
"Huwaaa, Juna ayo kita beli es krim itu!" girang Ana.
Kedua remaja SMA itu, sudah berada di mall. Ana sangat gembira, ia berlari kecil kesana kemari tanpa menghiraukan orang orang yang menatapnya Aneh. Sungguh Ana seperti anak kecil yang sangat menja.
Juna, mengikuti Ana yang berlari lari seperti anak kecil. Ada rasa senang di hatinya karena melihat wanita itu bahagia.
Saat Ana melihat lihat toko es krim, matanya tidak sengaja berhenti di toko boneka. Matanya tidak lepas dari banyaknya boneka yang tersusun rapi di jendela toko. Ia mencari keberadaan Juna, wanita itu mengerutkan alisnya. Tidak ada Juna dibelakangnya padahal ia yakin tadi Juna mengikutinya.
Hancur sudah harapan Ana untuk mendapatkan boneka yang ia liat. Gadis itu pergi mencari Juna kemana mana, mengelilingi isi mall seorang diri. Sedari tadi ia mencari Juna tapi ia tidak dapat menemukan pria dingin itu. Karena letih untuk berjalan, Ana duduk dikursi yang di sediakan dalam mall itu.
Menatap sekitarnya, banyak orang yang berlalu lalang. Ada yang remaja, orang dewasa bahkan anak kecil. Ada rasa iri, kepada anak-anak yang di sayang oleh kedua orang tuanya itu. Tapi ia tidak mau pikirannya itu menguasai hatinya.
Setelah rasa letihnya berkurang, Ana kembali mencari Juna. Kembali lagi menatap sekitar untuk mencari Juna, karena terlalu fokus melihat sekeliling ia tidak sadar bahwa ia menabrak seseorang.
Bruk
Ana terjatuh, gadis itu merintih kesakitan. Sebuah uluran tangan ada di depan Ana, gadis itu mendongakkan kepalanya melihat pemilik tangan. Ia menerima uluran tangan itu lalu meminta maaf, kepada pria yang ada di hadapannya.
"M-maaf," lirih Ana.
Bukannya menjawab, pria dihadapannya malah menatap Ana dari atas hingga bawah. Ana sendiri merasa risih karena di perhatikan oleh pria di depannya. Mengingat karena ia tidak lagi memakai pakaian yang biasa memperlihatkan dirinya seperti cupu, wanita itu ingin meninggalkan pria itu.
"Maaf saya harus pergi," ujar Ana.
Karena pria itu tidak menjawab, Ana pergi meninggalkan pria itu. Tetapi tangannya sudah di cekal oleh pria itu. Ana langsung gemetar ketakutan, bayangan akan kejadian kemarin malam kembali melintas di kepalanya.
"T-tolong lepas saya mau pulang," takut Ana.
Mata Ana mulai memanas, matanya sudah membendung air yang siap untuk keluar. Pria itu tersadar kalau gadis di depannya ingin menangis, dengan cepat ia melepaskan cekalannya dari tangan Ana.
"Maaf kalau membuatmu takut," ujar pria itu.
Ana mengangguk. "Tidak apa-apa, kalau begitu aku pergi dulu."
"Tunggu," cegahnya. "Nama aku Alex, nama kamu?"
"A-ana. Kalau gitu aku pergi dulu," jawab Ana pergi meninggalkan Alex. Sedangkan Alex menatap punggung Ana yang sudah mulai menjauh.
Milikku, batin Alex
***
Ana masih menelusuri isi mall, mencari sosok pria dingin. Siapa lagi kalau bukan Juna. Kakinya masih saja mencari pria itu, mengumpat kesal bukannya bersenang senang tapi sibuk mencari pria itu.
Netranya berhenti pada sosok pria yang tidak jauh darinya. Pria itu seperti orang yang tidak waras, pakaiannya sudah sangat berantakan dan ditambah ia memanggil nama Ana. Pria itu adalah Arjuna Pratama Mahendra.
Ana menatap Juna, bisa di lihat pria itu sangat khawatir. Ana melangkahkan kakinya ke arah Juna yang masih memanggil namanya. Pada saat ini Ana berada di belakang Juna, ia membiarkan Juna terus menerus memanggil namanya seperti orang tidak waras. Bahkan orang-orang di sekelilingnya menatap Juna aneh tapi Juna tidak menanggapi semua itu.
"Ana!" teriak Juna
"Ana kau di mana," lirih Juna bahkan suaranya sudah sangat pelan.
"Astaga, kau di mana gadis bodoh!" kesal Juna frustasi.
"Aku tidak bodoh."
DEG!
Sepertinya aku kenal, Ana! Batin Juna
Dengan cepat Juna membalikkan tubuhnya, di lihatnya Ana yang menatapnya tangannya ia lipatkan didepan dada. Tanpa aba-aba Juna langsung berlari kearah Ana dan mendekap gadis itu dengan kuat.
