
Gerbang yang menjulang tinggi itu langsung terbuka setelah melihat jikalau seseorang yang sedang mengemudikan mobil itu adalah Kirana. Para penjaga di rumah Pak Saka sudah mengenali Kirana sehingga ketika wanita itu datang maka tanpa banyak tanya mereka langsung membukakan gerbang tersebut menggunakan remote yang ada di genggamannya.
"Terimakasih," kata Kirana sembari mengulas senyumnya.
"Sama-sama Nona Kirana," jawab sang penjaga dengan senyuman ramah.
Kirana turun dari dalam mobil dan kebetulan sekali Bi Ijah baru saja keluar dari rumah, salah satu tangan wanita itu menggenggam tong sampah, Bi Ijah segera menaruh tong sampah itu di lantai setelah mengetahui Nona Kirana ada di depannya.
"Saya ingin bertemu dengan Mama Moelen," kata Kirana pada Bi Ijah.
"Nona Kirana langsung masuk saja, Nyonya dari kemarin terus mencari keberadaan Nona Kiran sampai tidak mau makan malam," kata Bi Ijah.
"Bisakah setelah membuang sampah pipi mengantarkan makan malam Mama Moelen, biar nanti saya yang menyuapi," pinta Kirana dengan wajah memohon dan bukan seperti sedang memberikan perintah.
"Dengan senang hati saya akan melakukan seperti apa yang Nona Kirana katakan," jawab Bi Ijah.
Kirana masuk ke dalam rumah dan asisten rumah tangga itu kembali melanjutkan tugasnya untuk membuang sampah di depan gerbang.
Perlahan tapi pasti Kirana membuka pintu ruangan kamar Nyonya Moelen. Sekarang Kirana sudah masuk ke dalam ruangan itu dan ia bisa melihat jikalau wanita paruh baya tersebut sedang duduk dengan menatap kosong ke depan.
Nyonya Moelen menghirup aroma parfum yang begitu tidak asing di Indra penciumannya, bahkan aroma parfum inilah yang sudah sejak kemarin ia rindukan pandangan Nyonya Moelen mulai tertuju pada Kirana yang kini sedang berjalan ke arahnya.
"Putriku," panggil Nyonya Moelen sembari membuka kedua tangannya seakan siap memeluk tubuh kurus Kirana.
Kirana berlari memeluk wanita paruh baya itu, sesekali tangannya juga mengusap punggung tangan Nyonya Moelen seakan mencoba untuk menenangkan wanita paruh baya ini yang sedang menitipkan air mata.
__ADS_1
"Mama jangan menangis lagi Kiran ada di sini," bujuk Kirana setelah melepaskan pelukannya dari dekapan Nyonya Moelen.
wanita paruh baya itu menangkup wajah Kirana, mengamati wajah cantik yang sejak kemarin ia rindukan kehadirannya.
"Mama menunggu kamu sejak kemarin tetapi kamu tidak datang juga," jelas Moelen.
"Maaf, ma. Kiran kemarin sangat sibuk sekali jadi lupa jikalau sudah berjanji akan datang untuk menjenguk Mama, tapi sekarang Kiran sudah ada di sini dan maukah Mama makan dengan disuapin Kiran?" tanya Kirana sembari mengertikan kedua matanya mencoba untuk membujuk Nyonya Moelen.
Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya setuju dengan mengulas senyuman manis. Bi Ijah yang sejak dari tadi sudah berdiri di belakang pintu langsung berjalan mendekati Kiran kemudian memberikan nampan berisikan satu piring makanan dan juga satu gelas air mineral beserta ada beberapa butir obat juga terletak di mangkuk kecil.
"Apakah Nona Kiran tahu, kemarin saya mencoba untuk membujuk Nona supaya mau makan tetapi beliau menolak, dia hanya makan beberapa suap saja itupun setelah saya paksa dan membujuk jikalau Nona Kiran akan datang sekarang dan beruntunglah Nona Kirana benar datang jika tidak begitu maka Nyonya akan marah kepada saya," jelas Bi Ijah.
"Mulai besok saya akan menyempatkan diri untuk datang setiap pulang bekerja," kata Kiran kemudian Bi Ijah menganggukan kepala dan langkah keluar dari ruangan ini.
