
Pov Juna
Kini aku telah berada disekolah baruku. Ya aku telah sampai di Indonesia pada jam sepuluh malam. Tentu kalau bukan karna mama menyuruhku untuk kesekolah hari ini pasti aku masih bersantai dalam kamarku.
Saatku keluarkan diriku dalam mobil, banyak tatapan dan sorakan yang kudengar dari siswa siswi disekolah ini. Tentu saat itu aku hanya bersikap dingin kepada mereka dan menganggap mereka sebagai angin lewat saja.
Saat aku mencari jalan menuju keruangan kepala sekolah, langkahku terhenti saat pandanganku menampakkan sosok gadis yang berdiri jauh dariku, penampilannya sangat aneh. Rok yang panjang, baju dengan lengan yang sangat panjang, rambut yang dikepang dua dan kecemata yang melekat diwajahnya. Benar benar aneh, sangat berbeda dengan gadis yang lainnya. Tanpa ambil pusing kulangkahkan kembali kakiku menuju ruangan kepala sekolah dan meninggalkan kerumunan siswa disana.
***
"Oh jadi kamu anak baru itu," tanya kepala sekolah kepadaku
"Iya pak," jawabku.
"Baiklah kamu sekarang pergi saja keruangan Bu Nani dia Itu adalah wali kelasmu. Kau tinggal lurus lalu belok kanan dan ruangannya berada disebelah situ," ucapnya lagi.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapannya lalu menyium punggung tangannya dan beranjak pergi dari hadapannya.
Kini aku telah berada diruangan Ibu Nani yang katanya sebagai wali kelasku. Saat pertama kali kubertemu beliau sangatlah ramah dan baik. Dia menyambutku dengan baik dan mengantarkanku kekelas baruku.
***
Aku hanya mengekori bu Nani didepanku yang menunjukkan arah kepadaku. Kuikuti langkahnya dengan santai hingga aku sampai didepan kelas baruku.
"Selamat pagi semuanya," salamnya
"Selamat pagi bu."
"Maaf atas keterlambatan ibu. Hari ini kelas kita kedatangan siswa baru, ayo nak perkenalkan namamu," ucapnya padaku.
"Nama gue Arjuna Pratama Mahendra, panggil saja dengan nama Juna," ucapku
Usai saat kuperkenalkan diriku telah banyak kudengar berbagai pertanyaan yang aneh yang keluar dari mulut kaum hawa yang berada didalam kelas ini.
'Bang Juna udah punya pacar belum!!'
'Ih gantengnya eh!!'
'Minta nomornya dong!!'
'Duduk disini aja bang!'
Bla bla bla
Bla bla bla
Dan masih banyak yang lainnya. Namun lagi lagi aku hanya menganggapnya sebagai angin lewat saja. Saat masih banyak pertanyaan dari cewek cewek kelas itu dengan cepat bu Nani menghentikan pertanyaan aneh itu.
"Sudah semuanya diam! Pertanyaan aneh aneh semua," bentak guru itu.
Seketika suasana kelas yang tadinya riuh sekarang secara tiba tiba terhenti kala akbiat bentakan guru. Dipikiranku ternyata dari caranya berperilaku dengan baik dan ramah dibaliknya iya juga tegas dan disiplin.
"Baiklah Juna kamu bisa duduk dibelakang Ana disana," ucapnya sambil menunjukkan arah.
Saat kualihkan pandanganku kearah yang ditunjukkan guru. Betapa kagetnya aku ternyata aku saru kelas dengan gadis aneh yang kulihat tadi pagi.
Dengan santai aku berjalan melewati gadis aneh itu dan duduk dibangku belakangnya.
***
Pov author
"Baiklah semua pelajaran kita akhiri sampai disini," ucap bu Nina lalu keluar kelas.
Ana dan Devi masih sibuk membereskan alat tulis mereka. Usai mereka membersihkan Devi mengajak Ana kekantin bersamanya namun dengan halus Ana menolaknya. Tapi tetap saja Devi berisi keras untuk mengajak Ana kekantin bersamanya.
