
Setelah sepuluh hari akhirnya anak beruang itu dibolehkan untuk pulang, betapa senang dirinya terbebas dari jerat penjara rumah sakit dengan sipir suster mawar suster galaknya tidak sesuai dengan mananya menurut Ana.
"Pagi" sapa anak itu yang sudah lengkap denan seragam putih birunya, siap untuk berangkat kesekolah bersama sang abang.
"Pagi sayang, duduk kak sarapan dulu" ucap papah
"Pagi kak" balas mommynya
"Pagi kak" kali ini Dirtty yang menjawab sapaan Ana
Dan hanya Regi yang tak menyapa sang kakak yang membuat anak beruang itu memelototinya.
"Apa?" tanya Regi polos.
"Ga sopan" ketus Ana
"Apanya?" tanya Regi bingung, Ana tatap bocah itu dengan tatapan melototnya yang membuat Dirtty ingin tertawa.
Papah pun merasakan hal yang sama betapa lucu anak gadisnya satu itu sayang sang mommy tak pernah suka dengan mata emeralnya itu. Yang selalu mengingatkannya kepada seseorang.
"Kan udah diwakili sama papah, mamah dan abang" jawab Regi santai
Merasa kesal dengan adiknya itu hanya karna tak membalas sapaannya, dia merebut roti yang sudah dibaluti salai coklat kesukaan sang adik.
"Ahhhh... Kebiasaan deh dasar beruang " ungkap Regi kesal melihat tingkah kakaknya.
"Hukuman" jawab Ana santai lantas duduk ditengah - tengah antara Dirtty dan Regi.
"Apanya yang hukuman emang aku ngelakuin salah?" ungkap anak itu tak mau kalah
"Dih ga sadar saja kalau salah" ketus Ana sambil terus mengunyah sarapan adiknya itu.
"Issss... mam liat tu kelakuannya, pantes aja ga ada yang mau deketin" tukas Regi kesal yang dapat pelototan dari Ana.
Yang dipelototi manyun karna rotinya sudah diambil alih kakaknya itu jadilah ia harus mengoles lagi rotinya.
"Kalian ini ga pernah akur" ucap Dian pusing sendiri dengan tingkah anaknya itu.
"Abis kakaknya yang duluan" ungkap Regi
"Enak aja orang si adek yang duluan" tak mau kalah Ana juga ikut menyalahkan adiknya itu.
'Apaan orang kakak duluan yang ambil roti punya adek" tukas Regi kesal
"Adek sendiri kenapa ga jawab sapaan kakak?" tanya Ana kesal.
"Dih ... timbang jawab sapaan aja dipermasalahin kan udah diwakilin sama papa, mamah sama abang" jawab Regi marah
"Ya udah kalau gitu timbang roti doang kan bisa bikin lagi ini" jawab Ana santai
"Mamahhhh" kesal Regi mengadu sabil teriak padahal sang mamah ada dihadapannya, papah hanya bisa geleng - geleng kepala saja melihat kelakuan dua anaknya itu yang tak pernah akur padahal baru kemarin selagi dirumah sakit dua kakak beradik itu saling memberi perhatian, tapi sekarang sudah begini lagi.
"Sudah - sudah makan yang benar adek, kakak" pinta mamah pusing.
Ya itu lah kelakuan setiap pagi dikeluarga Dimittriv selalu saja diributkan dengan kedua anaknya setiap pagi. Berbeda dengan Dirtty yang kalem saja tak banyak tingkah hanya tertawa melihat kelakuan adik - adiknya ribut mulu. Baginya itu obat untuknya disaat dia dipusingkan dengan pelajaran sekolah atau kebetean karna tak ada kerjaan.
__ADS_1
****
"Sekolah yang bener ya .. Ingat jangan buat masalah terus, kasian mamah sama daddy dipanggil terus gara - gara kakak" peringat Dirtty sambil mencubit gemas hidung mancung adik perempuannya itu.
"Hehehe.. Kakak masuk dulu abang hati - hati dijalan ya" ucap Ana sambil mencium tangan kakaknya itu.
"Iya adik abang... sana masuk" titah Dirtty setelah meng puk - puk rambut Ana yang tertutup topi itu.
"Kakakkkk" panggil Dirtty sedikit berteriak karna Ana sudah melewati gerbang sekolahnya.
Merasa sebutanya dipanggil sang abang anak beruang itu menoleh kembali kebelakang.
"Apa?" tanya Ana yang tak kalah berteriak
"Pulangnya mau dijemput abang lagi ga?" tanya Dirtty masih sama berteriak
"Emmm.... engga usah Ana ada latihan judo " tolak anak beruang itu.
"Ya sudah happy ya... Sekolah yang bener jangan buat masalah mulu"ungkap Dirtty yang dibalas cengiran kuda lantas anak itu berlari menuju kelasnya.
Dirtty hanya bisa menggelengkan kepalanya karna ucapannya hanya dibalas dengan cengir kuda saja oleh sang adik.
Tak lama setelahnya ia memacu kuda besinya itu meninggalkan sekolah Ana dibelakang, menuju sekolahnya yang tidak terlalu jauh dari sekolah adiknya itu.
***
Hari ini tak ada yang sepesial bagi Ana masih sama seperti biasa dia selalu saja kena semprot pak bambang karna pakaiannya yang tak lengkap. Setelah ceramah panjang lebar dari guru BKnya itu dia harus berpanas ria selama 30 menit karna pakaian yang menyalahi aturan.
Bukan karna roknya terlalu pendek atau bajunya yang bisa membuat nafasnya sesak saking kencangnya.
