Ketika Mama Salah Pilih Menantu

Ketika Mama Salah Pilih Menantu
Hadirmu Bagaikan Pelita


__ADS_3

Setelah melajukan kendaraannya menjauhi kediaman Brian, Pak Saka menghentikan kendaraannya di pinggir jalan kemudian lelaki itu melepaskan sabuk pengamannya dan menatap ke arah Kirana.


Kirana terus saja menundukkan kepala sejak masuk ke dalam mobil ini, wanita itu terlalu malu sekali saat Pak Saka mengetahui tentang sikap Brian yang begitu kasar padanya. 


"Berhentilah menangis," pinta Pak Saka kepada Kirana. Pak Saka begitu gram sekali ketika melihat setiap tetes air mata yang jatuh dari kedua pelupuk mata cantik itu. "Kamu tidak perlu menangisi lelaki seperti itu," kata Pak Saka yang berpikir jikalau Kirana menangis karena diperlakukan kasar oleh suaminya.


Kirana menatap ke arah Pak Saka dengan ekor matanya sekilas lalu kembali menundukkan kepalanya lagi. "Saya menangis bukan karena diperlakukan kasar oleh lelaki itu," jawab Kirana di sela-sela tangis sesenggukannya.


Kening Pak Saka berkerut setelah mendengarkan jawaban dari Kirana. "Lalu kamu tidak berhenti menangis sejak dari tadi kenapa?" tanya Pak Saka kepada Kirana.


"Saya merasa malu," jawab Kirana dengan menggenggam jemari tangannya sendiri.


Satu alis Pak Saka terangkat dengan tatapan yang tidak beralih dari Kirana. "Kamu malu kenapa?" tanya Pak Saka.


"Saya malu karena Bapak melihat sendiri sikap Brian kepada saya, lelaki itu juga mengatakan hal buruk tentang saya kepada anda, saya sangat malu hingga tidak berani mengangkat pandangan ini." Bulir-bulir air mata semakin berjatuhan hingga membuat dress yang sedang Kirana kenakan dibasahi air matanya sendiri. 


Tangan Pak Saka tiba-tiba terangkat tanpa ia sadari, tangan lelaki itu mengusap perlahan kepala Kirana dan kedua bola matanya membulat penuh dengan rahang menegas ketika pak Saka menyadari jikalau rambut Kirana rontok akibat jambakan kasar Brian. "Lelaki itu benar-benar sudah keterlaluan," batin Pak Saka di dalam hatinya.


Tangisan Kirana terhenti bersamaan dengan tangan Pak Saka yang mulai mengusap perlahan kepalanya, sikap lelaki itu yang terlihat begitu lembut sekali dan ingin menjaganya membuat hati Kirana merasa tenang, iya ingin selalu berada di dekat Pak Saka dan dirinya tidak ingin kembali kepada Brian. Andaikan saja Kirana bisa iya akan langsung melemparkan surat cerai di depan wajah lelaki tak bermoral itu, tetapi Kirana harus bersabar menunggu lima tahun lagi karena ketika mereka menikah Kirana sudah menandatangani perjanjian jikalau apapun yang terjadi mereka tetap akan bercerai menunggu 10 tahun pernikahan. Karena di saat 10 tahun pernikahan Brian akan mendapatkan semua harta kekayaan kedua orang tuanya sedangkan Kirana akan mendapatkan kebebasannya.


"Saya lebih percaya dengan apa yang terlihat oleh pandangan saya daripada ucapan lelaki itu. Aku tidak akan mungkin berbasa-basi padanya jika tidak mengingat kalau kamu adalah istrinya." Nada suara pak Saka tertahan setengah di tenggorokannya. Lelaki itu harus menekan emosinya agar tidak membuat Kirana takut.

__ADS_1


"Terima kasih Bapak sudah percaya kepada saya," jawab Kirana.


"Apakah kamu mencintai lelaki seperti itu?" tanya Pak Saka.


"Tidak," jawab Kirana cepet tanpa berpikir.


"Bagaimana jika aku membantumu meninggalkannya?" tanya Pak Saka.


