
Pov Ana
"Tante, kamar Ana dimana?" tanyaku.
Sekarang aku telah berada dirumah tante Rita. Dirumah sakit tadi, ia sempat menjemputku, untuk tinggal dirumahnya. Dengan canggung aku mengangguk, lagi pula jika aku tidak tinggal disana, mau tinggal dimana lagi. Tidak mungkin jika kembali kerumah ayah.
"Dilantai dua, sebelah kamar Juna," jawabnya dengan santai.
"Eh, mungkin Ana tidur dibelakang aja tante. Nggak usah jauh jauh," tolakku dengan halus.
Bukan apanya, aku merasa aneh saja jika harus berdekatan kamar dengan pria lain. Yah, kecuali ayah.
"Hust ... Kamu bukan pembantu disini. Dan sekarang kamu tidak usah manggil saya dengan nama tante. Tapi panggil saya seperti Juna memanggil saya Mamah. Ok!" jawabnya.
"Tapi."
"Nggak ada tapi tapi."
"I-iya tan, eh maksudnya mamah," jawabku terbata.
Mau tak mau aku harus mengiyakan ucapanya. Kulihat ia mengukirkan senyumannya diwajahnya. Ia, memanggil pelayan untuk mengantarku kekamar, dan membawa barang barangnya.
Aku hanya mengikuti perintah dari mamanya Juna. Rasanya ada yang berbeda dengan lingkungan barunya. Tapi aku, akan mencoba untuk menetralkan diri agar bisa beradaptasi dilingkungan barunya.
***
Disinilah aku, dikamar yang cukup luas dari kamarku sebelumnya. Kupandangi seluruh isi kamar, di dinding terdapat sedikit hiasan foto. Kamar ini memang bagus, malahan lebih bagus darinpada kamarku yang dulu.
Setiap ayah tidak ada dirumah, pasti aku akan tidur di kamar pembantu. Tentu itu pasti karena perintah dari ibu dan kakak tiriku. Tapi, jika ayah ada aku akan kembali kekamarku yang sejak dulu aku tiduri.
Kududukkan diriku dibibir tempat tidur. Istrirahat dan membersihkan diri sebentar, lalu kembali pergi kerumah sakit untuk menemani ayah. Tadi aku menitipkan ayah kepada perawat. Aku izin karena ada urusan.
Karena sudah cukup lama aku duduk. Aku memutuskan untuk membereskan bajuku. Aku mulai memasukkannya dalam lemari yang cukup besar. Baju yang kubawa tidak terlalu banyak. Lagi pula buat apa aku harus berlama lama dirumah tante Rita? Itu pasti akan merepotkannya.
Kedua wanita yang berada dirumah ayah? Biarkan saja mereka menguasai rumah itu. Lebih baik aku bekerja lebih keras untuk mendapatkan uang dan membeli kontrakan yang kecil untuk aku tinggali bersama ayah nanti.
Setelah selesai meletakkan baju dalam lemari, aku berniat untuk membersihkan badan yang sudah lengket dan segera kembali kerumah sakit untuk merawat ayah.
***
Disisi lain, tepatnya dikediaman Surya. Terlihat kedua wanita yang tengah berbicara secara serius.
"Bu, bagaimana ini?" tanya Lia
"Tenang saja. Kamu ikuti saja rencana ibu!" jawab Sinta
Kedua wanita itu tengah membahas cara untuk membalas penghinaan dari Ana. Tentu mereka belum jerah dari perbuatan mereka. Oh, ayolah jangan bersikap begini terus!
"Tapi bagaimana kalau mereka curiga?"
"Mereka tidak akan curiga, kalau kamu melakukannya dengan baik!"
"Hm, yaudah Lia ikut ibu aja. Yang penting Lia bisa balas dendam sama cewek gembel itu!" balas Lia
"Tentu saja. Lebih baik sekarang kita biarkan mereka bahagia, setelah itu kita buat mereka hancur berkeping keping!" jawab Sinta lalu tertawa bersama Lia.
***
Usai dengan aktifitasku dikamar mandi, aku bersiap siap untuk pergi kerumah sakit dan menjaga ayah hari ini.
Kuturuni anak tangga satu persatu dengan santai. Sesampainya aku dilantai bawah, aku bisa melihat Rita-mamanya Juna tengah duduk santai bersama putranya.
