KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )

KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )
KKJC : UNTUK PERTAMA KALINYA MENJADI KANG SAPU


__ADS_3

Pada akhirnya Dirtty tak jadi kekantin, karna bel masuk sudah dibunyikan, Andra sempat protes karna ulah temannya itu, dia jadi tidak jadi makan somay mang Cecep, ahhh padahal siomay mang Cecep terkenal enak.


Bahkan air liurnya sudah menetes saja saat membayangkan somai itu, "Salah sendir loe maunya nungguin si Dirtty ya udah terima resikonya Met" jawab Kevan kesal karna sedari tadi temannya itu terus saja mendumel.


"Liat aja nanti siDirtty kalau ketemu" ucap Andra kesal.


"Ngapai loe jadi nyalahin Dirtty? Jamet!" Tanya Dio heran.


"Kan gegara Dirtty gue ga bisa makan siomay" jelas Andra, siwa hitam manis yang dikenal denga nama Jamet ini, terus saja menyalahkan Dirtty, padahal diri sendirinyalah yang salah.


"Kan gue udah bilang Dirtty pasti lama, lagi loenya ngeyel, ya udah lah, walau kaga dapet siomaynya mang Cecep kan dapet batagornya mang Cecep sama ajalah rasanya ga kalah enaknya Met" timpal Leandro, kesal juga mendengar ocehan temannya yang sudah seperti emak - emak kampungnya yang lagi nagih hutang kreditan, mana sepanjang lorong menuju kelas pula si Jamet ini mendumel.


Sampai kelas Andra benar - benar melaksanakan niatnya untuk menggerutuh protes ke Dirtty, Dirtty yang tidak tahu menahu soal Siomay mang Cecep cuman bisa melingo.


***


"Diem apa loe Met, cape gue denger loe nyerocos mulu" ketus Dio.


"Abis gue kesel ama nia anak atu, emang loe punya urusan apa sih sama sikembang sekolah satu itu, lama banget?" Tanya Andra.


"Ampe gue kaga kebagian siomay gegara nungguin loe" tambahnya.


"Lah siapa yang nyuruh loe nungguin gue?" Tanya Dirtty bingung.


"Tapi bener sih Dir apa kata si Jamet, ada urusan apa loe ama Shena? Tumben banget diajak bicara ama ecew loe mau biasanya selalu nolak atau ga minta ditemenin tu curut dua" tanya Dio sambil menunjuk Kevan dan Leandro.


Membuat Leandro dan Kevan menjita kepala Dio berbarengan karna disebut curut, "Kepo loe kaya DORA" sergah Leandro.


"Pengen tau aja emang kaga boleh Ndro?" Tanya Dio kembali.


"Kaga boleh mesti bayar" jawab Leandro.


"Duit mulu loe Ndro otaknya" kesel Dio dan Andra berbarengan berucap.


"Ga ada duit ga bakal jalan ***" jawab Leandro kembali.


"Terserah loe" serempak Andra dan Dio berucap.


"Gimana udah baikan?" Tanya Kevan berbisik yang diangguki Dirtty, melihat anggukan dari Dirtty Kevan tersenyum begitu juga dengan Lendro yang tadi sekilas melirik Dirtty dan Kevan.


"Ngapa loe senyam - senyum gitu?" Tanya Dio.


"Kesambet kali tu anak Dio" jawab Andra


"Yang bener aja sih Met" keluh Dio, lelaki penakut sama hal mistis itu langsung mengkerut mendengar kata kesambet dari temananya.


"Sudah - sudah, tu si Dimas tadi kasih pengumuman katanya Mis. Ina ga bisa hadir jadi suruh kerjain tugas, udah ayo buruan biar bisa cepet pulang" ujar Dirtty menengahi mereka.

__ADS_1


"Ohhh iya Dra, besok nanti gue belikan siomay loe yang ga kebagian itu" ucap Dirtty, mengembang sudah senyum Jamet satu ini, mendengar akan dibelikan siomay.


"Gratiskan?" Tanya Andra memastikan, takut - takut dia cuman mau membelikan tapi uangnya tetap punya dia.


"Iya bawel loe, udah sana kemeja loe" titah Dirtty.


"Ehhh Dir, sijamet doang ni yang ditraktir, kita - kita gimana?" Tanya Dio yang dianggki kedua sahabatnya, Dirtty menghela nafasnya.