Sepatu yang menyalahi aturan seharusnya sepatu hitam berlis putih, ini malah sepatu untuk olah raga dipakainya. belum lagi aksesoris yang ditempel didasinya yang bukan atribut dari sekolah.
Serta gelang - gelang metalnya yang selalu dipakainya membuat anak beruang itu kerap kali dijemur karna hal sepele seperti itu belum lagi baju yang tak pernah dimasukan kedalam dan sabuk yang tak pernah dipakainya.
Sudah seperti anak lelaki saja membuat pak bambang sendiri tepuk jidat dengan kelakuan anak didiknya satu ini perempuan ko ya kaya laki tingkahnya.
Hari menginjak petang bel sekolah sudah berbunyi 30 menit yang lalu tapi Dirtty masih saja asik bermain basket. Mendribel benda bulat itu lantas memasukannya ke ring.
Disisi lapangan terlihat seorang perempuan tengah memperhatikan Dirtty secara diam - diam sambil sesekali mengobrol dengan temannya untuk hang out sore ini akan kemana.
Bila Dirtty tengah sibuk diperhatikan oleh Shena lain halnya dengan Ana yang lagi berjuang untuk membalas perlakuan guru kilernya yang sudah memarahinya tanpa sebab.
"Ana loe yakin ga bakal ketahuan?" tanya Naumi
Gadis penakut itu bertanya bergetar, walau penakut tapi dia senang membantu Ana menjalankan misinya karna dampaknya menjadi hiburan untuknya.
Walaupun sudah pasti mereka berdua akan dihukum jika ketahuan, berbeda dengan Lisda yang tak mau ikut campur untuk urusan usil sahabat gesreknyan itu.
Jika Ana dan Naumi sedang melakukan aksi - aksi mencurigakan Lisda memilih untuk pergi keperpus daripada membantu tingkah mereka yang nantinya bikin ribet dirinya ujung - ujungnya.
"Udah pokonya beres ayo keluar bentar lagi tu sibotak masuk" ajak Ana pada Naumi
Mereka memilih tempat persembunyian unuk melihat langsung bagai mana reaksi sikepala plontos guru kilernya itu.
"Sumpah deh mereka bener - bener ga ada kapoknya, sekarang malah mau ngerjain pak Awang" gerutuh Lisda diperpustakaan.
__ADS_1
"Kita pantau dari sini" ucap Ana diangguki oleh Naumi
"An"panggil Naumi berbisik
"Hemm" jawab Ana berdem sambil terus memperhatikan sasarannya itu
"Loe ga takut apa?" tanya Naumi
"Loe sendiri?" Ana balas bertanya karna dia tau pertanyaan sahabatnya itu.
"Takut sih kalau gue, tapi seru" ungkap anak mungil disamping Ana itu yang mendapat kekehan dari Ana.
"Sama" jawab Ana menyembunyikan kekehannya agar tak ketahuan.
"Terus kenapa dilakuin?" tanya Naumi bingung
" Menurut loe ?" tanya anak beruang itu.
"Asik" jawabnya singkat
"Nah itu tau.. Takut tapi ga kapok ya ga " ucap Ana yang dapat ancungan jempol .
"Tuh .. tuh ." tunjuk Nilam dengan dagunya saat pancingan mereka ditangkap umpanya dan ikan itu terjebak dalam jeratnya.
Setelah puas melihat ekspresi murkanya pak Awang sikepala botak mereka kabur dari tempat itu karna takut ketahuan oleh guru paling kiler disekolahnya.
*****
"Stop... Stop An gue cape" ucap Naumi membuat Ana menghentikan langkahnya.
"Ayo lah bentar lagi nyampe kantin nanggug" ucap Ana sambil menyeret Naumi.
Sesampainya Dikantin Ana suda menemukan Lisda duduk ditempat yang biasa mereka duduki dengan tiga gelas minuman dimeja.
"Loe tau aja kalau kita haus" ungkap Naumi sambil menyerobot minuman kesukaannya itu es teh.
"Gimana?" tanya Lisda ternyata kepo juga anak satu ini.
"Nih" ucap Ana memberikan hpnya walau bingung Lisda tetap mengambil hp Ana dan melihat betapa terkejutnya anak itu melihat kelakuan dua sahabatnya pada guru kiler itu yang direkam oleh Ana.
"Gila ya loe An masih sempet gitu ngerekam gue aja tadi tegang takut ketahuan ni anak sempet - sempetnya ngerekam" pungkas Naumi tak percaya dengan tingkah sahabatnya itu.
"Buat dokumentasi kenang - kenangan gue lah" jawab santai Ana
"Bohong bilang aja loe mu tunjukin ini ke Bima kan karna sebelum loe sakit Bima nantang loe buat jailin guru kiler itu ini buat buktinya kan?" tanya Lisda
.Membuat Ana cengengesan sendiri " Jadi tadi bukan karna loe dimarahin tanpa sebab itu karna taruhan yang loe buat sama Bima?" tanya Nilam
Yang diangguki cepat Ana walau ada rasa bersalah dalam hatinya menjahili gurunya dan bohong pada sahabatnya namun sisi lain dirinya merasa senang.
"Kok gue jadi kesel ya" ucap Naumi polos membuat Lisda geleng - geleng kepal " Makanya kalau Ana ajak yang aneh - aneh jangan mau ikut" ucap Lisda kesal pada kedua temannya yang dibalas tawa kedua sahabatnya itu.
"Belum aja kalian dihukum.. Gue ga ikutan kalau ampe ketahuan" ucap Lisda ngambek.
🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣
__ADS_1
Ciak ... Ciak... Ciakkkk