Mobil yang sedang Pak Saka kemudian baru saja melaju melintasi gerbang utama, lelaki itu bisa melihat dengan sangat jelas jikalau mobil Kirana sudah terparkir di halaman rumahnya, hati Pak Saka tiba-tiba menghangat setelah ia menyadari jika wanita yang sejak kemarin ia tunggu sudah berada di dalam rumahnya sekarang. Perasaan bahagia yang sedang Pak Saka rasakan nampak dengan begitu jelas dari bibirnya yang tidak henti menarik garis lengkung membentuk suatu senyuman bahagia.
Pak Saka bergegas turun dari dalam mobil kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya, lelaki itu segera melangkah menuju ke ruangan kamar mamanya kemudian membuka handle pintu dan mendapati Kiran sedang menyuapi wanita yang sangat ia sayangi. Senyuman Pak Saka semakin melebar setelah ia melihat bagaimana cara Kiran untuk membujuk mamanya supaya mau menghabiskan makanan yang masih tersisa di dalam piring.
Pak Saka segera menutup pintu setelah ia melihat Kiran menoleh ke arahnya dan pandangan mereka saling bertemu membuat jantung Pak Saka berdetak tidak stabil.
"Nona Kiran sudah berada di rumah sejak 1 jam yang lalu," kata Bi Ijah melapor.
Pak Saka menganggukkan kepalanya mengerti. "Lain kali jika tahu kalau Kiran datang ke rumah ini maka langsung hubungi saya, Bi," pinta Pak Saka dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Bi Ijah.
Bi Ijah melangkah pergi setelah melihat tangan tak Saka melambai kedua kali seakan menyuruhnya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Pak Saka memilih melangkah menuju lantai atas untuk membersihkan tubuhnya karena lelaki itu tidak ingin bertemu dengan sang pujaan hati dengan kondisi lelah setelah pulang bekerja.
__ADS_1
Di dalam kamar.
"Mama harus minum obat terlebih dulu, besok sore Kiran janji akan datang sepulang bekerja untuk menemui Mama," kata Kirana mencoba membujuk Nyonya Moelen.
"Janji," kata Nyonya Moelen sembari menatap ke arah Kiran dengan sorot mata yang teduh dan juga memohon.
"Tentu saja Kiran berjanji, apakah Mama tidak percaya kepada putri Mama ini?" tanya Kiran dengan air muka nampak masam.
"Mama percaya," kata Moelen dengan penuh kasih sayang mengusap puncak kepala Kirana.
Kiran tersenyum manis kemudian membantu Nyonya Moelen untuk meminum obatnya. Setelah itu Kirana membantu Nyonya Moelen untuk berbaring di atas ranjang dan tanpa menunggu waktu yang cukup lama akhirnya wanita paruh baya itu sudah masuk ke dalam alam mimpi. Setelah memastikan jikalau Nyonya Moelen sudah tertidur dengan begitu lelap barulah Kiran melangkah keluar dari ruangan ini.
Kirana buru-buru berjalan menuju pintu rumah ini tanpa mengedarkan pandangannya ke sekitar hingga suara seorang wanita menghentikan langkah kakinya.
"Nona Kiran mau pergi sekarang?" tanya Bi Ijah sembari melangkah menghampiri Kiran.
Kiran memutar tubuhnya menatap ke arah Bi Ijah. "Saya harus pergi sekarang," jawab Kiran.
"Apakah tidak sebaiknya, Nona Kiran menunggu Pak Saka terlebih dahulu, sebentar lagi beliau juga akan turun dan menemui Anda," kata Bi Ijah.
"Tidak, Bi. Sampaikan saja salamku padanya," kata Kiran. Tanpa menunggu sahutan dari Bi Ijah Kirana buru-buru melangkah keluar dari ruangan ini kemudian menuju mobilnya.
Kirana memundurkan mobilnya dan ia melihat ke arah pintu rumah ini yang sudah terdapat sosok Pak Saka di sana. Kiran tidak berniat menghentikan mobilnya dan malah melesatkan mobil pribadinya itu menuju gerbang utama.
"Kiran, kamu menghindari aku lagi," gumam Pak Saka dengan hati yang sudah di selimuti rasa kecewa.
__ADS_1