"Ya kalian juga, sudah sana pada kemeja masing - masing, tu kasian si Lusi mau duduk loe tempatin tempat duduknya kuya" tukas Dirtty kesal.


"Iya ... iya ngapa loe jadi kaya cewe yang lagi PMS sih Dir" dumel Dio membuat Lusi yang ada disebelah Kevan terkekeh.


"Makasih Dir" jawab Lusi, Dirtty hanya mengangguk saja lantas sibuk dengan bukunya.


****


Lain dengan Dirtty dkk yang meributkan sesuatu yang tak berpaedah lain pula degan sang adik yang lagi - lagi mendapat hukuman karna masalah sepele.


Entah kapan anak satu ini akan jeranya, perasaan setiap kali dia muncul selalu saja sedang dihukum, bukan Ana namanya kalau kelakuannya tidak mem uat orang geleng - geleng kepala, entah kemana sikap manisnya itu hilang, semenjak memasuki usia remaja kelakuannya jadi malah berubah seperti itu entah apa penyebabnya.


wajahnya saja yang manis tapi kelakuannya sungguh diluar kata manis itu sendiri, bukan hanya satu dua guru yang dibuat pusing anak satu ini tapi sudah hampir seluruh guru disekolahnya pernah merasakan pusingnya mengurus siswanya satu ini.


"CUKUP sudah gue cape" keluh Lisda sambil membanting sapu yang tengah dipegangnya itu.


Iya Lisda sianak penurut kena ulah keisengan yang dilakukan sahabatnya itu, baru pertama kalinya dia merasakan yang namanya dihukum, dan ternyata tak seenak yang sering Naumi bilang padanya saat menemani Ana dihukum.


"Katanya nemenin loe dihukum itu enak, nyatanya apa susah, keringetan lagi, cape, ahhhh tau ah bodo amat ga mau ngerjain lagi" sungut Lisda sambil memposisikan dirinya duduk selonjoran direrumputan.


Mendengar hal itu membuat Bima, Derren dan juga Ana terbahak tertawa, membuat Lisda semakin mengerucutkan bibir mugilnya, sungguh kesal sekali dirinya karna teman - temannya malah menertawakan dirinya.


"Kenapa ketawa?" Tanya Lisda ketus.


"Kata siapa dihukum itu enak Lis?" tanya Ana sambil menahan tawanya, agar tak keluar kasihan juga melihat temannya kesal itu.


"Nau" jujur Lisda masih dengan mengerucutkan bibirnya.


"Orang kaya si Nomnom aja loe percaya, loe tau sendiri Nomnom orangnya kaya apa" ujar si Bima sambil terbahak karna tak bisa meredamnya, sama seperti yang dilakukan oleh Derren.


"Itu artinya loe dikibulin silemot" ucap Derren kembai. Membuat mata Lisda melotot tak percaya dia bisa kena kibul seorang Naumi.


"Jangan gitu, lemot gitu sahabat gue tahu" ucap Ana tak teriman membuat Derren cengegesan saja.


Memang Lisda tak pernah dihukum selama dia sekolah baru kali ini dia dihukum, pernah satu kali dia nanya ke sahabatnya itu gimana rasanya dihukum, jawaban yang diterimanya dari sang sahabat membuatnya ingin ikut merasakan juga.


Tapi setelah menjalaninya di malah menyesal dibagian mananya yang diaggap Naumi itu menyenangkan, sedangkan orang yang tegah dikesalkan Lisda tengah bermalas - malas ria dirumahnya, karna dirinya terserang flu parah dua hari yang lalu.


Hucuimmmmm...

__ADS_1


"Ada yang ngomongin aku kayanya" ucap Naumi membuat sang ibu yang berada disebelahnya meliriknya sekilas. "Mana ada yang ngomongin kamu, orang jelas - jelas kamu itu lagi pilek" ibunya menimpali gumaman Naumi.


"Ehhh iya yah, Nau kok jadi pelupa gini" ungkapnya, sang ibu hanya geleng - geleng kepala saja, terkadang ibunya suka merasa kasihan terhadap teman - teman anaknya ini, entah bagai mana cara mereka menghadapi kelemotan sang anak, bahkan dirinya sendiri terkadang mengelus dadanya berhadapan dengan kelemotan sang anak.


