
Sudah satu minggu ini Chio didiamkan oleh nona mudanya itu, biasanya kalaupun dia berbuat salah tak sampai membuat anak beruang itu mendiminya seperti ini, ada rasa sesak yang dirasakannya karna sikap nona mudanya itu.
Chio baru tahu esok hari saat Dirtty memberikan boneka beruag kesayangan Ana, saat itu ia tak sengaja melihat dan mencuri dengar pembicaraan keduanya.
"Nih berbernya sudah abang perbaiki" ucap Dirtty sambil memberikan bonek beruang itu.
"Akhhhh akhirnya berber sembuh juga, aku kangen kamu tau ga" ucap anak beruang itu kesenengan sambil memeluk boneka kesayangannya itu.
"Trimakasih abang, abang emang paling terbaik deh" ucap Ana sambil memeluk Dirtty.
"Sama - sama kakak, ya udah abang harus pergi" ucap Dirtty yang diangguki Ana, melihat Dirtty keluar akhirnya Chio menyusul untuk menanyakan ada apa denan boneka kesayangan nonanya itu.
"Bang Dir" panggil Chio sedikit berteriak karna Dirtty semakin menjauh.
"Iya kenapa bang?" Tanya Dirtty.
"Itu tadi maaf ga sengaja denger pembicaraan abang sama si kakak, emangnya si berber kenapa lagi?" Tanya Chio penasaran.
"Dia sobek" jawab Dirtty singkat
"Sobek kok bisa?" Tanya Chio kembali.
"Iya emang bang Chio ga liat pas ambil si berber saat keselip?" Tanya Dirtty yang heran kenapa Chio malah yang tidak tahu disini.
"Engga, saya emang ga sempet liat bagai mana keadaan siberber" jujur Chio.
"Si berber sobek udah kaya disembelih lehernya" ucap Dirtty.
"Yaampun jadi itu sebabnya kenpa kakak nangis, dan bilang kalau saya jahat" ucap Chio yang dianggukin oleh Dirtty, karna Ana memang sempat bercerita dan menyebut Chio jahat dalam ceritanya semalam.
Dan karna hal itu pula lah selama seminggu ini Chio jadi didiamkan oleh anak beruang satu itu, inginnya sih minta maaf tapi sayang beberapa hari terkahir ini dia sibuk dengan sang master, jadi tak ada waktu untuk meminta maaf, bahkan saking sibuk dirinya Chio hanya mengantar anak itu kesekolah saja, tanpa bisa menunggu dan mengantarnya kembali pulang.
Dan hal itu malah dimanfaatkan anak beruang untuk bikin ulah kembali, mumpung abang Chionya sibuk kenapa engga rasa - rasanya kan dia sudah lama tidak membolos karna adanya Chio disekitarnya.
"Kakak masih marah sama bang Chio?" Tanya Chio yang tak mendapat respon dari sianak beruang itu.
"Bang Chi minta maaf ya, bang Chi beneran ga tahu kalau si berber ampe sobek" tulus Chio meminta maaf.
Namun anak beruang itu tak menanggapi, malah dia membating pintu mobil sebagai jawabannya membuat Chio mengelus dadanya 'harus extra sabar Chi' batin Chio menyemangati dirinya sendiri.
Ini yang Chio resahkan kalau sudah marah anak itu susah dibujuk, walau demikian baru kali ini anak beruang itu betah lama - lama marahan dengannya sampai mendiamkannya, padahal biasanya tidak seperti ini, membuat Chio semakin merasa bersalah saja.
"Ahhh... susah kalau udah gini, gimana cara bujuknya nanti, mana masih ada tugas dari master lagi, makin lama ini baikannya" keluh Chio, walau dia sering dibuat kesal oleh Ana, tapi dia malah lebih tidak ingin anak beruang itu marah padanya.
Entah kenapa rasanya sesak saja kalau anak beruang itu marah terhadapnya, membuat Chio sendiri bingung dengan perasaan aneh itu, akhirnya Chio melajukan kembali mobilnya menuju kantor sang master meniggalkan sekolah anak beruang itu dibelakang.
***
"Biar aja biar tahu rasa dia" kesal Ana menggerutuh sendiri.
"Loe kenapa? Masih pagi udah eror aja" tanya Lisda yang mendapat delikan tak terima dari Ana.
"Enak aja, loe kali yang eror" ketus Ana menjawab, ya malah jadi merembet kemana - mana kekesalan anak beruang satu ini membuat si Lisda ciut sendiri.
"Kenapa? Kongslet dia?" Tanya Bima berbisik pada Derren yang baru masuk berbaregan dengannya melihat Ana suda menekuk wajahnya sepagi ini.
"Kenpa?" Tanya Derren
"Kata Lisda An eror" jawab Naumi.
"Elo tuh yang selalu eror" jawab Derren sambil terkekeh.
"Ih Derren mah, orang Nau mah engga eror ko, kan Nau tadi bilang Lisda yang bilang An lagi eror" kesal Naumi.
__ADS_1
"Iya iya serah loe deh Nomnom"
Waktu semakin berputar cepat, baru saja tadi pagi sekarang mentari sudah berada tepat ditengah kepala Ana sepertinya.
