Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
Part 7


__ADS_3

Pov Juna


Pagi yang cerah untuk memulai aktifitas. Sedikit demi sedikit cahaya tembus memasuki kamarku. Hari ini aku bangun dari tidurku yang nyenyak. Seperti pagi biasanya pasti kusempatkan diriku untuk berolahraga.


Ditengah asyiknya aku berolahraga seseorang memanggilku dari belakang. Suara yang sangat kukenal, siapa lagi kalau bukan papa. Namun aku tak mengubris perkataannya melainkan bersikap cuek kepadanya.


"Juna," panggilnya tapi aku tetap tak menjawab.


"Juna, kau ini mendengarkanku atau tidak," katanya lagi dengan suara yang agak meninggi.


"Apa," jawabku tanpa mengalihkan pandanganku kearah sang empu.


"Kurangi sikap dinginmu itu kepada semua orang. Apakah kamu tidak bosan, harus sendiri terus tanpa bergaul sama temanmu," jelasnya.


Aku tak mengubris perkataanya melainkan tetap fokus dengan rutinitasku yaitu olahraga.


"Arjuna Pratama Mahendra! Apa kamu mendengar apa yang saya bilang hah!!" bentaknya.


Kubalikkan tubuhku dan menatap pria paruh baya yang berada dihadapanku dengan wajah datar. Sesekali aku tersenyum sinis kepadanya.


"Iya aku mendengarnya. Tapi tidak ingin menjawabnya," kataku lalu kembali melanjutkan rutinitasku.


"Ck, kau ini! Memang sangat dingin. Lebih baik kau kurangi sifat dinginmu itu atau aku akan menjodohkanmu dengan teman bisnis papa!" ancamnya tapi aku tak menanggapinya.


"Terserah," kataku singkat.


"Anak ini memang batu," gumam Hendra pelan namun masih bisa aku dengar.


"Pa, aku tidak batu," ketusku.


"Iya iya. Berhubung hari ini libur, lebih baik kamu pergi dan mampir ke toko sepupumu. Sekalian jalan-jalan," katanya.


Aku berdehem mengiyakan ucapannya. Setelah berolahraga aku kembali kekamarku dan membersihkan diriku yang sudah sangat lengket.


Setelah beberapa menit dengan kegiatanku membersihkan diri. Akupun pergi berkunjung ketempat sepupuku yang berada di Indonesia.


***


Usai beberapa menit akhirnya aku sampai ditoko tempat sepupuku bekerja. Aku memasuki tokoh itu dan sekali kali memperhatikan isi toko. Aku berjalan melewati rak rak buku yang tersusun dengan rapi diatas sana sekalian mencari ruangan sepupuku-Davin.


Langkahku terhenti saat netra mataku menangkap sosok gadis yang ingin terjatuh dari tangga. Dengan cepat aku berlari kearahnya dan menangkapnya kedalam dekapanku agar ia tak jatuh.


Mataku tak berkedip kala saat melihat orang yang tengah kuselamatkan saat ini. Orang yang kuselamatkan adalah gadis aneh yang satu kelas dengan diriku. Kupandangi wajahnya yang tengah memandangku dengan lekat. Hingga tatapan kami berhenti saat gadis yang kudekap tersadar.


"M-makasi," ucapnya sambil menunduk


Aku berdehem menjawab ucapannya dan berlalu pergi meninggalkannya seorang diri dilorong buku itu. Aku kembali melangkahkan kakiku hingga berhenti didepan pintu berwarna coklat tua. Aku berpikir pasti ini adalah ruangan Davin. Dengan santai aku membuka ruangan itu dan masuk tanpa izin.


Saat kumasuki ruangan itu sangatlah sepi. Aku tidak melihat Davin didalam sana. Aku berpikir mungkin aku salah ruangan atau salah memasuki tokoh. Dengan pelan aku memutar badanku dan ingin keluar dari toko.


Saat kubalikkan badan seorang pira telah berdiri didepan pintu ruangan dengan membawa secangkir kopi. Ia memperhatikanku dari ujung kaki hingga kepalaku, namun aku tak menghiraukan tatapannya padaku.


"J-juna!!" katanya terbata bata.


