KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )

KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )
KKJC : BAPAK DAN ANAK SAMA SAJA BIKIN GILA1


__ADS_3

Hampir 5 jam Chio berkeliling mencari nona mudanya itu, tapi tak nampak dimanapun ditempat biasa Ana main dan nongkrong bersama teman - temannya.


Hampir saja ia gila karna tak menemukan nona mudanya itu, sedangkan yang dicari tengah pulas tertidur dikamar tercinta.


"Jika sampai nona tidak ketemu bukan hanya akan digantuk mbak Di, tapi bisa saja saya digorok hidup - hidup sama mas Dimi dan master" grutuh Chio pada diri sendiri.


"Lagian nona dimana sih? Ko tidak ada dimanapun tempatnya nongrong, oh iya alat pelacak" gumam Chio kembali.


Chio mengutak atik telpon pintarnya itu, melihat nafigasi yang tersambung dengan alat pelacak yang disimpan dalam gelang Ana secara diam - diam, ya you knowlah jika sampai ketahuan Ana, bisa jadi gelang pemberian almarhum mommy Sitshunanya bisa - bisa dilepasnya.


Saat hendak melihat keberadan anak beruang itu, telpon yang dipegangnya berdering.


Master is calling...


Baru saja disebut namanya sudah menelpon orangnya, entah ada keperluan apa masternya itu menelpon dirinya.


"Hallo" ucap dari sebeang telpon sana.


"Ya, master" jawab Chio.


"Ke kantor ku sekarang" titah Leo.


"Master sudah kembali?" Tanya Chio


"Sudah jangan banyak tanya pergi kekantor ku sekarang" titah Leo


"Baik master" jawab Chio, sebelum kembali menjalankan mobilnya, Chio mennyempatkan mengabari keluarga Dimittriv bahwa dirinya akan ketempat masternya, sebelum mengabari keluarga Dimi tentunya Chio melihat keberadaan seorang gadis yang sedari tadi dicarinya, siapa lagi kalau bukan Ana si nona mudanya.


"Ya tuhan, ternyata dia sudah pulang dan apa - apaan ini sedang dikamar. Pasti sudah tidur" monolog Chio.


"Astaga nona, saya sudah hampir gila mencari nona, sedang nona sedang enak tidur" cerocos Chio tak henti - henti, walau mobil sudah dilajukan olehnya.


***


Sampai akhirpun Chio tetap saja mendumel padahal mobil sudah sampai ditempat tujuan, entah fokus atau tidak dia berkendara tadi, untung saja dia selamat kalau tidak bukan sampai kantor malah dia harus berbelok arah menuju rumah sakit, tempat yang paling tidak disukainya.


Chio berjalan cepat kearah lif, lantai 15lah yang ditujunya, ruangan direktur II yang menjadi tujuan utamanya, kata masternya dia harus pergi kekantornya.


Terlihat seorang gadis ayu nan mungil dimeja sekertaris, siapa lagi jika bukan sepupu sang master yang ada disana, siapa sih yang tahan menghadapi bos banyak maunya seperti Leo.


Walau terkesan ramah dan frenly, Leo banyak sekali maunya dan terkenal ketegasaannya saat dalam mode kerja, diluar itu dia sangatlah ramah walau tetap saja itu semua hanya kedoknya untuk bergaya hidup normal seperti manusia normal lainnya.

__ADS_1


"Slamat sore" ucap Chio.


"Sore, ehh Chi" jawab si gadis ramah.


"Kok kaget gitu sih, jangan ngelamun loh nati kesambet lagi" Chio.


"Enak aja, engga lagi ngelamun ko ini lagi merenung" kilah sigadis.


"Apa bedanya bu?" Tanya Chio heran.


"Adalah, ah sudahlah kau mana mengerti" ucap sisekertaris mungil itu.


"Ohh ok, baiklah, aku kedalam dulu ya kak" pamit Chio, pria yang tak suka berbasa basi itu, menyudahi basa basinya itu. Ternyata hidup normal itu sulit, harus selalu berinteraksi dan berbasa - basi dengan yang lainnya, sungguh sulit menurutnya.


"Ok" jawab Syla namun tak didengar anak itu karna dia sudah masuk kedalam ruangan besar itu.


Gadis mungil itu tampak merenungkan sesuatu, tumben sekali Chio tak menanyakan bosnya itu, biasanya dia selalu menanyakan bosnya setiap kali mendatangi kantor ini.


Ngomong - ngomong soal bos yang banyak maunya itu, sudah 3 tahun dia berada dinegara asing untuk pembukaan cabang disana, apa sudah pulang? Atau malah belum.


Bukankah dia bilang tidak akan menetap disana karna memang pusat yang berada disini dan keluarganya juga ada disini. Ahhh sudahlah itu bukan urusan Syla dia disini hanya menjadi sekertaris dan tak ada kepentingan untuk tahu hal yang bersifat pribadi bosnya.


