Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
Part 16


__ADS_3

Entah takdir apa yang di berikan Tuhan kepadaku. Entah kesalahan apa yang kuperbuat dimasa lalu, sehingga aku bisa mendapatkan takdir yang sangat mengenaskan.


Sesaat bahagia, dan tak lama kemudian kesedihan. Aku hanya berharap agar kehidupanku terdapat kebahagian, walau itu hanya semenit sekalipun.


Meyla Anara Surya


***


Suasana mencekam terjadi di parkiran sekolah. Sudah banyak rombongan siswa(i) berdatangan melihat kejadian yang sebenarnya.


Berita soal Juna melindungi Ana dari tamparan Kinan sudah terdengar oleh seisi sekolah. Mendengar berita itu, seluruh siswa berdatangan melihat kearah parkiran.


Kinan tertunduk takut saat Juna menatapnya dengan tatapan yang mematikan. Kesal, malu dan takut sudah bersatu dalam benak Kinan. Teman teman yang sedari tadi menemani Kinan sama halnya. Mereka ketakutan saat Juna menatap mereka dengan tajam.


Beda halnya dengan Ana ia, masih tidak bisa percaya bahwa yang menolongnya adalah Juna. Pria kulkas berjalannya. Ada rasa bahagia saat Juna kembali menolongnya. Sudah dua kali ia ditolong oleh pria arogan ini.


"J-Juna maaf," lirih Kinan.


Juna tidak mengubris ucapan Kinan. Ia masih saja menatap tajam kearah Kinan. Merasa tidak dijawab Kinan mendongakkan kepala melihat kearah Juna. Saat melihat muka Juna ia kembali menundukkan kepala karena takut melihat kemarahan Juna.


Sepertinya lelaki dingin itu sangat marah. Jika dilihat dia masih menahan amarahnya karena yang ia hadapi seorang wanita. Coba saja jika ia pria, sudah jelas Juna sudah memberikan bogem mentah kearahnya.


Tatapan lelaki beralih kearah Ana yang masih menghayal. Tak lama kemudian ia menarik Kinan mendekat kearah Ana. Ana yang menyadari saat Juna menarik paksa tangan Kinan menuju kearahnya semakin takut.


Satu genk teman Kinan tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka ingin sekali membantu ketua mereka, tapi mereka takut dengan Juna.


"Minta maaf sama Ana!!" bentak Juna.


Semua orang tertegun saat melihat Juna membentak ketua genk yang suka menindas orang yang lemah. Bukan hanya mereka, Ana membulatkan mata sempurna. Baru kali ini ia mendapatkan pembelaan dari seorang pria yang selama ini ia anggap dengan sifat angkuhnya.


"Jun, udah," lirih Ana


Kinan merasa bahwa dirinya sedang direndahkan oleh Ana. Ia merasa bahwa wanita itu sedang menertawakan kesengsaraannya. Ia menatap tajam kearah Ana, yang seperti menghina dirinya dipendengarannya.


Ana yang merasa ditatap oleh Kinan, langsung menundukkan kepala. Juna sadar hal itu langsung melirik kearah Kinan.


"Gue beri waktu lo tiga detik untuk minta maaf!!" ancam Juna.


Kinan dan lainnya tak berkutik sama sekali. Pandangan mereka menatap kearah Ana yang masih menunduk menyembunyikan rasa kegelisahannya.


"Satu ... Dua ... Ti-," Kinan sudah memotong ucapan Juna.


Kinan sudah memegang tangan Ana yang masih menunduk sambil meminta maaf berkali-kali.


"Ana gue minta maaf, tolong maafin gue ya," ucap Kinan


Ana masih diam, tak tahu harus membalas ucapannya dengan kata apa. Sedangkan semua rombongan itu masih menatap kaget yang dilakukan Kinan. Seorang ratu bully meminta maaf kepada korban yang lama.


"Maafin gue ya."


"I-iya," jawab Ana.


Juna melirik kearah teman satu genk Kinan. Mereka yang terlirik tahu apa yang dimaksud sang empu. Dengan cepat mereka berjalan kearah Ana dan melakukan hal yang sama dengan Kinan lakukan.


Ana tersenyum kikuk kepada Kinan dan teman temannya. Sedangkan sang empu merasa ditertawakan. Ia menatap tajam kearah Ana. Dan lagi lagi Ana menunduk menyembunyikan wajahnya. Juna dapat melihat ketakutan dari gadis itu.


"LO DENGAR SEMUA YA!! KALO ADA YANG BERANI GANGGU ANA LAGI, ORANG ITU BERHADAPAN DENGAN GUE!" teriak Juna.