Bagai mana tidak berada ditengah kepalanya jika saat ini dia tengah hormat menghadap bendera merah putih dilapangan.
"An.. haus ga?" Tanya Derren, kali ini dia ditemani Derren berpanas - panas ria, hanya dengan Derren berdua saja.
"Banget" jawab Ana, yang memang sedang menahan hausnya.
Tanpa menjawab lagi Derren mengeluarkan hpnya, entah berkirim pesan pada siapa, karna Ana tidak begitu peduli.
Selang 3 menit Bima muncul dari arah kantin, membawa dua pelastik es teh pesanan Derren, menuju arah lapangan. "Nih pesanannya" ucap Bima seraya memberikan es kepada Derren dan Ana.
"Makasih Bim, tau ja" ucap Ana berterimakasih.
"Kegue kaga nih? Padahal gue yang suruh si Bima" tanya Derren.
"Iya buat loe juga" jawab Ana, yang diangguki Derren.
"Udah cepet habisin, makanya lain kali jangan coba - coba deh bikin rusuh pas pelajarannya sibotak itu" saran Bima yang mendapat anggukan saja dari keduanya karna keduanya tenga sibuk menyeruput es teh mereka.
"Gue balik kekelas ya, masih ada setengah jam lagi pelajarannya, sabar ya bentar lagi kelar hukuman kalian" ucap Bima.
"Sip sekali lagi thank ya" ucap keduanya yang mendapat acungan jempol dari Bima, setelahnya Bima berlari kecil menuju kelasnya.
****
16.30 wib Ana baru saja sampai diloby sebuah mall, beberapa kali dia melihat jam dipergelangan tangannya, Ana sangat tak suka menunggu, tapi malah dirinya disuruh nunggu seperti ini oleh kedua sahabatnya itu.
Ana dan Lisda serta Naumi memang janjian akan bermain dimall sore ini, dan sepertinya Ana datang terlalu cepat dari yang dijanjikan, maka mau tak mau Ana harus menunggu kedua gadis itu.
"Sorry lama ya An" ucap Lisda yang hanya diangguki Ana.
"Kejebak macet katanya, paling bentar lagi juga nyampe" jawab Lisda, memang arah kerumah Naumi rawan macet dijam - jam tertentu, seperti jam pulang atau berangkat kerja seperti ini, wajarlah kalau dia terlambar datang.
"Nah itu orangnya dateng" tunjuk Lisda dengan dagunya, kala melihat kedatangan gadis berparas manis itu.
"Sorry macet" keluhnya.
"Udah ayo jalan" ajak Ana.
Dan ketiga remaja itu melanjutkan apa yang akan mereka mulai, menjelajahi mall, sejujurnya Ana lebih suka adventur, tapi sayang tiggal ditengah kota yang dia temukan kebanyakan hanyalah mall, sedangkan untuk berkeliling kekebun teh aja dia tidak diperbolehkan oleh keluarganya, apa lagi dia nekat naik gunung atau surving dan yang lainnya.
Nasib jadi anak perempuan ya gitu, serba diatur dan dilarang ini itu, apa lagi dia kedapatan memiliki alergi cuaca dingin sudahlah akan semakin banyak saja larangannya, tidak seperti sang abang yang kemana saja dibolehkan.
Kalau meminta izin selalu saja alasannya 'Kamu anak perempuan ga baik keluyuran jauh - jauh' hafal betul dia diluar kepala ocehan mamahnya itu, sekalinya dibolehin pasti harus bawa Chio, yang ada bukannya seneng - seneng malah kesel jatohnya karna banyak larangannya ketimbang setujunya, ga asik pokonya.
"Mau kemana dulu?" Tanya Lisda
"Temzone yu" ajak Naumi
"Nah asik tu" jawab Ana.
"Ok deh" Lisda pun setuju, tumben sekali biasanya kalau diajakin main ke temzone dia malah lebih milih nonton.
"Tumben" hampir berbarengan Ana dan Naumi berbicara.
"Sekali - kali nurutin kemauan anak" jawab Liada, jika Ana langsung faham apa maksud Lisda, lantas terkekeh tapi tidak untuk gadis imut yang satu ini.
"Emang Lisda punya anak ya? Mana anaknya? Masi disini ya? Wah ada bayi" ucap Naumi tanpa menyaring kata - tanya kembali membuat Liasda menepuk jidatnya itu.
"Tapikan Lisda belum punya suami terus yang didalam perut apa dong? Kan ga mungkin baby" tanya Naumi polos, entah polos atau beneran bloon anak satu ini.
__ADS_1
"Nah itu loe tahu kalau gue belum punya suami" kesal Lisda karna sedari tadi tangan Naumi tidak hentinya mengelus perut Lisda seakan memang Lisda benar tengah mengandung, tanganya terulur untuk menepis tangan Naumi yang akan mengelus kembali perutnya.
