
Pak Saka melewati ruangan kerja Kirana, lelaki itu berhenti sejenak di depan pintu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar, wanita yang ia cari sudah tidak berada di dalam ruangan kerjanya hal itu menunjukkan jika Kirana sudah pulang bekerja dan wanita itu tidak lembur hari ini.
Pak Saka mengulas senyuman tipis karena merasa bahagia, dengan tergesa-gesa lelaki itu melangkah menuju pintu lift yang kebetulan terbuka setelah seseorang keluar dari dalam sana. setelah berada di dalam lift Pak Saka mengarahkan tangannya untuk memegangi dadanya yang berdetak tidak karuan.
"Astaga! Aku sangat bahagia sekali ketika memikirkan jikalau Kiran sudah menanti kedatanganku di rumah," batin Pak Saka yang seakan lupa jikalau wanita yang baru saja namanya dirinya sebut ialah sudah bersuami.
Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya mobil yang Pak Saka kemudian sendiri melewati gerbang rumahnya, Pak Saka mengerutkan kening ketika mengedarkan pandangan dan tidak mendapati mobil Kiran di halaman rumahnya.
"Ataukah mungkin Kiran datang ke rumah ini dengan mengendarai mobil online?" tanya Pak Saka pada dirinya sendiri.
"Di mana keberadaan Kiran?" tanya Pak Saka setelah berpapasan dengan asisten rumah tangganya.
"Mbak Kiran tidak datang kemari," jawab wanita paruh baya itu.
Pak Saka menjawab dengan anggukan kepala. "Apakah Mama saya sudah tidur?" tanya Pak Saka pada asisten rumah tangganya itu.
"Saya sudah memberikan obat penenang untuk nyonya, beliau sejak dari tadi pagi terus saja mencari keberadaan Mbak Kiran," jawab wanita paruh baya itu.
"Baiklah kamu boleh pergi sekarang!" perintah Pak Saka pada asisten rumah tangganya.
Pak Saka melangkah menuju ruangan mamanya berada, lelaki itu menatap ke arah wanita yang telah melahirkannya, setelah menyaksikan sendiri jikalau wanita yang telah melahirkannya itu sudah terlelap di dalam tidurnya Pak Saka kembali melangkah keluar dari ruangan kamar ini.
__ADS_1
Setelah berganti baju santai Pak Saka duduk di teras rumahnya, netral lelaki itu terus saja menatap ke arah gerbang rumah ini menantikan kehadiran Kiran. Selama satu jam berselang wanita yang ia nantikan tidak kunjung datang membuat hati paksakan merasa tidak tenang, apalagi ketika lelaki itu mengingat ketika Kiran keluar dari ruangan kerjanya wanita itu tidak mengucapkan satu patah pun.
"Apakah terjadi sesuatu kepada Kiran? Dia tadi sudah berjanji kepadaku jikalau akan datang kemari tetapi sampai pukul 08.00 malam dia tidak datang juga," batin Pak Saka di dalam hatinya.
Di sisi lain.
Kirana sedang merubahkan tubuhnya di atas ranjang dengan tatapan lurus ke depan. Kirana mencoba untuk memejamkan kedua matanya tetapi bayangan Pak Saka terus saja mendatanginya membuat hati Kirana merasa tidak tenang. Kirana mendudukan tubuhnya kemudian mengacak-acak rambutnya merasa frustasi. ingin sekali Kirana melesat keluar dari ruangan ini kemudian menuju kediaman Pak Saka, tapi Kirana masih terlalu waras hingga tidak menjatuhkan harga dirinya seperti itu meskipun ia begitu merindukan Mama Moelen.
"Aku merasa begitu senang dan juga tenang ketika berada di samping Mama Moelen," batin Kirana.
Kirana tidak ingin terus-menerus memikirkan Pak Saka, wanita itu memutuskan masuk ke dalam kamar mandi guna untuk membersihkan tubuhnya dan juga berganti pakaian tidur. Ketika Kirana hendak menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang terdengarlah suara ketukan pintu dari luar ruangan ini.