Aku tak merespon perkataannya. Kubiarkan saja ia melanjutkan perkataannya hingga selesai. Aku tidak perlu bertanya kepada orang yang berada didepanku. Aku sudah tahu pasti dia adalah Davin sepupuku.


"Kapan kau datang ke Indonesia? Terus sama siapa kau kesini? Dari mana kau tahu tempat kerjaku? Kabar om dan tante bagaimana? Dan ap-," kupotong ucapanya agar ia berhenti berbicara. Sungguh kalau ia sudah diizinkan berbicara pasti mulutnya tak bisa direm.


"Banyak tanya," jawabku datar. Lalu duduk disofa.


"Ck, Juna Juna kapan memang kau ini selalu saja dingin." ucapnya namun aku tak meresponya


Saat aku dan Davin sibuk berbicara, tiba-tiba saja suara pintu terbuka dengan keras dan menampakkan sosok gadis yang marah marah tidak jelas.


"Kak Davin itu kok tangganya pendek amat! Kan Ana susah taro bukunya," marahnya tanpa mengalihkan pandangan kepada Davin.


"Itu juga kok rakny-," ucapan gadis itu berhenti saat melihat kehadiranku yang berada dibelakang Davin.


"Kamu kenapa Ana?" tanya Davin pada sosok gadis itu.


Kuperhatikan gadis yang berada didepan pintu. wajahnya memerah menahan malu. Sesekali ia menggaruk tungkunya yang tak gatal. Ck, memang gadis aneh.


"N-nggak kok. Kalo gitu Ana mau k-keluar dulu," ucapnya cengegesan.


Saat gadis itu melangkah ingin keluar dari ruangan tiba-tiba saja Davin memanggilnya.


"Ana kamu mau kemana?" ucap Davin.


"Eh. Mau keluar kak, mau beresin buku," gadis itu yang bernama Ana.


'Ternyata gadis itu bernama Ana. Pantas saja orangnya aneh ternyata namanya Aneh. Kan bisa tu Ana A-nya dikasi hilang terus diganti dengan E dan H. Jadi namanya Aneh,' pikirku


"Tidak usah biar pegawai yang lain saja yang kerjakan. Kamu kesini saja saya mau memperkenalkan seseorang," ucap Davin


Inilah yang tidak kusuka oleh Davin. Sangat suka memperkenalkanku dengan orang Aneh. Apalagi dengan gadis yang super duper aneh yang dihadapanku ini.


"Emang mana kak orangnya," tanya Ana


Yang benar saja memangnya dia tidak melihat tubuhku yang sebesar ini. Sepertinya selain aneh, gadis ini harus memakai kecemata dengan kaca yang sangat tebal agar bisa melihatku.


"Ini," umpat Davin sambil memperlihatkan diriku.


Aku memasang wajah datar kepadanya. Sedangkan gadis yang bernama Ana itu melongo tak percaya melihatku. Ia ingin berbicara tapi sesekali ia urungkan niatnya. Sampai akhirnya ia memiliki keberanian untuk berbicara tetapi terbata bata.


"J-juna," katanya


Namun aku tak merespon perkataannya, melainkan tetap dengan wajah yang datar kuperlihatkan.


"Kamu kenal sama Juna Ana?" tanya Davin.


Gadis itu mengangguk mengiyakan jawaban dari Davin.


"Oh baguslah kalo begitu. Jadi, saya tidak perlu memperkenalkan kalian kembali." ujar Davin

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalian bisa saling mengenal?" tanya Davin


"K-kami satu kelas kak," jawab Ana


Kubiarkan dua makhluk didepanku berbicara. Aku tidak ingin ikut terlarut dalam pembicaraan keduanya. Sementara mereka berbicara aku mengambil benda pipih yang berada disaku celanaku lalu memainkannya.


Sesekali mereka tertawa secara bersamaan. Entah apa yang mereka bicarakan sampai bisa tertawa. Sesekali aku melihat kearah Ana yang tertawa lepas, lalu kembali melihat kearah ponselku.


"Gadis aneh," umpatku


"Kak kayaknya Ana harus pulang deh. Takut dicariin sama ayah," pamit gadis itu


"Kamu nggak mau makan siang dulu sama aku?"