__ADS_1
"Ayolah Ana, kamu nggak pernah mau kalo aku ajak. Ayolah," bujuk Devi
"Hm tapi cuma kali ini aja ya Va," jawab Ana
"Ok bos," ucap Devi kegirangan.
"Yaudah ayok."
***
Ana dan Devi telah berada dikantin sekolah. Suasana kantin saat ini sangatlah padat. Syukur saja Devi dan Ana mendapatkan tempat kosong yang berada dipojokan.
"Ana kamu mau pesan apa?"
"Samakan saja sama kamu Va,"
"Ok. Tunggu disini ya aku mau pesan dulu."
"Iya."
Kini Ana tengah menunggu kedatangan Devi yang sedang memesan makanan untuk mereka berdua. Sambil menunggu Ana hanya memerhatikan pergerakan orang yang berada disekitarnya. Ada yang tertawa bersama teman temannya, bermesraan dengan kekasihnya dan ada pula yang menatap Ana dengan tajam. Tentu hal ini membuat Ana menjadi takut
dan menundukkan kepalanya.
Ana masih saja menunggu Devi yang memesan makanan. Pikir Ana mungkin Devi kesusahan memesan makanan dengan suasana kantin yang begitu padat. Setelah berfikir dengan lama akhirnya Ana memutuskan untuk menyusul Devi.
Ana berjalan dengan menunduk melewati pengunjung kantin yang begitu ramai. Sesekali ia mendapatkan tatapan tajam oleh penghuni kantin. Hingga pada akhirnya Ana menabrak seseorang.
BUKH
BARK
Ana terjatuh kelantai sambil memegang bokongnya yang sakit. Ia berdiri dengan perlahan lalu kembali menundukkan kepalanya agar tidak melihat wanita yang ia tabrak. Berbeda dengan wanita yang ditabrak, ia merasa emosi kepada wanita yang berada didepannya. Bagaimana tidak? Minuman yang sedari tadi ia pegang tumpah dibaju sang empu.
Alhasil seluruh murid yang sedang asik dengan aktifitas masing masing mengalihkan pandangan kepada Ana yang menunduk takut.
"M-maaf," ucap Ana gelagatan
"Apa lo bilang MAAF!! Lo liat baju gue pada kotor karna ulah lo!!" bentak wanita itu lagi.
"M-maaf K-kinan," ucap Ana lagi.
"Kalau lo mau minta maaf. Lo tunduk dihadapan gue sambil minta maaf!!" bentaknya lagi.
Dengan perasaan takut Ana bertunduk dihadapan Kinan dengan perlahan lalu meminta maaf sambil memegang kedua kakinya.
"Maaf Kinan," ucap Ana yang telah berada dikaki Kinan.
Tak ada sahutan dari atas, karena penasaran Ana menaikkan kepalanya melihat Kinan diatas sana.
BYURSS
Tumpahan minuman jatuh tepat diwajah Ana.
"Ups maaf gue nggak sengaja," ucap Kinan saat membuang sisa minuman yang berada ditangannya.
"Kasihan si cupu. Sini gue bantuin bersihkan," ucap teman Kinan yang berada disebelahnya.
BUYRSS
Lagi-lagi Ana disirami oleh teman Ana, tapi kali ini berbeda bukan minuman yang ditumpahkan kepadanya melainkan kecap dan saus tomat.
"Nah ini kan udah beres," ucap teman Kinan disebelahnya.
"Gimana teman teman Si Cupu udah cantikkan," teriak Kinan dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Oi Kinan dia itu udah tambah cantik kalo gitu," teriak siswa yang melihat aksi Kinan dan temannya.
Mendengar hal itu seluruh penghuni kantin tertawa terbahak bahak melihat aksi Kinan dan teman temannya mempermalukan Ana. Ana hanya diam menunduk malu saat ditertawai oleh seluruh sekolah. Gadis malang itu hanya bisa pasrah atas kelakuan Kinan dan teman temannya kepadanya.
Kinan pun meninggalkan Ana yang masih terduduk dilantai. Ana tak sanggup untuk melihat sekitarnya. Pasti ia tahu kalau ia melihat sekitarnya ia pasti akan dihina habis habisan oleh satu sekolahnya.
