KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )

KETIKA KITA JATUH CINTA ( KKJC )
KKJC : TERIMA TANTANGAN GUE BARU GUE MINTA MAAF..


__ADS_3

"An, dicariin sama kak Baron tuh, katanya ditungu ditempat latihan Judo" ucap salah satu teman sekelasnya, memberikan pesan yang dipinta kakak kelasnya.


"Kapan?" Tanya Ana santai, jika orang lainΒ sudah pasti merasa takut, karna keonaran Baron sudah tersebar luas seantero sekolah, bahkan ada beberapa gurupun yang tak sanggup menghadapi kenakalan siswa mereka satu itu.


Sudah banyak peringatan yang didapatnya, namun masih tetap tidak jera juga, rasa takut dari teman - temanya yang setiap kali berhadapan dengannya, menjadikannya sombong jika dirinya penguasa disekolah itu.


"Katanya sekarang" jawab sipembawa pesan itu.


"Ok.. thank ya" Ana berterimakasih kepada sisiwi teman sekelasnya itu, yang dibalas dengan anggukan saja lantas kembali melangkah menuju kelasnya, lantaran sebentar lagi bel masuk berbunyi.


"Ada masalah apa loe sama kak Baron?" Tanya Lisda.


"Ga ada ko" jawab santai Ana.


"Apanya yang ga ada, ni anak mancing kemarahan tu anak tau Lis" tukas Naumi kesal.


"APA! Loe tu kenapa sih malah cari gara - gara ama tu anak sih An" keluh Lisda tak percaya bahwa temannya itu malah cari masalah sama biangnya masalah.


"Udah ga apa - apa, gue temuin dia dulu, kasian udah nunggu lama pastinya tu anak" jawab Ana santai.


"Apa! Ga ada, gila ya loe mau temuin dia, ga usah macem - macem deh An, mending kita kekelas bentar lagi bel masuk" setengah menarik lengan Ana, Lisda mengajak anak beruang itu pergi dari kantin, diekori Naumi dibelakang mereka.


Lisda terus menarik lengan Ana sambil berjalan tanpa mau mendengarkan perkataan dari Ana. "Lis, gue harus temuin kak Baron dulu bentar doang ko" ucap Ana.


"An loe tau kan kak Baron tu kaya apa, kalau loe ampe loe kenapa - kenapa gimana?" Tanya Lisda


"Iya bener An, mending nurut aja deh ga usah temuin dia" tambah Naumi.


"Udaj tenang aja gue ga apa ko, cuman bentar doang ini" jawab Ana.


"Tetep engga" tukas Lisds dan Naumi tegas.


"Beneran gue cuman bentar doang ko" kembali Ana menyakinkan dua sahabatnya itu.


"Ok, kalau loe tetep maksa kita ikut loe" ucap Naumi.


"Iya kita i.. Apa engga gue ga mau ketemu tu anak" ucap tegas Lisda.


"Ketemu dia juga ga akan seserem itu Lis" ucap Ana.


"Tetep engga mending kita kekelas" kembali Lisda menyeret Ana untuk jalan.


"Udah ayo ikut temani Ana" kali ini malah Lisda yang diseret dua orang itu, untuk ketempat latihan Judo.


"Thanks kalian memang setia kawan" ucap Ana. Lisda hanya memberengut karna dirinya memang tak ada niatan untuk ikut bersama mereka jika bukan karna ditarik oleh dua sahabat lakn*tnya itu.


"Gue ga mau kesana" tetep saja Lisda merengek kepada mereka, dan mereka berdua seakan menulikan rengekan Lisda dengan terus menarik Lisda ikut bersama mereka.


"Emangnya loe tega kalau semisal An diapa - apain sama kak Baron?" Tanya Naumi.


"Ya enggalah, makanyakan gue bilang tadi ga usah kesana!" Kesel Lisda karna ucapannya tidak didengar dua sahabatnya itu.


***


Pada akirnya Lisda berda ditempat latian Judo, berhadapan dengan Baron, posisi mereka persis berhadapan dengan tiga lawan tiga.


"Ada apa panggil gue?" Tanya Ana to the point.


"Nyantailah, buru - buru amat" jawab baron santai.


"Sorry gue ga ada waktu banyak kak" ucap Ana.