Niatku untuk berpamitan dengan tante Rita kuurungkan, saat melihat Juna lelaki dingin itu berada disebelah tante Rita. Entah mengapa saat melihat lelaki itu aku merasa takut jika berada didekatnya. Bisa diakui ia sangat tampan, bahkan lebih tampan dari pada kak Davin. Ah, aku jadi merindukannya. Eh, jangan salah paham maksudku aku merindukan tokonya.
Tapi jika aku tidak berpamitan sama saja aku tidak sopan. Baiklah aku akan berpamitan tanpa melihat pria aneh itu. Pikirku.
"Mama," lirihku.
Jika aku menyebut nama itu, pasti wajah bunda selalu terbayang dalam pikiranku. Jika aku membandingkan antara tante Rita dan bunda, mungkin dari keduanya tidak ada yang berbeda. Tante Rita langsung mengalihkan pandangannya kearahku. Ia menatap diriku yang sudah rapi dari ujung kaki hingga rambut.
Sementara disebelahnya tidak memandangku sedikitpun, ia tetap fokus dengan membaca buku yang ada ditangannya. Hei! Aku juga tidak ingin melihatnya! Dasar tuan angkuh. Makiku dalam hati.
"Mama, aku mau izin kerumah sakit," ucapku
"Oh, kalo gitu Juna antar kamu yah," jawabnya.
Mataku membulat sempurna saat ucapannya barusan. Oh, yang benar saja aku harus diantar dengannya. Melihat wajahnya yang datar begitu sudah membuatku merinding apalagi harus, ahh sudahlah.
"Nggak usah mah, aku bisa pergi naik angkot," tolakku dengan halus.
"Nggak! Ini perintah saya. Pokoknya kamu harus dianter sama Juna!" tegasnya.
"Juna kamu antar Ana kerumah sakit sana!" suruhnya kepada sang anak.
Eh, apa ini. Kenapa pria itu tidak menggubris perkataan tante Rita. Aku yang melihat Juna yang tengah sibuk membaca bukunya tanpa menjawab ucapan mamanya. Hei! Jangankan menjawab menoleh kearahnya ia tidak lakukan.
Kesempatan!
"Nggak usah Mah. Ana bisa naik angkutan umum kok," jawabku ingin kabur.
Ia tidak menjawab ucapanku. Kulihat wanita itu tetap menyuruh anaknya untuk mengantarku. Segala rayuan sudah dikeluarkan oleh tante Rita. Namun tetap hasilnya nihil. Malah, rayuannya itu membuatku terkekeh saat mendengarnya.
"Juna kamu nggak mau antar Ana kerumah sakit," lirihnya dengan sendu.
__ADS_1
Tadi Juna yang fokus membaca harus beralih kearah mamanya. Ia masih menatap ibunya dengan datar. Tanpa aba aba Juna mengambil kunci mobil yang berada dimeja lalu keluar menuju garasi.
Oh, sekarang aku mengerti. Ternyata jurus terakhir tante adalah ini. Wah, tante memang berhak diberi penghargaan atas tindakannya. Hihihi
"Udah kamu ikut aja," katanya lagi.
"Iya Mah."
***
Seperti yang dikatakan tante Rita, aku pergi kerumah sakit dengan diantar oleh Juna.
Rasanya canggung jika berada didekat pria ini. Sebelum naik kemobil tadi, aku berniat duduk dibagian penumpang. Namun, saat aku baru saja membuka pintu bagian penumpang, suara Juna sudah terdengar.
"Kau mau apa?" tanyanya.
"M-mau duduk," jawabku sedikit menunduk.
"Memangnya aku sopirmu!" balasnya dengan tatapan mematikan.
"Duduk didepan!" lanjutnya lagi.
Dengan cepat aku menutup pintu mobil yang sudah agak terbuka tadi. Aku berjalan dan membuka pintu mobil bagian depan dan duduk agak menjauh.
Keheningan terjadi didalam mobil. Aku sama sekali tidak berniat untuk membuka percakapan dengan manusia es ini.
Lagi pula jika aku bicara dengannya memang dia mau menjawab? Huh! Tentu saja tidak. Dia saja sangat irit bicara dengan kedua orang tuanya, apalagi aku yang jelas jelas tidak mengenalnya.
