
Setelah pertemuannya dengan pacar sang abang entah mengapa hati Ana merasa sakit, sepertinya memang ada yang tidak beres dengannya, entah kenapa dirinya merasa tidak terima sang abang menyembunyikan sesuatu darinya, apa lagi sesuatu itu menyangkut tentang Dirtty sendiri.
Anak beruang itu merasa jika dirinya tak dianggap disini, namun dirinya sebisa mungkin menekan rasa itu dan mendepak jauh - jauh dari hati dan pikirannya, alhasil dirinya kembali merasa tenang dan nyaman toh lagi pula Shena pacar Dirtty tak seseram yang dibayangkan Ana, justru malahan Ana nyambung ngobrol bareng Shena, seperti dirinya memiliki kakak perempuan.
***
Seharunya Ana sudah ada dirumah jika saja taksi yang ditumpanginya tidak mengalami kemogokan ditengah jalan seperti ini, setengah jam dirinya menunggu kepala anak beruang itu mulai berasap.
"Apa masih lama pak?" tanya anak beruang itu sopan.
"Maaf nona, sepertinya busi dan aki mobilnya yang bermasalah, dan sepertinya saya masih membutuhkan waktu, ini harus pakai montir nona" jawab sang supir taksi, merasa tidak enak pula si supir karena membiarkan penumpangnya itu menunggu terlalu lama.
"Emmm.. kalau. begitu Ana sampai sini saja deh, sepertinya jalan sedikit kedepan Ana akan menemukan kendaraan umum lainnya" ucap anak beruang itu pada si sopir taksi, "nona yakin?" tanya si supir taksi, yang hanya diangguki oleh Ana.
Ana membayar sesuai argo yang tertera, awalnya si bapak supir taksi menolak ana membayar full argonya, karena merasa bersalah telah membuat Ana menunggu lama, dan ia lupa mematikan mesin argonya, sedang mesin mobil terus menyala tadi alhasil mesin argo itu terus berjalan.
"Tidak usah nona, separuh saja, saya juga lupa mematikan mesin argonya" ucap si bapak supir merasa tidak enak
"Tidak apa pak, ini rejeki bapak ambil lah" pinta Ana, dan pada akhirnya sang supir taksi menerimanya dan mengucapkan terima kasih, setelah menjawab sama - sama, Ana benar - benar melangkah ke depan, mencari angkutan umum lainnya yang bisa membawanya pulang.
Hingga 30 menit menunggu sambil berjalan tak ada satupun angkutan umum yang lewat, entah itu angkot atau pun taksi, dengan menggerutu kesal Ana terus berjalan, entah sampai kapan dia akan berjalan yang pasti anak beruang itu tidak tahu.
selang 15 menit Ana berjalan, akhirnya gadis itu merasa lelah juga, cuaca yang berubah mendung tiba - tiba saja membuat anak beruang itu merasa takut, apa karena jalanan yang sepi membuatnya sedikit takut, ada rasa horor yang menyelimuti gadis manis nan imut itu.
"Ahhhh, tau gini mah mending nungguin si bapak supir tadi deh" keluhnya, sambil terus berjalan, setetes demi setetes air turun dari langit, anak beruang itu menghentikan langkahnya lantas mendongak melihat kearah langit gelap yang sudah meneteskan air nya, Ana memejamkan matanya meresapi setiap tetes yang perlahan tapi pasti membuat basah bukan hanya wajahnya melainkan seluruh bajunya.
Ahhh damai rasanya bila hujan turun, anak beruang itu benar - benar pecinta air, setelah beberapa saat merasakan sejuknya udara hujan petang itu, dan tetes air hujan yang menguyur tubuhnya, detektor yang dipakai di lengan kiri Ana mulai berbunyi, ya jam tangan Ana bukan hanya untuk pengingat waktu saja, tapi berfungsi untuk sensor, jam tangan itu khusus dibelikan sang Daddy untuknya.
jam tangan yang dipakai Ana, bergetar menandakan ada pergerakan disekitar anak itu, Ana melirik jam tangan monokrom nya, ia melihat sekilas garis biru namun samar tergambar dilayar jam tangannya, dia masih mencoba untuk menikmati waktunya bersama hujan, dan mengabaikan peringatan dari jam tangannya.
Namun selang 5 menit jam tangan Ana kembali bergetar, sensor dari jam tangan itu kembali memperingatkan anak beruang itu, kini bukan lagi garis biru yang tertera sudah ada gari hijau disana tertera, yang berarti tingkat kedekatan entah benda atau seseorang yang semakin mendekat, Ana mulai terlihat waspada saat sensor dari jam tangannya kembali bergetar dan menunjukan garis kuning, yang artinya peringatan.
