KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )

KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )
KKJC : NAPAK TILAS


__ADS_3

Sudah satu minggu anak teddy yang kini berubah jadi beruang itu dirawat dirumah sakit, selalma satu minggu pula Dirtty datang berkunjung untuk menemani anak itu.


Ana sudah mengeluh bosan dirumah sakati dan ingin segera pulang kerumah sayang sang papah belum memperbolehkan anak gadisnya untuk pulang.


Bukan hanya karna cemas saja tapi juga hukuman untuk anak itu, papah paling tau jika Ananya itu paling tidak suka bau rumah sakit namum anak beruang itu malah langganan keluar masuk rumah sakit.


Papah selalu menanyakan perkembangan anak gadisnya itu ke dokter pras, dokter yang menangan anaknya itu. Dokter pras sebenarnya sudah memperbolehkan Ana untuk pulang dengan catatan selama dua bulan ini harus sering cek - up sekuarang kurangnya satu kali dalam satu bulan selama dua bulan ini.


Namun karna papahnya sedang kesal akan tingkah anak gadisnya yang hampir saja meembuat jantungnya kembali hampir copot karna kelakuannya itu membuat papah memutuskan menghukum anak itu dirumah sakit tempat yang paling tidak disukainya.


Karna kebosanan pula membuat Ana sering kali bertingkah aneh, sampai perawat saja pusing ngadepin bocah satu itu.


"Ampun deh ngadepin nona muda itu. Ya allah bisa - bisa aku yang dirawat gara - gara tensi ku tinggi" tutur salah satu suster jaga malam ini curhat kepada temannya.


Dan hal itu tak sengaja didengar oleh suster Zulfanha. " Emang dia buat apa lagi ?" tanya teman si suster itu.


"Masa ya tadi kan aku mau cek tensi darahnya dia sama ganti infusnya dia, kamu tau dia lagi apa?" cerocos suster itu sambil bertanya yang tentu mendapat jawaban gelengan dari temannya karna memang dia tidak tau kelakuan cucu kedua chermain perusahaan Wt cornp itu.


"Dia lagi bergelantungan dibalkon kamarnya udah kaya mony*t pake selimutnya dan infusnya sudah tak terpasang dilegannya entah kapan dia membukanya. Seandainya tadi aku ga kesana buat cek keadaan dia entahlah dia akan ngelakuin apa lagi. aku cuman ngebayangin kalau sampai anak itu jatu aduh entah apa jadinya lantai 5 kamu fikir aja sendiri walau ga sampai meninggal sudah pasti patah tulang dan bisa saja gegar otak" cerocos suster itu mendumel terus menerus saking jengkelnya menghadapi Ana.


Suster Zulfanha tersenyum tanpa sadar ia terkekeh sendiri, ada informasi baru intuk dia beritahukan kepada dokter Erik.


Pasalnya dokter Erik baru satu kali menjenguk keponakannya itu karna kesibukan dan suster Zulfanha lah yang dimintai tolong untuk memberikan kabar mengenai keponakannya itu.


Setelah mendengar keluhan suster jaga itu suster Zulfanha kembali menuju ruangan dokter Erik untuk memberikan kabar tentang keponakan ajaibnya itu.


Sementara Ana masih mendumel karna tidak bisa melakukan apa - apa, dia bensr - benar bosan.

__ADS_1


"Ihhhh.. Ana kan sudah sembuh kenapa masih dikurung?" gumamnya sarkas kesal.


Rasa bosan benar - benar menggerogoti tubuhnya membuatnya benar - benar kesal, karna rasa bosannya anak beruang itu memilih jalan - jalan untuk mengusir bosannya malam itu.


Waktu sudah nenunjukan pukul 22.30 Wib, seharusnya anak itu merasa takut karna jam saja sudah memasuki tengah malam, tapi anak itu sama sekali tak menunjukan rasa takut itu,malah ia asik berkelilng rumah sakit bak seperti berwisata ke musium saja.


Dari ruangansatu berpindah lagi keruangan satunya seperti tak ada lelahnya ia memasuki setiap ruangan yang ditemuinya, seharusnya seorang pasien itu sudah tertidur dijam seperti ni tapi anak satu ini malah masih keluyuran ditengah malam buta.


