KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )

KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )
KKJC : BERENANG MEMBAWA PENYAKIT 2


__ADS_3

Jika Dirtty tengah mencemaskan seuatu yang entah apa penyebab pastinya, sedangkan nasib Ana tak ada yang tau karna semua orang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing - masing.


Seandainya saja Arayanie tidak berkunjung entah apa yang terjadi dengan anak itu.


Kediaman Dimittriv...


"Assalamuakaikum" ucap Arayanie tanpa mengetuk pintu lagi karna melihat pintu depan sedikit terbuka, tumben fikirnya orang rumah itu ceroboh, ternyata mang ujang si tukang kebun keluarga itu tengah mencari si bibi meminta gunting rumput baru karna yang lama sudah tumpul.


Dan tanpa sengaja pintu itu tak tertutup sepenuhnya rupanya. " Bibi, kenapa pintu depan tidak tertutup?" tanya Arayanie mengagetkan bibi dan mang ujang.


"Eh .. Non Aray kapan datang ?" tanya bibi kaget.


"Barusan. itu kenapa pintu ga ketutup gitu?" tanya Arayanie


"Ehhh itu neng bekas mamang sepertinya mamang lupa menutupnya tadi" jawab mang Ujang malu.


"Aihhh .. Si ujang mah suka kebiasaan ni" omel si bibi.


"Maaf" ucap mang Ujang.


"Pada kemana rumah ko sepi bi?" tanya Arayanie


"Tuan masih diluar kota non, kalau neng Di sama Nina tadi katanya mau kemall sambil jemput den Regi kalau den Dirtty lagi latian basket katanya" jawab Bibi


"Kalau Ana ?" tanya Arayanie


"Sepertinya dikamar non, habis berenang tadi, pasti kedinginan ini bibi lagi buatin wedang jahe kesukaannya si non. non Aray mau sekalian?" tanya bibi.


"Ahhh.. Itu anak kebiasaan pasti lama ya renangnya bi?" tanya Aray


"Boleh deh bi, hujan gini emang enak minum yang anget - anget " pinta Aray


"Bibi kurang tau non kalau soal berapa lama tapi tadi sepertinya bibi liat non Ana sudah ada dikamarnya. Baik non" jawab Bibi


"Apa bibi sudah pastiin dia dia dikamar?" tanya Arayanie memita kepastian.


Bukannya dia tak yakin dengan ucapan si bibi, jika bibi tak memas tikan ada kemungkinan bibi salah lihat saja.


"Tidak sih non kenapa emangnya?" tanya si bibi bingung.


Mendengar ucapan itu Aray yang tadinya tenang - tenang saja langsung berubah panik dan meninggalkan bibi yang kebingungan melihat sepupu dari anak majikannya itu berlari kearah pintu belakang.


"Kenapa non Aray malah lari kebelakang memang ada apa dibelakang?" tanya bibi kebingungan namun tak digubrisnya lagi.


Arayanie memang sering kesini jadi bibi membiarkan Arayanie itu menjelajah rumah majikannya, toh memang Arayanie sering seperti itu bersama dengan Ana.

__ADS_1


**


Arayanie berharap jika dugaannya salah karna jika benar maka sudah terjadi sesuatu sama anak itu.


Arayanie memilih berlari kearah pintu belakang untuk segera sampai kearah kolam renang yang memang tempatnya sedikit menjorok kebelakang berada dilantai dua, araynie mengambil arah belakang karna posisinya sedang ada didapur lebih dekat dari sana dibanding harus berputar kebali, keruang keluarga dan melewati ruang tengah lantas baru menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Jika dari arah belakang setelah pintu dapur dia langsung mendpati tangga penghubung kolam renang untuk memudahkan para pekerja untuk membersihkan kolam renang dibawahnya terdapat ruang laundry.


Aray baru saja sampai dikolam renang itu dengan baju yang sudah hampir basah karna tadi menaiki anak tangga.


"Astaga Anaaaaaa" jerit Arayanie yang melihat adik sepupunya sudah tergeletak ditepian kolam renang itu.


Araynie berlari menerjang hujan bajunya yang sudah basa bertambah kuyup saja, karna menerjang hujan yang cukup lebat menjelang sore itu.


"Ana .. Dek bangun Ana" Aray berusaha membagunkan Ana, dibaliknya tubuh gadis itu yang sudah tak berdaya.


"Ya Allah"pekik Aray kaget setelah melihat betapa mengenaskan anak itu


Mukanya sudah pucat pasih dan bibirnya sudah menjadi ungu,tubuhnya dingin sedingin balok es,beberapa bagian tubuhnya sudah membegkak terlihat jelas dimatanya yang terpejam dan gembul pipinya bukan lagi karna cubbynya.


Entah sudah berapa lama anak itu tergeletak disana tak berdaya masih denga pakaian renangnya itu.


Aray mencoba membwa Ana dalam gendongannya untuk membawanya kebawah sayang kecemasan melandanya hingga tubuhnya bergetar hebat.


Itu lah kelemahannya dia tidak bisa mengalami kehwatiran yang hebat semuanya akan blank.