"Siapa?" tanya Kirana sembari melangkah menuju pintu ruangan kamarnya.
Untuk apa lelaki tak bermoral itu berada di depan kamarnya? selama 4 tahun lelaki itu tak pernah mengetuk pintu kamarnya lagi tetapi hal itu terjadi kali ini membuat Kirana membeku di posisinya seakan ada balok es yang sekarang sedang menyelimuti sekujur tubuhnya. Kirana menggenggam ponselnya dengan begitu erat, rasanya Kirana tidak ingin membukakan pintu untuk lelaki itu tetapi lelaki sialan tersebut mengetuk pintu kamarnya untuk yang kali kedua.
"Kirana bukalah pintunya aku ingin berbicara denganmu," kata Brian.
Kirana akhirnya kembali melangkah, ponsel yang ada di tangannya bergetar tanpa melihat ke layar ponsel tersebut Kirana langsung menggesernya dan tanpa dia sadari jikalau sekarang dia sedang menggeser tombol berwarna hijau karena Pak Saka sedang menghubunginya.
Kirana mulai mengarahkan tangannya untuk memutar kenop pintu, setelah pintu terbuka separuh barulah Kirana bisa melihat Brian berada di depannya.
__ADS_1
"Ada apa kau mencariku?" tanya Kirana dengan suara terdengar jutek. Wajah wanita itu juga tak menunjukkan bersahabatan sama sekali.
Di sisi lain.
"Kita adalah sepasang suami istri, bukankah sudah sewajarnya jika kau mempersilahkan aku masuk ke dalam kamar." kedua bola mata Pak Saka langsung membulat penuh setelah mendengarkan suara Brian.
"Jangan bersikap seperti lelaki bertanggung jawab, Aku sedang merasa lelah sekarang sebaiknya kau pergi saja ke kamarmu sendiri dan bermainlah bersama dengan wanita-wanita itu." Sorot mata Pak Saka berubah menajam setelah mendengarkan suara Kirana, lelaki itu terus saja melihat ke arah mobilnya seakan ia ingin langsung melesatkan mobil itu menuju kediaman wanita yang ia cintai dan menjauhkan wanita itu dari suaminya.
Pak Saka hanya bisa menghela nafas kasar setelah menyadari jika dirinya bukanlah siapa-siapa bagi Kirana. tapi cinta tidak pernah memilih pada siapa ia akan berlabuh dan yang lebih miris Pak Saka mencintai istri lelaki lain.
"Aku tidak membawa satu wanita pun hari ini. Aku menginginkanmu."
"Sialan! Sialan! Sialan. kenapa sambungan teleponnya terputus seperti ini, apa yang akan mereka berdua lakukan?" tanya Pak Saka sembari menatap ke arah layar ponselnya.
***
Pak Saka sengaja berangkat ke kantor Pagi sekali karena ia ingin menemui Kirana, semalaman lagi itu tak bisa memejamkan matanya karena terus saja terbayangkan percakapan gimana dan juga Brian semalam, Pak Saka tahu perasaan ini salah tapi dirinya tidak bisa menghentikan perasaan ini, mencoba untuk melupakan Kirana itu tidak akan bisa ia lakukan wanita itu sudah menetap di relung hatinya.
Pak Saka masuk ke dalam lift dan secara kebetulan ada seorang wanita yang terburu-buru ingin ikut masuk ke dalam lift, tetapi wanita itu segera mengurungkan langkahnya saat mengetahui jika Pak Saka lah yang berada di dalam lift tersebut.
"Kiran," panggil Pak Saka ketika wanita itu sudah memutar tubuhnya hendak menjauh dari pintu lift yang masih terbuka.
__ADS_1
"Saya lupa menaruh ponsel saya di dalam mobil, saya tidak jadi naik lift," dusta sengaja Kirana ucapkan agar ia tidak berada di dalam satu ruangan lift bersama dengan bosnya itu.
Tanpa menunggu sahutan dari Pak Saka, Kirana langsung melangkah pergi tetapi tangan kekar bahasa kamu menggenggam lengannya kemudian menarik Kirana masuk ke dalam lift.