
Kirana sudah memejamkan kedua matanya pasrah menerima kematian yang menyakitkan dan juga tidak pernah a inginkan, tapi suara seseorang mulai terdengar dan membuat Kirana perlahan membuka manik matanya. Kirana melihat Pak Saka menendang Brian, hingga membuat lelaki itu jatuh tersungkur di lantai rumah ini.
“Tangkap lelaki sialan itu!” perintah Pak Saka pada orang-orang kepercayaannya itu. Sebenarnya Pak Saka ingin menghajar lelaki itu mengunakan kedua tangannya sendiri, tapi ia mengesampingkan keinginannya ketika melihat kondisi Kirana yang sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai dengan cairan merah yang menyenangi tubuhnya.
Kirana mengulas senyuman tipis ketika mengetahui Pak Saka datang untuk menyelamatkannya.
“Kirana ... Kirana bertahanlah,” ujar Pak Saka dengan manik mata yang sudah diselimuti oleh kristal bening. Pak Saka hancur ketika melihat kondisi wanita yang selalu ingin ia jaga tergeletak tak berdaya.
Kirana mengangkat tangannya hendak menyentuh bulir bening yang sekarang sudah menetes di pipi Pak Saka, tapi belum sempat tangan Kirana menyentuh Pipi Pak Saka, ternyata ia sudah kehilangan kesadaran.
Rumah sakit.
__ADS_1
Pak Saka dan juga Asistennya menunggu di depan ruangan UGD. Pintu ruangan itu tak kunjung terbuka membuat hati Pak Saka semakin bertambah gelisah sekali. Ingin rasanya ia menerobos masuk ke dalam pintu itu dan melihat kondisi wanita yang begitu ia sayangi secara langsung tapi pak Saka tak mungkin melakukannya karena takut menggangu konsentrasi para medis yang sedang berjuang menyelamatkan Kirana.
1 jam kemudian.
Akhirnya pintu ruangan itu mulai terbuka, Pak Saka dan juga asistennya segera melangkah menghampiri Dokter yang berada di depan pintu.
“Kondisi Nona Kirana baik-baik saja, terdapat luka di pelipisnya dan sudah kami jahit, Nona Kirana sempat kehilangan banyak darah, tapi kini kondisinya sudah stabil. Dia masih dalam pengaruh obat bius dan mungkin butuh beberapa jam untuk kembali sadar,” ujar sang Dokter.
“Tuan ... saya ikut senang melihat kondisi Nona Kirana baik-baik saja,” kata Asisten Pak Saka.
“Pergilah! Dan pastikan bajina.. itu merasakan akibatnya,” ujar Pak Saka pada asistennya.
__ADS_1
“baik Tuan.”
Di sisi lain.
“Keluarkan aku dari ruangan ini, aku tidak salah! Wanita sialan itu yang sudah mencari masalah terlebih dahulu,” kata Brian masih mencoba untuk membebaskan dirinya dari kurungan jeruji besi.
Seorang polisi melangkah menghampiri tempat di mana Brian berada, tentu saja di dalam sel. “Semua rekaman cctv yang ada di dalam rumah kamu sudah kami simpan, lalu bagaimana cara kamu untuk lolos dari masalah ini?” tanya polisi itu dengan seringai kejamnya.
Brian bukannya merasa takut lelaki itu justru tertawa terbahak-bahak setelah mendengarkan ucapan abdi negara yang ada di depannya ini. “Aku sudah memastikan jika rekaman cctv yang ada di dalam rumahku mati, mana mungkin ada rekaman itu,” kata brian dengan penuh percaya diri.
“Apakah kamu tidak merasa heran, kenapa Pak Saka dan juga kami bisa tiba di sana ketika kamu sedang menganiaya istrimu itu?” tanya Pak Polisi balik.
__ADS_1
Brian terdiam sejenak kemudian lelaki itu mulai buka suara. “Jangan bilang jika lelaki sialan itu menaruh ruangan cctv di daam rumahku?” tanya Brian dan sang polisi langsung menjawab dengan anggukkan kepala.