditempat.
"Ini kenapa Sus?" tanya Ana memberanikan diri.
"Tidak mau makan mbak," jawabnya.
Ana menoleh sedikit kearah gadis kecil yang tengah menangis. Lalu ia menoleh kearah piring yang masih utuh ditangan sang suster.
"Biar saya bantu bujuk makan ya sus," jawab Ana.
Suster itu mengangguk lalu memberikan piring yang ia pegang kepada Ana. Dengan senang hati Ana menerimanya lalu berjongkok menyamai tubuhnya dengan gadis kecil itu.
"Adek kok nangis terus. Kenapa?" tanya Ana.
"Kalau nangis terus nanti cantiknya hilang loh," katanya lagi.
Anak kecil itu tidak menanggapi ucapan Ana. Ia tetap saja menangis sambil menggelengkan kepalanya.
"Hm ... Kalau nanti adek cantik ini berhenti nangis, nanti kakak belikan mainan, mau?" bujuk Ana
Anak kecil itu, berhenti menangis. Matanya begitu berbinar saat mendengar kata 'mainan'. Toh, anak anak pasti mau itulah.
"Nah gitu dong. Nggak boleh nangis."
__ADS_1
Anak itu mengangguk
"Nama adek siapa?" tanya Ana.
"Salsa." jawab anak itu
"Oh ... Namanya Salsa. Kok tadi Salsa nangis?"
"Nggak mau makan."
"Hm ... Nggak mau makan yah. Oh iya, cita-cita Salsa apa?"
"Dokter."
"Wah, kalau mau jadi dokter, kamu harus makan sayang."
"Nggak mau. Salsa nggak suka makan bubur!"
"Ini enak loh, bubur itukan sehat," jawab Ana
"Nggak! Salsa nggak mau."
"Kalau Salsa nggak mau, nanti kakak nggak jadi beliin mainan loh."
"Iya Salsa makan kok kak," jawab Salsa dengan cepat.
Ana tersenyum lalu mulai menyuapi Salsa bubur kedalam mulutnya.
"Aaaa ... Nah pintar," ucap Ana menyuapi Salsa.
Setelah menit kemuadian, Salsa telah menghabisi bubur yang ia makan. Ana memberikan piring yang kotor kepada Suster tadi. Dan memberikan Salsa segelas air.
"Nama kakak siapa?" tanya Salsa yang sudah selesai meneguk airnya.
"Nama kakak Ana sayang," jawab Ana.
"Oh nama kakak bagus yah," kata Salsa
Ana tersenyum membalas ucapan gadis kecil itu.
"Kak Ana, aku mau nagih janji kakak," katanya lagi.
"Iya, kakak ingat kok. Kamu mau apa?"
"Salsa nggak mau mainan."
"Terus kamu mau apa?"
"Salsa mau ikan hias," jawabnya sambil menunjuk ikan dipinggiran kolam.
"Oh, kamu mau ikan. Nanti kakak belikan diluar rumah sakit yah. Kalau kakak ambil ikan disitu, nanti susternya marah loh," jawab Ana
"Yah tapi, aku mau ikannya sekarang," rengek Salsa.
"Hm, gimana kalau besok kakak bawain ikannya keruangan Salsa," bujuk Ana.
"Kakak janji yah!" seru Salsa sambil jari kelingkingnya kearah Ana.
Ana mengerti apa yang dilakukan anak kecil itu. Ia menyatukan kelingkingnya dengan tangan mungil Salsa.
"Iya kakak janji."
"Maaf yah mbak, Salsa harus istirahat," ucap Suster tadi.
"Oh, iya sus. Besok pagi kakak kesini lagi ya Salsa, kasih kamu ikan," jawab Ana
Salsa mengangguk dengan senyuman yang indah diwajahnya. Rasanya sangat damai saat melihat anak itu tersenyum.
"Cepat sembuh yah," tutur Ana.
"Makasih mbak, sudah bantu saya. Kami permisi dulu." pamitnya.
Ana mengangguk mengiyakan, ia melihat suster itu mulai mendorong kursi roda Salsa menjauh darinya. Hingga lama kelamaan Salsa sudah tidak terlihat lagi.
Gadis itu menghela nafas panjang. Ia juga sudah melangkahkan kakinya menuju ruangan sang ayah, untuk menjaganya.
***
PRANGG!!
"AGRHH ... AKU SUDAH DI PERMALUKAN GARA GARA GADIS SIALAN ITU!!" teriak wanita tua yang tengah melempar benda benda kesegalah arah.
"kita nggak bisa diam aja bu. Kita harus balas dendam sama gadis bodoh itu!" tegas wanita yang lebih muda.
Lia dan Sinta, kedua gadis itu tengah melampiasakan kemarahannya terhadap semua benda yang berada didekatnya. Sementara para pelayan, tidak berani mencegah perbuatan kedua majikannya itu.
"Ibu setuju. Pokoknya anak sialan itu harus membayar semuanya," kata Sinta
"Tapi, gimana caranya bu?" tanya Lia
Sinta tersenyum miris, kepada anaknya.
"Kamu tenang saja sayang, Claudia Sinta Merysa selalu punya cara untuk menjatuhkan musuhnya!" kata Sinta dengan angkuh. Lalu membisikkan rencana kepada Lia.
Setalah lama membahas, Lia langsung tergelak tertawa dengan jahat.
"Hahaha ... Rencana ibu bagus juga!"
"Tentu. Karena itu kamu harus ikutin jejak ibu."
"Hahaha ... itu akan terjadi. Dan Ana bersiaplah untuk memulai penyiksaan yang sesungguhnya!" seru Lia dengan senyuman devilnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...