
Sang mentari mulai meninggalkan tahta menampakan rembulan yang mulai menghiasi malam. Kirana menengadahkan wajahnya menatap langit, jutaan bintang bertaburan di angkasa. Entah mengapa langit terlihat begitu indah di malam hari ketika Pak Saka ada di sampingnya, ini untuk kali pertama Kirana tidak membenci datangnya malam.
"Kamu akan pulang jam berapa?" tanya Pak Saka pada Kirana.
Semua kedamaian yang tadi sempat Kirana rasakan langsung melebur bersama dengan ucapan Pak Saka yang menerobos gendang telinganya, Kirana menatap ke arah Pak Saka kemudian mengedarkan pandangannya ke halaman rumah yang nampak begitu asri karena begitu banyak pepohonan yang tumbuh halaman rumah ini.
"Sekarang sudah pukul berapa?" tanya Kirana. Kirana sengaja mematikan ponselnya seharian ini karena ia begitu malas sekali jika harus membaca pesan-pesan dari Brian yang pastinya akan membuat hatinya sakit.
"Sekarang sudah pukul 09.00 malam," jawab Pak Saka.
Kirana mulai beranjak berdiri dari posisi duduknya perlahan, Pak Saka yang mengetahui akan hal itu ikut beranjak berdiri lalu memegangi lengan Kirana karena takut wanita itu. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat jantung Kirana kembali berdetak tidak stabil hingga Kirana pun memutuskan menarik tubuhnya dari dekat Pak Saka.
"Saya bisa berjalan sendiri," kata Kirana. "Saya akan pulang sekarang," sambung Kirana lagi.
"Jika kamu tidak ingin pulang maka kamu bisa berada di sini," sahut Pak Saka yang menarik pandangan Kirana. "Maksud saya kamu bisa di sini sedikit lebih lama lagi," sambung Pak Saka mencoba menjelaskan pada Kirana supaya wanita itu tidak salah paham dengan apa yang ia ucapkan barusan.
"Saya akan pulang sekarang saja," jawab Kirana.
"Biar saya yang antar," sambung Pak Saka.
"Mobil saya sudah ada di sini dan saya akan mengemudikannya sendiri," tolak Kirana. "Saya bisa menahan rasa nyeri di kaki ini karena tadi sudah diobati dan juga sudah meminum obat pereda rasa nyeri, Pak tidak perlu merasa cemas." Kirana sengaja berbicara seperti itu agar Pak Saka tidak buka suara dan membujuknya supaya mau diantarkan pulang.
__ADS_1
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Masuklah bekerja setelah kondisimu membaik," kata Pak Saka pada Kirana dengan tatapan teduh.
"Saya merasa sangat bahagia sekali ketika bersama dengan Mama, maksud saya Nyonya Moelen. Saya merasa seperti melihat almarhum Mama saya kembali," jelas Kirana sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Kamu boleh memanggilnya mama dan kamu juga boleh menemuinya kapanpun kamu inginkan," kata Pak Saka sembari membukakan pintu mobil untuk Kirana.
Setelah berpamitan Kirana mulai melajukan mobilnya menjauhi halaman rumah ini, Pak Saka masih menatap ke arah mobil Kirana yang baru saja melewati gerbang rumahnya setelah mobil itu tak terlihat barulah Pak Saka memutar tubuhnya melangkah masuk ke dalam rumah.
"Semoga lelaki itu tidak menyiksamu lagi Kirana atau Aku tidak akan bisa menahan diri untuk tidak menghancurkannya," batin Pak Saka sembari menutup pintu rumahnya.
***
Mobil yang sedang di ranah kemudikan hampir saja mendekati gerbang rumahnya, tetapi ada yang aneh. Sebelum ia membunyikan klakson gerbang rumahnya telah terbuka lebar-lebar seakan sang pemilik rumah sudah menantikan kedatangannya sejak dari tadi. Dengan jantung yang berdekup kencang Kirana melajukan mobilnya memasuki gerbang tersebut dan dua orang pengawal langsung menutup gerbangnya seakan ingin mengunci Kirana di dalam sana.