Aku, fokus memandang pandangan dari luar kaca mobil. Sedangkan Juna sibuk menyetir mobil. Mataku masih saja memandang pemandangan dari luar, hingga mataku menangkap sesuatu dipinggiran jalanan sana. Dengan antusias aku menyuruh Juna berhenti secara mendadak.
Refleks, saja ia langsung menghentikan mobilnya. Alhasil kepalaku terbentur kedepan. Aku meringis kesakitan saat memegang dahiku. Sementara pria itu, dengan tajam menatap kearahku. Aku yang merasa ditatap menunduk takut tak berani memandang pria ini.
"Kau gila! Kenapa kau menyuruhku berhenti secara mendadak! Hah!" kesalnya.
Yah, kutahu aku memang salah karena sudah menyuruhnya berhenti secara mendadak.
"Maaf."
Hanya itu yang bisa kukatakan. Permintaan maaf yang selalu keluar dari mulutku. Kulihat dia mendengus.
"Apa," katanya.
Aku kurang mengerti apa yang dimaksud pria ini. Ingin menjawab tapi takut salah ucap.
"Kau mau apa menyuruhku berhenti?" tanyanya.
Perkataannya mulai bisa aku mengerti. Kenapa bukan dari awal saja kau bilang begitu, supaya aku mengerti!
"Itu," tunjukku ke pinggir jalanan.
"Itu," jawabnya meyankinkan.
Aku mengangguk. Kulihat dia berdecih.
"Lima menit kau sudah ada disini!" ancamnya.
Mendengar jawabannya, aku sudah mengambil ancang ancang untuk pergi ke tempat yang kutujuh. Dengan langkah cepat aku pergi ketempat yang sudah tertata rapi dengan wadah bening berisi air. Terlihat didalam sana banyak hewan kecil sedang berenang dengan indah.
Tempat yang kutunjuk tadi adalah tempat penjualan ikan hias. Karena tadi aku melihat tempat ini, aku teringat dengan Salsa anak gadis yang ada di rumah sakit. Dengan banyak jenis ikan hias, aku memilih ikan yang bagus untuk diberikan kepada gadis imut itu.
Aku membeli dua ikan yang sama, satu untuk Salsa dan satunya untukku. Karena tidak ingin berlama lama ditempat ini, aku segera membayar ikan yang kubeli dan menuju mobil yang tadi kunaiki.
Tentu saja kalau bukan karena pria dingin itu memberiku waktu lima menit, pasti aku masih bisa membeli yang lebih cantik dan banyak.
"Lelet," katanya, saat aku sudah duduk dalam mobil.
Hei, kau bilang aku lelet? Yang benar saja, aku ini sudah buru buru tadi, untuk sampai kesini. Itu saja waktuku masih lumayan banyak. Dan sekarang kau bilang aku lelet huh yang benar saja. Jika saja aku punya keberanian sudah pasti aku memakimu!
"Maaf."
Hanya itu yang bisa kukatakan. Tapi, dia tidak menjawabnya sama sekali. Setidaknya kau ini menjawabnya atau berdehem. Yah, aku tahu diri juga sih. Mana mungkin orang seperti ini mau bicara.
Perjalanan kembali berlanjut. Kegeningan kembali muncul diantara kami berdua. Selang beberapa menit akhirnya mobil kami tiba diparkiran rumah sakit.
"Makasi," kataku mengumpulkan tenaga.
"Hmm."
Dia berdehem. Baguslah kalau begitu, kan lumayan ucapanku dijawab.
"K-kamu nggak mau ikut," tanyaku tidak berfikir.
Astaga kumohon jangan kau jawab, aku hanya refleks tadi.
"Tidak," aku bernafas lega mendengarnya.
"Ok. Makasih ya," jawabku lalu keluar dari dalam mobil dan langsung saja berjalan tanpa melihat kearah mobil yang sudah beranjak dari tempat.
Langkahku terhenti saat menangkap sosok yang gadis kecil yang duduk diatas kursi rodanya. Tapi kali ini gadis itu sendirian tidak ada perawat yang menemaninya.
Akupun menghampiri Salsa gadis itu.
"Loh, Salsa kok sendirian disini? Perawatnya mana?" tanyaku.
__ADS_1
Ia mendongak kearahku, tersenyum hangat lalu memegang tanganku.