"Nanti aja yah kak. Ana harus pulang dulu, nanti kalo ada waktu Ana mampir lagi kok," jawab Ana


"Yasudah kalo gitu. Tapi maaf yah aku nggak bisa anter kamu pulang," balas Davin.


"Nggak papa kok kak. Yaudah Ana pergi dulu ya," pamitnya lalu beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan.


Baru saja gadis itu ingin keluar dari ruangan, Davin kembali memanggil namanya.


"Iya kak?"


"Kamu diantar Juna aja yah," tawar Davin.


Aku terbelak kaget saat Davin menyebut namaku untuk mengantar gadis itu. Yang benar saja, memangnya aku ini supirnya? Buat apa gue antar orang aneh kayak dia. Buang buang waktu gue.


"Nggak usah kak," tolak Ana


Bagus kalau anak ini menolak. Jadi aku nggak perlu repot antar dia pulang.


"Nggak. Kamu harus mau. Jun, anterin Ana ya pulang kerumahnya," pinta Davin.


Ck, yang benar saja kau Davin. Kalau kau yang ingin mengantarnya kau saja. Jangan paksa aku untuk mengantar gadis aneh ini.


"Malas."


"Jun, anterin napa. Dari pada gue lapor sa-," ucapan Davin terpotong saat Juna memotongnya.


Oh tidak dia mengancamku! Yang benar saja kau Davin. Kau berani mengancam Arjuna Pratama Mahendra. Baiklah aku akan mengikuti ucapanmu. Tapi lihat saja aku akan membalasnya.


"Iya," ketusku lalu mengambil kunci mobil yang berada diatas meja dan keluar ruangan terlebih dahulu.


***


Didalam mobil aku tidak berbicara kepada Ana. Aku tetap fokus menyetir sedangkan gadis itu sibuk melihat pemandangan dari balik kaca mobil.


Beberapa menit kemudian mobilku telah beradada diperkarangan rumah yang cukup luas. Aku sekilas melihat rumah yang cukup besar itu. Aku berpikir apa Davin tidak salah kasih alamat kepadaku. Tapi kalau itu benar kenapa gadis ini bergaya seperti orang yang kurang mampu. Padahal rumahnya cukup besar, pasti kekayaannya juga banyak. Pikirku.


Saat ia keluar mobil, ia kembali menghadapkan dirinya kearah mobilku lalu berucap terima kasih. Namun aku langsung melajukan mobilku meninggalkan perkarangan rumahnya.


Aku melajukan mobilku hingga sampai diperumahan yang cukup besar. Aku memarkirkan mobilku dalam garasi mobil. Aku tak berniat kembali ketokoh milik Davin, nanti kalau aku kembali pasti dia akan memperkenalkanku dengan temannya yang lebih aneh lagi.


Kulangkahkan kakiku memasuki rumah besar itu. Beberapa kali sapaan yang kuterima oleh pembantu disana, namun aku membalasnya dengan wajah yang datar. Hingga aku mendapati kedua orang tuaku yang tengah sibuk berbicara. Aku tak mengambil pusing, langsung saja aku melewati mereka berdua dan menuju kekamarku.


"Juna sebentar malam kita akan pergi kerumah teman papa," ucapnya.


Aku tak mengubris perkataanya. Aku hanya menganggap suara itu hanyalah angin yang lewat saja. Aku kembali melanjutkan langkahku dan menuju kekamarku. Melihat itu papaku kelihatan kesal dengan sikap dinginku.


***


Author pov


"Kamu jangan pernah ganggu anak dan suami saya," kata seorang wanita cantik yang menatap tajam orang yang berada didepannya.


Orang itu tersenyum sinis mendengar pernyataan wanita cantik didepannya.


"Ck, kau tenang saja. Aku tidak akan ganggu anak dan suamimu tapi," wanita itu menjeda ucapannya.


"Tapi apa?" tanya wanita cantik itu.


"Kau harus berpisah dengan suamimu."


"Ck, dasar murahan! Aku tidak akan pernah berpisah dengan suamiku!!"