Semua orang tertegun dibuatnya. Termasuk Ana sekalipun. Tentu saja, baru kali ini seorang Arjuna Pratama Mahendra berbicara selantang dan sepanjang itu. Cowok yang terkenal dingin itu mengeluarkan kemarahannya.


"Bubar lo semua!" bentak Juna.


Tidak ada yang berani melawan. Semua rombongan itu melangkah pergi menjauhi area parkiran. Toh, mereka masih sayang nyawa.


Di area parkiran masih ada Juna, Ana dan Kinan. Teman satu genk Kinan sudah kabur lebih dulu. Tinggallah Kinan sendiri yang takut melihat kemarahan pria dingin ini.


"Jun, maaf."


Juna mengangkat bahu acuh, enggan rasanya menanggapi perempuan yang ada dihadapannya.


"Pergi lo. Awas aja kalo ganggu Ana lagi!" tegas Juna.


Kinan mendongak keatas, ia tidak mau terlihat lemah dihadapan gadis bodoh, yang masih setia menontonnya.


"Tapi Jun, gue mau mi-," belum selesai Kinan bicara Juna sudah memotong pembicaraannya.


"Diam! Ayo Ikut gue!" Ucapnya memotong dan menarik tangan Ana pergi.


Ana tidak tahu ingin berbuat apa, ingin melawan tapi takut jika Juna marah. Akhirnya dia memilih diam dan ikut saja kemana Juna membawanya. Sementara Kinan mengepalkan tangannya setelah kepergian Juna dan Ana. Gadis itu sudah sangat emosi.


"Lo tunggu aja Ana, semua rasa malu gue lo yang harus tanggung jawab!"

__ADS_1


***


Ana yang masih ditarik oleh Juna, terpaksa berhenti disebuah ruangan bercat biru langit . Ana mengerutkan dahi bingung, saat Juna pria dingin itu membawanya ke UKS.


Saat ingin bicara, Ana sudah ditarik masuk kedalam UKS.


"Jun, kita mau ngapain kesini?" tanya Ana yang sudah ada didalam UKS.


"Obatin luka gue," jawab Juna datar.


"Hah! Luka? Yang mana?" tanya Ana bingung.


"Ini," balas Juna sambil menunjuk luka yang ada di sudut bibirnya.


Ana tambah bingung saat meilhat luka yang berada disudut bibir Juna. Pasalnya saat mereka berangkat kesekolah tidak ada luka disana. Dengan keberanian Ana bertanya kepada Juna soal lukanya.


"Itu bibir kamu kenapa bisa berdarah?" tanya Ana.


"Lo nggak liat gue ditampar sama Kinan sampe berdarah!" ketus Juna.


Ana baru menyadari hal itu. Bagaimana ia bisa lupa kalau pria arogan ini sudah menolongnya dari tamparan Kinan. Yah, karena dari tadi Ana nunduk terus, jadi ia tidak bisa melihat darah yang keluar dari bibir Juna.


'Astaga Ana, lo ini polos atau apa sih! Nggak liat apa tadi di gampar sama Kinan beb Junanya. Malah keras banget lagi!'


'Lah, kan tadi saya nunduk thor. Udah lanjutin aja ceritanya!"


'Wokeh.'


Ana merasa bersalah kepada Juna, karena dirinya dia kena tamparan dari Kinan. Tidak berlama-lama Ana dengan cepat mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka Juna.


"Aww," ringis Juna


"Maaf, sakit ya." jawab Ana lalu mengoles secara pelan salep kepada bibir Juna.


Dengan telaten Ana memberi salep keujung bibir Juna. Juna dapat merasa pergerakan dari Ana yang mengobati lukanya dengan baik. Tak lama kemudian mereka berdua menatap satu sama lain, hingga tatapan mereka bertemu dan terkunci.


Beberapa menit kemudian Juna tersadar dengan yang mereka lakukan. Dengan cepat Juna mengalihkan pandangan kearah lain. Hal ini, membuat Ana tersadar dan ikut mengalihkan pandangan kearah lain dengan muka yang sudah memanas menahan malu.


"Bodoh!" ucap Juna.


Ana menatap Juna dengan kening berkerut. Bingung? Tentu itu dipikiran gadis ini.


"Bodoh! Lebih baik kau balas saja mereka!" ucap Juna


"Jika bukan papa dan om Surya menyuruhku menjagamu, sudah pasti aku membiarkanmu disana sendirian!" Gumam Juna masih bisa didengar oleh Ana.


"Kalau kau tidak mau menjagaku tidak apa-apa. Aku tidak memaksamu untuk menjagaku," ucap Ana.