Dengan perasaan malu Ana bangkit dari duduknya dan berjalan kearah toilet dengan wajah tertunduk. Bisa dilihat gadis malang itu menangis dalam diam. Masih terdengar jelas orang orang yang menertawai Ana.
Kini Ana telah berada ditaman belakang. Ia tidak jadi ingin ketoilet karena siswa siswi itu terus saja menghinanya. Ia lepaskan semua tangisannya ditempat itu. Untung saja tempat itu sepi jadi Ana bisa mengeluarkan seluruh kesedihannya.
Gadis itu terus saja menangis sejadi jadinya. Sesekali ia memanggil nama bundanya.
Hiks ... hiks ... Aku sudah tidak sanggup."
"Ana mau ikut bunda saja hiks ... hiks."
"Tuhan tolong Ana!!"
"Ana sudah tidak kuat lagi. Ana tidak kuat menanggung penderitaan ini hiks."
"Kasih Ana kebahagiaan walau itu hanya beberapa detik Tuhan!!" isakan Ana
Ana masih saja terisak ditaman belakang sekolahnya itu. Ia masih memikirkan nasibnya yang harus menghadapi dunia yang sangat keras seorang diri. Kali ini Ana tidak berniat memasuki kelas. Gadis malang itu hanya terududuk sendirian dengan pakaian yang dipenuhi oleh tumpahan minuman dan kecap pada seragam sekolahnya.
Tanpa ia sadari Ana terlelep ditaman belakang dengan posisi yang masi duduk dibangku putih itu. Angin yang bertiupan kearah Ana membuat gadis itu terlarut dalam tidurnya.
***
Kring ... Kring ... Kring
Suara bel sekolah telah membunyikan dirinya. Ini saat yang selalu diharapkan oleh seluruh siswa. Berbeda dengan Diva ia sangat mengkhawatirkan Ana yang sedari tadi tidak memasuki kelas.
Yah, Diva tidak pulang tidak pulang terlebih dahulu. Ia masih saja sibuk mencari keberadaan Ana disetiap sudut sekolah ini. Awalnya pacar Diva yang bernama Dito akan mengantarnya pulang sekolah namun gadis itu menolaknya karena ingin mencari Ana.
Dengan halus Dito mengiyakan jawaban Diva.
"Ana kamu kemana sih. Aku cariin di toilet tidak ada, digudang juga nggak ada dimana mana juga tidak ada," ucap Diva yang mulai kewalahan mencari Ana.
"Ana kemana ya. Tunggu aku pikir dulu hmmm," ucap Diva
"Hah! Taman belakang. Ana pasti ada disana," tebak Diva lalu berlari menuju taman belakang.
Disisi lain nampaklah gadis yang tengah tertidur pulas dengan posisinya yang terduduk. Ana tidak menyadari sama sekali bawha seluruh sekolah sudah sepi. Ia masih saja terlelap dalam tidurnya dengan sesekali mengigau memanggil nama bundanya.
"Astaga Ana ternyata kamu disini," kaget Diva saat melihat Ana dengan pakaian yang sangat berantakan.
"Ini ada apa Ana? Kenapa kamu kayak gini," ucap Diva saat melihat Ana yang masih tertidur.
"Jangan bun, jangan tinggalin Ana."
"Jangan bun, Ana takut sendirian. Bunda!"
Ucap Ana yang masih terlelap dalam tidurnya sesekali ia menangis sambil memanggil nama bundanya. Diva yang melihat itu merasa iba kepada sahabatnya. Ia sangat tahu bagaimana jadinya jika ditinggaklan oleh ibu tercintanya. Sesekali Diva memegang lembut pipi Ana yang masih tertidur pulas.
"Kamu memang sangat sabar Ana. Aku bangga kepadamu karena selalu sabar dalam menghadapi kerasnya dunia luar sendirian," ucap Diva dengan sendu.
"Aku akan berdoa agar suatu saat nanti pasti akan ada orang yang akan membuatmu bahagia."
.
.
.
bersambung
__ADS_1