Ana mulai kembali berjalan sebisa mungkin dirinya tetap tenang tanpa membuat kecurigaan berarti untuk orang yang sedang mengintainya, sensor di jam tangannya menunjukan jika pergerakan itu berbahaya, jam tangan rancangan sang Daddy bukan hanya bisa memindai pergerakan manusia dari radius kurang lebih 200 meter, jam itu pun dirancang untuk mendeteksi keberadaan senjata yang akan mengancam nyawa, atau pergerakan yang tidak beraturan yang membahayakan si pengguna.
Dan saat ini jam tangan itu terus bergetar dipergelangan Ana memperingatkan tanda bahaya sedang mengintainya, Ana sengaja tidak menyalakan suara dari jam itu, ia lebih suka membisukan dan menggantikannya dengan getar, saja agar tidak mencolok ditelinga orang - orang disekitarnya, ataupun membuat curiga orang yang ingin berniat tidak baik untuk Ana, seperti saat ini.
__ADS_1
Agar tidak dicurigai jika dirinya sudah mengetahui ada beberapa orang yang tengah mengikutinya karena indikator jumlah suhu disana meningkat setiap langkah anak itu pergi anak beruang itu berusaha setenang mungkin, semakin anak itu mempercepat langkahnya, semakin cepat pula getaran di jamnya, dan warna biru semakin terang bawa orang - orang tersebut telah mempercepat langkah mereka.
Angka terus bertambah itu artinya jumlah manusia disekitarnya semakin bertambah pula, dan gadis kecil itu tidak tahu yang mana yang berpotensi membahayakan untuknya, karena dia hampir mendekati keramaian pula, walau demikian Ana tetap waspada, pergerakan sedikit saja dia bisa merasakannya, matanya sudah jeli terlatih dan telinganya cukup peka untuk sebuah suara, bahkan terlalu peka untuk orang normal kebanyakan.
Bukan tanpa sebab Ana memiliki itu semua, semua itu atas permintaan dari Daddy dan persetujuan dari mommy Dian dan papah Dimi, mommy Dian tahu bagaimana kehidupan anak beruang itu kelak jika sampai ketahuan, walaupun mommy Dian berharap Anaknya akan tetap hidup normal seperti gadis biasa pada umumnya.
Namun balik lagi kehidupan Ana dan Dirtty berbeda, walau mereka sama - sama Dian rawat secara normal, tetap saja Dirtty dan Ana berbeda kehidupan, suatu hari nanti identitas anak itu bisa saja terbongkar, dan jika sampai itu terjadi dan Ananya belum memiliki kemampuan dasar beladiri dan pertahanan diri itu akan mempersulit Ana nantinya.
Sekeras apapun Dian mencoba berlari untuk kabur, kebenaran akan tetap terungkap, banyak yang membenci kedua orang tua kandung Ana, dan jika sampai identitas anak itu terbongkar, Ana akan menjadi sasaran empuk dari rasa dendam mereka terhadap orang tua Ana, apa lagi mengingat jika masih ada satu orang yang berhasil kabur saat penyerangan benar - besaran yang dilakukan Daddy Ana, beberapa tahun silam itu.
***
Ana mempercepat langkahnya karena hanya sebentar lagi dia akan sampai tempat keramaian, ia hanya berdoa jika hitungan waktunya tepat agar dia tak saling berhadapan dengan orang - orang yang mengejarnya, tentu anak itu tidak bodoh dengan pemikiran akan melawan orang - orang itu, bisa dipastikan ia akan kalah jika dia menuruti ambisinya untuk melawan, karena Ana tidak tahu berapa banyak yang akan menyerangnya, satu - satunya cara yaitu menghindar dan ia berharap perhitungan waktunya tepat.
Ana mungkin berhasil lewat dari kejaran itu tapi sayang bahu kirinya terkena lemparan entah benda apa yang dilemparkan kepadanya, dia sangat yakin jika bahunya terluka, bila tidak parah memar akan ia dapatkan karena lemparan benda tumpul tadi.
Sensor dari jam tangannya kembali bergetar, sensor itu kini menunjukan keadaan sudah terkendali, Ana menghembuskan nafas leganya. "Entah siapa yang menyapa ku" gumam gadis itu tanpa sadar.
Hujan yang semula deras sudah berhenti sejak 10 menit yang lalu, kondisi tubuh yang kuyup karena air hujan membuat beberapa orang memperhatikan anak beruang itu, ada pertanyaan dalam pandangan beberapa orang yang memperhatikan anak itu, namun Ana seakan tak perduli, ia lebih memilih melanjutkan langkahnya agar ia segera mendapat angkutan umum, tubuhnya sudah mulai menggigil karena kedinginan, ia ingin segera berendam air hangat, bodohnya anak beruang itu ia tak mengingat ponselnya sedari tadi, seandainya saja benda itu tak berdering mungkin anak beruang itu akan terus menunggu dihalte untuk mendapatkan angkutannya.
