
Tidak pernah aku sangka jikalau Kirana yang sudah memiliki suami ternyata berselingkuh dengan Pak Saka. Pantas saja hampir saja jatuh di depan tubuhnya dengan begitu erat, awalnya aku sudah berpikir ada yang tidak beres, tetapi aku menangis semua itu dengan berpikir positif namun, tidak disangka ternyata mereka berdua memang memiliki hubungan spesial.
Kirana merasakan telinganya mulai terasa tenang ketika mendengarkan gosip-gosip yang masih di rumah dengar dengan begitu jelas. Kirana menggenggam begitu erat bolpoin yang ada di tangannya untuk melampiaskan semua emosi yang sedang menyelimuti sekujur tubuhnya pada sebatang tersebut.
Rossa mendesahkan nafasnya di udara karena merasa sudah tidak tahan mendengarkan gosip yang menyeret nama sahabat baiknya.
"Jika kalian tidak niat untuk bekerja dan malah sibuk bergosip sebaiknya lakukan di luar!" kata Rossa sembari menggebrak meja kerjanya dengan suara yang begitu lantang sekali.
Kirana dan juga semua orang yang ada di dalam ruangan ini, seketika melihat ke arah Rossa dengan wajah yang nampak kaget sekali terutama Kirana. Selama ini Rossa tidak pernah berteriak sekeras itu dan selalu menjaga sikapnya, tetapi demi untuk membela harga dirinya sahabatnya itu sampai berbicara dengan lantang dan menjadi pusat perhatian.
"Rossa, memangnya siapa dirimu hingga membela Kirana seperti itu?" tanya salah satu wanita.
"Aku tentu saja teman Kirana, aku datang ke perusahaan ini untuk bekerja dan tidak bergosip seperti kalian, jika kepala bagian mendengarkan ucapan kalian itu apakah mungkin kalian masih bisa tetap duduk tenang di dalam ruangan ini." Secara tidak langsung Rossa mengancam mereka semua.
Semua orang yang ada di dalam ruangan ini langsung terdiam, mereka semua tahu dengan sangat jelas jikalau peraturan di dalam perusahaan ini ialah 'sedikit bicara dan terlalu banyak bekerja' aturan itu harus dipatuhi oleh siapapun yang bekerja di dalam perusahaan ini atau mereka akan dipecat.
"Kenapa kalian diam? Takut jika sampai aku mengadukan kalian semua kepada atasan kita?" tanya Rossa. Rossa merasa sangat puas sekali melihat wajah semua orang nampak memucat.
Kirana langsung menarik tangan rasa hingga sahabatnya itu kembali duduk di kursi kerjanya. Kirana mengedarkan pandangannya ke semua orang yang sekarang sudah sibuk kembali bekerja.
"Rossa, apa yang kamu lakukan? Kenapa berbicara seperti itu?" tanya Kirana kepada Rossa.
"kupingku terasa panas sekali mendengarkan mereka semua mengatakan hal-hal buruk tentangmu, mereka semua bahkan tidak berkaca pada diri sendiri bahkan di dalam ruangan ini ada yang terang-terangan merebut suami orang lain tetapi dia masih bisa berlagak suci dengan menceritakan hal buruk tentangmu dan itu bukanlah suatu kebenaran melainkan hanya alibi-alibi konyol mereka." Rossa berbicara dengan cukup keras agar semua orang yang ada di dalam ruangan ini mendengar perkataannya.
__ADS_1
"Rossa sudah cukup jangan memperpanjang masalah ini, mereka semua juga sudah sibuk bekerja," kata Kirana yang tidak ingin terjadi keributan di dalam ruangan ini.
"Sekali lagi aku mendengar mereka membicarakan hal buruk tentangmu maka akan aku pastikan aib mereka terkuak ke seluruh perusahaan ini." Kali ini ancaman Rossa tidak main-main.
"Rossa sudah cukup," pinta Kirana dengan wajah memohon membuat Rossa menganggukkan kepalanya.
Terdengar suara ketukan pintu di dalam ruangan ini, Terlihatlah Asisten Jodi sedang berdiri di depan ruangan ini dan sorot mata lelaki itu menatap ke arah Kirana.