"Kak Ana udah datang ya. Tadi perawatnya pergi ambilin minum buat Salsa," jelasnya.
"Oh."
"Kak Ana," lirihnya.
"Iya?"
"Salsa boleh tanya nggak?" tanyanya.
"Boleh dong. Kamu mau tanya apa?" jawabku.
"Aku biasa liat kakak bicara sendiri, nangis, dan melamun ditaman ini. Kakak ada masalah yah?" tanyanya.
Memang benar sih, yang diucapkan anak ini. Aku biasa melamun dan bicara sendiri saat taman ini sepi. Cuma itu yang bisa kulakukan jika aku sedih, pergi ketempat yang sepi.
"Nggak kok, pasti Salsa salah liat. Kan nggak mungkin kalo kakak nangis, nanti dikira anak kecil dong," tawaku agar dapat menutupi kesedihanku.
"Beneran kakak nggak ada masalah?" tanyanya meyakinkan
"Iya," jawabku.
"Hm ... yasudah deh, kalau begitu ikan Salsa mana kak?" tanyanya sambil menyondorkan tangan kosong kearahku.
DEG!
Astaga bagaimana aku bisa meninggalkannya dimobil Juna. Dasar bodoh kau Ana, bagaimana aku bisa mengambilnya sedangkan mobilnya sudah pergi sedari tadi.
***
Dasar gadis aneh! Kenapa juga dia harus meninggalkan barangnya disini. Dan lihat apa yang dia beli, ikan. Untuk apa juga dia beli ikan dan dibawah kerumah sakit. Dasar gadis aneh. Pikir Juna
Juna kembali menginjakkan kaki kerumah sakit, memarkirkan mobil dan membawa dua ikan hias yang sudah berada dalam wadah, menuju ruangan ayah Ana.
Langkahnya terhenti saat mata menatap gadis yang tengah asyik berbincang dipinggiran taman bersama gadis kecil. Juna mendekati kedua sosok itu, tapi niatnya terhenti saat gadis kecil itu bertanya kepada Ana.
Juna bersembunyi dibalik pohon yang tak jauh dari mereka. Samar samar ia mendengar pembicaraan keduanya.
Ada yang berbeda saat melihat gadis itu tertawa untuk menutupi kesedihannya. Dilihat, ia berusaha untuk tegar dihadapan anak kecil ini.
Saat waktu anak itu mengatakan ikan, Juna sudah berdiri tegak, dan mulai berjalan kearah mereka dari belakang gadis itu.
***
"Kakak tidak lupakan?" tanyanya
Aku harus jawab apa? Tidak mungkin kalau aku menjawabnya kalau tertinggal dimobil pria dingin itu. Pasti anak ini tidak akan percaya.
"Kak Ana kok diam, huwaa ... Kak Ana bohongin Salsa, huwaaa!!" rengeknya.
"Eh, cup cup cup ... Salsa kakak ngga bohongin kamu kok. Tadi ikannya ketinggalan," ucapku tapi tidak ditanggapi olehnya.
"Nanti kakak bawain besok yah," pintaku.
"Huwa kak Ana bohong," rengeknya
Belum aku menjawab ucapan Salsa, sebuah tangan kekar menyerahkan dua wadah ikan dihadapanku.
Aku mendongak keatas melihat siapa pemilik tangan ini, dan tentu saja jawabannya Juna.
"Juna? Ngapain kamu disini?" tanyaku penasaran.
Sedangkan yang ditanya tidak sama selaki menjawab. Ia menyondorkan ikan didepan Salsa.
Mata Salsa langsung berbinar kala melihat ikan yang diinginkan berada ditangan Juna. Langsung saja ia ambil dan memainkannya.
"Wah, kak Ana ikannya lucu," katanya antusias.
"Makasih ya kak," lanjutnya lagi.
Aku tersenyum melihat kebahagiaan anak ini, menganggukkan kepala seraya tersenyum untuk membalas ucapannya.
"Makasih," ucapku pada Juna.
"Hmm," balasnya lalu pergi meninggalkan aku dan Salsa.
Tapi tunggu, apa aku baru saja melihatnya tersenyum? Ah, tidak mungkin mana bisa seorang Juna yang tampan, angkuh dan dingin seperti es itu bisa tersenyum. Pasti aku cuma menghayal.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....