"Dinda ... Dinda ... Apa susahnya kau berpisah dengan suamimu, lalu menikahkannya denganku. Kalau kau menikahkannya denganku maka anak dan suamimu tidak akan celaka," kata orang itu.


"Tidak akan. Aku lebih baik mati dari pada harus memberikan suami dan anakku kepada wanita murahan sepertimu Claudia!!" bentak Dinda-wanita cantik itu.


Claudia tersenyum miring mendengar bentakan Dinda. Lalu ia bangkit dari duduknya dan menatap sinis Dinda yang berada dihadapannya.


"Aku sudah meminta secara baik-baik kepadamu. Dan yah jika kau tidak ingin memberikan apa yang ku mau maka akan kukabulkan permintaanmu itu," ujar Claudia dengan sinis lalu meninggalkan Dinda seorang diri dicafe.


"Tidak akan kubiarkan anak dan suamiku celaka. Aku akan melindunginya walau mati yang menjadi taruhannya," gumam Dinda lalu beranjak dari cafe.


***


Dinda memasuki rumahnya yang cukup besar. Disini ia tinggal bersama suami dan anaknya dan beberapa pembantu dan supir. Dinda duduk dikursi kediamannya dengan pikiran yang kacau. Saat matanya ingin tertutup suara gadis kecil telah kembali membuka matanya. Dengan cepat Dinda menuju sumber suara.


"Bunda!!" teriak seorang gadis kecil yang memasuki Rumah.


"Eh anak kesayangan bunda udah datang," ucap Dinda pada gadis kecil itu.


"Iya dong bun, oh iya bun Ana lapar," rengek Ana


"Hm kalo gitu Ana mau makan apa?" tanya Dinda


"Ana mau makan burger bun," rengek Ana.


"Hm gimana kalo sayur aja ya sayang," tawar Dinda


"Nggak mau nggak mau pokoknya Ana mau makan burger," rengek Ana sambil menginjak injak kakinya dilantai.

__ADS_1


"sayang kalo makan sayur itu sehat. Nanti juga Ana cepet gede, katanya Ana mau jadi dokter kan? Kalo jadi dokter harus banyak makan sayur ya,"


"Em iya deh bun, Ana mau makan sayur biar cepet gede," ucap Ana lalu tersenyum.


"Nah gitu dong inikan baru anak bunda, yuk sayang."


"Ok bunda."


Dinda mengantarkan anaknya kearah meja makan. Ia memberikan anaknya makanan yang telah dihidangkan dari nasi hingga lauk pauknya.


"Bunda Ana udah habisin makanannya," ucap Ana sambil memperlihatkan piring kosongnya.


"Wah anak bunda emang pintar. Kalo gitu bunda nanti belikan Ana burger deh,"


"Bener bunda?"


"Iya."


"Kalo gitu jangan nanti bun, sekarang aja yah ayok," ajak Ana sambil menarik tangan ibunya keluar rumah.


"Tunggu dulu sayang bunda ambil tas dulu ya."


"Ok deh bun."


***


Kini Dinda dan anaknya telah berada diparkiran restoran. Anak Dinda yang bernama Ana keluar mobilnya terlebih dahulu. Ana yang tidak sabar langsung saja berlari menuju restoran dan meninggalkan Dinda.


Ana yang terus berlari tanpa memperhatikan arah kanan dan kirinya. Suara Dinda terus saja berteriak untuk tidak lari kesana kesini. Hingga suara Dinda berteriak ketika ada sebuah mobil yang ingin menabrak Ana.


"Anaaaaa awassss!!" teriak Dinda Ana berlari kearah Ana


Ana memberhentikan langkahnya dan melihat kearah samping kanannya. Dan ternyata benar ada sebuah mobil yang ingin menabraknya.


"Aaaaaaaa," teriak Ana.


BUKH


BARK


Ana terpental kearah depan hanya sedikit luka yang ia rasakan. Ia melihat kearah keramaian yang berada dibelakangnya. Dengan langkah cepat Ana berlari kekeramaian itu dan betapa terkejutnya Ana ketika melihat wanita yang ia sangat sayangi tebaring lemah dengan darah yang bercucuran.


