
"Ihhh si Bima mah, udah tau waktu itu aja diintrogasi ama dia badan gue ampe lemes" jawab Naumi.
"Kenapa takut loe?" Tanya Derren
"Gugup, beneran keliat jelas gantengnya kan guenya jadi melting" jawab Naumi yang langsung dapat toyoran dari ketiganya.
"Sinyemot dasar" tukas Bima kesal.
"Ihhhh kalian mah kasar" dengus Naumi tak terima.
"Sakarep mu lah Nau" ucap Lisda tak perduli yang dia perdulikan saat ini omongan si Bima, jika bener tamatlah sudah mereka.
Kembali lagi kepertandingan yang sedang dilalui Ana dan Baron "Kenapa udah mulai cape ya manis?" Tanya Baron sinis disela - sela pertandingan, yang hanya dibalas dengan seringai saja oleh anak beruang itu.
'****!!! Kita lihat saja loe pasti bakal kalah anak nakal' batin Baron mengumpat karna kesal.
Saling searang untuk menggulingkan satu sama lain masih terus dilakukan, tapi rupanya masih belum ada tanda - tanda kemenangan disini, waktu tanding sudah berlalu 20 menit, hanya tinggal 10 menit lagi, tapi mereka masih sama - sama kuat.
"Ga nyangka tu cewe tangguh juga" seru si kribo.
"Kan udah gue bilang belum tentu Baron yang menang" ucap si kacamata.
"Kapan loe ngomongnya Suketi?" Tanya si leboy.
"Lah pada kaga nyadar yang pas gue bilang gue sependapat sama anak tadi yang bilang jangan meremehkan seseorang hanya karena mereka perempuan" ucap si kacamata sambil mengulang ucapan Derren.
***
Pertandingan masih berlanjut didalam ruang latihan Judo, semakin seru saja rupanya, Baronpun menikmati pertandingan, dan mulai serius karena ternyata lawannya bukan main - main, bisa dikatakan mereka seimbang.
Sedangkan dilain tempat tepatnya diparkiran sekolah seorang Pria dewasa tengah menunggu sang nona mudanya, entah kemana perginya.
"Kenapa nona belum juga keluar, padahal para pelajar lainya sudah pada pulang dari 20 menit yang lalu" gumam si pemuda.
"Apa jangan - jangan nona bikin masalah lagi ya" trawangnya menerka.
"Ahhh nona kenapa sih selalu bikin ribet, entah dimana dia sekarang, dari tadi ponselnya mati tidak bisa dihubungi" dumel pemuda itu.
"Pak maaf, apa didalam masih ada kegiatan?" Akhirnya pemuda itu memilih bertanya dari pada dia pusing sendiri.
"Maaf den, tapi sudah tidak ada kegiatan mengajar lagi, sudah usai dan eskulpun hari ini tidak adak" jawab pak Zul, salah satu scurity disekolah itu.
"Ohh.. begitu ya" jawab Chio, ya pemuda tampan bermata tajam itu adalah Chio, si anak spesialnya papa Dragon, Chio benar - benar bertranpormasi sekarang, menjadi pemuda yang bisa dikatakan sangat diminati, bukan hanya didunia yang digelutinya saja tapi juga saat ini, dimana para kaum hawa tergila - gila dengan wajah tampannya.
Ternyata julukan itu benar - benar pas untuknya membunuh tanpa menyentuh itu memang benar ada dalam dirinya, karena sudah banyak korban yang tertembak, dan kebanyakan kaum hawa yang merasakannya, mereka tertembak tepat dihatinya.
__ADS_1
Ahhh Chio, ternyata bukan hanya tampan yang ada pada dirinya, sosok ramah dan penyayang hewan serta frienly, membuatnya banyak dikenal dari kalangan muda dan tua, ahh paket lengkap pokonya untuk menjadi seorang menantu dan suami.
Tapi...
Semua itu palsu adanya yang asli hanya wajah tampannya, sifat ramah, frenlynya itu hanya sebuah kamuflase hanya untuk sebuah pekerjaan yang mengharuskannya memiliki semua itu.
Bunglon yang sangat piawai ternyata, dibalik semua itu tak ada kehangatan didalam hatinya, manusia berdarah dingin sepertinya memang tak akan bisa menghangat walau suhu terpanas suat ruanganpun tak akan membuatnya hangat.
Ahhhh Chio sosok yang dikagumi dalam hayalan, andai mereka yang mengagumi tau karakter aslinya mungkin semua akan menanggalkan kekaguman mereka terhadapnya.
"Entah pergi kemana nona, kenapa eaya sampai kecolongan sih" dengusnya bergerutuh, Chio berjalan kembali kemobil, lantas pergi dari area sekolah, untuk mencari anak dari masternya itu.
