Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
part 3


__ADS_3

"Ana sayang sama bunda,"


Kini Ana telah selesai mengikuti pelajaran untuk hari ini. Seperti biasa Ana harus dengan pulang jalan kaki. Ana tidak pernah dijemput oleh supir dari rumah karna ibu tirinya melarangnya. Sedangkan kakak tirinya Lia sering diantar jemput oleh supir pribadi ayah.


Hari yang begitu panas untuk gadis malang itu. Jalan seorang diri dijalan yang sepi tanpa ada satupun kendaraan yang lewat. Tapi itu tidak menjadi alasan untuk Ana. Ia tetap berjalan melewati terik matahari karna suatu alasan.


***


Kini tibalah Ana diperkarangan rumah yang luas. Dengan hati yang senang Ana mengetuk pintu rumah dan beberapa kali mengucapkan salam.


"Assalamualainkum," salamnya


Tak lama kemudian pintu terbuka dengan perlahan sehingga memperlihatkan sang empu.


Betapa bahagianya Ana saat melihat orang dihadapannya saat ini. Dengan cepat ia memeluk orang itu dengan kuat seakan akan mengatakan untuk tak pergi lagi.


Orang yang dipeluk Ana membalas pelukannya dan mengelus lembut rambut Ana.


"Ayah Ana rindu banget," ucap Ana yang masih dipelukan sang Ayah


"Ayah juga rindu sama kamu sayang," ucap ayah Ana


Acara peluk memeluk antar anak dan ayah terhenti kala saat ibu tiri Ana menyuruh kedua orang itu masuk.


"Hm mas, emang mau diluar mulu ya," ucap ibu tiri Ana dengan lembut


"Oh iya lupa, yasudah ayo masuk Ana," ucap Ayah Ana sambil membawa sang putri kedalam rumah.


"Lo ayah Ana kan mau ganti baju dulu. Iyakan sayang," ucap ibu tiri Ana


"I-iya bu."


"Oh kalo gitu ayah tunggu dimeja makan ya, sekalian makan bersama," ucap Ayah


"Iya ayah."


Ana berjalan melewati anak tangga dan menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Saat ingin membuka pintu kamar,


Seseorang mencengkram tangan Ana dengan kuat dan memaksanya masuk kedalam kamar Ana.


Pasrah. Itulah yang bisa Ana rasakan Ana dibanting keatas tempat tidur membuatnya merasa kesakitan. Tak dapat melawan kepada orang yang melakukannya selain itu ia juga tidak dapat teriak akibat kamarnya itu kedap akan suara.


"Ana ibu peringatkan sama kamu ya, kalo kamu ngaduh sama ayah kamu soal ini kamu, bakal ibu siksa dan tidak kasi makan dan minum selama sebulan!" bentak ibu tiri Ana


"I-iya bu Ana nggak bakal kasi tau ayah,"


"Nice. Cepat kamu mandi dan hapus air matamu itu!" ucap ibu Ana lalu keluar dari kamar Ana


Dengan cepat Ana menghapus air matanya lalu berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tidak ingin menangis terus menerus, karna Ana tahu kalo jika ia sedih pasti bundanya pun akan sangat sedih dialam sana.

__ADS_1


Usai beberapa menit Ana keluar dari kamar mandi. Ia mulai memakai pakaian santainya, baju lengan panjang dan roknya yang panjang dan tidak lupa dengan kecemata yang selalu menempel diwajahnya. Dengan langkah santai ia menuju meja makan untuk makan siang bersama ayah tercinta.


"Ana sini duduk dekat Ayah," ucap Ayah Ana yang sudah berada dimeja makan


"Iya ayah."


"Ibu makanannya mana," ucap ayah Ana


"Iya mas, ini lagi aku bawa."


"Nah ini udah jadi, masakan ibu khusus buat anak ibu Ana," lanjut ibu tiri Ana dengan lembut.


"Hm kayaknya enak nih."


"Iya dong mas, kan aku yang buat. Ana kamu mau makan apa? Biar ibu ambilin," tanyanya dengan lembut


"Sayur aja bu sama ayamnya," ucap Ana


"Ok ibu ambilin ya," jawabnya sambil mengambil piring Ana.


Ayah Ana tersenyum kala jika melihat istrinya dan anaknya. Tanpa ia sadari setetes air keluar dari mata ayah Ana.


"Lo kok ayah, nangis?"


"Ayah tidak nangis, ayah cuma senang saja jika melihat kalian seperti ini," ucapnya.