Namun bagai manapun bentuk sang anak dia tetaplah ibunya yang begitu menyayangi dan mencintai anak perempuan satu - satunya dikeluarganya itu, namun dirinyapun bersyukur karna Naumi memiliki banyak teman yang sayang terhadap Naunya.


Balik lagi degan keadaan Lisda yang masih kesal karna dihukum oleh gurunya, sebenarnya diaini Lisda tak salah jjka seandainya dia tak mengacungkan tangannya saat ditanya oleh pak Dodo soal siapa yang ikut - ikutan menyem bunyikan papan tulis, tidak mungkin dirinya dihukum.


Hanya karna penasaran bagai mana rasanya dihukum akhirnya diapun mengangkat tangannya, bagkan pak Doso sempat tak percaya tapi Lisda tetap kekeh bahwa dia juga terlibat, bahkan Ana saja sempat heran karna dia tahu Lisda memang tidak ikut - ikutan menyembunyikan papan tulis.


Tapi anak itu kekeh mengaku ikut berperan dalam keusilan tiga orang sahabatnya itu, entah apa motifnya dan baru tahu ya saat ini saat sang sahabat mendumel karna mersa cape akibat dihukum.


"Dihukum emang cape Lisda namanya juga hukuma mana ada yang enak" kesal Derren, karna sedari tadi mendengar gerutuhan si murtel ini, murid teladan maksudnya.


"Lagian si Nomnon yang bilang, awas aja tu anak kalau sekolah nanti" kesalnya.


"Si Nomnom mah kaga salah yang salah loe mau aja dikerjain si nomnom" ucap Bima meledek.


"Loe ngeselin" kesal Lisda.


"Habis loe sama lemotnya kalau kaya gitu sama si Nomnon" ucap Derren tak kalah meembuat Lisda kesal enak saja dia disamakan dengan kelemotan si Naumi satu itu.


"Sebelas dua belas ya ga Ren" ucap Bima yang diangguki benar oleh Derren.


"Loe berdua bener - bener ya" baru akan memukul dua temannya itu menggunakan sapu yang kembali dipegangnya Ana suda mencegahnya.


"Sudah hentikan, kalian ini bukannya selesai malah maikin berantakan kan jadinya, makin lama ini kita pulangnya" kesal Ana membuat ketiga temannya itu perhenti dari adegan kejar- kejaran itu.


"Selamet loe pada kali ini" ketus Lisda sambil kembali menyapu haalaman belakang sekolah yang begitu berantakan karna ulah siswa yang tidak taat aturan soal buang sampah, dan banyak juga dedaunan kering yang bertebaran dihalaman itu.


"Dengar Lis, hukuman memang tidak adak yang enak tapi setidaknya dengan begini kita punya cerita untuk kita kenang dimasa dewasa nanti, bukan tidak mungkin kan kita akan berpisah karna nanti kita akan memiliki hidup masing - masih, tapi dengan begini kita memiliki kenangan unik" jelas anak beruang itu.


"Emang tidak benar kelakuan kita ini, tapi sesekali itu perlu untuk mengusir kejenuhan diatas padatnya pelajarankan" tambahnya. 'Apanya yang sesekali? dasar anak beruang' batin Derren.


'Bisa sekali dia bilang seperti itu, sesekali alah besok juga diulangi begitu seterusnya sesekali apanya' kali ini yang menggerutuh otak si Bima.


"Bener apa kata si An, kalau kita lurus terus hidup akan monoton" timpal Derren.


"Iya kalau berulah terus hidup akan susah macem kalian ini" kesal Lisda, kembali membuat ketiga sahabatnya itu tergelak.


"Lisda.. Lisda baru juga segini, apa lagi kalau diajak yang lebih ekstrim dari ini entah akan seperti apa nanti dia" ucap Bima.


"Lain kali gue ajakin loe yang lebih menarik dari ini oke" ucap Derren yang tak mendapatkan tanggapan apapun dari Lisda, dia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya menjadi kang sapu untuk pertama kalinya.


Ana hanya menggeleng saja melihat tingkah dua teman laku - lakinya yang terus mengoda Lisda, padahal tak digubris sedikitpun oleh Lisda.


'Entah kapan lagi aku bisa seperti ini, jadi manfaatkan saja sebaik mungkin' batin Ana.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2