KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )

KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )
KKJC : PUSINGNYA JADI CHIO


__ADS_3

Hari berganti kembali, meninggalkan waktu dan kisah yang sudah terjadi dibelakang, masalah Dirtty dan Shena sudah berlalu tertinggal dibelakang, Dirtty juga sudah baikan dengan Miko, walau sempat ada jarak diantara mereka.


Tapi semua itu sudah tertinggal dibelakang, seakan tidak pernah terjadi masalah apapun diantara mereka, mereka kembali berteman seperti biasanya. Walau tak ada yang berubah dari Dirtty masih tetap sama cuek dan dingin tak tersentuh.


Hanya beberapa orang yang benar - benar dekat dan kenal dengannya saja yang bisa mengobrol tanpa rasa canggu denganya, inginnya sih normal seperti anak lainnya, bisa bergabung dengan teman lainnya.


Tapi sayang susah untuknya beradaptasi seperti itu, bukan karna dirinya yang kaku saja terhadap orang baru, orang - orang yang berinteraksi dengannya terlihat canggu jika sedang mengobrol dengannya entah itu takut atau apa dia sendiri tidak tahu.


Jangan tanya lagi jika kaum hawa yang berinteraksi dengannya, sudah dapat dipastikan mereka akan terbata berbicara dengan bongkahan es balok satu ini, ahh memang anak Dimi seksli kau ini Dirtty, kelakuan dan mukanya benar - benar mirip dengan ayahnya itu.


Ok tinggalkan saja tentang Dirtty yang masih menata bagai mana cara yang baik untuk berinterakasi dengan yang lainnya tidak terlalu ia kenal, biarkan dia berfikir agar dia bisa sedikit mencairkan es balok dalam otaknya itu.


Beralih kepada sipemuda yang semakin hari semakin tampan ini, semakin hari semakin diminati bukan hanya oleh ibu - ibu kompleks saja tapi juga para gadis diluaran sana.


"Chi ada salam dari Tinah tuh" ucap Nina memberi tahukan.


"Ahhh .. mba Nina ini, dari mba Tinah apa mba Nina?" Goda Chio, entah mengapa Chio senang sekali menggoda pengasuh Regi itu.


"Bosen aku liat muka kamu yang hampir setiap hari itu" keluh Nina, Chio memang tinggal bareng dengan Dian setelah resmi menjadi supir anak beruang itu.


Chio terkekeh geli melihat muka judes yang ditampilkan oleh Nina, Nina memang satu - satunya wanita yang melihat Chio biasa saja, walau memang Nina bilang dia tampan tapi bukan berarti Nina akan suka sama Chio.


Nina tidak pernah menyukai pria tampan, ada masalah dengan wajah tampan untuknya, kisah yang sampai saat ini ingin dilupakan namun selalu diingat karna memang tak bisa dipungkiri, ada seseorang dalam kisah itu yang menempati hatinya sampai saat ini.


Mungkin itu pula yang membuat Nina sampai saat ini betah sendiri, padahal usianya sudah terbilang cukup tidak salah bukan lagi cukup tapi sangat amat cukup untuk menjalin rumah tangga.


Sudah berbagai macam cara dibuat mamah Dian untuk membuat anak satu ini mau mengenal pria lagi, dan menjalin hubungan tidak jarang papah Dimipun mengenalkan rekan - rekan bisnisnya yang tertarik kepada Nina yang sudah banyak berjasanya dalam keluarga kecilnya.


Mamah Dian dan papah Dimi memang sudah menganggap Nina bagian dari keluarga kecil mereka, Nina sudah dianggap adik untuk mereka berdua, maka dari itu papah Dimi dan mamah Dian ingin melihat adik mereka bahagia.


Sudah saatnya untuk Nina berkeluarga, tapi nyatanya Nina terlihat biasa saja malah seakan tidak tertarik dengan dunia rumah tangga, cukuplah baginya memiliki keluarga kecil yang saat ini menganggapnya sebagai keluarga juga.


Setelah ibunya meninggal 1 tahun yang lalu, Nina memang resmi tidak memiliki siapapun, orang tuanya adalah anak tunggal begitu pula dengan dirinya, jadi keluarga yang saat ini dipunya olehnya hanya keluarga dari kakek Diwangkara itu.


Cukup bahagia dia memiliki mereka yang disayanginya dan menyanginya itu, tak butuh yang lain pula untuknya, biarlah jika ia mendapat jodoh pasti jodoh itu datang, dia tak ingin lagi mengenal cinta, sudah cukuplah cinta untuknya, sekali mengenalnya dan merasakan sakit, sudah cukup untuknya.


Tinggalkan masalah Nina yang tidak bisa berdamai dengan masa lalunya, ralat hanya belum bisa bukan tidak bisa mungkin dia hanya membutuhkan sedikit waktu lagi untuk menyembuhkan luka dihatinya.


****


Hari ini sudah hampir 10 kali Chio dikerjai nona mudanya hanya karna kemarin Chio menggagalkan rencana bolos anak beruang itu.


