
Hari ini Dirtty sedikit terlambat karna kelakuan adik perempuannya yang susah untuk dibangunkan, Dirtty dan Ana sudah berbaikan.
Sejak satu minggu yang lalu, lama - lama marahan sama anak beruang itu ternyata tidak bisa tapi sayangnya anak itu akhir - akhir ini selalu membuatnya kesal seperti pagi ini yang membuat anak on time itu jadi telat.
Untuk pertama kalinya Dirtty dihukum, dalam kamus anak itu tidak ada ceritanya dia dihukum, tapi karna adiknya dia jadi merasakan yang namanya dihukum.
Ternyata tidak buruk juga, walau kesel sih tapi ya anggaplah pengalaman baru.
"Tumben banget ni enstind kita dihukum" ucap Kevan saat Dirtty baru saja memasuki kelasnya.
Kebetulan jam pertama gurunya tidak masuk jadi bebaslah mereka, "Gimana rasanya Dir?" tanya Leandro
"Parah cape juga" jawab Dirtty seadanya sambil mendudukan bokongnya dikursinya.
"Hahaha .. baru segitu tu si Dio yang langganan kena hukuman aja nyantai Dir .. ya ga Ndro" ucap Kevas sambil menyikut tangan Leandro
"Heem. Bener baget tu udah kaya bukan laki aja loe Dir" tambah Leandro
"Si alan loe semua" tukas Dirtty kesal
Jika Dirtty tengah kesal karna ledekan temannya juga karna tadi dihukum dilain tempat Ana malah tengah menyusun rencana lagi entah untuk apa.
Kalau sang abang terlihat kapok berbeda dengan Ana yang nampaknya masih tidak kapok juga sudah berulang kali kena hukuman karna ulahnya kali ini dia malah sedang menyusun rencana untuk mengusili salah satu temannya yang katanya sering buat masalah.
Terutama soal pembulian yang katanya akhir - akhir ini malah marak diantara temannya yang kena bullyan kakak kelasnya itu.
Ana hanya ingin tau saja jika dirinya yang terkena seperti itu akan berlaku seperti apa dia nantinya, ahhh dasar masih jaman ya pembulian itu ternyata.
Anak beruang itu jadi bingung sendiri kenapa orang ko tega ngebully orang lain hanya karna entah fisik atau tidak bisanya mereka bergaul kan itu bukan salah mereka.
Berbeda dengan Ana yang tengah menyusun rencana lain halnya dengan Shena yang saat ini tengah merasa berbunga - bunga gadis itu semakin hari semakin dimabuk cinta saja kepada pujaannya itu.
"Ehhh Sya liat tu ada si halu" ucap Rika teman Shasya menyenggol lengan temannya itu.
Shasya yang tengah asik dengan cerminnya melihat wajahnya dicermin itu menoleh kearah tunjukan sang sahabat untuk melihat apa benar ada saingannya diarah sebrang sana.
"Wahhh bener tu" ucap Netly tamannya yang lain.
"Samperin yu Sya " ajak Rika yang diangguki Shasya.
"Hallo halu .." sapa Shasya menghadang langkah Shena
"Mau apa?" tanya Shena lembut seperti biasa, model anak lemah lembut lah si Shena ini tapi kalau marah jangan ditanya seremnya kaya apa karna belum pernah melihat dia marah.
"Cuman mau ngobrol doang ko sama primadona sekolah yang ga guys" ucap Shasya.
"Betul" jawab Rika dan Netly berbarengan
"Tapi gue lagi buru - buru Sya" ucap Shena yang dikatakan anak itu memang benar dia lagi buru - buru karna tadi dirinya mendapat pesan untuk menemui Dirtty ditaman belakang sekolah.
Entah ada urusan apa anak itu memintanya datang menemuinya ditaman belakang sekolah.
"Mau kemana sih buru - buru banget ketemu sama Dirtty iya" tiba - tiba saja bentakan itu terdengar dari mulut Shasya.
Shena hanya diam saja, dia tak ingin banyak membuat masalah dengan mereka karna Shena terlalu tau Shasya and the gengnya itu seperti apa.
Jika tak suka maka akan dibullynya sampi habis anak itu, dan Shena tak ingin berurusan dengan anak itu.
"Engga ko Sya cuman mau ke kantin" jawab Shena
"Kantin itu arahnya kesana woy bukan kesana" tunjuk Netly mengarahkan arah yang benar kepada Shena jalan kekantin.
"Paling dia mau ketemu sama gebetan loe Sya ditaman belakang" ucap Rika
"Rupanya udah berani ya loe, bukannya gue udah peringatin loe ya untuk jangan deketin Dirtty kenapa malah loe mau ketemu dia. Punya nyali juga ternyata ya loe" tukas Shasya
"Mau apa loe ketemu sama Dirtty ?" tanya Shasya ketus
"Bukan urusan loe Sya.. ,udah minggir sana" pinta Shena pada akhrinya dia bicara juga.
"Berani ya loe. Mesti kita apain ni anak?" tanya Shasya kepada dua temannya.
