Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu

Ketika Cupu Menjadi Seorang Ratu
Part 2


__ADS_3

Sesampainya dikelas aku dan Diva telah diperhatikan oleh semua penghuni kelas. Awalnya tatapan mereka mengarah kearah Diva lalu beralih pandangan kearahku yang tertunduk.


Diva yang melihatku sedang ditatap tajam oleh mereka langsung saja membentak penghuni kelas. Tentu hal itu membuat teman kelasku takut dan kembali keaktifitas masing-masing.


"Udahlah Div, kita duduk aja," ucapku sambil menarik tangan Diva.


"Ok ayo."


"Diva," ucapku yang kini berada dikursi sebelahnya.


"Iya."


"Aku mau tanya sama kamu," ucapku sambil yang menunduk.


"Ana aku udah bilang kalo kamu bicara jangan pernah tunduk. Ok," ucapnya padaku sambil memegang kedua pundakku.


Dengan perlahan kuangkat kepalaku dan menatap wajahnya yang cantik. Bisa kuakui Diva sangatlah cantik, jika dibandingkan dengan diriku yang hanya sebuah gembel dimata teman-temanku.


"Aku mau tanya sama kamu," ucapku


"Kamu mau tanya apa?" tanyanya melepaskan tangannya


"Kamu nggak malu punya teman yang cupu kayak aku. Yang selalu dihina dan direndahkan orang lain? Emang kamu nggak malu punya teman kayak aku yang cuman bisa mempermalukan temannya?" tanyaku dengan sendu.


Kulihat dia menarik nafas sebelum bicara lalu ia memegang tanganku dengan lembut.


"Ana kamu tau aku itu tidak pernah membedakan temanku. Kau tau aku menerimamu sebagai temanku apa adanya. Aku tidak peduli mereka mengataimu sebagai apa."


"Dan aku tidak malu jika berteman dengan dirimu, melainkan aku merasa bangga memiliki teman yang sangat sabar sepertimu. Selalu di caci maki oleh mereka namun kau tak pernah membalasnya."


"Dan juga kau tak perlu khawatir jika mereka mencaci makimu. Kau anggap saja cacian mereka itu adalah semangatmu untuk menjalankan hidupmu. Dan akan tiba saatnya nanti yang gembel menjadi seorang ratu dan ratu menjadi seorang gembel. Ingatlah itu," ucapnya


Tak terasa air mataku berhasil keluar dari mataku. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat sepertinya yang tidak memandang fisikku, mau menerimaku apa adanya, yang membelaku dari hinaan orang luar.


"Hei kau jangan menangis. Tenang saja aku akan bersamamu selalu," ucapnya membuatku menghapus air mataku dan memeluknya.


Ditengah acara peluk memeluk sahabat datanglah Kinan dan teman temannya. Mereka sekilas menatapku dengan tajam lalu melangkah pergi kebangku mereka.


Akupun melepaskan pelukanku kepada Diva dan melanjutkan membaca bukuku. Dan diva pun sama melanjutkan aktifitasnya bermain handphonnya.


Tak berselang lama bel tanda masuk kelas berbunyi dan datanglah guru memasuki kelasku.


***


Author Pov


Tring ... Tring ... Tring


Bel istirahat telah berbunyi. Tanda yang ditinggu oleh seluruh murid sekolah. Begitupun dengan Ana dan Diva.


Kini guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam dan memberi tugas tambahan.


"Baiklah semua kerjakan tugas halaman 78-80 besok ibu akan periksa tugas kalian," ucap guru lalu beranjak pergi keluar kelas.


"Ana kekantik yuk," ajak Diva


"Hm nggak deh Va, kamu aja sama pacar kamu biar romantis gitu," ucap Ana sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oh ok kalo gitu gue pergi deluan ya, bye!"


Ana hanya melihat kepergian Diva bersama sang pacarnya. Setelah melihat Diva pergi, kini Ana pun bangkit dari bangkunya dan melangkah keluar ruangan.


Baru saja Ana melangkah seseorang talah menjambak rambut Ana dari belakang alhasil hal ini membuatnya meringis kesakitan.


"Mau kemana lo cupu! Hah!" bentak orang itu


"K-kinan sakit a-aku mau pergi," ringis Ana


"Ok lo boleh pergi. Tapi lo harus kerjain tugas kita!" ucapn Kinan membuat Ana menganggukan kepala.


"Nice ok lo ambil ni buku kita terus lo kerja! Kalo besok belum selesai," ucapnya menjeda kalimatnya. "Lo pasti tau apa yang akan gue lakuin ke lo!" ucap Kinan lalu melemparkan bukunya diwajah Ana.


"I-iya."


"Ok gaes, cabut."


***


Kini Ana telah berada ditaman belakang sekolah. Sepanjang hari tempat inilah yang selalu kukunjungi untuk melepas kesedihanku.