Tanpa rasa takut yang menghinggapi dirinya dia terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi karna sudah masuk jam malam.


Untuk orang normal pada umumnya walau tak sampai menggigil karna takut setidaknya bulu kuduknya pasti merinding tapi berbeda dengan anak gadis yang memang tak mengenal takut itu.


Dia malah dengan santainya berkeliling, astaga!! tak habis fikir dimana rasa takut anak itu.


Dia tiba disalah satu ruangan yang bisa dibilang cukup besar dilihat dari pintu yang terpampang didepannya daun pintu itu ada dua.


Sepertinya anak itu baru merasakan yang namanya seram setelah membaca ruangan apa itu hingga tak berani memasukinya, karna sedari tadi ia bertrevel ria semua ruangan dimasukinya termasuk ruangan dokter secara diam - diam.


Tapi untuk kali ini nyalinya ciut insting dalam dirinya mengatakan itu akan sangat berbahaya, maka tanpa menunggu dua tiga kali lagi dia segera tancap gas untuk pergi dari sana.


"Lama kelamaan merinding juga" gumam anak beruang itu sambil terus berjalan.


Napak tilas anak itu ternyata berhenti disebuah ruangan yang cukup besar, dia melongok kesebuah kaca yang tertempel dibagian tengah atas pintu hanya sedikit saja, tapi dia bisa melihat seseorang tenga terlelap disana.


Karna rasa penasaran yang amat sangat luar biasa akhirnya dia memutuskan untuk masuk keruangan itu.Dia berjalan denga perlahan, dia tatap wajah seorang pria yang bisa ia perkirakan mungkin umurnya sama atau mungikin lebih tua darinya satu tahun itu.


"Tampan" gumamnya kembali sambil tersenyum lembut

__ADS_1


Dia melihat disisi kiri anak itu ada seorang lagi yang tengah tertidur mungikin sala satu keluarganya yang menjaganya.


Karna dia merasa kasihan melihat orang itu sepertinya tengah kedinginan ia menyelimuti tubuh orang itu.


"Mimpi yang nyenyak tuan" gumam Ana lantas berlalu dari tempat itu.


Ya terlepas dari semua tingkahnya yang memang bisa dibilang sangat - sangat ajaib dia punya sisi dimana seorang Diandra pun tak mengetahuinya.


Jika ada yang tanya bagai mana menurtu kalian tentang Sanjana Audryan Shitsui itu maka akan disebutkan ' konyol, usil, asik, cantik, imut, pembuat onar dan tidak ada manis - manisnya' itu semua yang pasti akan disebutkan jika ada yang bertanya bagai mana anak itu.


Hanya saja tak banyak orang yang tau karna anak itu memang tak pernah menunjukan sikap manisnya itu didepan semua orang secara terang - terangan.


Dia pemilik hati yang berempati tinggi, dia perasa yang sangat kontras, walau selalu ditutupi dengan kekonyolannya. Karna dia malu setiap rasa yang dirasakan dia akan terbawa suasananya dia tak ingin dilihat sebagai orang yang rapuh.


Dia menjaga hal itu agar dia tak dibilang rapuh dia paling benci kerapuhan walau memang dia rapuh sebisa mungkin ditutupinya.


Melihat orang yang tak dikenalnya tadi tak nyaman tidurnya tanpa harus menunggu dua kali diperintah anak itu berinisiaptif sendiri untuk menyelimutinya.


Ada rasa bersalah dari dirinya terhadap keluarganya yang sudah repot menjaganya karna kelakuannya. Tanpa menunggu lagi air mata itu jatuh karna rasa sakitnya menyesal telah merepotkan keluarganya terutama sang mommy.


****


Diusapnya air matanya itu lantas ia melangkah kembali kekamarnya, untuk menyudahi napak tulasnya malam ini, tubuhnya mulai lelah dia juga tak ingin lebih lama disini kalau sampai alergi dinginnya kumat lagi itu akan menyusahka keluarga dan dirinya pula.


Karna malam semakin larut dan hawa dingin semakin tersa.


🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣

__ADS_1


Ciak .... Ciak... Ciakkkkkk


__ADS_2