"Terus ini isinya apa?" Tanyanya kembali
"Nasi uduk, telor, ayam, sayuran dll pokonya" Jawab Lisda kesal, membuat Ana terkekeh karnanya, "Memangnya itu semu bisa jadi dedek bayi ya?" Lisda benar - benar kehabisa kata - kata karna ulah sahabatnya satu ini "Untung gue sayang" tandasnya menjawab tak sesuai dengan pertanyaan Naumi tadi.
"Nau juga sayang Lisda, tapi emangnya bener ya nasi bisa jadi dedek bayi, kalau bisa kok perutnya Nau ga gede - gede ya?" Pertanyaan Naumi kembali membuat kesal Lisda.
"Kalau tu perut gede cuman ada dua alasannya kalau ga cacingan ya busung lapar" kesal Lisda lantas berjalan mendahului kedua sahabatnya, bisa - bisa kalau dilanjutkan tensinya malah akan Naik, sejujurnya memang siapapun orangnya akan mengalami tensi naik jika sudah berurusan dengan Naumi, atau terkadang malah Nauminya yang dikerjain karna kepolosannya.
Apa itu bisa disebut degan kepolosan ya, apa tidak terkesan jika menandakan Naumi itu sedikit bodoh, tidak tentu saja tidak Naumi tidak bodoh hanya sedikit telmi dan lola saja untuk otak dia bisa dibilang tergolong kedalam katagori orang pintar, walau tidak jenius.
Ana terkekeh melihat bibir mengerucut itu, entah kenapa Ana sangat suka melihat sahabatnya satu ini saat kesal begitu menggemaskan menurutnya.
"Nau salah apa sih, kenapa Lisda jadi jutek gitu? Kan Nau hanya tanya malah Nau dibilangnya busung lapar atau cacingan, emang dimana salahnya An?" Tanya Naumi, jangan lupakan mimik wajah kesalnya membuat Ana gemas, ditambah matanya yang mengerjap - ngerjap tanda tak faham ingin mendapat jawabannya, membuat Ana semakin gemas ingin mengunyel pipi bakpaunya.
"Nau nasi itu ga mungkin jadi bayi, kalau perempuan hamil itu sudah pasti ada suaminya" ucap Ana.
"Jadi yang Lisda bilang nurutin anak itu apa? Kalau dia engga ada dedek bayinya diperut" entah kenapa dia malah berfikir jika si Lisda tengah ngidam astaga Nau - Nau pemikiranmu itu melenceng kemana - mana.
"Maksudnya anak ya kekita, kan kita kalau ke mall pengennya main ditemzone dulu, sedangkan Lisda pengen nonton dulu, jadi dia bilang nurutin anak gitu faham?" Setelah menjelaskan semuanya Ana mengakhiri kata dengan tanya kepada Nau.
"Ohhh iya Nau ngerti sekarang" jawabnya.
"Ok kalau udah tau ayo kita pergi" ajak Ana.
"Kemana?" Tanya Naumi kembali
"Temzone dong" jawab Ana.
"Ok".
Entah punya stok sabar berapa Ana selalu saja sabar menghadapi tingkah tulalit yang kadang - kadang timbul dari sahabanya satu ini, jika yang lainya saja suka nyerah kalau Naumi sudah seperti itu tapi untuk Ana dia malah sabar menghadapi Ana, Ana justru merasa terhibur entah kenapa, mimik wajah Naumi yang sedang seperti itu membuatnya gemas.
Walau dengan kekurangannya tidak lantas membuat teman - temannya menjauhinya malah mereka sayang terhadap Nau, dan akan marah jika ada yang mengerjai Naumi, walau mereka juga sering mengerjainya, tapi beda cerita jika orang lain yang mengerjainya, entah itu Derren dan Bima akan turun tangan jika teman lemotnya itu digangguin.
Karna mereka tahu dibalik semua itu, Naumi anak yang sangat baik polos dan jujur, menyenangkan mengenalnya walau terkadang mengesalkan.
Ok kembali ketopik, Lisda sudah sampai ditempat biasa mereka bermain, maksudnya dua anak - anak yang entah kapan tumbuhnya itu, menurut Lisda karna kelakuannya masih kaya bocah, kaya sendirinya bukan bocah saja.
"Lama" kesalnya
"Maaf, udah ayo masuk jangan cemberut gitu" ajak Ana, ingin perotespun percuma, karna Lisda sudah ditarik masuk kedalam, membuat wajahnya tertekuk karna kesal.
"Udah ga usah kesel senyum kali Lis" ucap Ana kembali.
"Iya iya iya" Lisda
"Mau main apa?" Tanya Naumi
"Loe nya mau main apa?" Lisda balik nanya.
"Bingung pilih mana dulu" jawab Naumi
"Ya udah pikirin dulu aja loe mau main apa, gue yang kekounternya deh" ucap Lisda sambil lalu.
****
Satu jam sudah Naumi dkk menghabiskan waktu mereka ditemzone, tak terasa Liada juga sepertinya menikmati permainan yang ada, tiba - tiba perut Naumi berbunyi.
Kruyukkkk... kruyukkkkk...
Seperti itu mungkin suara perut Naumi yang berisik itu minta diisi, wajah Naumi bersemu mereh karna suara perutnya itu.
__ADS_1
🍭🍭🍭