"Semoga saja Pak Jodi tidak mencariku," batin Kirana dengan mata yang terpejam bahkan kini wanita itu mulai memusatkan pandangan ke arah layar berbentuk pipih yang ada di depannya.
"Nona Kirana, Anda dipanggil Pak Saka di dalam ruangannya," kata Pak Jodi.
Semua pekerja yang tadinya sedang sibuk menatap layar komputernya langsung mengangkat pandangan mereka dan melihat ke asal suara itu. Mereka melihat Pak Jodi menatap ke arah Kirana dan begitu juga sebaliknya.
"Astaga! Aku baru saja berhasil menepis gosip yang sedang beredar, tetapi gosip itu akan kembali lagi ke permukaan setelah mengetahui jikalau Pak Saka memanggil Kirana," batin Rossa dengan menghela nafas lelah.
Kirana sudah beranjak berdiri dari posisi duduknya, Rossa segera menghentikan langkah sahabatnya menggunakan kata-kata.
"Kirana bolehkah aku nitip sesuatu untuk kau sampaikan pada Pak Saka?" tanya Rossa sembari melirik ke sekitar ruangan ini.
"Apa?" tanya Kirana.
"Ceritakan apa yang terjadi di dalam ruangan ini kepada Pak Saka, katakan padanya jikalau semua orang mencurigai kalian memiliki suatu hubungan," kata Rossa dengan sengaja mencoba menakut-nakuti semua orang yang ada di dalam ruangan ini.
__ADS_1
"Kirana jangan lakukan itu, kami semua minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi." Salah satu wanita paruh baya mulai angkat bicara. Kirana menganggukkan kepalanya kemudian melangkah keluar dari ruangan ini dan sebelum itu Kirana sempat mengedipkan satu matanya ke arah Rosa.
Di dalam ruangan Pak Saka.
Semakin berada di dekat Pak Saka membuat Kirana semakin mencintai sosok itu, Kirana benar-benar tidak ingin melakukan hubungan terlarang di belakang Brian meskipun suaminya itu memiliki kelakuan yang benar-benar tidak bermoral dan memperlakukannya dengan sangat buruk. Kirana tidak ingin membalas semua perlakuan Brian dengan hal yang sama.
"Tuhan, tolong jaga hatiku agar tidak melakukan hal terlarang dengannya, buanglah rasa cinta ini jikalau memang kita tak bisa bersama," Fatin Kirana berdoa di dalam hati kepada pemilik alam semesta.
Kirana menundukkan pandangannya karena tidak ingin bersitatap dengan Pak Saka, jantung Kirana sudah meronta-ronta seakan hendak keluar dari tempatnya setiap kali melihat wajah tampan yang selalu ia rindukan setiap detiknya. Kenapa Tuhan menciptakan cinta jikalau tidak membiarkan pemiliknya bersama dengan sang pujaan Hati?
"Duduklah Kiran," kata Pak Saka pada Kirana.
"Baik," jawab Kirana patuh. "Pak Saka bolehkah saya bertanya suatu hal kepada Anda?" tanya Kirana.
"Katakanlah," jawab Pak Saka. Lelaki itu terus saja melihat ke arah Kirana, Pak Saka begitu rindukan wajah wanita itu hingga di setiap malam hanyalah wajah Kirana saja yang selalu bergentayangan di dalam pikirannya.
"Brian semalam bercerita kepada saya jikalau Anda datang ke perusahaannya dan meminta Brian untuk melepaskan saya, apakah benar seperti itu?" tanya Kirana secara gamblang dan juga to the point.
"Apakah semalam dia datang ke kamarmu?" tanya Pak Saka. Lelaki itu bukannya menjawab pertanyaan Kirana tetapi, justru balik bertanya.
"Tidak, kami berbicara di ruangan tamu," jawab Kirana jujur.
"Aku ingin melepaskanmu darinya Kiran," kata Pak Saka.
__ADS_1
"Kenapa Anda ingin membantu saya? Saya sungguh tidak suka dikasihani seperti ini, saya bisa menjalani kehidupan saya sendiri tanpa ada campur tangan Anda," kata Kirana.
"Saya melakukan itu karena mencintaimu."