"Bunda!!" teriak Ana histeris sambil memeluk tubuh bundanya yang bercucuran darah.


"Bunda jangan tinggalin Ana hiks bunda," teriak Ana


Sayup sayup mata Dinda terbuka perlahan dan tangannya mencoba mengelus rambut sang putrinya.


"A-ana j-jadilah anak yang berbakti kepada orang tua ya sayang. D-engarkan k-kata ayahmu. Bun-da s-ayang sama Ana," ucap Dinda Ana dengan nafas terakhirnya.


"Bunda jangan pergi Ana masih butuh bunda, hiks bunda!!" teriak Ana histeris


"BUNDAA!!!" teriak Ana bangun dari mimpinya.


"Kenapa aku selalu mimpiin tragedi bunda kecelakaan," gumam Ana


"Tapi, orang yang bernama Claudia itu siapa?" pikir Ana


Ana memperhatikan suasana dikamarnya. Lalu melihat kearah jam yanv berada diatas meja. Sekarang hari sudah mulai malam, ternyata Ana ketiduran setelah sampai dari rumah. Dengan cepat ia masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan badannya.


Setelah beberapa menit, Ana selesai dengan ritual mandinya ia segera turun dan membantu menyiapkan makan malam.


Sesampainya didapur ia telah melihat ayah dan kakak tirinya tengah duduk dimeja makan. Aku tersenyum saat aku melihat ayah setelah itu aku melihat Lia dan tersenyum kepadanya. Tapi, Lia tidak memperhatikanku sama sekali ia enggan untuk membalas senyuman Ana.


Ana tidak ingin terlihat sedih didepan ayahku. Ia membuang jauh jauh rasa sedihnya dan bersikap normal layaknya tidak terjadi apa apa pada dirinya.


"Ayah ibu mana?" tanya Ana.


"Ada didapur nyiapin makanan."


"Kalo gitu Ana mau bantuin ibu dulu," kata Ana


"Nggak usah makanannya udah siap. Nih," jawab ibu Ana yang muncul secara tiba-tiba.


"Hm aromanya harum banget. Pasti enak nih," ujar ayah saat melihat makanan yang telah tersusun rapi diatas meja.


"Iya dong yah, ini semua khusus buat anak ibu tercinta iyakan Ana," balas Sinta ibu tiri Ana


Lia yang mendengar hal itu, menatap tajam kearah Ana. Baginya jika ayah kandung Ana terus saja berada disini pasti Ana akan selalu dimanjakan oleh ibunya. Sedangkan dia tidak dimanja lagi oleh sang ibu.


"Sini biar ibu ambilin yah. Kamu mau makan apa sayang," kata Sinta sambil memegang sendok dan piring ditangannya.


Ana memperhatikan seluruh makanan yang dimeja makan. Terdapat banyak sekali jenis makanan yang dihidangkan disana. Ia pun mulai menyebut makanan yang akan ia makan tetapi dengan suara yang agak terbata bata. Lah orang takutkan siapa tahu ibu tirinya nanti bisa marah kalau disuruh yang banyak banyak. Lia tidak mau kalah ia pun meminta agar diambilkan makanan oleh ibunnya


"Bu, Lia juga mau diambilin makanan sama ibu," manja Lia.


"Lia. Kamu itu udah besar nggak usah diambilin nasinya yah, kamu ambil aja sendiri sana," jawab Sinta.


'Kalau bukan karena tua bangka ini. Aku nggak bakal pura-pura baik didepannya,' ucap Sinta dalam hati.


Lia mengerucutkan bibirnya. Ia tidak menyangka bahwa ibunya akan memilih Ana dari pada dirinya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamarnya dengan perasaan jengkel. Dia tidak mengubris teriakan Sinta. Ia tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar dan membanting pintu kamarnya dengan kuat.


"Maaf ya mas, aku pergi kekamar Lia dulu."


Hendra mengangguk mengiyakan pernyataan Sinta. Sementara Ana tertunduk takut kepada Sinta. Ia berfikir pasti Lia akan berpikir yang tidak tidak kepada Ana.


"Sudah. Lanjutkan saja makannya," kata ayah Ana.


Ana mengangguk dan melanjutkan memakan makanannya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2