Dan hari ini jadilah Chio kelabakan menghadapi tingkah usil anak masternya itu. 'Sabar Chio sabar' batinya, sambil mengelus dadanya.


"Ada apa lagi?" Tanya Chio kali ini dirinya mulai tidak sabar, bagai mana tidak anak beruang itu berulang kali memanggilnya keatas hanya sekedar menyuruhnya yang tak bermutu.


"Ahhh.. jadi lupakan, ya sudahlah nanti kalau An ingat An panggil bang Chio lagi deh" ucap anak beruang itu dengan santainya, Chio benar - benar tak percaya.


Apa - apaan ini? Biasanya dia bikin pusing orang karna pengejarannya kali ini malah dia dibikin pusing karna ulah jahil gadis beruang satu ini.


"Yaampun Kak An" keluh Chio, Chio memang memanggil anak beruang sama seperti keluarga anak beruang menyebutnya, hanya saja jika bersama dengan Leo akan berubah panggilannya menjadi nona muda.

__ADS_1


Ada alasan mengapa dirinya ikut memanggil Ana dengan sebutan kakak, karna jika dirinya kelepasan memanggil Ana dengan sebutan nona muda, akan bisa dipastikan hari Chio akan sangat menyebalkan karna ulah anak beruang itu.


Terkadang Chio sendiri bingung entah dari mana asal ide - ide yang membuat pusing orang itu muncul didalam otak anak beruang itu, tak habis fikir Chio menghadapi kelakuan nona mudanya itu, setiap hari ada saja tingkahnya yang bikin geleng - geleng kepala.


"Ya maaf, nanti An panggil bang Chi lagi deh kalau An udah inget An panggil bang Chi lagi, soalnya An beneran lupa maaf ya" ucap anak beruang itu menunjukan mata pupy eyesnya itu.


Hemmmm...


Chio hanya bisa menghela nafasnya saja, semakin kecang saja dia mengelus dadanya agar tak kelepasan dan merendamkan anak masternya itu kedrum yang berisi bensin, karna sempat terfikir akan sangat menyenangkan mungkin jika melihat anak itu tenggelam dalam kubangan bensin.


'Sabar Chio sabar' batin Chio.


Setelah kepergian Chio, anak berusng itu terkekeh hingga terwawa terbahak - bahak karna berhasil membuat Chio kesal, "Salah sendiri gangguin Ana terus" ucap anak berang itu bermonolog.


Ana senang bisa membalas perbuatan Chio yang menggangu kesenangannya saat disekolah,"Lagian sih gangguin Ana terus rasakan itu, seharian ini Ana akan buat bang Chi pusing" sorak anak beruang itu senang, seringainya tak surut ia tunjukan dibibir mungilnya itu.


Aduhh Ana dasar anak beruang, entah megapa mengerjai seseorang malah membuatnya sesenang itu, sederhana sekali kesenangan mu ini, walau membuat orang lain jengkel karna ulahnya, sayangnya mereka tak bisa melawan karna mereka yang ada dirumah besar itu, terlalu sayang dengan anak beruang itu.


***


"Chi, emba boleh minta tolong?" Tanya mamah beruang yang tiba - tiba saja muncul, membuat pria tampan itu terlonjak kaget.


"Eh. Mba" ucap Chio kaget.


"Maaf kaget ya?" Tanya mamah beruang yang membuat Chio mendelikan mata, ayolah semua orang yang tidak pekapun akan sadar jika saat ini Chio itu tengah kaget karna ulah majikannya itu.


"Heheheh.. maaf deh, lagian masih pagi udah ngelamun aja mana mukanya ditekuk kaya gitu lagi" jelas mamah Dian.


"Hahaha... sabar ya, emang apa yang kamu lakuin kedia kemarin?" Tanya mamah Dian penasaran.


"Seperti biasa, anak beruang itu kemarin mau bolos lagi" jujur Chio.


"Emmm... terus apa yang dia lakukan sama kamu sekarang?" Tanya mamah Dian kembali.


"Banyak mba mau denger?" Tanya Chio membuat mamah Dian menggeleng


"Mau denger atau engga, aku akan kasih tau karna ini kelakuan anak mba" ketus Chio membuat mamah Dian mesem sambil mengangguk saja.


"Sepagi ini aku sudah hampir sepuluh kali naik turun tangga hanya karna ulah anak mba, dia meminta ini dan itu yang tidak penting, mba tahu sendiri aku tak bisa menolak anak itu" keluh Chio


"Terakhir tadi aku disuruh kesana, tanpa rasa bersalah anak beruang itu lupa panggil aku mau ngapain, kebayang ga mba, tadi tuh aku lagi kebelet - kebeletnya tau" ketus Chio mangkal karna kesal. Mamah beruang itu ingin tertawa tapi merasa kasihan terhadap Chio.


****


Hari ini Chio benar - benar dibuat pusing oleh anak beruang itu, ada saja ulah anak itu yang membuat Chio kesal tapi tak bisa menolak hal itu, masternya bisa ngamuk kalau ketahuan dia menolak keinginan anak kesayangannya itu.