"Lagi pula aku sudah terbiasa dilakukan seperti binatang oleh mereka semua. Jadi fisik dan batinku sudah terbiasa," lanjut Ana.


Juna merasa bersalah saat tidak sengaja ia berbicara seperti itu. Ia bisa melihat dari dalam mata Ana, memang benar sangat banyak terdapat masalah yang dihadapi gadis ini. Dan bodohnya, ia tetap tersenyum walau sudah diinjak seperti semut ditanah.


"Udah selesai. Kalau gitu aku mau masuk kelas dulu," kata Ana.


Juna menatap Ana yang bersiap untuk masuk kelasnya. Mengambil tasnya lalu memakainya. Tepat didepan pintu Ana berhenti lalu membalikkan badannya kearah Juna.


"Makasih, karena udah nolongin saya," ucap Ana lalu pergi.


"Apa tadi gue udah salah ya?"


***


"Kak Ana!" teriak gadis kecil kepada Ana.


Ana menghentikan langkahnya saat namanya dipanggil. Ia menatap kearah suara tersebut. Terukir jelas senyuman, di wajah Ana saat melihat Salsa yang menghampirinya di lorong rumah sakit.


"Kak Ana udah mau pergi?" tanya Salsa.


"Iya, nanti kakak kesini lagi kok," jawab Ana.


"Yah, padahal Salsa lagi mau main sama kakak."


"Hm kakak juga mau main sama Salsa, tapi kakak harus kerja ya sayang."


"Baiklah, kakak kerja aja. Nanti ayah kakak biar Salsa yang rawat sama suster. Iya kan sus," kata Salsa.


Suster itu mengangguk dan tersenyum ramah kearah Ana.


"Makasih adek. Besok kakak datang lagi ya, nanti kakak bawain coklat deh." ujar Ana.


"Yang benar kak!" ucap Salsa antusias.

__ADS_1


"Iya."


"Yaudah kakak pergi dulu ya. Sus, tolong jaga Salsa ya," kata Ana.


"Iya mbak," balasnya ramah.


"Dah Salsa!" pamit Ana lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


***


Pip ... Pip ... Pip


(Anggap suara klakson mobil)


Terdengar jelas suara itu ditelinga Ana. Gadis itu berjalan kesisi pinggir jalanan untuk memberi jalan mobil. Tapi, suara itu masih saja terdengar. Dengan terpaksa Ana membalikkan tubuhnya dan menatap mobil yang berjalan pelan kearahnya.


Mobil itu berhenti tepat disamping Ana. Seseorang keluar dari pintu mobil, dan orang itu berjalan kearah Ana yang masih menagapnya bingung.


"Juna? Kenapa kesini?" tanya Ana.


Yah, lelaki itu adalah Juna.


"Lo mau kemana?" tanyanya.


"Kerja."


"Gue anter," ajaknya.


"Nggak usah, aku jalan kaki aja. Nanti repotin," tolak Ana.


"Ikut aja gue bilang," paksanya.


"Ta-."


"Gak ada penolakan!" tegasnya.


"Iya."


Merekapun berangkat ketempat kerja Ana. Dimobil muncul keheningan, tidak ada satupun suara yang dikeluarkan dua sosok ini.


"Maaf," lirih Juna membuka percakapan.


Ana yang sedari tadi melihat pemandangan dari balik kaca mobil, harus mendongak kearah Juna. Wajahnya sangat bingung.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Ana.


"Untuk kejadian yang tadi," balasnya.


Ana mengerutkan keningnya, untuk berfikir. Hingga beberapa menit ia mengingat kejadian lampau waktu di UKS.


"Hm udah, nggak usah dibahasi," jawab Ana santai.


Juna memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Ia mentap Ana yang tengah sama menatapnya.


"Kok berhenti?"


"Maaf, mungkin karena ucapan saya tadi lo, sakit hati," ucap Juna tulus.


Ana menatap Juna kagum. Pasalnya baru kali ini ia bicara dengannya dengan banyak kalimat. Rekor terbaru untuk dirinya. Hahah dasar kau Ana!


"Sudahlah, tidak usah dibahas," ucap Ana


"Hah, baru kali ini aku mendengar seorang Arjuna Pratama Mehendra berbicara selembut ini kepada orang lain," kekeh Ana.


Juna terdiam, mendengar ucapan Ana. Pikirannya juga sama seperti ucapan Ana. Dan iya? Sejak kapan aku berbicara selembut ini kepada orang lain. Dimana hilangnya sifat dingin dan aroganku. Pikir Juna.


Juna tidak ingin mengubris perkataan Ana, ia melanjutkan mobil dan menuju ketempat kerja Ana.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2