"Kau baru pulang?" tanya Brian yang lebih mirip seperti suatu kritikan.
"Ya," jawab Kirana singkat. Kirana yang merasa tidak nyaman dengan sorot mata Brian buru-buru melangkahkan kakinya menuju ruangan tengah tetapi tangan Brian memegangi lengannya membuat langkah Kirana terpaksa berhenti.
"Ada apa?" tanya Kirana.
"Kamu bilang ada apa?!" Bentak Brian hingga membuat telinga Kirana hampir saja berdarah-darah.
__ADS_1
"Brian Kenapa kamu berteriak seperti itu," bentar Kirana tidak kalah kerasnya.
"Berani sekali mulutmu itu membuka suara lebar-lebar di," kata Brian dengan menarik kasar rambut Kirana hingga membuat wanita itu terpaksa menatap ke plafon ruangan tamu rumah ini dengan meringis kesakitan. "Apa yang kamu ceritakan kepada Pak Saka?" tanya Brian sembari menghempaskan tubuh Kirana hingga jatuh di lantai.
Seorang wanita cantik melenggang masuk ke dalam ruangan tamu rumah ini dan wanita itu sempat terkejut ketika melihat perdebatan sepasang suami istri itu, wanita cantik dengan baju kekurangan bahan itu melangkah mendekati Brian kemudian mengecup bibirnya sekilas.
"Sayang apakah aku datang di saat yang salah?" tanya wanita malam itu dengan tidak tahu diri.
"Tentu saja tidak, pergilah ke kamarku nanti aku akan menemuimu setelah membereskan wanita sialan ini," kata Brian pada wanita malam tersebut. Brian sempat menyentuh bagian belakang wanita malam itu sebelum sang wanita tersenyum kemudian melangkah menjauh.
"Sungguh menjijikkan sekali," batin Kirana lalu berdecih.
"Kamu jauh lebih menjijikkan dari pada wanita," kata Brian yang tidak terima dengan ucapan belalang. Kirana hanya diam malah menanggapi lelaki gila diadakannya ini. "Sekali lagi aku bertanya apa yang kamu ceritakan kepada Pak Saka," bentak Brian sembari melangkah mendekati Kirana yang masih terduduk di lantai.
Suara sepatu pantofel Brian yang mengetuk-ngetuk lantai seakan seperti sedang mengancam Kirana.
"Aku tidak mengatakan apapun dia melihat semua perlakuan kasarmu itu sendiri," jawab Kirana yang tidak mau disalahkan. "Seharusnya kamu menyalahkan dirimu sendiri karena sudah bersikap kejam kepada seorang wanita," sambung Kirana menghardik Brian dengan kata-katanya.
"Kamu pikir aku akan percaya dengan wanita murahan sepertimu! Kamu pasti meminta kepada Pak Saka untuk menekan perusahaanku sehingga semua orang menjauhiku, ketika aku meminta bantuan." Brian terus saja menuduh Kirana hingga membuat wanita itu semakin merasa jengah. Tangan Brian hendak mencengkeram rahang Kirana, tetapi Kirana langsung menepisnya dengan kasar membuat kedua bola mata Brian melebar karena kaget. Selama ini Kirana selalu dia meskipun ia pukul ataupun ia maki tetapi untuk kali ini wanita yang ada di hadapannya berani melawannya.
__ADS_1
"Jangan pernah berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu Brian! Atau akan Aku pastikan jikalau kita berpisah secepatnya dan kau akan jadi gelandangan di pinggir jalan, kamu pikir dirimu itu siapa? Kamu bisa hidup mewah dan juga megah karena harta peninggalan kedua orang tuamu." Kirana sudah tidak bisa menahan lidahnya untuk tetap diam kesabarannya sudah diambang batas.