Kirana mulai mengangkat pandangannya kemudian menatap ke arah tak akan. "Saya akan meninggalkannya setelah waktu yang ditentukan," jawab Kirana. Kirana tidak ingin Pak Saka terlibat dalam urusannya lelaki itu sudah terlalu baik mau membantunya lolos dari Kedua lelaki yang hampir saja merenggut kehormatannya.


Pak Saka menghela nafas berat kemudian menganggukkan kepala mengerti dengan jawaban yang diberikan Kirana. "Jika kamu membutuhkan bantuan saya maka tidak perlu sungkan, langsung saja katakan kepada saya," kata Pak Saka yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Kirana.


Pak Saka kembali melajukan mobilnya menuju kediaman pribadinya, di sepanjang jalan Pak Saka mengatakan kepada Kirana jika tadi ia hanya berbohong kepada Brian mengenai laporan yang harus Kirana kerjakan di kantor Kirana pun menganggukkan kepalanya mengerti untuk yang kesekian kali. Setelah mobil Pak Saka sampai di halaman rumahnya terlihat dua orang pekerja langsung berlari menuju mobilnya kemudian membantu Kirana berjalan, Kirana berjalan dengan terseok-seok karena kakinya semakin berdenyut nyeri ketika Brian menarik paksa tangannya tadi. 


"Istirahatlah saja di kamar saya," pinta Pak Saka.


"Saya pasti akan merasa bosan sendirian di dalam kamar tanpa melakukan apapun, Saya ingin berada di kamar Mama. Pak Saka apa boleh?' tanya Kirana meminta izin.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan," jawab Pak Saka.


Kirana membuka pintu ruangan Moelen, Pak Saka membawanya masuk ke dalam ruangan itu kemudian mendudukkan tubuh Kirana di sofa yang ada di dalam sana. Pak Saka melihat ke arah Mamanya yang kini sedang melihat Kirana dengan mengulas senyuman manis.

__ADS_1


"Putriku kamu kembali." Tiga kata itulah yang Mama Pak Saka katakan. 


Pak Saka menegang di posisinya berdiri, pertemuan singkat dengan Kirana ternyata membuat wanita yang telah melahirkannya itu seakan tertarik dari dunianya sendiri dan kini kembali menjajaki dunia nyata untuk yang pertama kalinya.


"Mama," jawab Kirana dengan mengulas senyuman manis. "Pak Saka berangkatlah bekerja biar aku yang menjaganya," kata Kirana dengan tersenyum tipis sekali.


Pak Saka menganggukkan kepalanya kemudian melangkah mendekati kursi roda sang Mama dan mendorong kursi roda itu sampai berada di samping sofa tempat Kirana duduk.


"Mama, Saka akan berangkat kerja," pamit tak Saka pada wanita paruh baya itu.


"Ya, hati-hati," jawab Moelen.


Pak Saka menganggukkan kepala lalu berjalan keluar dari ruangan kamar ini. Pak Saka mengintip di balik pintu yang terbuka terlihatlah Kirana sedang bercerita kepada mamanya. Wanita itu sesekali tersenyum bahagia begitu juga dengan sang Mama yang menanggapi candaan Kirana dengan seolah senyuman tipis, senyuman itu menular pada Pak Saka dan membuat hatinya merasa hangat sekali.


"Kirana kehadiranmu bagaikan pelita yang menerangi kehidupan kami," gumam Pak Saka kemudian menutup pintu ruangan ini.


***


Pak Saka membaca laporan yang Asisten Jodi taruh di atas meja kerjanya sesuai dengan apa yang dirinya perintahkan semalam. Pak Saka langsung melemparkan laporan itu ke lantai karena emosi, lelaki itu meraih gagang telepon kemudian memanggil Jodi masuk ke dalam ruangannya.


Jodi masuk ke dalam ruangan Pak Saka kemudian membungkukkan sedikit tubuhnya. 

__ADS_1


"Jodi! Pastikan semua perusahaan tidak mau menjalin hubungan dengan perusahaan milik Brian-suami Kirana!" Perintah Pak Saka. Habis sudah kesabaran Pak Saka setelah mengetahui jikalau selama 5 tahun menikah Brian terus saja membuat Kirana bersedih, mengapa sekarang wanita itu menjadi sangat penting baginya dan ingin ia jaga.


__ADS_2