Ana yang mendapat serangan secara tiba-tiba langsung terdiam di tempat. Jantung yang berdetak normal sekarang sudah berubah menjadi sangat kacau. Seperti lari maraton, Ana sendiri bingung kenapa detak jantungnya sangat cepat. Hembusan nafas bisa di rasakan Ana di ceruk lehernya.
"J-juna," lirih Ana.
"Diam bodoh! Biarkan aku memelukmu seperti ini. Gara-gara kau pergi aku gila," kesal Juna
Ana tidak berani menjawab, ia membiarkan Juna memeluknya. Ia berpikir mungkin tiga atau sepuluh detik Juna akan melepaskan pelukannya. Tapi siapa sangka, sudah sepuluh menit Juna memeluknya seperti itu. Bahkan kakinya sudah keram karena terlalu lama berdiri.
"Juna, kakiku keram," ucapnya.
Perlahan tangan Juna melepaskan tangannya dari tubuh Ana. Saat merasa pelukannya terlepas, Ana langsung duduk di lantai mall itu. Tidak peduli lantainya dingin dan dilihat aneh oleh semua orang, yang terpenting saat ini kakinya sangat keram.
__ADS_1
"Kau ini dari mana saja! Aku bingung mencari mu!" kesal Juna.
Ana sama sekali tidak menjawab ucapan Juna, gadis itu sibuk memijat kakinya yang keram.
"Hei bodoh! Aku bertanya padamu!" kesalnya
Hei, kenapa dia hobi sekali memanggilku bodoh. Jelas-jelas dia yang menghilang! Umpat Ana.
"Hei seharusnya aku yang marah, kemana saja kau tadi. Aku sibuk mencarimu tahu!" ucap Ana membela diri.
Juna terdiam beberapa saat, seperti memikirkan sesuatu. Ana mendengus kesal karena perkataannya tidak di jawab sama sekali.
"Memangnya kau tadi kemana, aku kira kamu mengikutiku belakang. Lalu saat aku lihat kamu sudah tidak ada, kau pergi kemana?" tanya Ana
"Mama tadi menelfon, menanyakan kenapa kita tidak pulang semalam," balas Juna membuat Ana menjadi panik.
"Kalau begitu kita pulang saja," ujarnya membuat Juna menggeram kesal.
"Tidak! Enak saja mau pulang," tolaknya.
"Hei, pasti tante Rita khawatir. Ayo kita pulang."
"Tidak. Lagi pula aku sudah mengabarinya, dan aku juga sudah memberi tahu kita ada di mall," jelasnya.
"Tapi, kau tidak."
Seakan mengerti arah pembicaraan Ana, Juna memotongnya dengan cepat.
"Tenang saja aku tidak memberi tahu Mama tentang kejadian semalam," jawab Juna
Ana bernafas dengan lega mendengar jawaban Juna. "Syukurlah, kalau begitu. Tapi aku mau makan dulu, perutku sudah sangat lapar," ujar Ana.
Juna mengangguk setuju dengan usulan Ana, toh perutnya juga sudah lapar. "Hm, ayo."
***
Di sisi lain, tepatnya di mall yang sama dengan keberadaan Ana. Terlihat dua pria yang tengah menikmati minumannya. Salah satunya orang yang hampir memperkosa Ana, siapa lagi kalau bukan Rama
"Jadi," ucap Rama.
"Dari mana saja lo kemarin," kesal Rama
"Lo pasti tahu gue sedang bersenang senang," jawabnya santai
Rama menghela nafasnya dengan kasar, ia tahu apa maksud jalan bicara temannya satu ini.
"Ck, siapa lagi yang lo bunuh Alex," kesalnya
Yah, orang yang ada di hadapan Rama saat ini adalah Alex. Tepatnya Alexander Johanto, lelaki yang tampan. Memiliki kulit putih, tinggi mata yang kebiruan gelap, dan badan yang sangat bagus. Di mata dunia pria ini terkesan sangat baik dan ramah, tapi siapa sangka di balik semua itu Alex seoarang psikopat yang kejam.
"Ayah pria tua yang sudah menghamili adikku," jawabnya santai.
Rama mendengus kesal, ia menatap tajam ke arah Alex sedangkan yang di tatap sama sekali tidak terganggu. Ia bingung sendiri, kenapa ia tidak pernah melaporkan kepada pihak berwajib tentang kelakuan temannya itu. Melainkan menutupi kesalahan sahabatnya.
"Berhenti menatapku seperti itu, atau pisau lipatku akan bermain di matamu."
"Ck, kau itu tidak pernah berubah!"
Sedangkan Alex mengangkat bahu acuh. "Kenapa lo memanggil gue," tanyanya.
"Aku ingin balas dendam."
Alex menatap bingung orang yang ada di depannya. "Apa lagi yang lo buat."
"Tidak banyak, hanya ingin bersenang senang dengan wanita. Tapi sialnya pria sok itu datang," kesal Rama.