__ADS_1
"Seperti biasa saja lah" jawab Netly
"Boleh juga tu saran Netly Sya" Rika.
"Ok.. Bawa dia" titah Shasya.
"Ehhh.. Apa - apaan ni" ucap Shena mencoba memberontak untuk lepas dari cengraman dua shabat Shasya itu.
"Udah loe diem biar gampang" titah Netly
"Ogah lepas ga atau gue teriak ni"tolak Shena.
"Teriak aja emang ada yang mau dengerin loe" tantang Shasya, dan baru Shena sadari jika tidak ada orang disana selain mereka.
memang bagian gedung belakang jarang ada yang lewat masalahnya taman yang disebut itu bertepatan dengan gedung belakang yang sudah tidak terpakai entah karna apa.
Shena terlihat gusar karna tak ada seorang siswa atau guru yang melintas disana, wajarlah jam pelajaran kelima sudah dibunyikan sejak sepuluh menit yang lalu, seharusnya Shena saat ini sudah bicara dengan Dirtty tapi anak itu malah kejebak diantara orang - orang ini.
Shasya hanya ingin memberi pelajaran sedikit kepada rivalnya itu bahwa dirnya lah yang berhak mendapatkan Dirtty bukan gadis yang sok polos seperti Shena ini. Tapi sayangnya Shasya tak bisa bermain sportif dalam mendapatkan sesuatu yang menjadi keinginannya termasuk Dirtty.
Biasanya anak itu membully dengan kekerasan fisik tapi bisa dibilang untuk kali ini Shena beruntung karna tak mendapatkan kekerasan fisik selain dirinya dikunci diruan kesenian yang sudah empat bulan ini tidak terpakai karna kerusakan dari atapnya yang memang belum diperbaiki.
"Renungkan lah Shena sayang apa kesalahan loe didalam sana" ucap Shasya halus.
"Selamat bermain dengan tikus - tikus Shena " timpal Netly
"Bermimpi indah ya saat malam datang" tambah Rika.
Mereka bertiga tak menghiraukan gedoran dari arah dalam setelah meninggalkan lawannya didalam sana mereka pergi begutu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dor ... Dor... Dor....
"Buka woy... buka tolonggggg" teriak Shena meminta tolong siapa saja agar bisa membukakan pintu itu, karna terkunci.
Sedangkan Shasya tertwa puas karna bisa mengerjai anak itu, janga tanya dia dapat darimana kunci ruang kesenian itu. Dia selalu punya cara untuk urusan membullynya itu.
***
Beda cerita lahi dengan Regi yang saat ini sedang dikerubungi banyak teman perempuannya, anak satu ini walau masih kecil tapi sudah banyak yang meyukai apa lagi kalangan kaum hawa.
"Regi. Boleh ga nanti kalau Divia main kerumah?" tanya salah satu gadis manis dihadapannya saat ini.
"Maaf Div tapi Regi belum boleh bawa teman cewe kerumah" seperti biasa Regi selalu menolak dengan halus setiap ucapan teman - temannya tak ingin menyakiti hati sang teman juga.
"Ohh gitu ya. ya udah engga apa - apa deh" jawab Divia lesu, mau seperti apa pun ditolak itu tetap sakit walau cuman ditolak untuk main kerumah Regi padahal anak itu sudah menantikannya.
Tapi nyatanya dia tak bisa bermain kerumah temanya, ternyata orang tua Regi ketat juga fikirnya.
"Nanti kapan - kapan kita main bareng aja deh gimana?" tawar Regi yang diangguki Divia antusias kapan lagi seorang Regi mengajaknya seperti ini.
Ternyata semua anak dari Dian dan Dimi mempunyai pesona masing - mading rupanya dimanapun mereka berada.
***
"Loe gila ya" bentak seseorang atas kelakuan Ana
"Engga ko ka. Maaf deh salah sasaran" enteng saja dia menjawab sedangkan Naumi sudah mengkerut karna bentakan itu.
"An kan udah gue bilang dia itu kaya herder loe ga percaya sih kalau dibilangin" cicit Naumi pada Ana yang bisa didengar oleh Baron.
"Ohhh jadi loe sengaja ya bukan karna salah sasaran gitu" bentak Baron kembali jika Ana biasa saja tapi Naumi sudah bergetar sambil mencengkram lengan sahabatnya ketakutan.
"Punya masalah apa gue sama loe sih ha?" bentak Baron bertanya
"Bukan gue tapi sama temen gue" jawab Ana santai.
"Siapa?" tanya Baron, kondisinya bisa dibilang buruk saat ini karna bajunya basah dan bau, entah air apa yang tadi mengguyur tubuhnya itu hingga perutnya bergolak merujuk pada kemualan ditenggorokannya.
"Loe apain si Bima sampe dia ga bisa jalan?" tanya Ana kesal juga setelah tak sengaja mendengar Deren dan Bima bercerita kemarin saat dia menengok Bima yang katanya jatuh itu.
Temannya satu itu memang asik buat diajak seru - seruan bareng tapi kalau urusan seperti berkelahi atau fisik lainnya dia pasti KO tidak seperti dirinya dan Deren.