"Bang Chi, An minta tolong boleh ga?" Tanya Ana, kali ini anak beruang itu yang menghampiri Chio sendiri, mungkin merasa kasihan melihat Chio bulak - balik turun tangga.


"Mau minta tolong apa kakak An?" Tanya Chio sesabar mungkin.


"An kan tadi jemur Berber diatap, pas An mau ambil malah jatuh, An ga bisa abilnya" cerita Ana.

__ADS_1


"Boleh An minta tolong buat ambilin Berber, kasian dia kesangkut" pinta anak beruang itu, kali ini dia benar - benar membutuhkan bantuan Chio rupanya, sampai wajahnya memelas seperti itu.


Chio mengangguk pasrah dan mengikuti kemana langkah Ana pergi, ternyata anak itu benar - benar keteras atas, kearah atap. 'Padahalkan ada tempat menjemur disamping kolam biasanya juga disana' bati Chio heran karna Ana menjemur bonekanya disana.


"Itu disana, An ga bisa jangkau" tunjuk Ana kearah boneka beruang berwarna coklat itu.


"Kenapa sampai bisa seperti itu kak?" Tanya Chio tak habis pikir bagai mana ceritanya boneka itu bisa sampai terselip seperti itu, entah bagai mana nasib boneka beruang itu. Kasihan sekali fikir Chio.


"Tadi kakak cuman tinggal buat ambil minum, tapi malah udah seperti itu, An coba ambil malah makin nyelip, itu gimana nasibnya siBerber kalau gitu" keluh anak beruang itu, hampir menangis anak itu berucap demikian.


Awalnya Chio pikir ini masih salah satu rencana Ana membuatnya susah hari ini, tapi pas melihat matanya mulai berkaca - kaca seperti itu, Chio yakin dia memang tidak sengaja melakukan kesalahan itu.


"Kakak tunggu sini, nanti abang balik lagi bawa tangga dulu" ucap Chio yang diangguki oleh Ana.


Hampir setengah jam Chio berkutat untuk menolong Berber siboneka beruang kesayangan nina mudanya "Jangan sampe lecet ya bang" itulah peringatan dari Ana.


"Pokonya jangan sampe kenapa - kenapa" ucap anak beruang itu lagi, membuat Chio prustasi saja, bagai manapun itu boneka sudah pasti sobek bukan lagi lecet, karna sudah terselip seperti itu, apa lagi saat diangkat susah sekali.


Dengan ancaman - ancaman yang diucapkan anak beruang itu, malah semakin membuatnya susah bergerak saja untuk mengangkat boneka itu.


'Ini boneka nyusahin aja' batin Chio kesal, karna sudah setengah jam berkutat tapi boneka itu masih betah terselip, entah kapan pekerjaannya ini selesai.


"Bang Chi lama amat, itu kasihan siBerbernya" keluh anak beruang itu untuk kesekian kalinya, Chio sudah tak mendengarkan lagi keluhan - keluhan dari anak masternya itu.


'Siapa yang berbuat, siapa yang kena imbasnya sih, lagian kamu kenapa buat saya susah sih' keluh mangkal hati Chio kepada boneka taddy bear itu.


***


Setelah satu jam berusaha membebaskan Berber yang terjepit akhirnya boneka itu keluar juga, belum juga Chio bernafas lega dia kembali merasa dihantam karna suara isakan dari gadis disampinya.


"Kakak kenapa?" Tanya Chio khawatir.


"Bang Chi jahat" tandas anak beruang itu marah, lantas meninggalkan Chio begitu saja, Chio sampai terperangah dibuatnya.


Dia yang menolong Berbernya dia berpanas - panas ria diatas atap, jangankan dibuatkan minum untuk menghilangkan dehaganya dan menghapus lelahnya, kata terimakasih saja tidak terucap dari mulut nona mudanya itu.


Malah kini dia marah padanya dan megatainya jahat, sebenarnya disini siapa yang jahat, dia yang dikerjai tapi dia yang merasa bersalah sekarang.


"Apa lagi sih ini, kenapa coba dia sampai menangis seperti itu?" Tanya Chio heran sambil melangkah pergi menyusul Ana.


Ana berlari turun dari teras atas lantai tiga rumahnya itu, masih dengan isaknya, tangisnya semakin kencang mana kala ia menuruni anak tangga, sampai Nina yang baru saja lewat kaget lantas menghampir anak itu.


"Kakak kenapa?" Tanya Nina khawatir mencegat anak beruang itu, bukannya menjawab pertanyaan dari ncusnya itu, anak itu malah berlari kearah kamar. Membanting pintu kamar sangat keras ini kali pertama anak beruang itu berlaku kasar dirumah.


Hingga Regi yang sedang tidur sampai terbangun karna suara bantingan pintu, anak itu sampai terduduk saking kagetnya. "Apaan itu?" Tanya Regi bingung, sambil mengusap dadanya karna kaget.


Regi beranjak dari kasurnya, melangkahkan kakinya keluar dari kamar, untuk memastikan apa sebenarnya suara kencang tadi, sampai membuatnya


bangun karna terkejut.


🍀🍀🍀

__ADS_1


TBC..


__ADS_2