
Salah satu pengawal membungkukkan tubuhnya dengan salah satu tangan membuka pintu ruangan Nona Kiran berada. Pak Saka masuk ke dalam ruangan ini tanpa mengucapkan terima kasih, untuk apa mengucapkan hal tak penting seperti itu sedangkan mereka semua adalah para pekerjanya, sikap Pak Saka akan melunak ketika ada di depan Kirana saja.
Pak Saka melangkah perlahan menuju ke ranjang pasien di mana wanita yang sangat ia sukai sedanng terbaring dengan kedua pelupuk mata yang terpejam sempurna. Pak Saka mengulas senyuman manisnya ketika ia melihat ke Kiran, hati lelaki itu selalu merasa damai sekali ketika mengetahui jika Kiran ada di hadapannya sekarang, Kirana benar-benar membuat jantungnya berdetak dengan tidak stabil, lelak itu berhasil mencuri hati Pak Saka dan sebelumnya tak pernah ada wanita yang melakukan hal ini padanya, tidak ada selain Kiran.
“Kamu cantik sekali Kiran meskipun sedang tertidur,” puji Pak Saka ketika melihat wajah polos tanpa make up itu.
Selang beberapa saat kemudian.
Kirana mulai membuka kedua pelupuk matanya, ia melihat kini Pak Saka sudah duduk di soda dengan manik mata yang melihat ke layar laptopnya. Kirana mendudukkan tubuhnya perlahan, mengucek kedua matanya mencoba untuk menyingkirkan rasa takut yang seakan enggan meninggalkannya.
“Sejak kapan Pak Saka ada di sini?” tanya Kirana dengan suara parau khas orang bangun tidur.
“Sejak, satu jam yang lalu,” jawab Pak Saka.
Kirana mengangkat pandangannya melihat ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 15,00 ini adalah jam kerja dan Pak Saka sudah ada di dalam ruangannya, ataukah mungkin Pak Saka buru-buru datang kemari setelah mengetahui jika Rossa sudah pulang sejak jam 11 siang tadi? Kirana sadarlah, mana mungkin Pak Saka rela meninggalkan pekerjaannya hanya karena ingin bertemu dengan kamu, tidak mungkin.
“Maaf saya tidak tahu jika Pak Saka datang,” ujar Kirana pada Pak Saka.
“Tidak masalah, tidurlah lagi,” pinta Pak Saka ketika melihat Kirana baru saja menguap dua kali.
“Tidak, saya sudah tak mengantuk lagi,” jawab Kirana. “Masih jam segini, tapi Pak Saka sudah tidak ada di kantor apakah semua pekerjaan Pak Saka sudah selesai?” tanya Kirana. “Maksud saya, bukan untuk iut campur saya hanya sedang bertanya saja,” jelas Kirana lagi.
“Saya kemari karena ingin menjaga kamu, mana mungkin saya akan membiarkan kamu berada di ruangan ini sendiri,” ujar Pak Saka.
Deg! Jantung Kirana berdetak dengan begitu kencang setelah mendengarkan penuturan Pak Saka barusan, lelaki itu datang kemari untuk menjaganya, ada perasaan hangat yang sulit sekali untuk bisa Kirana jelaskan sekarang. Kirana benar-benar merasakan gelora asmara yang sempat mereda kini kian membara bagaikan korek api yang dilemparkan pada genangan bensin. Sekelebat wajah Brian yang begitu beringas membuat perasaan bahagia itu melebur begitu saja, wajah Kirana kembali datar tanpa seulas senyuman.
“Pak Saka tak perlu repot melakukan semua itu,” kata Kirana dan tak mendapatkan jawaban apapun dari Pak Saka, entah apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu sekarang.
__ADS_1
“Pak Saka, kira-kira kapan saya akan keluar dari rumah sakit, saya sudah merasa jauh lebih baikan sekarang, luka di kepala memang terasa nyeri tapi itu adalah suatu hal yang wajar,” jelas Kirana. Ia sudah tak tahan untuk segera pulang ke rumah, tunggu dulu. Rumah! Kata itu membuat sekujur bulu halus yang ada di tubuh Kirana meremang dengan begitu sempurna. Itu adalah rumah Brian dan bukan rumahnya, jika lelaki itu menyuruh orang utnuk membunuhnya bagaimana? Kirana akan mati.
“Kamu sudah boleh pulang sekarang,” jawab Pak Saka.
Sebenarnya sudah dua hari yang lalu Dokter mengijinkan Kirana untuk pulang ke rumah karena kondisinya sudah jauh lebih baikan, tapi pak Saka tak memberitahukan hal itu pada Kiran karena takut jika wanita yang sangat ia sukai masih merasa trauma dengan apa yang sempat terjadi di kediamannya.
Kirana memasang wajah cemas, ia tak ingin pulang ke rumah Brian, tapi semua kartu atmnya ada di rumah itu. Pak Saka bisa mmengartikan kerutan yang ada di kening Kirana pun ia mulai buka suara.
“Pulang ke rumah saya!”
Kirana menyentak pandangannya ke arah Pak Saka karena kaget. "Kenapa saya harus pulang ke rumah Anda?" tanya Kirana.