__ADS_1


"Cihhh" Baron berdecih, kesal juga diperintah oleh cewe ingusan macan bocah dihadapannya ini, tak sadar diri jika dirinya pun masih sama ingusannya dengan Ana.


Bagai mana tidak kalau setiap masalah yang ditimbulkannya malah diurus orang tuanya, apa namanya kalau bukan bocah ingusan.


"Ok" ucap Baron


"Gue bakal minta maaf sama banci kaleng temen loe itu asalkan loe mau lawan gue" ucap Baron memberi penawaran.


"Apa?" Tanya Ana maksudnya lawan apa.


"Pisik" jawab Baron santai.


"Ok" jawab Ana mantap


"Engga, apaan sih loe An" tegas Naumi tak mengijinkannya, siapa yang tak tau Baron sih, dia terkenal tukang adu jotos, bisa bahaya sahabatnya itu.


"Loe gila kalau loe mau ikutin orang itu An" cicit Lisda geram kepada sahabatnya itu.


"Udah kalian berdua diaem dulu" pinta Ana.


"Engga pokonya engga" tengas Naumi.


"Ma..af kak tapi kami ga izinin sahabat kami utuk adu pisik sama kakak" jawab Lisda memberanikan dirinya membantah keinginan Baron, walau ucapannya terbata - bata.


"Siapa loe disini, berani banget ngambil keputusan buat dia" bentak Baron sambil menunjuk Ana


"Santai dong kak ga usah ngebntak gitur" tukas Ana, kesal juga anak itu melihat temannya dibentak seperti itu, sedangkan Lisda sudah begetar karna bentakan dari Baron.


"Temen loe bikin gue dongkol" jelas Baron kesal.


"Bisakan bicara baik - baik kak, ga usah pake bentak" ungkap Naumi, entah dapat keberanian dari mana anak penakut satu ini, saat melihat temannya seperti itu keberanian itu muncul begitu saja.


"Loe ngajak ribut gue ya kenap loe juga ikut ngebentak gue?" Tanya Baron kesal, menghampiri Naumi ingin menarik kerah bajunya jika saja Ana tak menghadang Baron dan Baronpun tak dipegangi oleh Sigit dan Eril agar tak lepas kontrol.


"Kenapa?" Tanya Ana santai sambil menatap manik mata tajam Baron, lihatlah tingkahnya yang luar biasa santai itu, bahkan Sigitpun merasa kagum kepada gadis dihadapanya itu karna berani melawan Baron.


"Kesel ya ada yang bentak?" Tanya Ana kembali, Baron yang masih dipegangi Sigit dan Eril perlahan melepaskan pegangan dua sahabatnya itu, tanpa menjawab semua pertanyaan adik kelasnya itu.


"Hal sama yang gue rasa saat tadi kakak bentak temen gue, jadi kalau apapun itu dipilter dulu, klau loe yang digituinkan kesel juga" imbuh Ana kesal, Baron hanya diam saja.


"Alah banyak omong loe" ucap Baron, emosinya sudah tak bisa ditahan masa bodo dengan kenyataan yang berhadapan degannya saat ini adalah perempuan, dia melayangkan tinjunya kearah Ana.


Dua sahabatnya yang terlambat menyadari gerakan Baron tak bisa mencegah apa yang Baron lakukan pada adik kelasnya itu.


Awalnya yang dikira mereka jika tinju itu akan melayang kearah paras simungil dihadapan mereka, tapi nyatanya mereka dikejutkan dengan teriakan Baron.


"Akhhhhhh" teriak Baron, karna tanpa persiapa yang penuh dia mengira jika adik kelasnya ini tak memiliki kekuatan, pukulan yang dilayangkajnya juga tidak sepenuhnya bertenaga tadi.


Tapi sayang karna dia meremehkan lawannya dirinya sendir yang terdesak karna serangan balik dari Ana, Ana menangkap tinju itu dengan tangannya, lantas memelintir lengan Baron kebelakang punggung Baron sendiri.


Kini posisi Baron memunggungi Ana dengan tangannya yang dipelintir Ana, "Tidak semudah itu loe ngelayangkan tinju loe buat gue kak" bisik Ana pada Baron, lantas menghempaskan Baron begitu saja, tubuh Baron terhuyung hingga hampir terjatuh kalau saja tak ada Sigit dan Eril dihadapannya, mungkin dia akan nyungsep karna tergelincir.


