Ketika Mama Salah Pilih Menantu

Ketika Mama Salah Pilih Menantu
Menginap Di Rumah Pak Saka


__ADS_3

Pak Saka sedang duduk di dekat ranjang Kirana, lelaki tampan itu terus saja menatap ke arah wajah pegawainya yang masih terlelap tidur karena pengaruh obat bius yang tadi sempat sang dokter suntikan pada Kirana. Tangan Pak Saka terulur untuk menyibakkan beberapa anak sulur rambut Kirana yang menutupi sebagian wajahnya, netra Pak Saka menatap ke arah bibir Kirana yang bergerak perlahan seperti sedang mengucapkan sesuatu, Pak Saka mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan telinganya ke bibir Kirana mencoba untuk mendengarkan apa yang wanita itu gumamkan.


"Mama, lihatlah lelaki itu menyakiti Kirana, Kirana ingin ikut dengan Mama." Kedua bola mata Pak Saka membulat penuh setelah menangkap apa yang Kirana katakan.


Lelaki itu beranjak berdiri dari posisi duduknya lalu menyambar ponsel yang ada dalam jangkauannya, Pak Saka mulai mengotak-atik ponselnya mencari nomor orang kepercayaannya dan setelah ia dapatkan barulah lelaki itu memencet tombol hijau pada layar berbentuk pipih di genggamannya, tidak menunggu lama seseorang yang coba Pak Saka hubungi langsung mengangkat panggilan telepon darinya.


"Jodi selidiki siapa suami Kirana Arawindra yang merupakan salah satu pekerja di perusahaanku!" Perintah Pak Saka pada orang kepercayaannya.


"Baik, saya akan sesegera mungkin memberikan semua data-data tentang nona Kirana Arawindra," jawab seseorang yang ada di seberang sana.


"Sebelum aku datang ke perusahaan besok hasil penyelidikan itu harus sudah ada di atas mejaku." Tanpa menunggu sahutan dari orang kepercayaannya Pak Saka langsung menutup panggilan teleponnya secara sepihak.


***


Kirana mulai mengecap mengerjakan kedua bola matanya, selamat selamat netra wanita itu mulai bisa melihat dengan sangat jelas jikalau kini dia tidak berada di dalam ruangan kamar rumahnya, tetapi Ini adalah ruangan kamar yang begitu asing di ingatannya. Kirana membuka selimut berwarna hitam yang menutupi sebagian tubuhnya, kedua bola mata wanita itu langsung membulat penuh saat menyadari jikalau baju yang ia kenakan sudah berbeda dengan baju yang ia kenakan tadi malam. 


Kirana mendudukkan tubuhnya dengan satu tangan masih memegangi kepalanya yang terasa pusing, Kirana mengedarkan pandangannya dan ia melihat seorang lelaki sedang terlelap tidur dengan posisi duduk di kursi dekat ranjang yang ia tempati.


"Pak Saka," kata Kirana. "Apakah mungkin aku berada di dalam rumah Pak Saka?" tanya Kirana pada dirinya sendiri sembari menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

__ADS_1


Kirana beranjak berdiri dengan kasar, iya langsung memetik kesakitan ketika kakinya yang terluka menyentuh lantai marmer ruangan kamar ini, Kirana mulai kehilangan keseimbangan dan ia hampir saja terjatuh tetapi sepasang tangan langsung meraih pinggangnya dan berakhirlah Kirana di dalam pangkuan Pak Saka.


"Hati-hati kakimu masih terluka," kata Pak Saka mencoba mengingatkan Kirana. 


Netra Kirana melihat ke arah menikmata Pak Saka yang masih memerah menandakan jikalau lelaki itu tentu saja masih mengantuk. Mungkinkah Pak Saka menjaganya semalam? Mana mungkin bos angkuhnya itu mau menjaganya. 


"Ma-maafkan saya Pak Saka," kata Kirana sembari hendak beranjak berdiri, tetapi Pak Saka langsung mengurungkan niatnya dengan menarik pinggang Kirana semakin mendekat padanya.


