Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
Part 18


__ADS_3

BRAK!


Terdengar suara benda jatuh, dari tempatnya. Terdapat banyak benda berserakan di lantai. Kamar itu sekarang bak kapal pecah yang sudah di hancurkan oleh banyak orang.


Seorang gadis yang tengah meluapkan kemarahannya kepada benda di sekitarnya. Kinan, gadis itu tengah membanting semua barang yang ada di dekatnya.


"SIAL! LAGI-LAGI GUE DI BUAT MALU!" teriak Kinan sambil memukul meja.


"Gue gak bakal terima, semua perbuatan mereka!" lanjutnya lagi.


"Terutama lo Meyla Anara Surya!! Lo gak bisa lepas dari seorang Kinan Ridzan Alhiya!" umpat Kinan.


***


"Kok, bisa kamu di giniin Ana?" tanya Rita.


"Ana juga gak tau Ma."


Mereka berdua sudah pulang karna kejadian yang tadi. Banyak yang di tanyakan oleh Rita, tapi Ana tidak menjawab.


Sampai di kediaman Hendra, Rita langsung bergegas mengambil kotak P3K nya dan mengobati lebam yang ada di wajah Ana.


Sesekali Ana meringis kesakitan karena lukanya yang perih ketika di beri salep oleh Rita.


"Hm, udah selesai," ujar Rita selesai mengobati luka Ana.


"Makasi Ma."

__ADS_1


"Iya. Tapi yang tadi itu siapa sayang?" tanya Rita.


"Emm ... Anu itu," Rita langsung memotong


"Jangan berani berbohong sama saya Ana!" tegas Rita.


Bahkan Ana sudah takut melihat tatapan Rita yang mengintrogasinya. Apalagi kata kamu-aku sudah hilang.


"Teman kelas Ana Ma," lirih Ana


"Sejak kapan dia selalu bersikap seperti itu?" tanya Rita datar.


"W-waktu Ana masuk sekolah."


Rita semakin emosi, tangannya sudah mengepal sedari tadi. Ada rasa iba kepada Ana karena selalu saja di sakiti setiap orang. Di sisi lain juga terdapat kesal karna anak itu tidak ingin melawan.


Ana yang melihat Rita seperti menahan emosi, tertunduk. Kaki dan tangannya kian gemetar ketakutan. Rita yang melihat itu tersadar bahwa Ana sedang takut melihat dirinya yang akan marah.


"Maafkan mama sayang," lirih Rita sambil mengelus-elus rambut kepang Ana.


"Nggak kok Ma. Mama nggak salah, mungkin ini karena Ana selalu diam kalo di tindas," jawab Ana.


Rita melepaskan dekapannya, wanita itu menatap mata hazel Ana. Terlihat jelas di sana banyak luka yang di pendam gadis ini sendiri.


"Berubahlah Ana, ubahlah dirimu. Bersikaplah seperti orang yang tegas. Jangan kamu diam terus sayang, sesekali balaslah perbuatan mereka yang selalu bersikap semena-mena kepadamu!" saran Rita.


"Kamu jangan mau di buat budak dan di hina sama mereka, lawan mereka Ana." lanjutnya lagi.

__ADS_1


Ana diam. Gadis itu berusaha memikirkan perkataan dari Mamanya Juna. Bercampur sudah semua rasa dalam diri Ana. Bingung yang sekarang ada dalam pikiran gadis itu.


"Ana akan coba ma. Ana bakal coba tegas," tekat Ana.


Rita tersenyum mendengar jawaban dari anak sahabat suaminya yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


"Terima kasih sayang."


"Buat apa mama terima kasih. Seharusnya aku yang berterima kasih karena sudah menolong dan merawat Ana seperti Anak sendiri," sangkal Ana.


"Karena mama, saya merasakan kembali sosok ibu yang telah lama hilang," lanjutnya lirih.


Rita tersenyum lalu mendekap kembali gadis itu.


"Tidak usah terima kasih sayang, kamu bisa menganggap mama seperti ibu yang melahirkanmu," balasnya.


"Makasi ma."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2