"Ayo lah kaki berdiri yang benar" pinta Aray sambil melangkahkan kakinya memaksa kaki lemas itu untuk bergerak.


Saat ini adik sepupunya itu butuh dirinya, jangan jadi pengecut untuk saat ini Aray itu lah ucap batinya yang terus menggebu berjuang dengan rasa cemas yang bercampur takut itu.


" bibiiiiiiiii .. Mang Ujangggggggggg.... Pak Ukiiiiiiiiii .. Pak Dartooooo" semu pekerja dirumah itu diteriakinya dalam sekali tarikan nafas untuk membantunya


Mudah - mudahan mereka mendengar teriakan 5 oktavnya itu dan mudah - mudahan tidak kalah dengan suara hujan yang semkin menderas saja.


***


Setelah acara teriak - teriak itu selesai, pada akhirnya Aray bisa bernafas setelah Ana dibawa kerumah sakit Babahnya itu.


Namun nafasnya masih belum lega karna dokter yang menangani Ana belum juga keluar dari ruangan tindakan. Membuat jantung Aray berdetak lebih kencang.


Ia tak bisa berfikir otaknya benar - benar blank bahkan untuk mengabari om dan tantenya saja tidak terfikir olehnya, dia benar - benar cemas sama keadaan Ana.


"Bagaimana keadaan Ana dok ?" tanya Aray setelah melihat dokter yang menangani Ana keluar dari ruang tindakan.


"Bagai mana ini bisa sampai terjadi bukan kah nona Ana alergi dengan cuaca dingin kenapa sampai berenang ditengah hujan?" tanya dokter Pras yang menangani Ana

__ADS_1


"Saya tidak tau dok yang jelas saya mendapati Ana sudah seperti itu " jawab Aray


"Apa adik saya tidak apa - apa?" tanya Aray meminta kepastian.


"Tubuhnya sangat lemah berdoa saja nona Ana bisa melewati masa kritisnya malam ini" jawab dokter pras sambil berlalu setelah menepuk pelan bahu cucu pertama dari chairman WT Hospital.


" Ya Allah gimana ini?" tanya Aray pada kesunyian petang itu.


Dia tak menyangka jika dia bukan berkunjung kerumah tante dan omnya untuk melihat Ana malah berkunjung kerumah sakit seperti ini.


***


Betapa terkejutnya Dian saat mendengar anak gadisnya dilarikan kerumah sakit, tanpa fikir dua kali lagi baru juga dia sampai rumah langsung kembali ke mobil menuju rumah sakit.


Begitupun dengan Dimi yang memang sudah berada dijalan untuk pulang memutuskan berbelok keWT Hospital untuk melihat putri kesayangannyannya itu.


Dian da Dimi tiba berbarengan dirumah sakit itu. " gimana ceritanya sih sayang?" tanya Dimi saat berada didalam lif.


"Di juga ga tau mas tadi Di baru sampe rumah bibi bilang gitu" jawab Diandra.


"Ya Allah Ana" gumam Dimi lirih.


Tiba depan ruang rawat Ana,Dian dan Dimi melihat Aray disana tengah duduk kursi tunggu.


"Aray" panggil Dian


"Tante" aray memeluk sang tante dan terisak baru lah ia bisa mmenumpahkan semua kegelisahan yang sejak tadi melandanya.


"Kenapa bisa sampai kaya gini?" tanya Dian berusaha tenang walau air matanya sudah mengenang siap terjun kapan saja.


"Aray juga ga tau tan, saat aray tanya ke babi Ana dimana kata bibi melihat Ana dikamar selesai renang cuman bibi engga pastiin, makanya Aray pastiin buat liat kekolam dan ternyata Ana mala sudah" tak dapat Aray melanjutkannya karna tangisnya kembali pecah.


Dimi mengusap rambut keponakanya itu mencoba menenangkan anak dari kakak iparnya itu. "Kata dokter gimana kondisi Ana?" tanya Dimi pelan tak ingin membuat gadis itu bertambah cemas.


"Kondisinya lemah, jika Ana bisa melewati masa kritisnya Ana bisa selamat tapi jika tidak Ana akan dipindahkan keruang ICU untuk tindakan lanjutan karna bisa saja kondisinya semakin memburuk" gemetar Aray menjelaskan apa yang dikatakan dokter Pras tadi.


Lemas sudah lutut kedua orang tua itu mendengar ucapan keponakan mereka, itu artinya Ana kembali dalam bahaya, anaknya itu kembali berada diantara hidup dan mati.


"Sudah ku katakan bukan berenang membawa penyakit untuk anak itu" ucap Dimi lirih.


"Kenapa dia tak bisa dibilangin sih. Ya allah Ana kallau sudah gini papah mesti gimana?" gumam Dimittriv lirih bertanya Dian sudah menangis dalam dekapnya.


Menyisakan Aray yang menangis sesenggukan karna rasa takutnya.


🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣

__ADS_1


Ciak ... Ciakk .. Ciakkkk


TBC...


__ADS_2