"Loe salah besar jika loe ngeremehin seseorang hanya dari tampang ataupun jenis kelamin seseorang" ucap Ana


"Inget kak yang gue bilang beberapa jam yang lalu diatas langit masih ada langit" pungkas Ana.


Seelahnya berbalik lantas menarik kedua temannya it untuk pergi dari hadapan Baron cs, Baron hanya bisa terbengong saja karna baru kali ini dia dikalahkan dan itu oleh perempuan pula.


Saat Baron menyelami keterkejutanya Ana berbalik dan melangkah kembali mendekat kearah Baron.


"Gue teriman tantangan loe, gue tunggu loe hari rabu disini, kita sparing, duel satu lawan satu secara sportif, gue akan minta kak Teguh buat jadi wasitnya" ucap Ana menerima tantangan dari Baron.

__ADS_1


Baron sedikit terkejut kenapa adik kelasnya itu kenal dengan ketua Judo sekolahnya dan Teguh adalah salah satu temannya.


"Dan loe harus tepati ucapan loe barusan, dan tarik kembali kata - kata banci buat temen gue kalau sampe gue menang nanti" lanjut Ana mengingatkan Baron akan ucapannya tadi.


Saat hendak berbalik "Ahhh iya satu lagi, jika loe ingkar janji, ingat satuhal kartu AS loe ada digue" tandas Ana melanjutkan ucapannya dan setelah itu Ana benar - benar berbalik dan pergi dari tempat itu bersama Lisda dan Naumi.


"Gila sih tu anak berani bener ama loe" ucap Sigit yang diangguki Eril.


"Gue sempet kaget tadi" imbuh Eril.


"Gue suka yang begini" ucap Baron


"Menantang" lanjutnya sambil tersenyum semirik "Cabut yu" ajak Baron kepada kedua sahabatnya.


***


"An, loe yakin mau ngelawan tu anak?" Tanya Lisda setelah sampai dikelasnya, Ana hanya mengangguk saja sebagai jawaban.


"Loe ga gila kan An?" Kali ini yang bertanya Derren entah datan dari mana anak satu itu.


"Apa sih loe deteng - dateng nanya gue gila" tukas Ana kesal.


"Gue denger yang loe bilang ke kak Baron An" jawab Derren.


"Terus apa hubungannya ama gila kutu?" Tanya Ana kesal.


"Ya loe gila lah karna nerima tantangan dari kak Baron" jawab Naumi, yang mendapat delikan dari Ana.


"Udah deh, gue udah terlanjur terima tantangan dia, pantang bagi gue buat nenel ludah gue sendiri" tandas Ana.


"Tapi dia Baron An, loe yakin bisa kalahin dia, kalau ampe dia yang menang loe yang bakal abis An" jelas Derren.


"Kalian tenang aja, doakan gue supaya menang aja, lagi pula dia hanya minta duel dan dia akan minta maaf ke si Bima tanpa ada kata menang atau kalah" ungkap Ana.


"Jadi itu semua gara - gara gue" ucap Bima sendu merasa tak enak hati.


"Udah loe diem aja" pinta Ana.


"Tapi An" baru Bima akan berbicara kembali sudah dapat pelototan dari Ana jadilah dia memilih diam.


"Mana ada pertandingan ingin tak ada menang kalah sih An" keluh Lisda


"Udah mending loe urungin aja tantangan itu" ucap Bima.


"Loe nyuruh gue jadi pengecut ga akan" tukas Ana


"Tapi An ini demi kebaikan loe" ucap Derren yang diangguki yang lain.


"Ga gue ga mau jadi pengecut" kekeh Ana.


"An, sesekali jadi pengecut tak apa demi kebaikan diri sendiri" ungkap Bima.


"Tetep sekali pengecut akan tetep pengecut dan gue ga terima itu dalam hidup gue" tandas Ana.


"Keputusan gue udah final dengan terima tantangan kak Baron" tambahnya.


"Dasar ngeyel" pungkas Bima kesal sambil tertarih dia berjalan kearah mejanya karna guru sudah datang.


'Gue begini juga buat loe nyuk' gumam hati Ana .


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

__ADS_1


TBC.


__ADS_2