Suasana halte yang sepi membuat gadis manis itu kembali waspada, bukan tidak mungkin orang - orang tadi masih mengintainya, ia berharap jika taksi online ya segera sampai, setelah dirinya menerima telpon dari sang mommy yang menanyakan keberadaannya anak itu langsung memesan taksi online.
10 menit menunggu akhirnya taksi pesanannya tiba juga, walau demikian dirinya belum membuka pintu penumpang sebelum si supir taksi membuka kaca mobilnya, "Mba Ana?" Tanya si supir taksi yang anak beruang itu jawab dengan anggukan kepala, Ana melihat orang yang ada dibalik kemudi dan mencocokan dengan Poto yang tertera dilayar aplikasinya, sama barulah ia naik.
Brummmmm....
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, didalam mobil gadis itu merasa tidak tenang bukan karena ada yang akan membahayakannya, ia tidak tenang sebab tubuhnya basah kuyup ia benar - benar merasa bersalah saat ini karena bisa dipastikan jok mobil si bapak supir basah.
Ana mengeluarkan jaket yang ada didalam tasnya lantas melapisi jok itu dengan jaketnya, "setidaknya dengan ini jok itu tidak terlalu basah" gumam Ana.
***
"Trima kasih" ucap Ana sembari memberikan ongkos taksinya, setelah mereka sampai pada tujuan.
"Maaf dik, ini terlalu banyak" ucap si supir, saat anak itu hendak berbalik.
__ADS_1
"Tidak apa pak, ambil saja" jawab Ana
"Tapi dik, saya tidak bisa mengambilnya ini terlalu banyak" si supir taksi masih berusaha menolak ongkos yang lebih dari Ana.
"Tidak apa pak, anggap saja saya bayar dobel karena sudah membasahi jok belakang" ucap Ana.
"Tapi tetap saja ini kebanyakan dik" kembali si supir itu berucap.
"Tidak apa pak, Ana ikhlas ko" jawab Ana
"Baiklah kalau begitu saya terima, Alhamdulillah" ucap si supir.
"Ya sudah kalau begitu Ana permisi masuk dulu" ucapnya dengan sopan "Silahkan non, sekali lagi trima kasih pemberiannya" ucap si supir taksi.
"Sama - sama pak" jawab Ana, setelah Ana benar - benar masuk kedalam rumah.
****
Setelah mendapatkan ceramah panjang lebar dari sang mommy akhirnya anak beruang itu bisa beristirahat juga, setelah dirnya berendam air hangat beberapa saat yang lalu, ahh mommy nya itu selalu saja cerewet kalau sudah marah kuping Ana sampai berdengung karena mendapatkan ceramah dari sang mommy, walau demikian anak beruang itu begitu menyayangi sang mama.
"Siapa yang berusaha untuk mendekat ya?" gumam gadis itu ditengah senyap nya kamar, gadis itu tengah menikmati secangkir coklat hangat buatan sang mommy, saat ini dirinya tengah duduk bersandar di ayunan rotan yang ada didalam kamarnya.
Ana masih memikirkan siapa yang sudah mengusiknya petang tadi, sampai membuatnya mendapatkan luka yang bisa dikatakan parah di bagian bahunya, "apa aku harus ceritakan ini ke daddy atau mommy?" tanyanya dalam senyap.
Ana memang tidak memberitahukan kejadian tadi kepada sang mommy, dia hanya tak ingin mommy nya itu dilanda khawatir, dan dirinya pun tak ingin kebebasannya sampai dicabut, sudah cukup dirinya saat SD tak bebas karena masalah ini sering sekali timbul.
Ya kejadian seperti itu untuk anak beruang itu bukanlah yang pertama, namun semua itu bisa teratasi sepertinya mereka belum mau bergerak hanya mengutip saja.
Tapi diikuti itu sangat menyebalkan menurut Ana, sebelum - sebelumnya walau dirinya mengalami kejanggalan dirinya tak pernah terluka, hanya kali ini saja yang berbeda, sepertinya orang - orang itu sudah mulai bergerak.
Dan Ana tidak tahu dari mana mereka dan musuh siapa mereka ayahnya kah atau ibunya, yang jelas dan pasti Ana sudah mulai harus waspada disetiap tempat, sepertinya identitas yang coba ditutupi oleh sang mommy, sudah mulai terendus oleh mereka.
"Tidak jika ku beri tahukan pada mom and dad, maka kebebasan gue taruhannya" ungkap Ana, ternyata gadis itu masih memikirkan baiknya bagaimana.
"Akan ku simpan untuk diriku sendiri saja" pungkasnya, lantas beranjak dari duduknya, melangkah menuju kasir tercintanya, hari ini dirinya sangat lelah, begitu kepalanya menyentuh bantal anak itu sudah mendengkur halus..
__ADS_1
TBC...