"Kiran, saya tidak akan mengijinkan kamu untuk pergi ke rumah kemari itu! Meskipun kamu memohon saya tak akan pernah mengijinkannya, saya tidak bisa melihat kamu tersakiti lagi," jelas Pak Saka. Wajah datar lelaki itu kini mulai berubah menjadi sendu. Sorot matanya yang bergerak kesana-kemari seakan tidak tenang, ada rasa takut yang jelas terlihat dari manik mata itu.
"Saya akan pulang ke rumah Rossa, saya tak akan pulang ke rumah Brian sampai kapanpun," jelas Kirana. "Saya akan meminta bantuan pada Rossa untuk pergi ke rumah itu dan membawa baju serta barang-barang penting dari kamar saya, saya akan mencari tempat tinggal sementara setelah beberapa hari tinggal di rumah Rosa," jelas Kirana lagi lebih detail dari sebelumnya.
Kiran terdiam sejenak kemudian mulai menatap ke arah Pak Saka setelah ia mengambil keputusan. "Baiklah," jawab Kirana. Kirana bisa melihat senyuman tipis yang terukir manis dibibir Pak Saka setelah mendengarkan jawaban darinya.
"Kiran, terima kasih," kata Pak Saka.
"Pak Saka, bisakah jika Anda membantu saya untuk pisah dari Brian? Saya tidak perduli dengan harta gono-gini, yang terpenting saya bisa berpisah darinya." Kirana sudah berusaha untuk tak menimbulkan getaran dalam suaranya, tapi ia gagal melakukannya. Satu bulir air mata tetes membasahi Kirana, pernikahan bahagia yang selama ini selalu ia impikan tak pernah terjadi dan justru kesengsaraan dan juga penderitaan yang ia alami. Miris sekali.
"Aku akan membantu kamu, akan aku lakukan secepatnya." Pak Saka bukan seperti menjawab ucapan Kirana, tapi ia seperti sedang berjanji pada Kirana.
1 tahun kemudikan.
Saat ini Kirana telah bercerai dengan Brian, entah bagaimana dengan nasib lelaki itu! Dan yang pasti, dia masih mendekam di dalam penjara dan juga menjadi kacung semua tahanan yang ada, itu pantas memang pantas ia dapatkan.
__ADS_1
Selama 1 tahun ini, Kirana tinggal di rumah Pak Saka. Kirana sudah tidak bekerja di perusahaan karena ia kini bekerja di rumah Pak Saka menjadi pengurus Mama Moelen. Wanita paruh baya itu bahkan tak mau ditinggikan oleh Kirana bekerja dan alasan itulah yang membuat Kirana memilih untuk berhenti dari pekerjaannya.
Moelen terlihat jauh lebih baikan ketika di jaga oleh Kirana, bahkan kini wanita itu juga sudah sembuh seperti sedia kala, depresi yang sempat wanita paruh baya itu derita sembuh secara perlahan ketika di jaga oleh Kirana dan dibantu oleh rekan-rekan medis tentunya.
Sore hari ini Kirana sedang duduk di teras rumah dengan Mama Moelen, keduanya berbincang-bincang hingga masuklah mobil milik Pak Saka dari gerbang utama rumah ini.
Pak Saka turun dari dalam mobil, manik lelaki itu tertuju pada kedua wanita yang sangat ia cintai, wanita yang telah melahirkannya dan juga wanita yang begitu ia sayangi.
Moelen melihat ke arah putranya dan sesaat kemudian melihat ke arah Kirana secara bergantian. Moelen memegang tangan Pak Saka, kemudian tangannya yang lain mengenggam tangan Kirana. Menyatukan tangan Pak Saka dan juga Kirana dalam genggaman lembutnya kemudian berkata.
"Aku tahu kalian saling mencintai, menikahlah. Agar kita bisa hidup sebagai keluarga," kata Moelen dengan melihat ke arah putra dan juga calon menantunya.
Jantung Pak Saka bergetar dengan begitu cepat sekali ketika ia melihat ke arah wajah Kirana yang nampak datar. Selama ini Pak Saka sudah sangat senang sekali ia bisa melihat Kirana berada di rumahnya, hingga ia tak berani mengungkapkan perasaannya jika ingin menjadikan Kirana istrinya.
"Kiran, kenapa kamu diam saja? jawablah," kata Pak Saka dengan suara yang terdengar mantap. Tapi sungguh di dalam hati lelaki itu sedang gemeter hanya saja Pak Saka begitu pandai sekali menyembunyikan perasaannya.
"Aku tak bisa menikah tanpa cinta," kata Kirana. Ya, selama ini Pak Saka memang belum pernah mengungkapkan perasaannya pada Kirana. Meskipun wanita itu bisa melihat dengan cara Pak Saka memperlakukan dan juga menghargai, tapi seorang wanita butuh ungkapan untuk lebih memantapkan hatinya pada siapa ia akan memilih untuk mencari tambatan hati.
"Aku mencintai kamu sejak lama, mungkin sejak aku datang ke ruangan kamu waktu pertama kali. Maukah kamu menikah dengan saya?" tanya Pak Saka.
Kirana mengulas senyuman manisnya. Ia percaya jika Pak Saka tak akan sama dengan Brian dan kehidupan rumah tangganya pasti akan berhasil kali ini.
"Saya mau menikah dengan Pak Saka," jawab Kirana.
Pak Saka memeluk Kirana dalam kebahagiaan. Moelen tersenyum bahagia melihat putra semata wayangnya mendapatkan perhatian wanita yang tepat.
Kisah selesai.
__ADS_1