Selama tiga tahun dia hanya bekerja dengan Jidhan saja, dia jadi banyak tahu segalahal tentang dunia bisnis, bertambah lagi pengetahuan yang didapatnya.


****


Sebelum Chio keruangan masternya dia sempatkan keruangan Jidhan terlebih dahulu, untuk menanyakan informasi apapun tentang masternya itu, dibanding dirinya Jidhanlah yang lebih tahu tentang masternya.


Bukan apa tapi karna Leo melarangnya untuk mencari tahu keadaannya, dia tak ingin kehidupannya diusik, karna jika Chio sudah tahu akan sampai akarnya dia tahu, berbeda dengan Jidhan yang hanya tahu informasi yang sudah dia berikan saja.


Karna tak mendapatkan respon dari dalam Chio menggeser knop pintu itu, lantas yang terlihat hanya ruangan yang kosong, entah pergi kemana asisten pribadi tuannya itu pada jam kejanya, mungkin dikamar mandi fikirnya.


Karna tak ingin berlama - lama disana, akhirnya Chio memutuskan untuk duduk disofa yang disediakan diruangan itu berfungsi sebagai kursi tunggu atau mungkin untuk acara makan siang saat malas keluar ruangan untuk dua orang itu, entahlah.


****


1 jam berlalu tapi tak ada tanda - tanda siapapun yang akan menghampirnya, jika biasanya Leo memberi perintah untuk kekantornya itu berarti ada misi untuknya, dan biasanya dia menunggu disofa itu, karna tak ada yang berani memasuki ruangan atasan mereka kecuali Jidhan dan Syla, serta dirut saja.


"Entah kemana semua orang, tau gini cari makan dulu tadi, entah sampai kapan saya ini harus nunggu" omelnya kesal, entah mengapa hari ini chio seperti emak - emak remong saja. Mendumel sana sini.


Dretttttttt....

__ADS_1


Dretttt....


Drettttttt...


Getaran disaku celananya membuatnya kaget, dirogohnya saku celana lantas melihat dari siapa telpon ltu berbunyi.


Master is clling.


"Pucuk dicinta ulampun tiba", entah apa makna dari kata itu yang ia tau Nina selalu berucap demikian jika tengah mendapat keberungan atau sejenisnya.  Ahhh entahlah dia tak mengerti hanya ingin berbicara saja.


Chio mengangkat panggilan itu, dimengarahkan henpon itu ketelinganya, lantas kembali menjauhkan benda tersebut, karna mendengar suara teriakan dari arah sebrang telpon, seketika pendengarannya menjadi kabur entah kemana, berdengung sudah gendang telinga Chio karna ulah sang master.


'Astaga jika bukan master' batin Chio sambil mengelus dadanya.


"Maaf master" jawab Chio.


".... ..... "


"Baik" jawab Chio kembali setelahnya mematikan telpon lantas pergi keruangan Leo.


Untuk sekedar kesopanan Chio mengetuk pintu itu, tiga kali lantas masuk kedalam ruangan itu, sejujurnya dia merasa kesal, ingin rasanya dia pergi saja, bukan hanya dibuat menunggu oleh masternya, diapun mendapat omellannya, entah lah ini hari pertamanya kerja setelah liburan, tapi mengapa dirinya begitu sial.


Belum sempat pintu itu tertutup sempurna, sebuah map holder sudah melayang kearahnya, beruntung dirinya memiliki refleks yang bagus, jadilah map itu tergeletak tak berdaya diatas lantai dengan isi yang sudsh berceceran.


"Bawa kemari" perintah tegas Leo. Rasanya Chio ingin meneriaki bosnya itu, untuk apa dia melempar benda itu jika benda itu masih dibutuhkannya.


Chio berjalan mendekat kearah masternya, tanpa mengatakan apapu lagi, diberikannya map holder itu ketangan Leo, entah apa salah map itu sehingga dia kembali dibanting keatas meja yang dingin, ahhh masternya ini emang pemarah, atau sedang sensi.


'Tuan muda seperti belum mendapat jatah saja' batin Jidhan yang juga berada disana.


"Dari mana saja kau?" Bentak Leo bertanya.


"Sudah sedari tadi aku menunggu mu, tapi jangankan tubuh mu batang hidung mu pun tak nampak, satu jam aku ini menunggu mu, kau pikir aku tidak sibuk" kembali bentakan itu terdengar dari mulut Leo.


Rupanya memang benar pemikiran Jidhan jika Leo belum mendapatkan asupannya dari sang istri, sehingga dia marah - marah tak jelas.


"Maaf, master tadi saya menunggu ditempat saya biasa menunggu, orang suruhan master, ataupun tuan Jidhan" jelas Chio, yang tak ingin menjadi bulan - bualanan masternya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Digantung dulu ok...

__ADS_1


TBC.


__ADS_2