Diperlakukan layaknya seorang pembantu oleh Ibu tiri dan Kakak tiriku, dicaci maki oleh banyak orang dan disiksa habis habisan oleh Kinan.


Kududukkan tubuhku diatas bangku putih itu. Sesekali kupandangi langit yang cerah dan membayangi wajah bunda disana.


"Bun, kapan Ana bisa bahagia," ucap Ana sambil menatap langit yang biru.


"Bunda pasti sedih kalo liat keadaan Ana kayak gini."


"Bunda tenang aja ya disana. Ana pasti kuat kok hadapi Ibu dan kak Lia," lanjut Ana.


Flashback On


"Bunda!!" teriak seorang gadis kecil yang memasuki Rumah.


"Eh anak kesayangan bunda udah datang," ucap wanita paru baya itu


"Iya dong bun, oh iya bun Ana lapar," rengek Ana


"Hm kalo gitu Ana mau makan apa?" tanya Bunda


"Ana mau makan burger bun," rengek Ana.


"Hm gimana kalo sayur aja ya sayang," tawar Bunda


"Nggak mau nggak mau pokoknya Ana mau makan burger," rengek Ana sambil menginjak injak kakinya dilantai.


"sayang kalo makan sayur itu sehat. Nanti juga Ana cepet gede, katanya Ana mau jadi dokter kan? Kalo jadi dokter harus banyak makan sayur ya."


"Em iya deh bun, Ana mau makan sayur biar cepet gede," ucap Ana lalu tersenyum.


"Nah gitu dong inikan baru anak bunda, yuk sayang."


"Ok bunda."


Kini Ana dan bundanya berada dimeja makan. Telah banyak tersedia makanan yang lezat yang siap untuk dihidangkan.

__ADS_1


Bunda mengambil piring Ana dan masukkan lauk pauk kedalam piring Ana dan memberikannya kepada anak tercinta.


"Ini sayang makan yang banyak ya."


"Iy bunda."


Ana memakan dengan lahap makanannya hingga tidak ada sedikitpun yang tersisa.


"Bunda Ana udah habisin makanannya," ucap Ana sambil memperlihatkan piring kosongnya.


"Wah anak bunda emang pintar. Kalo gitu bunda nanti belikan Ana burger deh."


"Bener bunda?"


"Iya."


"Kalo gitu jangan nanti bun, sekarang aja yah. Ayok," ucap Ana sambil menarik tangan ibunya keluar rumah.


"Tunggu dulu sayang bunda ambil tas dulu ya."


"Ok deh bun."


***


Kini Ana dan Ibunya telah berada diparkiran restoran. Ana dan Ibunya keluar mobilnya. Ana yang tidak sabar langsung saja berlari menuju restoran dan meninggalkan ibunya.


Ana yang terus berlari tanpa memperhatikan arah kanan dan kirinya. Suara ibu Ana terus saja berteriak untuk tidak lari kesana kesini. Hingga suara ibunya berteriak ketika ada sebuah mobil yang ingin menabrak Ana.


"Anaaaaa awassss!!" teriak bunda Ana berlari kearah Ana


Ana memberhentikan langkahnya dan melihat kearah samping kanannya. Dan ternyata benar ada sebuah mobil yang ingin menabraknya.


"Aaaaaaaa," teriak Ana.


BUKH


BARK


Ana terpental kearah depan hanya sedikit luka yang ia rasakan. Ia melihat kearah keramaian yang berada dibelakangnya. Dengan langakh cepat Ana berlari kekeramaian itu dan betapa terkejutnya Ana ketika melihat wanita yang ia sangat sayangi tebaring lemah dengan darah yang bercucuran.


"Bunda!!" teriak Ana histeris sambil memeluk tubuh bundanya yang bercucuran darah.


"Bunda jangan tinggalin Ana hiks bunda," teriak Ana


Sayup sayup mata bunda Ana terbuka perlahan dan tangannya mencoba mengelus rambut sang putrinya.


"A-ana j-jadilah anak yang berbakti kepada orang tua ya sayang. D-engarkan k-kata ayahmu. Bun-da s-ayang sama Ana," ucap bunda Ana dengan nafas terakhirnya.


"Bunda jangan pergi Ana masih butuh bunda, hiks bunda!!" teriak Ana histeris


"Sudahla nak ikhlaskan kepergian ibumu. Biarkan ibumu tenang disana," ucap seorang wanita disebelah Ana


"Bunda hiks bunda Ana ikut hiks," ucap Ana terisak isak. Tak lama kemudian Ana jatuh pingsan dan membuat warga didekatnya segerah menelpon ambulan.


Flashback Off


"Udah Ana kamu harus kuat. Kamu harus bertahan demi Ayah," ucap Ana sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


"Bunda yang tenang aja disana. Ana bakal jaga wasiat bunda."


"Ana sayang sama Bunda," ucap Ana kembali menatap langit.


__ADS_2