Ana hanya membalas ucapan ayahnya dengan senyum paksanya. Menurutnya mungkin lebih baik ia menyimpan kesengsaraan ini untuk dirinya sendiri dari pada harus membaginya kepada ayahnya. Ayahnya mungkin tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ana sang putri tercintanya. Diperlakukan seperti pembantu jika ayahnya tidak ada, sedangkan jika ia ada Ana selalu diperlakukan sebagai ratu didepan ayahnya. Biarlah rasa ini ia simpan sendiri tanpa harus ada orang yang mengetahiunya.


***


"Kita harus kembali ke Indonesia. Karena temanku Surya ada disana," ucap pria tua


"Tapi bagaimana dengan Juna? Apa dia harus ikut kita pah?" jawab wanita paruh baya


"Ya. Juna harus ikut dengan kita. Aku sudah mendaftarkannya di sekolah yang populer dan sekaligus satu sekolah dengan anak Surya," ucap pria itu.


"Bagaimana sayang kamu maukan pindah ke sana," tanya wanita itu.


"Itu terserah dari mama sama papa, kalo mau pindah Juna ikut ikut aja," jawab anak muda itu yang disebut dengan Juna.


Arjuna Pratama Mahendra. Sebut saja namanya Juna. Merupakan lelaki blasteran Indonesia dan London. Lelaki tampan yang membuat kaum hawa tergoda padanya. Memiliki sifat yang dingin kepada semua orang, cuek dan pendiam Memiliki postur tubuh yang tinggi, mata yang indah, kulit putih.


"Baiklah kalo karena Juna setuju besok kita berangkat," ucap Hendra-papa Juna.


***


Kini Ana telah berada diruang santai bersama ayahnya. Ibu tirinya saat ini berada didapur untuk membuat kue, sedangkan kakak tirinya Lia berada dirumah temannya.


"Ayah Ana kangen banget sama ayah," ucap Ana sambil memeluk ayahnya.

__ADS_1


"Maaf ya sayang ayah jarang pulang, tapi tenang saja ayah akan mengambil cuti beberapa hari untuk putri ayah ini," ucap ayah Ana sambil mengelus lembut rambut Ana.


"Ayah nggak bohong kan?" tanya Ana dengan mata berbinar binar.


"Iya sayang," jawabnya


Untuk sesaat Ana merasa nyaman jika berada dengan ayahnya. Ia ingin sekali rasanya untuk menghentikan waktu walau hanya dengan satu menit asalkan bisa berada didekat ayahnya.


Dari kejauhan ibu tiri Ana hanya menyaksikan kisah anak dan ayah itu. Tak lama ia tersenyum miring melihat keasikan mereka berdua.


"Ayah dan anak sama saja, memang bodoh!" gumamnya


***


Esok harinya Ana berangkat kesekolah lebih awal. Kali ini ayahnya menawarkan agar ia diantar olehnya, dengan senang hati Ana menerima ajakan ayahnya.


Tak butuh waktu lama mobil yang dinaiki Ana telah berada didepan gerbang.


"Ana pergi dulu ya ayah," ucap Ana sambil menyalami punggung tangan sang ayah.


"Iya sayang belajar yang rajin ya, jangan nakal nakal," tegur ayahnya


"Ih ayah kapan juga Ana nakal. Udah ih Ana mau masuk dulu. Lagian kasian Kak Lia dari tadi nunggu," ucap Ana lalu membuka pintu mobil.


"Iya putri ayah."


Sedikit info yah. Lia dan Ana tidak satu sekolah. Alasannya Lia tidak ingin satu sekolah dengan Ana. Karena ia tahu kalo ia satu sekolah dengan Ana pasti dirinya juga akan dibully oleh teman-temannya karena memiliki adik yang cupu.


Masuklah Ana kedalam sekolahnya dengan wajah yang tertunduk. Pasti ia tahu jika masuk kedalam sekolah akan ada cacian yang diterimanya.


Pada saat memasuki sekolah tidak terdengar satupun cacian yang diterima oleh Ana. Ana yang merasa heran mengangkat wajahnya dan melihat sekitar tempat ia berdiri.


Pandangan Ana terhenti saat melihat segerombolan orang yang jauh darinya dengan berteriak histeris. Ana yang melihat itu tidak ambil pusing lalu pergi meninggalkan tempatnya dan menuju kelas.


***


"Pagi Diva," sapa Ana


"Pagi juga Ana," sapanya kembali.


"Oh iya Ana udah dengar berita nggak?" tanya Diva saat Ana telah duduk disampingnya.


"Berita apa?"


"Katanya ada anak baru lo, katanya cowok ganteng gitu orangnya,"


"Oh pantesan aja tadi waktu kekelas banyak orang lagi kumpul. Jadi nggak ada yang caci aku. Ternyata ada anak baru to," ucap Ana.


"Wah berarti anak baru itu malaikat kamu Ana," ucap Diva gembira

__ADS_1


"Malaikat?


__ADS_2