"Bisa kena omel mba ni kalau gini ceritanya, lagian anak gadis ko hobi banget buat masalah" dengus Chio bermonolog.
Ok hiraukan Chio yang tengah berpuaing ria mencari nona Ananya yang jelas - jelas masih ada disekolah, kembali kepertandingan yang seru.
Mereka yang menonton dibuat penasaran akan siapa yang menang, jika awalnya mereka memprediksi bahwa Baronlah yang akan mengantongi kemenangannya.
Tapi nyatanya mereka dibuat pusing karna ternyata lawan Baronpun sama tangguhnya rupanya, tak ada yang menyangka gadis manis nan cantik ini ternyata memiliki stamina yang kuat dan bela diri yang lumayan bagus.
'Ternyata cukup tangguh, memang benar perkataan tak boleh meremehkan lawan itu adanya' bahkan Teguh sendiri berkomentar demikian.
'Kenapa kaga ditunjukin pas saat latihan Judo?' Tanya batin Iwan.
"Ternyata dia bisa bertahan" gumam salah satu anggota Judo, yang mendapat lirikan tajam dari salah satu anggota Judo lainnya. Wah sepertinya ada yang tidak suka anak beruang itu.
"Sudah gue tebak" gumam Naumi.
"Loe ngomong sesuatu?" Tanya Lisda
"Ehhh engga ada" jawab Naumi.
Lisda hanya menggedigkan bahunya tanda dia tidak perduli akan tingkah sahabatnya satu itu, dia hanya merasa lega jika pertandingan itu telah usai, begitupun dengan Derren dan Bima.
"Gue salut sama loe" ucap Baron tiba - tiba saja, Ana yang hendak melangkah untuk menuju para sahabatnya, hanya tersenyum, sebuah senyum tulus yang bisa mematikan, bagai mana tidak Baron saja sampai terpaku melihat senyum itu.
"Ehhh itu kak Baron mau ngapain lagi?" Tanya Lisda pada yang lainnya.
"Udah yu samperin aja takutnya malah mau macem - macem lagi" ajak Derren.
"Thank" jawab Ana. "Loe juga keren kak" balasnya kembali.
"Gue tepati janji gue ke loe" jawab Baron, akhirnya setelah menguasai dirinya lagi.
"Loe yakin bukannya gue ga menang?" Tanya Ana.
__ADS_1
"Yap dan bukannya gue kaga pernah bilang kalau gue menang, gue cuman bilang gue akan minta maaf kalau loe mau tanding sama gue" jelas Baron.
"Okk.. gue tunggu ucapan loe" balas Ana.
"Ada apa lagi An?" Tanya Derren.
"Engga ada, ayo cabut" ajak Ana.
"Tunggu" jawab Baron mencegah Ana cs untuk beranjak.
"Ada apa?" Tanya Ana
"Bim, gue minta maaf atas apa yang gue perbuat ke loe, sorry gue udah keterlaluan" ucapan Baron membuat semua yang ada disana terperangah, seorang Baron meminta maaf atas kesalahannya sendiri wahhh.. sesuatu hal baru ini.
"Ehhh" Bima tersadar dari lamunannya karna senggolan dari Ana.
"Sorry juga gue udah ngatain loe banci" ucap Baron semakin tak percayalah Sigit dibuatnya. Pasalnya Sigit tau bagai mana si Baron itu, disuruh guru buat minta maaf aja kaga dilakuin apa lagi sama
"Itu si Baron kan?" Tanya Sigit pada Eril yang dijawab Anggukan oleh Eril. Pasalnya Sigit tahu siapa Baron, disuruh guru buat minta maaf aja tidak pernah dilakuin olehnya, apa lagi ini yang minta adik kelasnya, tapi kenyataannya ngebuat Sigit jadi aneh sendiri.
"Jawab ogeb" cicit Ana yang geram karna kepongahan sahabatnya itu.
"Ehhh. Iya bang ga apa, udah gue maafin ko" jawab Bima kikuk.
"Thanks" jawab Baron sambil mengulurkan tangan kearah Bima, dengan kaku Bima membals uluran tangan Baron.
Pukk..
PukkÂ
Pukk.
"Gue cabut dulu, kapan - kapan kita sparing lagi" ucap Baron setelah mengepuk pelan kepala Ana, yang dibalas acungan jempol dari Ana.
"Sip" Ana
"Ayo cabut" ajak Baron.
"Gue suka loe yang kaya gini" bisik Eril.
"Brisik" ketus Baron.
Eril memang paling mengenal Baron karna dia sepupu Baron, memang hanya Sigit yang tahu hal itu, jadi saat Baron berubah walau perubahannya sedikit dia tetap senang apa lagi kehal fositiv.
'Semoga dengan ini loe terus berubah Ron' ucap batin Eril.
__ADS_1
TBC.