Jarak di antara keduanya semakin terkikis, aroma nafasmin lelaki itu menerpa wajah Kirana hingga membuat wajah itu memanas ketika. Jantung Kirana berdetak dengan begitu kencang sekali ketika berada begitu dekat dengan bosnya ini, kenapa jantung Kirana tiba-tiba berdetak dengan begitu kencang sedangkan selama ini ketika dekat dengan suaminya Kirana tak pernah merasakan hal semacam ini. Ataukah mungkin Kirana mulai jatuh cinta pada Pak Saka? Sepertinya tidak mungkin yang ada pasti Kirana merasa malu karena berada di posisi seperti ini dengan bosnya sendiri.


"Jangan menjejakkan kakimu di lantai pasti akan terasa sakit aku akan membantumu." Entah mengapa Kirana merasa jikalau suara pak Saka terdengar begitu lembut sekali. Andaikan saja Brian bersikap seperti ini padanya sudah bisa dipastikan Kirana akan ... Untuk apa berandai-andai hal yang tidak penting! 


"Baju saya semalam?" tanya Kirana pada Pak Saka. Tatapan mata Kirana nampak menyelidiki ke arah bosnya itu dan Pak Saka mengerti apa arti tatapan Kirana padanya.


"Kamu jangan salah paham dulu kepada saya. Saya meminta pelayan wanita rumah ini untuk menggantikan baju kamu karena baju kamu beraroma alkohol begitu pekat sekali," jelas Pak Saka.


"Saya akan pulang sekarang," kata Kiana sembari menarik punggungnya dari sandaran ranjang.


"Sekarang masih pukul 03.00 dini hari, sebaiknya besok pagi saja kamu pulang dan saya yang akan mengantarkan kamu," jawab Pak Saka sembari menguat kedua kali.

__ADS_1


"Bagaimana dengan mobil saya?" tanya Kirana.


"Saya sudah menyuruh orang kepercayaan saya untuk membawa mobil kamu ke bengkel, perlukah saya suruh orang bengkel untuk membawa mobil kamu ke rumahmu jika sudah selesai diperbaiki?" tanya Pak Saka sembari menatap ke arah Kirana.


"Tidak perlu suruh saja taruh di parkiran perusahaan," jawab Kirana yang langsung mendapatkan anggukkan kepala dari Pak Saka. "Pak Saka terima kasih atas bantuan anda dan maaf karena saya sudah merepotkan Anda, jika semalam Anda tidak datang sungguh saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya malam itu." Bulir air mata kembali jatuh membasahi kedua pipi Kirana, sesenggu kan mulai terdengar keluar dari bibirnya.


"Jangan menangis aku tidak ingin ruangan gambar aku banjir air matamu," kata Pak Saka. Pak Saka tidak pernah memiliki hubungan dengan satu orang wanita pun jadi pantas saja jikalau lelaki itu tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam hal merayu ataupun membujuk seorang wanita.


Kirana terdiam kemudian menatap ke arah paksaka dengan tersenyum tipis. "Kenapa kamu tersenyum?" tanya Pak Saka.


"Baru kali ini saya melihat ada orang yang menghibur wanita sedang menangis dengan cara seperti itu, itu cara yang unik sekali," kata Kirana. Kirana mengulas semua senyumannya semakin lebar ketika melihat Pak Saka menatap ke arah lain seakan lelaki itu sedang malu-malu kucing.


Entah mengapa berada di dekat Pak Saka membuat Kirana merasa sangat nyaman sekali. Kirana melihat ke arah Pak Saka yang kembali menguap.


"Pak Saka istirahatlah terlebih dahulu saya akan berjalan menuju ke ruangan tamu rumah ini dan setelah pagi hari saya akan memesan ojek untuk pulang ke rumah dan berganti baju Setelah itu saya akan berangkat bekerja, anda tidak perlu takut jika sampai saya bolos kerja hari ini," kata Kirana panjang lebar.


"Bodoh! Aku tadi berbicara seperti itu karena takut kakimu akan semakin bertambah parah," jawab Pak Saka pada Kirana. "Liburlah berkerja sampai kakimu sembuh total. Aku tidak ingin melihatmu masuk kerja dengan kaki yang pincang," sambung Pak Saka lagi.


"Aku tidak menyangka ternyata dia mencemaskanku," batin Kirana. Semenjak mamanya meninggal ini untuk kali pertama ada orang yang mencemaskannya dan itu adalah Pak Saka bukan lelaki yang menikahinya.

__ADS_1


__ADS_2