Alex terdiam beberapa saat mendengar ucapan temannya. Seketika suara tertawa terdengar di antara kedua pria itu. Siapa lagi kalah bukan Alex.
"Hahaha, dasar playboy tingkat dewa. Gue bingung dengan jalan pikiran lo, memang kenapa lagi ha?" kekeh Alex.
Seakan tuli Rama tidak menanggapi ucapan Alex. Lebih tepatnya diam tapi penglihatannya menatap kearah pintu. Karena penasaran Alex mengikuti arah pandang temannya itu.
Di sana tepat di depan pintu, terlihat dua sosok berlawan jenis. Bisa dilihat keduanya sibuk mencari tempat untuk duduk.
__ADS_1
"Itukan Ana," gumam Alex dapat di dengar oleh Rama.
"Lo kenal sama," Alex menganggukkan kepalanya.
"Bagus deh, kalau lo tau. Gue itu mau balas dendam sama mereka berdua," sinis Rama.
"Lo ada urusan apa sama mereka," tanya Alex penasaran.
"Lo cerewet banget. Udah gue mau samperin mereka," berdiri dari tempatnya dan langsung meninggalkan Alex sendirian.
Sedangkan yang di tinggal menatap temannya menuju meja yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
"Hai, sayang," sapa Rama saat berada di meja Ana.
DEG!
Ana mengenal suara itu. Ana mengalihkan pandangannya dari ponsel kearah sumber suara, dilihatnya Rama yang tengah tersenyum kepadanya. Tiba-tiba badannya bergetar hebat, wajahnya terlihat pucat dan keringat berada di pelipisnya.
"K-kamu m-mau apa," takut Ana.
"Tenang sayang, aku tidak akan melakukan apa-apa kok," jawab Rama membuat Ana semakin takut.
"P-pergi! Aku bilang pergi!" isak Ana.
Bahkan gadis itu tidak peduli jika menangis di tengah banyak orang. Yang ia mau hanya satu ingin pulang, semenjak kejadian itu ia sudah sangat trauma.
"Hei, berhentilah menangis. Aku tidak akan menyakitimu."
"Gak, pergi! Juna tolong!" teriak Ana.
Teriakan Ana membuat semua orang memperhatikannya. Gadis itu sudah tidak peduli, yang sekarang ia butuh perlindungan dari seseorang.
"Hei! Diam apa kau tidak malu hah!" bentak Rama.
Gadis itu sama sekali tidak berhenti, ia tetap memanggil nama Juna untuk mendapatkan pertolongan. Tadi, Juna izin karena ingin ke toilet, tapi sampai sekarang ia belum ada. Karena merasa geram, Rama menampar Ana hingga kepalanya membentur meja.
PLAK!
Keningnya mengeluarkan darah segar karena tamparan itu. Gadis itu terisak, suaranya mulai memelan namun tetap saja memanggil nama Juna. Bahkan semua orang yang menyaksikan itu, tidak ada yang berani membela gadis malang itu. Bahkan mereka hanya menonton saja layaknya film bioskop yang sedang tayang. Dasar tidak punya hati!
"Berhenti sebut nama pria! Atau gue buat lo tambah menderita!!" ancamnya.
Ana bahkan tidak ingin menanggapi ucapan Rama, gadis itu masih saja memanggi nama Juna. Sampai lama kelamaan matanya tertutup rapat. Gadis itu pingsan, tapi darah masih saja mengalir di keningnya.
Alex yang tidak jauh dari posisi Rama, bisa melihat Ana yang sangat ketakutan melihat temannya itu. Dan di tambah lagi Rama menampar hingga membuat gadis itu pingsan. Karena penasaran ia melangkahkan kakinya mendekati Rama dan Ana.
"Lo apain anaknya orang! Lo gak liat ini tempat umum gila!" bentak Alex.
"Ah, gue gak peduli y-," ucapan Rama terhenti karena melihat sosok pria yang tidak jauh dari keberadaannya.
Juna, pria itu melihat Ana yang sudah pingsan dengan darah yang ada di kepalanya. Makanan yang ia bawah, langsung saja ia buang asal. Pria itu langsung membogem mentah Rama.
BUGH
BUGH
BUGH
"BANGS** LO! LO APAIN ANA HAH!!" teriak Juna, pria itu sudah mencengkram kuat kerah baju milik Rama.
"JAWAB BANGS**! LO APAIN HAH!" teriak Juna. Emosinya sudah tidak dapat di kontrol lagi. Ia terus membogem Rama hinggi pria itu tidak berdaya.
"Awas kalau lo, ganggu Ana lagi. Gue jamin hidup lo gak bakal tenang!" ancam Juna lalu menggendong Ana ala bridal style, keluar dari mall.
Sedangkan Rama di bantu oleh Alex yang sedari tadi menonton sahabatnya di bogem oleh orang lain. Bukan ingin membantu, tapi ia takut jika jiwa psikopatnya muncul di hadapan semua orang.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...