__ADS_1
"Cihhh.Ternyata dia baci berani mengadu pada cewe pula bisa apa sih loe?" ucap Baron meremehkan.
"Gue cuman mau ingetin loe aja diatas langit masih ada langit jadi jangan sombong" tandas Ana
"Gue bukan sombong tapi kenyataannya emang temen loe itu lemah" ucap Baron
"Udah tau temen gue lemah kenapa loe malah ngebully dia ?" tanya Ana bingung juga, katanya dia kuat tapi malah ngebully yang lemah bukanya nolongin malah dibully.
Ya walaupun sama - sama kuat juga janga saling membully, "Karna gue suka" jawab Baron santai
"Itu artinya loe yang banci bukan temen gue" ucap Ana simpel
"Apa loe bilang" Baron tersulut emosinya tak pernah selama ini dia disebut banci apa lagi sama perempuan dan itu adik kelasnya pula.
"Ini cewe bener - bener pengen diabisin" ungkap Baron kesal.
"Sabar Ron dia kan cewe masa ia loe mau ngalawan cewe" ucap salah satu temannya yang juga terkena siraman tadi hanya sedikit saja sih.
"Alah mau cewe atau cowo kalau tingkahnya kaya gitumah Ron mening sikat aja udah" sambar Sigit yang tak terima karna dirinya juga ikut kena banjuran air tadi.
"An udah yu jangan ampe ribut kan loe juga tadi udah bales dia jangan dipropikasi lah" pinta Naumi mengajak anak beruang itu pergi dari tempat itu.
"Diem dulu Nau" pinta Ana tegas
"Loe mau gue apain?" tanya Baron santai walau emosinya sudah mencapai ubun - ubun karna dikatai banci.
"Salah bukan itu pertanyaan yang seharusnya loe ucapkan" ucap Ana
"Ada juga mau gue apa gitu" tambahnya
"Ok mau loe apa?" tantang Baron pada akhirnya emosinya sudah tak tertahan jika saja Eril sahabatnya yang tadi menyuruhnya untuk tidak terpancing tidak memegangi tubhnya entah apa yang akan terjadi.
"Gue mau loe minta maaf sama temen gue " ucap Ana
"Kebagusan banget gue nurutin apa mau loe" Baron
"Lah katanya tadi loe yang bilang mau gue apa giliran gue bilang kemauan gue loe malah ngomong gitu gimana sih ga konsisten banget jadi cowo" tandas Ana santai.
Baron dan kedua temannya jadi serbasalah juga dengan ucapan adik kelasnya ini, mau disanggah ucapan anak didepannya ini memang benar tapi kalau disanggah masa ia dia harus minta maaf ogah benget lah mau ditaruh mana tu harga diri. Jatoh lah nanti yang ada.
"Loe juga ga minta maaf karna kesalahan loe" ucap Baron karna tak bisa menyangkal ucapan adik kelasnya ya dia malah mencari alasan lain.
"Lah emang gue salah apa?" tanya Ana polos.
"Loe ga liat baju gue, temen - temen gue pada basa gini itu gara - gara siapa?" ucap Baron kesal
"Lah yang nyuruh loe bertiga lewat sini ya siapa?" tanya Ana
Tak ada jawaban bingung juga kalau ditanya siapa yang nyuruh mereka jalan sini " ya mana gue tau kalau disini ada jebakan" ucap Baron
"Ya udah itu mah salah loe sendiri bukan gue kenapa jadi gue harus minta maaf. Gue kan buat ini bukan buat loe, dan gara - gara loe yang dateng gue jadi rugi" ucap Ana kesal mengomel sendiri dia
"Lah ngapa jadi loe yang ngomel harusnya gue yang ngomel gue yang kena gue yang basah kenapa loe yang bilang rugi " bentak Baron tak habis fikir ada cewe sepert ini.
Hampir semua siswa disini takut berurusan dengannya tapi anak satu ini malah terlihat biasa saja berhadapan dengannya.
"Denger ya ka baron gue cuman pengen loe minta maaf sama sahabat gue karna gue tau loe yang salah" tegas Ana
"Tau dari mana loe gue yang salah?" tanya Baron
"Gue punya buktinya ko. Kalau loe ga mau bukti ini sampai ketangan guru BK loe minta maaf sama Bima" ucap Ana
sambil menyerahkan vidio pengeroyokan Bima beberapa hari yang lalu. " kalao gue nolak?" tantang Baron
"Kemungkinan terbesar loe di DO, bagai mana?" tanya Ana santai.
"Loe ga akan bisa ngancam gue buktinya sudah ga ada dihp loe, gue udah hapus bukti itu loe mau apa?" tanya Baron.
" tak masalah itu hanya copian, yang asli ada dilaptop gue. Mungkin besok pagi guru BK sudah menerima file itu, jadi fikirkan saja ka baron" ucap Ana.
Sambil berlalu dari lorong koridor itu " mening loe mita maaf aja deh Ron kesalahan loe udah terlalu banyak daripada nanti loe diDO gimana?" saran Eril yang dibenarkan Sigit.
__ADS_1